Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
3
Kutukupret
Komedi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Sebenarnya saya sudah lama ingin pindah kos-kosan, gak betah lagi dengan tetangga toxic yang kerjanya nyindir melulu.

Tapi karena zaman sekarang sangat sulit cari kos-kosan cewek (yang gak ada CCTV-nya dan anak pemilik kosnya mirip Cristiano Ronaldo), jadi saya memilih bertahan.

Memang sih, awal kenal dengan tetangga saya ini, kami langsung klop dan berteman sangat baik—saling berbagi bawang cabai tomat. Tapi hanya karena 200 ribu rupiah doang, yang gak kunjung saya kembalikan, dia sampai buat story di facebook-nya tentang saya denggan judul "Tetangga yang gak tahu diri". Padahal saya sudah hitung, entah sudah berapa kali dia ngambil bumbu dapur dan makanan saya seenak jidatnya.

Jadi pernah sekali, saking kesalnya saya dengan dia, saya ambil BH-nya di jemuran, dan saya gosok BH itu dengan cabai rawit, tepat di pusat ruang benjolan kecilnya (biar mampus dia).

Tapi yang anehnya lagi, yang bikin saya gak habis pikir, meskipun kami sudah lama saling membenci dan saling melemparkan sindiran atau makian tidak langsung lewat facebook, kami tidak saling meng-unffollow satu sama lain. Ya, kalau alasan aku jelas: Aku gak mau terlihat seperti "anak-anak" dengan menghapus pertemanan kami di media sosial. Kalau alasan dia mungkin: Gak mau kehilangan aku seutuhnya aja; PIKX.

Kami sering saling pamer kemewahan dan kebahagian di media sosial dengan maksud hanya ingin membuat satu sama lain panas. Aku gak pernah panas, kok—dia salah besar saat memilih lawan. Malahan ketika dia upload konten yang bahagia, aku balas berkali-kali lipat dengan hal yang sama, sepersekian mili detik itu juga. Hampir setiap hari kami melakukan itu.

Namun entah mengapa, suatu hari facebook-nya tidak aktif, dan sudah beberapa hari berselang.

Ada apa dengan dirinya? Apa dia sudah merasakan kekalahan yang mutlak semenjak aku post konten tentang: "Teman yang mau kasih pinjaman lebih dari 300 ribu ke aku?" Dengan caption: "Ini baru teman sejati"?

Namun setelah 4 hari facebook-nya hibernasi,

Tiba-tiba aku mendengar ketukan di pintu, di tengah malam. Aku membukanya dan melihat seorang kurir muda berdiri di luar dengan banyak makanan lezat. Aku berkata, "Maaf mas, kayaknya mas salah alamat, deh. Soalnya saya tidak ada pesan makanan."

"Iya , mbak, saya tahu," kata pemuda itu. "Ini dari mbak Catherine Persia."

Sontak, mata saya membesar, "Ada angin apa tiba-tiba si Jal*ng itu kirim makanan?" Itulah saat di mana hati saya kesetanan.

Tapi, bisa jadi dia memang ingin melakukan gencatan senjata. Dia mungkin ingin berteman lagi karena dia akhirnya sadar kalau tidak ada teman se-An*jing (konotasi positif) sepertiku.

"Ini benar dari dia, mas?" Aku melan jutkan pembahasan sedikit dengan kurir.

Kurir: "Iya, mbak"

Saya: "Gak ada dikasih campuran apa-apa kan, mas, yang membuat sakit perut atau mati?"

"Astaga, mbak...! itu gak mungkin. Kami restoran berdedikasi—mengemas dan mengantar makanan tepat waktu, lebih cepat daripada lari".

"Nggak lucu, Rir..." Dalam hatiku sambil terpaksa senyum sesak.

Aku tersenyum, mulai terharu, hatiku luluh, dan mungkin bersedia akan berteman lagi dengan dia. Dengan kecepatan kilat pikiranku terbayang momen indah saat kami masih berteman dulu. Aku merasa aku harus minta maaf, dan bersedia dalam beberapa bulan ini gak akan pinjam duitnya dulu.

Akhirnya ternyata benar kata orang-orang bahwa "Dengan berbagi kebahagian, kamu akan bisa menjinakkan Singa lapar yang sedang marah-marah, sekali pun".

Tapi... Tiba-tiba kurir malah pergi dengan mengatakan "Udah kan, mbak?, permisi..."

"Loh, mas? Mau ke mana?"

"Mau antar ini ke mbak, Catrine"

"Kenapa dikembalikan? Saya mau kok, menerimanya".

Kurir: Loh?

Saya: Loh?

Kurir: Mbak Catrine cuma minta menunjukkan makanan ini ke mbak aja, bukan untuk mbak terima.

Saya: Maksudnya?

Kurir: "Ini makanan yang akan dia makan malam ini. Ponselnya rusak dan dia tidak bisa mengunggah apa pun di Facebook-nya."

Saya terbodoh dengan wajah goblok ketololan yang idiot.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi