Disukai
0
Dilihat
22
Tujuan Hidup Muslim (KSP Pekan ke lima 2026)
Religi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Resume KSP Pekan Kelima 2026

Ustadz H. Mahfudz Arlini

Tema: Tujuan Hidup Sebagai Muslim

Hidup seorang Muslim bukanlah perjalanan tanpa arah. Setiap detik usia yang Allah berikan sesungguhnya adalah kesempatan untuk mendekat kepada-Nya, memperbaiki diri, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tujuan akhir. Karena itu, seorang Muslim perlu terus mengingat apa tujuan hidupnya agar tidak terjebak dalam kesibukan dunia yang melalaikan. Dalam kajian KSP pekan kelima ini, kita diingatkan kembali tentang fondasi-fondasi penting yang menuntun hidup seorang Muslim agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah.

1. Perbanyak Shalawat dan Dzikir

Salah satu amalan yang sering dianggap sederhana namun memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah adalah dzikir. Dzikir tidak membutuhkan tenaga yang besar, tidak membutuhkan tempat khusus, dan tidak terbatas oleh waktu. Ia bisa dilakukan saat berjalan, duduk, menunggu, bahkan saat hati sedang gelisah. Justru di situlah letak keistimewaannya—ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan amal.

Dzikir adalah bukti bahwa hati kita masih terhubung dengan Allah. Hati yang jarang berdzikir akan mudah keras, mudah gelisah, dan mudah dikuasai oleh hawa nafsu. Sebaliknya, hati yang sering berdzikir akan lebih tenang, lebih lapang, dan lebih mudah menerima nasihat. Allah sendiri menegaskan bahwa dengan mengingat-Nya, hati menjadi tenteram. Ketenteraman ini bukan sekadar perasaan nyaman, tetapi ketenangan yang membuat seseorang kuat menghadapi ujian hidup.

Selain dzikir, shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ juga termasuk amalan yang sangat agung. Shalawat adalah bentuk cinta, penghormatan, dan pengakuan kita atas jasa besar Rasulullah yang telah membawa cahaya Islam kepada umat manusia. Setiap shalawat yang kita ucapkan tidak hanya kembali kepada Nabi, tetapi juga mendatangkan rahmat bagi diri kita sendiri. Hidup yang sering dihiasi shalawat akan terasa lebih berkah, lebih dijaga, dan lebih mudah mendapatkan pertolongan Allah.

Sering kali kita merasa tidak punya waktu untuk ibadah tambahan. Padahal dzikir dan shalawat tidak memerlukan waktu khusus. Justru ia bisa mengisi sela-sela waktu kosong yang sering terbuang sia-sia. Bayangkan jika lisan yang biasanya digunakan untuk mengeluh, bergosip, atau berbicara hal tidak penting diganti dengan kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan shalawat. Betapa banyak pahala yang bisa kita kumpulkan tanpa merasa terbebani.

Karena itu, mari kita biasakan lisan kita basah dengan dzikir dan shalawat. Jadikan ia bagian dari rutinitas harian, bukan hanya saat hati sedang susah, tetapi juga saat lapang. Orang yang sering mengingat Allah akan selalu merasa diawasi, dicintai, dan dekat dengan-Nya. Inilah fondasi awal kehidupan seorang Muslim yang ingin selamat dunia dan akhirat.

2. Saling Menasihati dalam Kebenaran dan Kesabaran

Dalam Surah Al-‘Ashr, Allah memberikan gambaran yang sangat tegas tentang kondisi manusia. Allah bersumpah demi waktu bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Sebuah pernyataan yang mengguncang, karena kerugian di sini bukan sekadar rugi harta, tetapi rugi hidupnya. Namun Allah memberikan pengecualian: kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Ayat ini menunjukkan bahwa iman dan amal saleh saja belum cukup jika tidak diiringi dengan kepedulian sosial dalam bentuk saling menasihati. Islam bukan agama yang mengajarkan hidup individualis. Kita diperintahkan untuk peduli terhadap keadaan saudara kita. Jika melihat kebaikan, kita dukung. Jika melihat kesalahan, kita ingatkan dengan cara yang baik.

Saling menasihati dalam kebenaran berarti kita saling mengingatkan tentang perintah Allah dan larangan-Nya. Kadang manusia lalai, lupa, atau tergelincir oleh godaan dunia. Di situlah peran saudara seiman—bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menolong agar tidak semakin jauh dari jalan Allah. Nasihat yang tulus adalah tanda cinta, bukan kebencian.

Adapun saling menasihati dalam kesabaran adalah menguatkan satu sama lain ketika menghadapi ujian. Hidup tidak selalu mudah. Ada sakit, ada kesulitan ekonomi, ada masalah keluarga, ada tekanan hidup. Orang beriman tidak dibiarkan sendirian menghadapi semuanya. Ia memiliki saudara yang mengingatkannya bahwa semua ini adalah ujian, bahwa Allah melihat, dan bahwa kesabaran akan dibalas dengan pahala yang besar.

Lingkungan yang baik adalah nikmat yang sangat besar. Jika kita berada di lingkungan yang saling mengingatkan, iman kita akan terjaga. Sebaliknya, jika lingkungan kita dipenuhi kelalaian, maksiat, dan canda berlebihan tanpa arah, hati kita perlahan akan ikut jauh dari Allah. Karena itu, pilihlah lingkungan yang membuat kita semakin dekat kepada-Nya.

3. Paksakan Diri Shalat Berjamaah di Masjid, Terutama Subuh dan Isya

Shalat berjamaah di masjid adalah salah satu tanda kekuatan iman seorang Muslim laki-laki. Terlebih lagi shalat Subuh dan Isya yang sering terasa berat karena waktunya berada di antara kenyamanan istirahat. Justru di situlah nilai perjuangannya. Ketika seseorang mampu melawan rasa malas, kantuk, dan dingin demi memenuhi panggilan Allah, itu bukti bahwa cintanya kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada kenyamanan diri.

Langkah kaki menuju masjid bukan langkah biasa. Setiap langkah menghapus dosa dan meninggikan derajat. Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi tempat hati disucikan, pikiran ditenangkan, dan iman diperkuat. Orang yang hatinya terikat dengan masjid akan merasakan kehilangan jika tidak hadir di dalamnya.

Subuh dan Isya secara khusus disebut berat bagi orang munafik. Artinya, kesungguhan menjaga dua shalat ini adalah tanda pembeda antara iman yang kuat dan iman yang lemah. Meskipun sulit, kita diperintahkan untuk memaksakan diri. Awalnya mungkin terasa berat, tetapi lama-lama akan menjadi kebiasaan yang dirindukan.

Masjid juga menjadi tempat bertemunya hati-hati yang beriman. Di sana kita bertemu saudara seiman, saling menyapa, saling mendoakan. Ukhuwah terjalin bukan hanya karena pertemuan, tetapi karena kebersamaan dalam ketaatan. Ini adalah kekuatan umat yang sering tidak disadari.

4. Makna Takwa dalam QS Ali Imran Ayat 102

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Ayat ini adalah panggilan langsung kepada orang-orang beriman. Takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi kesadaran penuh bahwa Allah selalu melihat kita. Takwa membuat seseorang berhati-hati dalam setiap langkah hidupnya. Ia tidak hanya bertanya, “Apakah ini menguntungkan?”, tetapi juga, “Apakah ini diridhai Allah?”

Iman itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia harus dipupuk, dijaga, dan disirami dengan ilmu dan amal. Jika tidak, ia bisa layu bahkan mati. Karena itu, kita harus terus memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menjauhi dosa. Tujuannya bukan agar terlihat saleh di mata manusia, tetapi agar kita benar-benar siap ketika ajal datang.

Umar bin Khattab menggambarkan takwa seperti berjalan di jalan penuh duri. Seseorang harus mengangkat pakaiannya, berhati-hati melangkah agar tidak tertusuk. Begitulah hidup seorang Muslim—penuh kewaspadaan terhadap dosa, sekecil apa pun. Ia takut bukan karena putus asa, tetapi karena ingin selamat.

Dan perlu kita sadari, ibadah yang kita lakukan bukanlah kebutuhan Allah. Allah Maha Kaya tanpa ibadah kita. Justru kita yang membutuhkan ibadah sebagai bukti penghambaan, sebagai pembersih dosa, dan sebagai jalan keselamatan. Keikhlasan menjadi ruh dari semua amal tersebut.

5. Tiga Janji Allah kepada Hamba-Nya dalam Al-Qur’an

Allah memberikan janji-janji yang menenangkan hati orang beriman.

• Ingat kepada Allah, Allah akan mengingat kita

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan mengingat kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Betapa mulianya seorang hamba ketika namanya disebut oleh Allah di hadapan para malaikat. Mengingat Allah bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan amal. Ketika kita mengingat-Nya dalam kesendirian, dalam kesulitan, dan dalam kelapangan, Allah pun akan mengingat kita dengan rahmat dan pertolongan-Nya.

• Bersyukur kepada-Nya, Allah akan menambah nikmat

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat)-Ku kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7)

Syukur bukan hanya ucapan, tetapi pengakuan hati dan penggunaan nikmat sesuai kehendak Allah. Semakin kita menyadari nikmat-Nya, semakin Allah tambahkan kebaikan dalam hidup kita—baik nikmat yang terlihat maupun yang tersembunyi.

• Berdoa kepada-Nya, Allah akan mengabulkan

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60)

Doa adalah bukti ketergantungan kita kepada Allah. Tidak ada doa yang sia-sia. Allah bisa mengabulkannya langsung, menundanya dengan hikmah, atau menggantinya dengan yang lebih baik. Yang terpenting, doa menjaga hubungan hati kita dengan-Nya.

Janji-janji ini menunjukkan bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Tinggal bagaimana kita mau mendekat, mengingat, bersyukur, dan berdoa dengan sungguh-sungguh.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu ingat kepada-Nya, saling menguatkan dalam kebenaran, rajin memakmurkan masjid, hidup dalam ketakwaan, dan yakin pada janji-janji-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Rekomendasi