NIKAH EXPIRED DUA MINGGU
“Man, aya order deui, yeuh (ada order lagi nih)! Poe Kamis jam sapuluh maneh siga biasa nya’ ( kamu seperti biasa ya), jadi penghulu! Ajak Kang Dudung keur (untuk) wali nikah,” ujar Kokom pada Maman, dalam percakapan di ponsel.
“Dimana Ceu (kak)?!”
“Biasa, di Vila Kota Buah. Klaster Oriental blok S 2 nomor hiji. Sakalian mawa tilu urang keur (bawa tiga orang untuk) jadi saksi, nya (ya)!"
“Siyaap, Ceu!”
Kokom, mantan TKI yang sudah ‘pensiun’. Selama tiga tahun perempuan setengah baya itu bersama rekannya Imas, menekuni profesi sebagai perantara ‘nikah sementara’.
Kokom bertugas mencari pria-pria asing, kebanyakan dari Timur Tengah. Dia fasih berbahasa Arab, karena telah dua puluh tahun, dua puluh bulan, dua puluh hari, dua puluh jam dan dua puluh menit bekerja disana (Berdasarkan data ngawur Linkedin). Sedangkan Imas, mencari perempuan geulis di kampungnya untuk ditawari ‘pekerjaan’ mudah, enak dan uangnya banyak.
Pagi itu, di sebuah villa sewaan Kota Buah di Cipanas, tengah berlangsung prosesi ijab kabul pernikahan. Cuma segelintir orang yang hadir.
“Baik, silakan wali mengucapkan ijab!” ujar Maman -tukang ojek- yang berperan sebagai penghulu, setelah mengucapkan doa dan kalimat pembuka.
“Saya nikahkan Neneng dengan Tuan Salem Al-Asan selama jangka waktu dua minggu, dengan mas kawin koin sebesar 25 juta rupiah, dibayar nyicil!” ucap Dudung, yang bertindak sebagai wali nikah.
“Saya terima nikahnya Neneng, dengan mas kawin yang tersebut, nyicil!” kata Salem Al-Asan, yang diterjemahkan oleh Kokom.
“Bagaimana saksi? Sah?!” tanya Penghulu Maman.
“Saaahh!!!”
Sementara itu, disaat prosesi ijab kabul sedang berlangsung, salah seorang saksi yang bernama Ajat, berbisik pada Ginanjar, temannya yang jadi saksi juga. Matanya tak lepas dari si pengantin wanita.
“Eta si Neneng, geuningan daek nya’ (kok, mau ya) Teu sieun jeung (gak takut dengan) ‘rudal hipersonik buatan Iran’?!”
“Hehe, kan dia sudah janda, Jat! Dapat duitnya juga gede.”
“Dulu sebelum nikah sama Deni, incaran saya tuh, si Neneng. Seandainya punya banyak uang, sudah saya kawinin beneran dia!”
“Gimana mau banyak uang, kamu kan cuma tukang ojek!” ledek Ginanjar.
“Biar tukang ojek, saya ganteng, Jar! Banyak yang bilang mirip Baim Wong!”
“Iya gitu?! Tapi KW tiga, meureun (kali)! Hehe.”
“Saya gak bisa bayangin, gimana nanti ‘rudal hipersonik’ Kang Salem membombardir ‘markas militer’ si Neneng! Apakah ‘markas’nya yang luluh lantak, atau ‘rudal’nya yang malah melempem?!”
“Kayak perang aja!”
“Ya mirip Jar! Perang ‘tanpa gencatan senjata’!
“Euleuh, gelo maneh,(wah, gila kamu) Jat!"
Obrolan bisik-bisik mereka terhenti oleh pertanyaan penghulu di bagian pengesahan saksi.
Akhirnya, prosesi ijab kabul pernikahan expired 14 hari alias dua minggu, selesai. Satu persatu meninggalkan villa. Tak ada tamu undangan. Tak ada resepsi. Tidak pula nasi kotak. Hanya beberapa botol air mineral dan roti, itu pun sehari lagi expired.
Di perjalanan, Ajat tak hentinya mengeluh pada Ginanjar, akan nasibnya yang cuma tukang ojek pangkalan.
“Lelaki kalo banyak uang, gampang aja cari kesenangan ya Jar?! Nah kita, jangankan kesenangan, buat makan pun susah!”
“Tapi hari ini kita bisa makan enak, Jat! Lumayan dapat gopek dari Ceu Kokom,” hibur Ginanjar.
*****