Disukai
0
Dilihat
9
Menyelamatkan Gundam Dari Istri
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Semua bermula dari sebuah dosa manis di Selasa siang. Saat jam istirahat kantor, aku menyelinap ke toko hobi di blok M. Di sana, di balik etalase kaca yang berkilauan, dia berdiri.

Metal Build Gundam Astraea Type-F.

Warnanya merah menyala. Detailnya gila-gilaan. Bahannya die-cast (besi), bukan plastik murahan. Dia memanggilku. Dia berbisik, "Bawalah aku pulang, Hanif. Aku akan melindungimu dari kesepian."

Harganya? Rp 2.800.000,-

Mahal? Tentu saja. Itu setara dengan jatah makan siangku selama tiga bulan plus biaya parkir liar.

Tapi setan di telinga kiriku berbisik: "Beli aja, Nif. Bilang aja 50 ribu. Feby kan buta harga gundam. Di mata dia, semua robot itu mainan pasar gembrong."

Dengan tangan gemetar dan adrenalin yang memuncak, aku menggesek kartu debit.

Tuuut.

Transaksi berhasil. Saldo berkurang, kebahagiaan bertambah.

Malamnya, aku melakukan operasi penyusupan. Aku masuk rumah dengan langkah mengendap-endap ala ninja Konoha. Kardus besar itu aku sembunyikan di balik jaket (yang membuatku terlihat seperti orang hamil di punggung).

"Assalamualaikum..." sapaku lirih.

"Waalaikumsalam. Bawa apa itu, Mas?" Feby muncul dari dapur, matanya setajam elang.

"Oh, ini!" Aku mengeluarkan kotak itu dengan santai (padahal jantungku sedang breakdance). "Ini titipan si Abdul, Yang. Katanya dia gak berani bawa pulang takut dimarahin bininya. Jadi titip di sini dulu."

"Oh, mainan robot lagi? Berapaan tuh?"

"Murah kok. Paling 50 ribu. Plastik kiloan ini mah. Liat aja kotaknya penyok dikit." (Padahal kotaknya mint condition).

Feby hanya mengangguk, tidak tertarik. "Yaudah, taruh lemari sana. Jangan berantakan."

"Siap, Komandan!"

Malam itu, aku tidur dengan senyum kemenangan. Aku berhasil. Aku adalah suami cerdas. Aku adalah mastermind.

Aku tidak tahu, bahwa di saku celana jinsku yang kotor, terselip sebuah bom waktu bernama: Struk Belanja.

Rabu siang. Aku sedang menikmati kopi sachet di pantry kantor, merasa hidup ini indah. Tiba-tiba, HP-ku bergetar.

Notifikasi WhatsApp dari: "Istriku Sayang (Tapi Galak)".

Biasanya, kalau jam segini dia WA, isinya cuma: "Mas, nanti pulang beliin martabak" atau "Mas, token listrik bunyi".

Tapi kali ini beda. Tidak ada teks. Hanya sebuah Foto. Aku membukanya.

Duniaku runtuh. Langit-langit kantor seolah menimpaku. Oksigen di paru-paru mendadak hilang. Foto itu menampilkan pemandangan yang mengerikan.

Gundam Astraea Type-F kebanggaanku. Sang Jenderal Merah. Dia tidak sedang berpose gagah di lemari kaca.

Dia sedang TERIKAT.

Tubuhnya dililit tali rafia warna hijau neon. Posisinya terbalik (kepala di bawah).

Dan dia digantung tepat... DI ATAS KOMPOR GAS YANG MENYALA.

Api biru terlihat menjilat-jilat udara, hanya berjarak sekitar 10 cm dari kepala robot mahalku.

Di bawah foto itu, masuklah pesan teks:

"Halo, Mas Hanif. Ternyata celana jins kamu belum dicuci ya. Aku nemu kertas sakti nih. Harganya 2,8 juta ya? Wah, 50 ribu dari Hongkong?"

Lalu pesan berikutnya:

"Transfer 3 Juta sekarang buat beli Tas Charles & Keith atau robot ini jadi lelehan plastik estetik. Waktumu 30 menit sampai aku selesai masak air."

Aku menjatuhkan gelas kopiku. 

Prang!

Bodo amat gelas pecah. Hati aku lebih pecah.

Ketahuan. Tamat riwayatku. Dan sekarang terjadi penyanderaan di rumahku sendiri.

"DARURAT! DARURAT!" teriakku dalam hati.

Aku langsung lari ke meja bos.

"PAK! SAYA IZIN PULANG CEPAT! DARURAT KELUARGA!"

"Kenapa Hanif? Istri melahirkan?" tanya Bos kaget.

"BUKAN PAK! LEBIH PARAH! ADA PENYANDERAAN JENDERAL DI DAPUR SAYA!"

Tanpa menunggu jawaban, aku menyambar tas dan lari terbirit-birit. Aku memacu motor Beat-ku seperti pembalap MotoGP yang dikejar debt collector. Perjalanan pulang yang biasanya 45 menit, aku tempuh dalam 20 menit. Aku menerobos lampu merah (maaf Pak Polisi), aku menyalip angkot dari kiri, aku terbang di atas polisi tidur.

Di kepalaku hanya ada satu bayangan: Plastik die-cast seharga 2,8 juta itu meleleh perlahan menjadi bubur merah.

Sampai di depan rumah.

Sunyi... Terlalu sunyi...

Aku membuka pintu depan dengan kasar. BRAK!

"FEBY! JANGAN LAKUKAN ITU!" teriakku histeris.

Aku berlari ke dapur.

Dan di sanalah aku melihatnya. Pemandangan yang membuat lututku lemas.

Feby duduk santai di kursi makan sambil meminum es teh manis. Di tangannya ada sebuah spatula kayu yang dipegang seperti tongkat komando.

Di depannya, kompor gas menyala dengan api sedang.

Dan di atasnya, tergantung dengan menyedihkan, Sersan Metal Astraea.

Dia berputar-putar pelan karena angin, seolah sedang dipanggang hidup-hidup. Jarak kepalanya dengan api semakin dekat karena tali rafianya mulai memuai kena panas.

"Masya Allah... Sersan..." bisikku, air mata menetes.

Feby menoleh. Wajahnya dingin. Senyumnya tipis, menyeramkan. Senyum psikopat yang baru saja memenangkan lotre.

"Oh, sudah pulang? Cepet juga. Padahal 5 menit lagi kepalanya bakal jadi fondue."

"Feby! Matikan apinya! Itu bahaya! Itu aset negara!"

"Aset negara gundulmu," potong Feby tajam. Dia mengacungkan struk belanja di tangan kirinya. "Ini apa? Hah? Dua juta delapan ratus ribu? Kamu bilang 50 ribu? Kamu pikir aku sebodoh itu? Uang segitu bisa buat beli beras 3 karung, minyak goreng setahun, sama skincare aku sepaket lengkap!"

"Itu... itu investasi, Yang! Harganya bakal naik!"

"Bodo amat. Sekarang, negosiasi dimulai. Transfer 3 juta ke rekening aku sekarang, atau aku gedein apinya."

Feby memegang kenop kompor.

Aku menjerit. "JANGAN! JANGAN DIPUTER!"

Aku melempar tasku ke lantai dan berlutut.

Ya, aku berlutut. Harga diri laki-laki sudah tidak ada artinya di depan kompor gas ini.

"Yang, dengerin aku dulu. Kita bicarakan baik-baik. Kita ini suami istri. Kita membangun rumah tangga ini dengan cinta, bukan dengan ancaman bakar-bakaran mainan," bujukku dengan suara bergetar.

"Cinta tidak membayar tagihan Paylater, Hanif," jawab Feby dingin. "Kamu punya uang buat beli mainan ginian, tapi giliran aku minta Tas yang lagi diskon kemaren, kamu bilang 'nanti dulu, lagi nabung'. Ternyata nabungnya buat ginian?"

"Itu... itu Self Reward, Yang! Aku kerja keras bagai kuda!"

"Oh, Self Reward? Oke. Sekarang aku juga mau Self Reward. Tas itu harganya 3 juta. Transfer, dan Sersan Plastik ini selamat."

Aku memegang kepalaku yang pening.

"Tiga juta? Yang, saldo aku tinggal sisa gaji bulan depan. Kalau aku transfer sekarang, aku makan apa di kantor? Makan kertas HVS?"

"Itu bukan urusan saya," kata Feby sambil memutar kenop kompor sedikit.

Api membesar. WUSSS.

Hawa panas menerpa wajah Gundam itu. Aku bersumpah aku melihat cat merah di helmnya mulai berkeringat.

"FEBY! STOOOP! OKE! OKE! KITA TAWAR MENAWAR!"

"Gak ada tawar menawar. Ini bukan Pasar Tanah Abang."

"Tolonglah, Yang! Tas KW aja ya? Yang satu jutaan? Di Mangga Dua banyak yang mirip asli!"

Feby menatapku dengan tatapan membunuh.

"Kamu beli mainan ORI, tapi nawarin istri barang KW? Dimana hati nuranimu, Hanif?"

Dia mengambil sebuah gunting dapur.

Dia tidak menggunting talinya. Dia mengarahkan gunting itu ke... Sayap Gundam.

"Satu juta, sayap kanan putus," ancam Feby.

"JANGAAAN! ITU PART PALING SUSAH DICARI!" aku menangis. Benar-benar menangis. "Oke! Oke! Dua juta! Dua juta ya? Itu batas maksimal limit aku! Sisanya aku pijitin kamu tiap malem selama sebulan! Aku cuci piring sebulan! Aku nyetrika baju sebulan!"

Feby tampak berpikir. Dia mengetuk-ngetuk spatula ke dagunya.

"Dua juta... plus cuci piring, nyetrika, ngepel, dan pijit kaki tiap malem selama sebulan?"

"IYA! IYA! APA AJA! ASAL TURUNIN ROBOTNYA!"

"Hmmm..." Feby melirik ke arah Gundam yang malang itu. "Kurang. Tambahin satu lagi."

"Apa lagi?!"

"Setiap hari minggu, kamu yang masak. Dan nggak boleh masak mie instan. Harus masakan proper."

Aku menelan ludah. Aku cuma bisa masak air. Tapi melihat Sersan Metal sudah di ambang kematian, aku tidak punya pilihan.

"DEAL! AKU MASAK! AKU JADI CHEF JUNA! TURUNIN SEKARANG!"

"Transfer dulu. Ada uang, ada barang."

Dasar lintah darat berkedok istri sholehah.

Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan HP. Membuka aplikasi M-Banking.

Jari-jariku menekan angka nominal dengan hati teriris.

Rp 2.000.000,-

Klik. Kirim.

M-PIN dimasukkan. Ting! Transaksi Berhasil.

Aku menunjukkan layar HP ke Feby. "Udah! Masuk! Cek!"

Feby mengecek HP-nya. Sebuah senyum lebar merekah di wajahnya. Senyum kemenangan yang menyilaukan.

"Nah, gitu dong. Kan enak kalau kooperatif."

Dia mematikan kompor. Klik.

Api padam.

Sersan Metal selamat dari panggangan. Feby mengambil gunting, memotong tali rafia itu. Gundam itu jatuh ke tanganku. Aku menangkapnya seperti seorang ibu menangkap bayi yang jatuh dari gedung.

"Anakku... Sayangku... Kamu gapapa, Nak?"

Aku memeriksa seluruh tubuh robot itu.

Apakah ada cat yang meleleh? Apakah sendinya longgar? Apakah ada bau gosong?

Syukurlah. Dia tangguh. Dia Metal Build. Dia tahan panas (sedikit). Hanya terasa hangat di bagian helm, seperti baru demam. Aku memeluk robot itu erat-erat, menciuminya.

"Maafin Papa ya, Nak. Papa lalai. Papa ceroboh ninggalin struk di celana. Papa janji nggak akan ulangin lagi."

Feby melihat adegan itu dengan tatapan jijik.

"Idih. Lebay banget. Sama istri nggak pernah dipeluk gitu."

"Kamu jahat!" seruku sambil mengelus kepala robot. "Kamu monster! Kamu nyaris membunuh harapan dan impianku!"

"Harapan dan impian kok bentuknya plastik," cibir Feby. "Udah ah, aku mau checkout tas dulu. Makasih ya, Mas Hanif sayang. Kamu emang suami terbaik kalau lagi kepepet."

Feby melenggang pergi ke kamar dengan hati riang gembira, meninggalkan aku di dapur yang masih berbau gas.

Aku duduk lemas di lantai dapur.

Mari kita hitung kerugian hari ini:

Harga Gundam: 2,8 Juta. Harga Tebusan (Tas): 2 JutaTotal Pengeluaran: 4,8 Juta.

Aku menatap Sersan Metal di tanganku.

"Nak... sebulan ke depan kita puasa ya. Papa bakal bawa bekal nasi garem ke kantor. Kamu jangan minta jajan aksesoris senjata dulu ya."

Malam itu, suasana rumah kembali kondusif, tapi dengan ketegangan yang tersisa. Feby sedang senyum-senyum sendiri melihat HP, melacak pengiriman paket tasnya.

Aku sedang duduk di pojokan kamar, membersihkan sisa-sisa tali rafia yang nempel di kaki Gundam menggunakan cotton bud dan alkohol, dengan ketelitian seorang dokter bedah.

"Mas," panggil Feby.

Aku tersentak kaget, refleks menyembunyikan Gundam di belakang punggung. "Apa?! Gak ada duit lagi! Sumpah!"

"Santai kali. Aku cuma mau bilang, besok jangan lupa ya. Jadwal nyuci piring dimulai."

Aku menghela napas panjang. "Iya."

"Sama mijitin kaki aku. Pegel nih abis shopping online."

"Iya, Kanjeng Ratu."

Feby mendekatiku. Dia duduk di sebelahku.

Dia melihat Gundam yang aku pegang.

"Mas, sebenernya robot ginian tuh asiknya di mana sih? Cuma diem doang. Nggak bisa diajak ngobrol. Mahal lagi."

Aku menatap mata Feby dalam-dalam.

"Yang, ini bukan soal dia bisa ngomong atau enggak. Ini soal Jiwa. Laki-laki itu, di dalam hatinya, selamanya adalah anak kecil yang ingin jadi pilot robot raksasa dan menyelamatkan dunia. Robot ini adalah manifestasi dari mimpi itu. Saat aku liat dia, aku merasa... gagah. Aku merasa bisa mengalahkan monster."

Feby terdiam. Dia tampak merenung.

"Oh, gitu..."

"Iya."

"Berarti kamu ngerasa gagah kalau punya robot?"

"Betul."

"Tapi tadi pas robotnya mau dibakar, kamu nangis-nangis kayak bayi minta susu. Gagahnya di mana?"

Skakmat.

Harga diriku hancur lagi.

"Itu... itu air mata strategis, Yang! Biar musuh luluh!"

Feby tertawa. Dia mengacak-acak rambutku.

"Yaudah deh. Jagain tuh 'anak' kamu baik-baik. Lain kali kalau mau beli lagi, bilang. Jangan ngumpet-ngumpet."

Mataku berbinar. "Serius? Boleh beli lagi?"

"Boleh. Asal beliin aku tas yang harganya sama. Fair kan?"

Aku menghitung cepat.

Kalau aku mau beli Perfect Grade seharga 5 juta, berarti aku harus siapin 10 juta (5 juta buat robot, 5 juta buat tas Feby).

Artinya: Mustahil.

Itu sama saja dengan larangan halus.

"Iya deh... makasih ya, Yang," jawabku lemas.

Seminggu kemudian.

Tas Feby sudah datang. Dia bahagia. Aku masih menjalani hukuman kerja rodi (nyuci, ngepel, mijit). Tapi, apakah aku kapok?

Tentu tidak.

Seorang kolektor tidak akan pernah berhenti hanya karena ancaman kebangkrutan. Hari ini, aku baru saja Pre-Order Gundam baru lagi. Metal Build Hi-Nu Gundam. Harganya? Rahasia negara. Tapi kali ini, aku sudah belajar. Aku tidak akan menyimpannya di rumah. Aku sudah menyewa laci rahasia di bawah meja kantorku.

Dan struk belanja?

Sudah aku makan. Literal. Aku kunyah dan aku telan bersama pisang goreng tadi siang.

Tidak ada bukti, tidak ada kejahatan.

"Mas, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Feby curiga saat kami nonton TV.

"Enggak, Yang. Cuma lagi mikirin... betapa beruntungnya aku punya istri sebaik kamu," dustaku dengan wajah paling polos sedunia.

Feby menyipitkan mata. Insting detektifnya menyala.

"Awas ya. Kalau ada struk lagi, robot yang kemaren aku jadiin ganjelan pintu."

Aku menelan ludah.Misi selanjutnya: Operasi Penyelamatan Sersan Metal Jilid 2 (Menjauhkan dari Pintu).

Perang dingin ini belum berakhir.

Pesan Moral: Jangan pernah meremehkan kemampuan istri dalam menemukan struk belanja. Dan ketahuilah, "Titipan Teman" adalah alasan paling basi dalam sejarah persaudaraan laki-laki.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi