Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Blurb
Cerpen ini bercerita tentang dua orang mantan kekasih yang dipertemukan kembali secara tidak sengaja setelah lama berpisah. Pertemuan sederhana di sebuah halte saat hujan menjadi pintu masuk bagi kenangan, luka lama, dan perasaan yang ternyata belum sepenuhnya selesai.
Sepanjang cerita, keduanya perlahan membuka kembali alasan di balik perpisahan mereka dulu — bukan karena cinta hilang, tetapi karena sama-sama takut menjadi beban dan sama-sama memilih diam di saat yang seharusnya saling menahan. Kesalahpahaman, ketakutan, dan waktu membuat mereka berjalan di jalan hidup masing-masing.
Namun pertemuan itu bukan untuk kembali bersama, melainkan untuk menyembuhkan. Mereka menyadari bahwa kini masing-masing sudah memiliki kehidupan dan hati lain yang menunggu dengan setia. Dengan kedewasaan baru, mereka memilih saling merelakan, bukan dengan luka, tapi dengan rasa syukur karena pernah saling menjadi rumah.
Inti cerpen ini adalah tentang cinta yang tidak selalu harus dimiliki untuk menjadi bermakna. Kadang, bentuk cinta yang paling utuh adalah ketika dua orang bisa berpisah tanpa benci, saling memaafkan, dan membawa kenangan sebagai bagian indah dari proses menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Sepanjang cerita, keduanya perlahan membuka kembali alasan di balik perpisahan mereka dulu — bukan karena cinta hilang, tetapi karena sama-sama takut menjadi beban dan sama-sama memilih diam di saat yang seharusnya saling menahan. Kesalahpahaman, ketakutan, dan waktu membuat mereka berjalan di jalan hidup masing-masing.
Namun pertemuan itu bukan untuk kembali bersama, melainkan untuk menyembuhkan. Mereka menyadari bahwa kini masing-masing sudah memiliki kehidupan dan hati lain yang menunggu dengan setia. Dengan kedewasaan baru, mereka memilih saling merelakan, bukan dengan luka, tapi dengan rasa syukur karena pernah saling menjadi rumah.
Inti cerpen ini adalah tentang cinta yang tidak selalu harus dimiliki untuk menjadi bermakna. Kadang, bentuk cinta yang paling utuh adalah ketika dua orang bisa berpisah tanpa benci, saling memaafkan, dan membawa kenangan sebagai bagian indah dari proses menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Tokoh Utama
Saya
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
2
Dibaca
119
Tentang Penulis
Ahmad Wahyudi
-
Bergabung sejak 2026-01-27
Telah diikuti oleh 17 pengguna
Sudah memublikasikan 28 karya
Menulis lebih dari 73,215 kata pada novel
Rekomendasi dari Sejarah
Novel
Terakhir Kali Kita Tidak Jadi Asing
Ahmad Wahyudi
Novel
TIGA TAHUN UNTUK SELAMANYA
ROBI JULIANTO
Novel
Bus Maut
Ariny Nurul haq
Novel
Suara Sepatu Lars
Aldy Istanzia Wiguna
Novel
BANJIR DARAH NEGERI DHAHA
Sri Wintala Achmad
Novel
Tan Hua Di Kolam Darah
LaVerna
Flash
#2. Langit Berbintang dan Rasa Takdir
Tourtaleslights
Novel
Buya Hamka
Falcon Publishing
Novel
Leila
Me_87
Cerpen
Lembayung di Alas Rawiya
Penulis N
Novel
KANAYA
muh idris majid
Novel
Pendekar Pedang Emas
Rendy Hardiyan
Novel
elvora -lika liku luka
quennaer
Novel
RENJANA
Nadia N
Novel
Pesan Dari Ibu
Rizki Pratama Ningrum
Rekomendasi
Novel
Bronze
Terakhir Kali Kita Tidak Jadi Asing
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Berjuang Tidak Tersesat Sampai Selamat
Ahmad Wahyudi
Novel
Di Bawah Cahaya Masjid
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Tujuan Hidup Muslim (KSP Pekan ke lima 2026)
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Di Antara Jatuh, Doa, dan Nama Ayah
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Mengenal Tuhan Yang Mengurus Hidupmu
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Memulai Hidup Dengan Nama Allah
Ahmad Wahyudi
Novel
Bronze
Saat Rumah Kami Tenggelam, Iman Kami Mengapung"
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Peganglah Tauhid, Jadilah Cahaya
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Tetap Lurus di Negeri Yang Belok
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Hitung Untung Sampai Desimal, Hitung Nyawa Sampai Lupa
Ahmad Wahyudi
Flash
Syukur yang Tertinggal di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Novel
Di balik perjuangan menunggu
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Bisikan dari Langit yang Tak Pernah Pergi
Ahmad Wahyudi
Novel
Kalau Hidup di Zaman Itu Aku Berdiri di Barisan Mana
Ahmad Wahyudi