Abi Hoyong Magnum, Pak!

Di sebuah rumah yang cukup besar, tinggal seorang anak yang masih kecil dengan Bapaknya. Mereka hanya berdua di rumah itu, karena Ibunya sedang menginap di rumah Adiknya untuk mempersiapkan pernikahan Sang Adik. Suatu ketika, anak bernama Dendra meminta sesuatu pada Bapaknya yang sedang meroko di teras rumah.

Kata Dendra. "Pa, abi hoyong magnum."

Dia memintanya, karena cuaca saat itu sangatlah panas.

Namun, Bapaknya menjawab, "Nak, gak boleh. Kamu tuh masih kecil. Nanti paru-paru kamu rusak sama gigi kamu kuning."

Anak seumuran 5 tahun memang belum mengerti efek setelah makan magnum. Dia hanya menuruti ucapan Bapaknya itu, karena mungkin ucapan Bapaknya itu ada benarnya juga.

Bertahun-tahun, Dendra meminta hal yang sama. Tetapi, tidak kunjung juga dibelikan oleh Bapaknya. Dengan alasan, dia masih kecil lah, belum cukup umur lah. Itu adalah suatu alasan yang membingungkan bagi Dendra. Kini, dia sudah SMA dan usia 19 tahun. Mungkin, jika dia meminta kembali, Bapaknya bakal menuruti permintaanya.

Menghampiri Bapaknya yang sedang merokok di teras depan. "Pa, Dendra sudah SMA. Bapak gak lupa kan mau beliin magnum?"

Menjawab pertanyaan Dendra sambil terus menghisap rokoknya sampai mengecil. "Ayo, kita ke swalayan sekarang."

Saat di tempat swalayan, Dendra berjalan ke tempat magnum itu berada. Namun, perkataan Bapaknya membuat Dendra menganga.

"Nak, kamu ngapain disitu? Katanya mau magnum. Ini lho ada di etalase. Kenapa jadi ingin beli es? Sini."

Dendra mikir dan berkata dalam hati. "Emang, ice cream kalau di simpan di etalase ga akan mencair yah? Ah , aku ikutin Bapak dulu saja deh, jangan-jangan selama ini Bapak salah ngira?"

"Nih, magnum yang selama ini kamu mau kan? Nak?"

"Hemm, buset dah. Pantesan dari kecil tuh Bapak gak pernah turutin kemauan Dendra."

"Iya lah, kan kamu baru bisa nikmatinnya sekarang setelah cukup umur."

"Haha, maksud Dendra ice cream magnum Pa, bukan roko magnum."

"Ini Mas, jadi berapa?"

"12ribu."

"Okeh, terima kasih Mas.. Dah Pa, Bapak yang bayar ya, makasih Pa hehe."

"Nak, mau kemana. Ko Bapak ditinggal ? Lho jadi selama ini saya salah kira." (menggaruk-garuk kepala).

385 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction