anakku surat ini ku tulis 13 menit menjelang dhuhur
saat panas mulai naik, dan dadaku ikut bergejolak mengingat namamu.
Kamu jauh, Nak.
Jauh dari rumah.
Jauh dari suara ibu.
Dan entah kenapa… makin jauh dari rasa syukur.
Hari ini ayah ingin bicara tentang satu ayat yang sering kamu ucap tanpa benar-benar kamu rasakan:
“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Ayat ini bukan kalimat manis, Nak.
Ini tamparan halus.
Ini pengingat keras bagi anak rantau yang hidupnya penuh tuntutan tapi miskin rasa terima kasih.
Di kota itu, kamu sibuk menghitung apa yang belum kamu punya.
Gaji yang terasa kecil.
Pekerjaan yang tak sesuai mimpi.
Kamar sempit yang jauh dari kata nyaman.
Lalu kamu bertanya dalam hati:
“Kenapa hidupku begini?”
Nak…
kamu lupa satu hal berbahaya:
kamu sibuk menuntut, tapi lupa memuji.
QS Al-Fatihah ayat 2 tidak bicara soal kaya atau miskin.
Ia bicara soal sikap hati.
Tentang apakah kamu masih sanggup berkata alhamdulillah
saat hidup tidak sesuai rencana.
Ayah tahu, kamu capek.
Capek berjuang sendirian.
Capek melihat orang lain lebih cepat berhasil.
Capek berpura-pura kuat di depan dunia.
Tapi dengar ini baik-baik, Nak:
hidup yang kehilangan syukur akan terasa busuk meski penuh pencapaian.
Kamu boleh lapar.
Kamu boleh gagal.
Kamu boleh jatuh.
Tapi saat kamu berhenti bersyukur,
di situlah hidup mulai menghancurkanmu dari dalam.
Ayah tidak heran kalau kamu marah pada keadaan.
Ayah hanya sedih kalau kamu mulai lupa bahwa Allah tetap Rabb-mu
meski hidupmu belum jadi apa-apa.
“Rabbil ‘alamin” artinya Allah bukan cuma Tuhan saat kamu sukses.
Dia Tuhan saat kamu gagal.
Saat kamu diremehkan.
Saat kamu pulang malam dengan kepala tertunduk.
Saat kamu menangis sendirian di kamar orang.
Nak…
bersyukur itu bukan berarti pasrah.
Bukan berarti menyerah.
Bersyukur itu mengakui bahwa Allah masih bekerja
meski kamu belum melihat hasilnya.
Di kota orang, kamu belajar kerasnya dunia.
Tapi jangan sampai kamu lupa memuji Tuhanmu.
Karena anak rantau yang kehilangan syukur
akan kehilangan kekuatan paling dasar untuk bertahan.
Ayah tidak butuh kamu selalu tersenyum.
Ayah hanya ingin kamu berhenti mengutuk hidupmu sendiri.
Berhenti berkata:
“Kenapa aku?”
dan mulai bertanya:
“Apa yang masih bisa aku syukuri hari ini?”
Nak,
hidupmu mungkin belum berhasil,
tapi napasmu masih berjalan.
Kakimu masih bisa melangkah.
Dan doa ayah masih mengejarmu dari jauh.
Itu sudah cukup untuk mengucap satu kalimat jujur:
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Azan dhuhur hampir terdengar.
Dan ayah menutup surat ini dengan harap yang sama:
semoga kamu tidak hanya mengejar hidup yang besar,
tapi juga hati yang pandai bersyukur.
Karena anak rantau yang belajar memuji Allah
tidak akan pernah benar-benar kalah.