Disukai
0
Dilihat
7
Jangan Tunda Taubat
Religi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saudaraku—para alumni ALL yang aku hormati dan aku rindukan dalam doa,

Surat ini kutulis di waktu fajar, saat langit masih pucat dan azan Subuh baru saja memeluk udara. Ada getar yang tak biasa di dada. Bukan karena dingin, tapi karena ingatanku berjalan pulang—menyusuri langkah-langkah lama yang pernah kita tempuh bersama. Langkah yang dulu terasa ringan, namun kini sering terasa berat karena beban dunia yang kian ramai.

Aku menulis bukan sebagai orang yang paling benar. Aku menulis sebagai saudaramu yang sama-sama rapuh, yang sering menunda, yang kadang merasa aman karena dosa belum berbalas, dan yang kerap lupa bahwa umur tidak pernah berjanji untuk menunggu kesiapan kita. Fajar selalu datang tepat waktu. Kematian tidak.

Saudaraku,

Ada masa ketika kita berkata, “Nanti saja taubatnya. Setelah ini, setelah itu.” Kita menyimpan taubat seperti barang berharga yang ditaruh di lemari—rapi, aman, dan seolah bisa diambil kapan pun. Padahal kita lupa, lemari itu bisa terbakar, bisa hilang, bisa tak pernah sempat dibuka lagi. Di padang mahsyar kelak, mungkin bukan lamanya penantian yang paling menyiksa, melainkan satu kalimat kecil yang tak henti menggaung: “Andai dulu aku tidak menunda.”

Aku tahu, dunia menggoda dengan cara yang halus. Ia tak selalu mengajak pada dosa besar; sering kali ia hanya membujuk untuk menunda kebaikan. Menunda shalat di awal waktu. Menunda meminta maaf. Menunda pulang kepada Allah. Dunia pandai membuat kita sibuk—bukan dengan hal haram, tapi dengan hal-hal yang membuat hati kita lupa arah. Dan tanpa sadar, kita berjalan jauh… sangat jauh.

Saudaraku,

Jika hari ini Allah masih membangunkan kita untuk Subuh, itu bukan kebetulan. Itu undangan. Undangan untuk kembali, tanpa syarat, tanpa menunggu sempurna. Allah tidak menunggu kita suci untuk mendekat; Dia membersihkan kita karena kita mau mendekat. Jangan tunggu hatimu lunak dulu untuk sujud. Justru sujudlah agar hatimu dilunakkan.

Aku menulis surat ini dengan air mata yang tak sepenuhnya jatuh, tapi cukup untuk membuat pandangan berkabut. Aku rindu pada wajah-wajah yang dulu saling menguatkan dalam doa. Aku rindu pada kebersamaan yang membuat iman terasa lebih mudah dijaga. Kini kita terpencar—ada yang sibuk mengejar karier, ada yang lelah mengurus keluarga, ada yang sedang bertahan dalam sunyi. Tapi satu hal yang tak berubah: kita semua sedang menuju tempat yang sama.

Maka izinkan aku mengingatkan—dan di saat yang sama mengingatkan diriku sendiri:

Mari berbuat baik kepada siapa pun. Kepada yang kita kenal dan yang tidak. Kepada yang sejalan dan yang berbeda. Kebaikan tidak pernah sia-sia; ia hanya kadang tertunda balasannya. Jika dunia tidak membalas, yakinlah langit mencatat.

Saudaraku,

Jika hari ini hatimu terasa berat, jangan tambah bebannya dengan keputusasaan. Jika langkahmu terasa lambat, jangan berhenti. Istiqamah bukan tentang berlari, tapi tentang terus melangkah meski tertatih. Allah Maha Melihat usaha yang kecil namun jujur.

Aku tidak tahu berapa lama lagi kita diberi waktu. Tapi aku tahu, selama waktu itu masih ada, pintu taubat belum ditutup. Selama dada masih naik turun, doa masih bisa dipanjatkan. Selama mata masih bisa basah, harapan belum mati.

Di fajar ini, aku menitipkan doa untuk kalian semua:

Semoga Allah menjaga kita tetap sehat—agar ibadah tak terhalang.

Tetap sabar—agar ujian tak mematahkan.

Tetap bersyukur—agar nikmat tak berubah jadi lalai.

Dan tetap istiqamah—agar langkah kita pulang tidak tersesat.

Jika suatu hari kita tak lagi sempat saling menyapa di dunia, semoga Allah mempertemukan kita kembali dalam keadaan saling tersenyum, tanpa penyesalan, tanpa beban yang tertinggal. Dan jika hari ini kau membaca surat ini dengan hati yang tersentuh, jangan tunda. Bangkitlah. Kembalilah. Sekarang.

Aku masih ingat pagi-pagi di kantor itu. Cahaya matahari menyelinap lewat jendela, menyentuh meja kerja yang penuh berkas dan sisa kopi semalam. Kita datang dengan wajah yang sama—lelah tapi berusaha tampak baik-baik saja. Ada doa yang seharusnya dipanjatkan, tapi tergantikan oleh daftar pekerjaan. Ada hati yang ingin tenang, tapi ditenangkan oleh kesibukan. Saat itu kita merasa hidup berjalan sesuai rencana, seolah esok pasti datang, seolah waktu adalah milik kita sepenuhnya.

Di sela jam kerja, tawa sering pecah begitu saja. Kita bercanda tentang hal-hal kecil, menertawakan kekurangan masing-masing, dan menunda obrolan yang lebih dalam. Ada yang sedang diuji keluarga, ada yang memikul beban ekonomi, tapi semua disimpan rapi. Kita kuat bersama, tapi jarang duduk bersama untuk mengingat Allah. Seolah iman cukup disimpan di sudut hati—tidak perlu sering dibuka, asal masih ada.

Aku juga ingat sore hari ketika kantor mulai lengang. Kursi ditarik, lampu dipadamkan, dan kita pulang dengan tubuh letih. Ada shalat yang tergesa, ada doa yang terburu. Kita berkata dalam hati, “Nanti di rumah saja lebih khusyuk.” Tapi rumah pun sering kalah oleh lelah. Dan taubat kembali tertunda—bukan karena menolak, tapi karena merasa masih ada waktu.

Asrama menyimpan ingatan yang berbeda. Di sana, kita lebih jujur menjadi diri sendiri. Sandal berserakan, suara langkah bergema di lorong, dan obrolan panjang sebelum tidur. Kita bercerita tentang mimpi besar, tentang masa depan yang ingin ditaklukkan. Tapi jarang kita bicara tentang akhir. Seolah kematian hanya cerita orang lain. Seolah padang mahsyar masih terlalu jauh untuk dipikirkan.

Malam-malam di asrama sering sunyi setelah tawa reda. Ada yang terbangun sebentar, memandang langit-langit, lalu kembali memejamkan mata. Mungkin hati sempat bergetar, ingin bangun dan berdoa. Tapi selimut terasa lebih berat dari niat. “Besok saja,” bisik kita pada diri sendiri. Dan besok berubah jadi minggu, bulan, lalu tahun.

Pernah ada di antara kita yang mengingatkan—dengan kalimat sederhana, dengan ajakan shalat berjamaah, dengan nasihat singkat sebelum tidur. Tapi sering kita sambut dengan senyum sopan, bukan perubahan. Bukan karena tak peduli, tapi karena merasa aman. Aman karena dosa belum berbalas. Aman karena hidup masih berjalan. Padahal rasa aman itulah yang paling berbahaya.

Kini, ketika semua itu hanya tinggal kenangan, aku mengerti satu hal: Allah pernah mempertemukan kita dalam ruang dan waktu yang sama agar kita saling menjaga. Kantor dan asrama bukan hanya tempat singgah, tapi cermin. Cermin yang hari ini memantulkan wajah kita yang sebenarnya—apakah kita ingin pulang dengan penyesalan, atau pulang dengan taubat yang tak lagi ditunda.

Berikut 2 paragraf penutup yang tenang tapi menghunjam, selaras dengan seluruh narasi flashback—ditutup dengan hadis yang relevan tentang taubat dan penundaan. Gayanya tetap seperti surat Mas Bakar, reflektif, dan mengajak pulang.

Saudaraku, jika hari ini ingatan itu kembali hadir—kantor, asrama, tawa, lelah, dan penundaan—jangan biarkan ia berhenti sebagai nostalgia. Jadikan ia pintu. Pintu untuk pulang. Kita mungkin tak bisa mengulang waktu, tapi kita selalu bisa memperbaiki arah. Jangan tunggu hati ini benar-benar hancur untuk bersujud. Jangan tunggu dunia merampas segalanya baru kita sadar bahwa yang paling kita butuhkan hanyalah Allah. Selama dada masih berdenyut, taubat belum terlambat. Selama Subuh masih membangunkan kita, panggilan pulang itu masih utuh.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita dengan lembut namun tegas:

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi).

Dan dalam riwayat lain: “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

Maka jangan lagi menunda. Jangan lagi merasa aman. Mari pulang—sekarang. Sebelum fajar berikutnya menjadi saksi bahwa kita kembali menunggu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mas Bakar

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Rekomendasi