Seorang kakek tunawisma dengan pakaian compang-camping dan tongkat kayu melangkah pelan, sesekali ia duduk di bangku taman dekat alun-alun, seperti mengamati sesuatu.
Angin sepoi-sepoi sore itu cukup menyejukkan hingga membuat orang-orang datang untuk sekedar nongkrong di taman. Fokus kakek itu buyar saat aroma surgawi tercium dari sampingnya. Dua anak kecil sedang duduk santai sambil membuka bungkusan kertas minyak yang masih mengepulkan asap.
Keduanya terlihat sedang meniup gorengan di masing-masing tangannya. Kakek itu mendekat perlahan menghampiri kedua bocah itu. Pandangannya terpaku pada gorengan itu.
Karena merasa diperhatikan begitu rupa, salah satu anak menawarkan kepada kakek itu. "Kakek, mau?" tawarnya ramah, menyodorkan sebuah gorengan yang bentuknya lonjong keemasan.
Kakek pengemis itu menerima pemberian itu. "Terima kasih, manusia... eh maksudku terima kasih, Nak."
Begitu kulit jarinya menyentuh benda itu, Kakek itu sedikit tersentak. Sensor panas di balik kulit buatannya berteriak, "WARNING! SUHU EKSTREM DETECTED!". Kakek itu nyaris melemparkan gorengan itu, tapi ia menahannya. Wajahnya tampak sedikit memerah menahan sakit. Tapi ia melihat dua bocah itu dengan santainya menggigit benda lonjong berminyak itu hingga berbunyi 'KRIUKK'.
"Apa... apa namanya ini, Nak?" tanya Kakek itu gemetar, menahan panas yang menjalar ke ujung sarafnya.
Bocah yang mulutnya sedang penuh dengan pisang goreng yang masih mengeluarkan uap panas, mencoba menjawab. Lidahnya menari-nari menghindari panas di dalam mulutnya.
"Hah?! Ini Hihang Howeng..." jawabnya dengan artikulasi yang hancur karena kepanasan, serta mata melotot.
Kakek itu ikut-ikutan melotot. "Hihang Howeng?"
"Iya... Hah... Hanasss!" imbuh bocah itu sambil menelan potongan besar itu tanpa ekspresi kesakitan yang berarti.
Kakek itu segera bangkit dari bangku taman. Ia tidak kuat lagi menahan panas di tangannya dan bergegas ke arah semak-semak. Di semak-semak yang rimbun itu, sosok kakek berubah menjadi sosok alien. Dan dalam sekejapan mata di semak-semak itu, meski agak redup, melesat satu cahaya hijau keemasan menuju langit.
Sementara kedua bocah itu merasa aneh menyaksikan kakek yang lari terbirit-birit. "Aneh. Masa gak tahu ini Pisang Goreng."
"Lapor, Komando Pusat! Invasi harus dibatalkan!" teriak alien hijau itu.
Di Pesawat Induk, Panglima Besar terkejut. "Apa alasannya, Knull?" Apa maksudmu? Cepat kembali ke markas." Ternyata alien hijau itu bernama Knull.
"Lebih buruk dari itu, Panglima!" Ucap Knull saat baru tiba di hadapan Panglima. "Manusia Bumi memiliki sumber energi padat bernama 'Hihang Howeng'. Benda ini memiliki suhu yang mampu melelehkan tubuh kita, tapi yang mengerikan adalah manusia menelan benda panas itu!"
Panglima Besar segera menyuruh bawahannya untuk mengetik di superkomputer. "Cari HIHANG HOWENG."
Layar besar menunjukkan teks merah menyala. [DATA TIDAK DITEMUKAN - UNSUR TIDAK DIKENAL].
"Panglima," lanjut Knull dengan suara bergetar, "Saya melihatnya memasukkan 'Hihang Howeng' yang panas ke mulutnya dan matanya bahkan melotot seolah akan menembakkan laser. Jika manusia kecil saja memiliki daya tahan terhadap panas setinggi itu, bayangkan bagaimana pasukan perang mereka!"
Panglima Besar memandang layar yang kosong. Rasa takut mulai menjalar. "Database kita gagal. Teknologi kita tidak bisa mendeteksi Hihang Howeng. Dan jika mereka adalah bangsa yang mampu mengonsumsi panas ekstrem, kita tidak punya peluang. Bisa-bisa kita meleleh."
Sore itu juga, ribuan pesawat alien melesat meninggalkan orbit Bumi menuju kegelapan ruang angkasa sedalam-dalamnya. Mereka memutuskan untuk mencari planet lain.
Panglima Besar memerintahkan pilot agar mengunci koordinat planet tujuan. "Kita akan menuju Planet Seblak." Tegasnya sambil sedikit meleletkan lidah.
Sontak saja mata semua anak buah Panglima itu berbinar, dan air liur para alien itu memenuhi mulut mereka. Sambil tersenyum para alien itu menelan ludah. "Yes. Level 8."