Cetik

Di sebuah warung yang berada di pinggir jalan utama Desa Bungkulan. Terlihat dua orang pemuda pengangguran sedang duduk sambil menikmati pisang goreng yang masih hangat. Setelah sebelumnya memesan kopi Bali yang kini sedang disiapkan oleh pemilik warung yang seorang janda muda.

"Eh, Made. Dengar-dengar kalau kematiannya si Ngurah karena cetik, yah?"

"Dapat kabar dari mana kau, Gede?"

"Yaaa, dari semua orang di sini. Benar tidak, Mbok?" tanya Gede kepada si pemilik warung untuk mencari dukungan.

"Tidak tahu juga, sih. Tapi, yang Mbok dengar memang seperti itu. Cuma tidak tahu benar atau tidaknya," jawab si pemilik warung yang sedang mengeringkan gelas.

"Tidak benar itu. Cuma gosip saja," sanggah Made sambil mencomot pisang goreng dan langsung melahapnya.

"Tapi, perutnya pas mati terlihat besar. Aku melihatnya sendiri. Saat dimandikan."

"Itu tumor ganas yang telat dioperasi."

"Dari mana kau tahu itu, Made?"

"Karena aku pas dia masuk rumah sakit. Aku ada di sana ikut menghantarkannya."

"Aku tidak percaya!" teriak Gede yang masih kekeh dengan berita yang ia dengar.

"Terserah kau. Mau percaya atau tidak. Tapi, kita sebagai temannya. Alangkah baiknya tidak membicarakan dia yang sudah mati," nasehat Made sambil kembali menikmati pisang goreng yang tersisa lagi satu.

"Mbok, mana kopinya ini? Dari tadi kok belum datang. Sampai habis ini pisang gorengnya," protes Gede pada si pemilik warung untuk mengalihkan pembicaraan.

"Iya, iya. Ini sudah selesai. Baru mau saya bawakan," jawab si pemilik warung yang bersiap mengantrakan kopi kedua pemuda itu.

Tepat setelah kopi diantarkan. Tiba-tiba di depan warung lewat seorang nenek-nenek yang tampilannya lusuh dan wajahnya tampak suram. Gede yang melihatnya langsung merasakan bulu kuduknya berdiri. Sedangkan Made cuma tersenyum tipis membalas senyuman si nenek.

Lalu saat Gede hendak meraih gelas kopinya. Hal aneh terjadi. Gelasnya tiba-tiba pecah begitu saja dan membuat ketiga orang yang berada di warung itu terkejut.

"CE-CE-TIK!" teriak Gede sambil gemetaran dan langsung kembali menoleh ke arah si nenek yang ternyata sudah tidak berada di sana. "Ini pasti karena cetik. Nenek yang tadi lewat pasti balian yang ngasihin cetik ke kopiku. Nenek siapa itu? Aku baru melihatnya," tanyanya dengan nada marah.

Dan ketika ia hendak bangkit dari bangku untuk mengejar si nenek tadi. Tiba-tiba si pemilik warung berkata, "Aduh. Saya pikir gelasnya tidak akan pecah. Karena habis dipakai untuk minum es sama anak saya, tadi siang. Padahal sudah direndam air. Maaf ya bli Gede, udah bikin kaget." Sambil tersipu malu.

"Gede. Itukan nenekmu. Masak lupa sama nenek sendiri. Kau ini cucu macam apa? Menuduh neneknya sendiri sebagai balian. Dasar kau cucu durhaka," timpal Made sambil tertawa yang diikuti tawa si pemilik warung.

Sedangkan Gede cuma tertunduk malu sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Saking malunya. Ketika hendak kembali duduk, ia terjengkang ke belakang dengan kepala yang lebih dulu membentur lantai. Hingga berteriak kesakitan dan tawa Made serta si pemilik warung semakin membahana.

4 disukai 843 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction