Kita hidup dengan kebiasaan menunggu.
Menunggu waktu yang tepat, menunggu hati yang bersih, menunggu diri yang pantas. Kita menunda banyak hal atas nama kesiapan, padahal yang sering tertunda bukan waktu—melainkan keberanian untuk mengaku lemah.
Hari-hari berjalan seperti biasa, tapi ada yang berbeda di udara. Angin terasa lebih lambat, matahari seperti menahan diri saat tenggelam, dan malam datang membawa bisikan yang tak bisa lagi kita abaikan: Ramadhan semakin dekat.
Hitungan mundur itu tidak berbunyi nyaring, tapi terasa di dada. Ia mengetuk pelan, lalu semakin keras, seperti seseorang yang tahu kita ada di dalam rumah, tapi enggan membuka pintu.
Kita mulai menghitung diri sendiri.
Bukan hari—melainkan jarak.
Jarak antara shalat dan lalai.
Jarak antara doa dan kesungguhan.
Jarak antara lisan yang berdzikir dan hati yang sering tak hadir.
Di ruang sunyi itulah, kita duduk. Entah di mushala kecil, di sudut kamar, atau di persimpangan batin yang tak pernah kita beri nama. Kita menunduk, bukan karena khusyuk, tapi karena malu menatap langit. Ada perasaan ganjil: ingin kembali, tapi merasa belum pantas.
Bukankah kita sering berkata dalam diam:
Nanti saja, saat aku lebih baik.
Nanti saja, saat aku tidak mengulang dosa yang sama.
Padahal “nanti” itu seperti fatamorgana. Ia selalu tampak dekat, tapi tak pernah benar-benar bisa disentuh.
Kita lupa—atau pura-pura lupa—bahwa Tuhan tidak pernah meminta kita sempurna untuk kembali. Yang Ia minta hanyalah satu hal: kejujuran.
Namun ego kita lebih dulu bicara. Ego membisiki: Apa gunanya istighfar kalau besok jatuh lagi?
Ego menghakimi: Kamu ini siapa, berani-beraninya minta ampun?
Maka kita menunda istighfar, seolah ampunan adalah hadiah bagi yang pantas, bukan pelukan bagi yang terluka.
Sampai suatu senja, ketika cahaya redup dan waktu seperti melambat, kita membaca kembali kalimat lama yang nyaris kita hafal tapi jarang kita renungi:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.”
Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk hati yang rumit seperti kita. Tapi justru di sanalah letak kekuatannya. Tidak ada syarat. Tidak ada daftar prestasi. Tidak ada kalimat “jika”.
Hanya perintah yang lembut: mohonlah.
Kita terdiam.
Lama.
Barangkali selama ini kita keliru memahami arah. Kita kira ampunan adalah tujuan akhir dari perjalanan panjang perbaikan diri. Padahal ia adalah pintu masuk. Ia datang bukan setelah kita pantas, tapi sebelum kita berani mengaku tidak pantas.
Di situlah kesadaran itu jatuh seperti embun.
Ampunan sering datang lebih dulu.
Lebih dulu dari perubahan.
Lebih dulu dari taubat yang rapi.
Lebih dulu dari diri yang merasa layak.
Ia datang bahkan saat istighfar kita masih gemetar, saat suara kita belum yakin, saat air mata pun belum tentu keluar. Ia datang karena Dia Maha Pengampun, bukan karena kita Maha Baik.
Malam itu, kita akhirnya beristighfar.
Tidak lantang. Tidak panjang. Tidak indah.
Hanya satu kalimat yang lahir dari dasar ketidakberdayaan:
Astaghfirullah.
Kalimat itu jatuh ke dalam dada, lalu mengendap. Ia tidak langsung menghapus dosa, tapi ia meruntuhkan tembok sombong yang selama ini kita bangun. Tembok yang membuat kita merasa harus suci dulu untuk pulang.
Kita mulai mengerti:
Istighfar bukan tentang membersihkan masa lalu, tapi tentang membuka pintu masa depan.
Ia bukan tanda kita telah berubah, tapi pengakuan bahwa kita ingin berubah.
Hari-hari berikutnya, hitungan menuju Ramadhan terus berjalan. Angkanya semakin kecil, tapi perasaan di dada justru meluas. Kita tidak tiba-tiba menjadi saleh. Kita masih lupa. Masih jatuh. Masih berantakan.
Namun ada satu hal yang berbeda:
kita tidak lagi menunggu pantas untuk kembali.
Setiap kali terjatuh, kita belajar menyebut nama-Nya lebih cepat.
Setiap kali lalai, kita tidak lari terlalu jauh.
Setiap kali malu, kita ingat: malu adalah tanda iman belum mati.
Kita sadar, Ramadhan bukanlah ujian bagi orang suci, tapi jamuan bagi orang yang lapar. Dan kita—dengan segala kekurangan—adalah orang-orang yang sangat lapar akan ampunan.
Maka jika hari ini kita masih merasa belum layak, barangkali justru itulah undangan-Nya. Jika hati masih bergetar, mungkin itu tanda Dia masih memanggil.
Ampunan memang sering datang lebih dulu.
Sebelum kita rapi.
Sebelum kita kuat.
Bahkan sebelum kita berani berharap.
Dan di sanalah, dalam istighfar yang sederhana, kita menemukan jalan pulang—bukan sebagai hamba yang pantas, tapi sebagai hamba yang jujur.
Selama ini, kita sering menyebut hidup sebagai perjuangan, padahal banyak kelelahan lahir bukan karena beratnya takdir, melainkan karena cara kita menjalaninya. Kita terburu-buru mengejar banyak hal, tapi jarang berhenti menanyakan arah. Kita bangun pagi dengan niat dunia, tidur malam dengan sisa-sisa penyesalan, lalu mengulang pola yang sama sambil berharap hasil yang berbeda.
Kita makan bukan sekadar untuk hidup, tapi untuk melupakan sepi. Kita bekerja bukan hanya untuk amanah, tapi untuk pembuktian. Kita beristirahat bukan karena cukup, tapi karena lelah berlari tanpa jeda. Di tengah semua itu, hati perlahan kehilangan kepekaan—bukan karena dosa besar, melainkan karena kebiasaan kecil yang dibiarkan.
Cara bicara kita pun sering luput dari kesadaran. Lisan bergerak lebih cepat dari hati. Kita bercanda berlebihan, menyinggung tanpa merasa, mengomentari tanpa empati. Kita lupa bahwa setiap kata meninggalkan jejak, dan setiap jejak akan kembali—entah sebagai luka orang lain, atau kegelisahan di dada sendiri.
Kita terlalu mudah menilai, terlalu jarang mendengar. Kita ingin didengar, tapi enggan memahami. Kita menyela cerita orang lain dengan cerita kita sendiri, seolah dunia harus selalu berputar di poros pengalaman pribadi. Padahal, mendengar dengan utuh adalah salah satu bentuk ibadah yang paling sunyi.
Dalam pergaulan, kita sering memakai topeng. Bukan untuk menipu, tapi untuk bertahan. Kita menyesuaikan diri sampai lupa siapa diri yang asli. Kita tertawa agar diterima, diam agar tidak disingkirkan, dan setuju agar tidak dianggap aneh. Sedikit demi sedikit, kejujuran kita menipis—bukan karena jahat, tapi karena takut sendiri.
Kita berkumpul dengan banyak orang, namun pulang dengan rasa kosong. Kita hadir secara fisik, tapi jiwa tertinggal entah di mana. Percakapan penuh basa-basi, namun miskin makna. Kita lupa bahwa pertemanan sejati tidak membutuhkan banyak suara, hanya kehadiran yang jujur.
Dalam bersosialisasi, kita sering lebih sibuk membangun citra daripada menjaga nurani. Kita ingin terlihat baik, padahal yang lebih penting adalah menjadi benar. Kita belajar menampilkan diri, tapi lupa memperbaiki diri. Kita khawatir pada penilaian manusia, tapi lalai pada pandangan Tuhan yang tak pernah berpaling.
Kita juga sering memikul beban yang bukan milik kita. Membandingkan hidup dengan hidup orang lain, menakar bahagia dengan standar luar, lalu merasa kurang tanpa tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan jiwa. Kita lupa bahwa setiap orang berjalan dengan takaran masing-masing, dan tidak semua keterlambatan adalah kegagalan.
Di titik inilah istighfar menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar permohonan ampun atas dosa ritual, tapi pengakuan bahwa cara hidup kita perlu diluruskan. Bahwa cara bicara kita perlu dilembutkan. Bahwa cara bergaul kita perlu dibersihkan dari pamrih dan kepura-puraan.
Maka ketika kita beristighfar, sejatinya kita sedang berkata:
Ya Allah, ajari kami hidup dengan lebih sadar.
Ajar kami bicara dengan lebih menjaga.
Ajar kami bergaul tanpa menyakiti.
Ajar kami hadir di tengah manusia tanpa kehilangan Engkau.
Dan barangkali, selama ini, itulah istighfar yang paling Dia tunggu.