Bedak

Dulu, setahun lalu. Saat usia Gayatri masih belasan. Ia menjadi primadona di tempatnya bekerja. Banyak pria yang memakai jasanya dan puas. Hingga menjadi pelanggan tetap. Sampai-sampai harus mengantre demi pelayanan dari dirinya.

Namun, itu dulu. Kini, saat usianya sudah berkepala dua dan separuh lebih akan memasuki kepala tiga. Pamor pesonanya mulai memudar. Kalah sama daun-daun muda yang baru datang.

Tentu hal tersebut membuat Gayatri tidak mau menerima kenyataan itu. Apalagi bekerja sebagai penyedia jasa lendir kenikmatan. Mampu membuat kehidupan dirinya dan keluarga di kampung. Bisa keluar dari jurang kemiskinan yang sejak kecil ia alami.

Karena itulah, Gayatri bertekad untuk mengembalikan pamor pesonanya dengan segala cara. Ini semua demi bisa bersaing di dunia perlendiran yang mampu menghasilkan uang banyak. Tanpa perlu bekerja membanting tulang. Cukup membuka kedua paha dan memberikan servis terbaik. Dengan mempraktikkan semua jurus kama sutra yang telah ia kuasai.

Apalagi, Gayatri baru mengetahui sebuah kenyataan yang selama ini tidak disadari. Kalau semua teman-temannya tidak ada yang polosan dengan hanya mengandalkan kecantikan semata. Mereka semua memakai pengasih-asih atau susuk untuk memikat para pelanggan.

Dan sebab itulah Gayatri akan melakukannya juga. Mencari seorang balian yang spesialis untuk hal itu. Demi hal tersebut, ia mencari banyak info agar menemukan balian yang pas. Walau harus mengeluarkan uang banyak, ia tidak peduli.

Hingga akhirnya ia mendapatkan info tentang seorang balian yang mumpuni dalam hal tersebut. Info ini Gayatri dapatkan dari seorang teman seprofesi yang beda tempat kerja, tapi satu kost dengan dirinya. Balian itu tinggal di wilayah Sanur, cukup jauh dari tempat kerjanya di salah satu diskotik. Di kawasan Pantai Kuta.

Begitu Gayatri bertemu dengan itu balian, yang ternyata seorang nenek-nenek. Ia langsung mengungkapkan tujuannya secara gamblang dan penuh dengan harapan. Si nenek menyanggupinya dengan syarat yang terbilang ringan. Cukup memberikan uang lima juta, maka apa yang diinginkan akan segera terpenuhi.

Tentu Gayatri menyanggupi syarat tersebut. Tanpa perlu berpikir panjang lagi, ia menyerahkan uang dari dalam tas yang ia bawa. Setelah menerima uang tersebut, si nenek memberikan bedak yang telah dimantrai.

Gayatri menerima bedak itu tanpa ada kecurigaan serta keraguan di hati. Lalu segera meninggalkan rumah si nenek yang terlihat cukup bagus seperti rumahnya di kampung. Sudah berkeramik dan bergaya minimalis modern.

Begitu sampai di tempat kost, Gayatri segera memakai bedak itu. Karena ia harus segera bekerja. Namun, begitu bubuk warna itu telah merata di seluruh permukaan wajahnya. Ia merasakan panas yang hebat bagai terbakar oleh api.

Lalu secara perlahan, kulit wajahnya mengeriput dan mengelupas. "TI-TI-TIDAAK!" teriak Gayatri saat melihat wajah telah berubah menjadi si nenek yang tadi ia temui.

Dengan cucuran air mata, Gayatri berlari menuju pintu kamar kost. Namun, ketika hendak membukanya. Ia dikagetkan oleh seorang perempuan yang sudah berdiri di sana sambil menyeringai.

"Ka-ka-kau telah mengambil wajahku! Kembalikan wa .... "

Belum selesai Gayatri berteriak, perempuan itu telah lebih dulu menghujamkan sebilah pisau ke arah perutnya. Hingga beberapa kali sebelum Gayatri ambruk di lantai dengan bersimbah darah.

"Wajah ini sudah menjadi milikku, Gayatri. Terima kasih karena kau telah memberikannya kepadaku," ucap perempuan itu sebelum meningglkan tempat tersebut sambil tertawa senang.

5 disukai 972 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction