TURUNNYA NABI ISA ALAIHISSALAM
Setiap kali kita berbicara tentang hari Kiamat, hati ini seperti disentuh sesuatu yang dalam. Ada rasa takut, ada harap, ada kesadaran bahwa hidup ini tidak selamanya. Dan di antara tanda-tanda besar yang akan terjadi menjelang hari itu, ada satu peristiwa agung yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan puluhan hadits sahih: turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam ke bumi.
Bukan dongeng.
Bukan simbol.
Bukan kiasan.
Ini bagian dari aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang diyakini berdasarkan dalil yang kuat.
Nabi Isa Tidak Disalib dan Tidak Dibunuh
Allah telah menjelaskan secara tegas dalam Surah An-Nisa ayat 157–158 bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib.
“…padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya…”
Ayat ini mematahkan keyakinan bahwa Nabi Isa wafat di tiang salib. Yang terjadi adalah Allah menyerupakan wajah seseorang dengan Nabi Isa, lalu orang itulah yang disalib. Sementara Nabi Isa diangkat oleh Allah dalam keadaan hidup.
Ini penting. Karena kalau beliau sudah wafat, maka tidak mungkin beliau turun kembali di akhir zaman.
Allah menyelamatkan Nabi-Nya. Allah mengangkatnya. Dan beliau masih hidup hingga waktu yang Allah tentukan untuk kembali ke bumi.
Turunnya Nabi Isa Adalah Tanda Kiamat
Dalam Surah Az-Zukhruf ayat 61, Allah berfirman:
“Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat…”
Artinya, turunnya Nabi Isa adalah sinyal besar bahwa dunia sudah memasuki fase akhir. Bukan lagi tanda kecil. Bukan lagi isyarat samar. Tapi tanda besar.
Bayangkan…
Dunia sedang kacau. Fitnah merajalela. Dajjal muncul membawa ujian luar biasa. Manusia terpecah. Iman diuji sampai ke batasnya.
Lalu… Nabi Isa turun.
Bukan sebagai nabi baru.
Bukan membawa syariat baru.
Tapi sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ, sebagai hakim yang adil, sebagai pembela kebenaran.
Dalil-Dalil Hadits yang Mutawatir
Ulama menyebutkan bahwa ada sekitar 29 hadits mutawatir tentang turunnya Nabi Isa. Mutawatir artinya diriwayatkan oleh banyak jalur sehingga mustahil itu kebohongan.
Di antaranya sabda Rasulullah ﷺ:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh telah dekat waktunya Isa Ibnu Maryam turun di tengah kalian sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, dan harta akan melimpah hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” (Muttafaq ‘alaih)
Bayangkan suasananya.
Salib dihancurkan.
Artinya keyakinan yang keliru diluruskan.
Babi dibunuh.
Simbol diharamkannya kembali hal-hal yang dahulu dihalalkan oleh sebagian pengikutnya yang menyimpang.
Jizyah dihapus.
Karena saat itu tidak ada lagi agama selain Islam yang diterima. Semua orang beriman.
Dan harta melimpah ruah. Sampai-sampai orang tidak mau menerima sedekah.
Ini bukan sekadar perubahan spiritual. Ini perubahan global.
Nabi Isa Tidak Mengimami Shalat
Ada hadits lain yang sangat indah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika Nabi Isa turun, kaum muslimin sedang dipimpin oleh Imam Mahdi. Saat itu Imam Mahdi mempersilakan Nabi Isa untuk menjadi imam shalat.
Namun Nabi Isa menolak dan berkata:
“Tidak. Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan bagi umat ini.”
Subhanallah…
Padahal beliau adalah nabi. Tapi beliau turun bukan untuk mengambil alih kepemimpinan risalah. Beliau datang sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ.
Ini kemuliaan besar bagi umat ini.
Dan ini sekaligus bantahan bagi mereka yang menganggap Nabi Isa akan datang membawa ajaran baru.
Di Mana Nabi Isa Akan Turun?
Rasulullah ﷺ menjelaskan dengan sangat detail.
Beliau turun di sebelah timur Damaskus, di menara putih. Beliau mengenakan dua pakaian yang dicelup wars dan za’faran. Kedua tangannya diletakkan di atas sayap dua malaikat.
Jika beliau menundukkan kepala, tetesan air jatuh. Jika mengangkat kepala, air bercucuran seperti mutiara. (HR Muslim)
Bayangkan adegannya.
Langit terbuka.
Dunia dalam ketakutan karena Dajjal.
Lalu Nabi Isa turun dengan penuh wibawa dan cahaya.
Bukan sebagai figur lemah.
Tapi sebagai pemimpin yang tegas.
Beliau akan mengejar dan membunuh Dajjal di pintu Lod (Palestina). Dengan itu, fitnah terbesar sepanjang sejarah manusia berakhir.
Hikmah Turunnya Nabi Isa
Kenapa bukan Nabi Muhammad ﷺ yang turun kembali?
Karena Nabi Muhammad adalah penutup para nabi. Beliau sudah wafat dan tidak akan kembali ke dunia. Sedangkan Nabi Isa belum wafat. Allah menyimpannya untuk momen besar itu.
Turunnya Nabi Isa juga menjadi
Ketika Nabi Isa sendiri mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ, maka runtuhlah klaim-klaim ketuhanan terhadap beliau.
Dunia Setelah Turunnya Nabi Isa
Hadits-hadits menggambarkan masa penuh keberkahan.
Permusuhan hilang.
Hewan buas jinak.
Tanah subur.
Harta melimpah.
Seolah-olah dunia kembali ke masa damai yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Namun itu bukan selamanya.
Setelah beberapa tahun, Nabi Isa wafat. Kaum muslimin menshalatkannya. Lalu tanda-tanda besar berikutnya terjadi hingga akhirnya sangkakala ditiup.
Apa Relevansinya untuk Kita?
Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah itu masih jauh?”
Masalahnya bukan jauh atau dekat. Masalahnya adalah kesiapan.
Tanda-tanda kecil sudah banyak terjadi. Fitnah sudah terasa. Dunia semakin cepat berubah. Moral semakin goyah.
Turunnya Nabi Isa bukan sekadar cerita masa depan. Ia adalah pengingat bahwa kebenaran akan menang, meski dunia tampak gelap.
Ia adalah janji Allah bahwa sekuat apa pun kebatilan, ia pasti runtuh.
Dan ia adalah pengingat bahwa iman harus dijaga sekarang—bukan nanti.
Penutup
Meyakini turunnya Nabi Isa adalah bagian dari aqidah. Menolaknya berarti menolak hadits-hadits sahih yang mutawatir.
Namun lebih dari sekadar keyakinan intelektual, peristiwa ini mengajak kita bertanya:
Kalau Nabi Isa turun hari ini…
Apakah kita siap menyambutnya sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang teguh?
Ataukah kita justru masih sibuk dengan dunia yang sebentar lagi akan selesai?
Hari Kiamat itu pasti.
Tandanya satu per satu akan datang.
Dan di antara tanda paling agung itu adalah turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam.
Turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam bukan sekadar kabar tentang masa depan, tetapi cermin untuk hari ini. Ia mengingatkan kita bahwa kebenaran pasti kembali tegak, meski dunia sempat dipenuhi fitnah dan kebingungan. Jika suatu hari beliau benar-benar turun dan berdiri di tengah umat, pertanyaannya bukan lagi “kapan itu terjadi?”, tetapi “di mana posisi iman kita saat itu?”. Sudahkah hati ini dibersihkan dari syubhat dan syahwat? Sudahkah kita membela kebenaran meski kecil dan tak terlihat? Karena sejatinya, menanti turunnya Nabi Isa bukan hanya soal menunggu peristiwa besar, tetapi menyiapkan diri agar termasuk orang-orang yang teguh ketika kebenaran itu benar-benar datang.
Semoga Allah meneguhkan aqidah kita, menjaga iman kita dari fitnah Dajjal, dan menjadikan kita termasuk hamba yang istiqamah hingga akhir.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Pinggir Kali Srengseng,
7 Februari 2026
DKM Masjid GKM