Disukai
0
Dilihat
5
Tiga tangan di balik setir
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Warung kopi Aspal belum tutup.

Memang jarang tutup.

Seperti masalah di jalan raya.

Datang terus.

Pergi sebentar.

Balik lagi.

Lampunya kuning redup.

Mejanya miring.

Bangkunya goyang.

Kopinya pahit.

Obrolannya lebih pahit lagi.

Rudi duduk di bangku ujung.

Gelas kacanya retak halus.

Seperti hidupnya.

Masih utuh.

Tapi jelas pernah hampir pecah.

Di depannya duduk Ujang.

Sopir juga.

Muka lelah.

Mata merah.

Tangan masih bergetar sisa nyetir jauh.

“Asli, Di… jalan sekarang makin serem,” kata Ujang.

Rudi ketawa kecil.

“Jalannya nggak berubah, Jang. Yang berubah itu nasib ki...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp5.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi