Adzan Terakhir

Rahmat, nama seorang pemuda yang masih kuliah. Di sebuah universitas swasta di Kota Denpasar. Kota yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Namun, memilik toleransi yang tinggi.

Rahmat bukanlah asli penduduk sana. Ia pendatang dari Jawa—Jombang. Kuliah di sana mengambil jurusan kepariwisataan—manajeman perhotelan. Hal yang sebenarnya ditentang habis oleh kedua orang tuanya. Karena mereka menginginkan Rahmat melanjutkan kuliah di Turki. Apalagi ia lulusan pondok pesantren dengan prestasi yang membanggakan.

Bukan hal itu saja yang menjadi pertentangan antara Rahmat dengan kedua orang tuanya. Keputusan Rahmat memilih Kota Denpasar sebagai tempat menimba ilmu, tak luput dari perdebatan yang hebat. Ada ketakutan dari mereka, yang takut jika anaknya terkena dampak buruk pergaualan di sana.

Dan benar saja, baru sebulan tinggal di Kota Denpasar. Rahmat mulai menjadi sosok yang berbeda. Di mana awalnya sangat teguh menjalankan ibadah. Perlahan-lahan hal itu ia tinggalkan. Malah mulai menyukai minuman keras dan sering ke klub malam.

Bukan itu saja, seks bebas pun dilakoninya. Dengan menjadi seorang gigolo bagi para wisatawan baik asing maupun lokal. Walau seperti itu, untuk urusan kuliah, Rahmat masih tak ketinggalan. Malah terbilang mahasiswa yang berprestasi.

"Jangan lupakan ibadahmu ya, Nak."

Pesan yang selalu diucapkan ibunya setiap kali menelpon. Walau hanya menjadi angin lalu bagi Rahmat. Hingga pada suatu hari, hal itu menjadi ucapan terakhir yang didengarnya. Karena sang ibu meninggal saat dirinya sedang ujian dan Rahmat tak bisa datang.

Berita kematian itu membuat dirinya terpukul hebat. Apalagi sang ibu masih sempat memberikan wasiat terakhir menjelang ajalnya, yang disampaikan oleh sang ayah.

Utamakan kuliahmu, Nak. Dan jangan lupa beribadah. Agar Allah selalu menjauhkanmu dari segala keburukan di perantauan sana anakku, Rahmat.

Seperti itulah wasiat sang ibu yang membuat Rahmat tak mamapu membendung air mata. Wasiat itu juga yang menyadarkan dirinya untuk segera bertobat dan kembali maenjadi sosok Rahmat yang dulu.

Maafkan Rahmat ibu. Selama ini Rahmat telah lalai. Dan saat ini Rahmat juga tak bisa melihat ibu untuk terakhir kalinya, batin Rahmat penuh sesal.

Dan tak lama setelah itu, suara adzan berkumandang dari masjid yang tak jauh dari tempatnya kostnya. Rahmat pun segera bergegas menuju ke sana. Walau kepalanya terasa masih pusing, efek sisa semalam. Bergadang untuk persiapan ujian, ditemani sebotol vodka. Apalagi hari ini bertepatan dengan hari jumat. Waktu yang tepat baginya untuk bertobat—memohon ampun. Serta mendoakan ibunya yang baru saja meninggal.

Entah mungkin karena memiliki niat yang kuat untuk bertobat atau sedang berduka. Suara adzan yang ia dengar saat ini terasa menghanyutkan. Hingga mampu menggetarkan kalbu dan tanpa sadar bulir-bulir air mata menyelinap keluar dari kedua ujung kelopak mata. Sehingga ia harus menyekanya berkali-kali sepanjang jalan menuju ke masjid.

Namun, karena hal itu juga membuat Rahmat menjadi melamun. Apalagi rasa sakit di kepala makin menghebat. Hingga ia tak sadar ada sebuah mobil pribadi berwarna hitam yang menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi saat ia menyeberang.

Dan ketika adzan kedua berakhir, tubuh Rahmat telah terpelanting jauh dan mendarat di dekat trotoar. Dengan kepala yang lebih dulu menghantam pembatas jalan. Seketika itu juga, ia menghembuskan napas terakhirnya. Sedangkan mobil tadi berhasil kabur dari kepungan orang-orang yang mengejarnya.

7 disukai 12 komentar 1.6K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@rudiechakil : Sip... Karna Allah Maha Pengampun Pada hambanya, selama ia tidak selingkuh (sirik) 🙏
Oh, iya, Mas, hehehe... tapi niat untuk taubat dalam islam sudah dicatat, meskipun baru niat... apalagi niat yang kuat...
@rudiechakil : Oalah, maaf bang saya gk tahu. Ini saya tulis karna membaca hadis tentang minum alkohol 🙏🙏🙏
Lho, taubat Nasuha adalah berasal dari kisah si-Nasuha, Mas... Jadi kalau merujuk pada kisah Nasuha, pertanyaan Mbak Rahma bisa dijawab, 'iya'.
@rudiechakil : Wah, aku malah gk tahu itu bang 🙏🙏🙏
Jadi inget kisah Nasuha... Hiks,
@rahma2801 : Sama" kakak
Ok kak..makasih jawabannya..🙏👍👍💕
@rahma2801 : Aku gk bisa jawab itu. Karna ada hadist menyatakan tidak sah ibadah orng yg meminum miras selama 40 hari. But, Allah Maha Pengampun. Jadi semua itu kembali kpd Allah. Karna itu aku gk bisa menilai. Apa ini termasuk mati syahid atau mati sebaliknya. Smua punya pandang berbeda. Tapi sekali lagi, dlm kenyataan. Hnya Allah yg berhak menilai smuanya. Neraka Surga itu mutlak urusan Allah 🙏🙏🙏
Itu termasuk mati syahid gak kak?
Saran Flash Fiction