Interogasi

Di sebuah ruangan, yang luasnya sama persis dengan kamar mahasiswa pada umumnya. Hanya saja tidak ada ranjang. Cuma meja dan dua buah kursi yang sama-sama berbahan logam serta saling berhadapan.

Terlihat di sana ada dua orang pria yang usianya sepantaran saling berhadapan. Mereka sama-sama mengenakan kemeja serta celana kain ala pegawai kantoran. Cuma beda warna, yang satunya putih. Satunya lagi biru muda. Gaya cukuran juga sama persis. Hanya saja salah satu dari mereka memelihara berewok.

"Baiklah, Alfin. Aku ingin mendengar alasan kenapa kita bisa berada di sini?" tanya si berewok dengan seutas senyum tipis—seringai.

"Lihat ini, Davis!" pinta Alfin sambil menunjukkan selembar foto yang dikeluarkan dari sebuah map dokumen.

"Sungguh tragis sekali nasibnya Sinta. Padahal dia informan penting bagi kita," komentar Davis dengan santainya tanpa ada raut kesedihan.

"Bisa sekali kau bicara seperti itu, Davis. Padahal kau yang membunuhnya kemarin malam."

"Wohoho, kau menuduh aku membunuhnya? Apa kau memiliki buktinya, Alfin?"

"Ini. Foto ini. Foto kemarin malam. Bukti kuat bahwa kau sebagai pembunuhnya." Kembali Alfin memperlihatkan gambar hasil tangkapan kamera sambil menunjuk sosok pria yang menggandeng si korban.

"Itu memang aku, tapi aku cuma mengantarnya saja. Karena tak lama setelah itu, aku pergi meninggalkannya," kilah Davis sambil menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

"Ya, setelah kau membunuhnya," timpal Alfin dengan kesal.

"Membunuhnya? Terlalu dangkal tuduhanmu itu, Alfin. Bukankah kau seharus menanyakan alasan kenapa aku meninggalkan Sinta di sana setelah mengantarkannya. Apa itu caramu bekerja sebagai seorang detektif? Sebagai mantan rekan kerjamu, aku sungguh kecewa."

Ucapan Davis itu terdengar menohok bagi Alfin. Hingga ia tak sanggup berbicara lagi. Hanya terdiam menatap tarian jarum jam yang berada di belakang si berewok.

Sedangkan sesosok pria yang lebih tua dari mereka, yang berada di balik cermin dua arah. Telah memerintahkan dua anak buahnya untuk bersiap-siap menangkap si pelaku.

"Coba kau dengarkan ini, Alfin. Bukti kuat selain satu bukti lagi yang sampai saat ini masih bersama si pelaku yang sebenarnya," ucap Davis sambil mengeluarkan alat perekam suara dari saku kanan celana yang berisi percapakan telepon antara Sinta dengan dirinya.

Begitu rekaman itu diputar, tubuh Alfin terlihat berkeringat dan raut wajahnya memperlihatkan kegusaran. Apalagi saat Davis tiba-tiba menarik lengan kanan kemeja Alfin yang dilipat sampai siku. Pria itu makin tidak berdaya. Karena di ujung kemeja terdapat setitik darah yang telah mengering.

"Alfin, cuma karena cemburu. Kau tega menghabisi nyawanya. Padahal semua kasus yang kau pecahkan tahun ini. Berdasarkan informasi dari Sinta. Kau ini benar-benar naif," ucap Davis sebelum beranjak dan meninggalkan ruangan itu.

Bersamaan dengan itu, dua orang yang tadi diperintahkan. Segera mendekati Alvin untuk meringkusnya. Namun, saat hendak ditangkap, ia melawan dan merebut pistol salah satu dari mereka. Lalu tanpa keraguan ia menembakkan dirinya tepat di kepala.

"Sudah aku duga, kau pasti akan melakukannya. Karena skandal ini sangat menampar dirimu, yang baru saja menerima penghargaan sebagai detektif terbaik di tahun. Sungguh menyedihkannya dirimu, Alfin," ucap Davis sambil tertawa hingga bergema di sepanjang lorong.

2 disukai 2 komentar 539 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@rudiechakil : Makasih bang. Aslinya gk pede bikin ini. 🙏🙏
Bagus, Mas... Enggak ketebak jalan ceritanya 👍
Saran Flash Fiction