Disukai
0
Dilihat
6
Bertahan Hidup Dengan Yang Termurah
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tanggal 26. Bagi sebagian orang, ini adalah hari biasa. Bagi pegawai kantoran sepertiku, ini adalah "Zona Maut". Gaji bulan lalu sudah lama menjadi arwah gentayangan, sementara gaji bulan depan masih berupa fatamorgana yang jauh. Saldo ATM-ku menunjukkan angka yang sangat estetik: Rp 175.000,-. Angka ini harus cukup untuk hidup seminggu ke depan, termasuk makan, transport, dan yang paling krusial belanja kebutuhan bulanan yang sudah habis total.

Aku berdiri di depan pintu kaca otomatis supermarket "Maju Mundur Mart". Hembusan AC dingin menerpa wajahku, seolah menyambutku ke dalam arena gladiator. Aku tidak mengambil troli. Troli itu terlalu besar. Troli adalah simbol kemewahan yang memancing kita untuk mengisinya dengan barang-barang tidak berguna. Aku mengambil keranjang merah kecil. "Fokus, Devi. Fokus. Kita di sini untuk bertahan hidup, bukan untuk gaya hidup," mantrakku pada diri sendiri.

Misi hari ini: Membeli Shampoo, Sabun Mandi, Pembersih Wajah, Deodoran, dan Lauk Pauk. Budget Alokasi: Rp 100.000,- (Sisa 75 ribu buat ongkos KRL seminggu). Tantangan: Mustahil. Solusi: Kreativitas tanpa batas (dan sedikit gila).

 

DILEMA RAMBUT DAN TEKNOLOGI OTOMOTIF

Aku melangkah ke lorong 3: Personal Care. Wangi sampo dan sabun menyeruak, wangi kemewahan yang menyakitkan hidung. Aku berdiri di depan rak sampo. Merek-merek terkenal berjejer rapi. Pantene, Rejoice, Dove. Botol-botol cantik itu seolah mengejekku. Harga termurah botol kecil: Rp 28.000,-.

"Dua puluh delapan ribu?!" pekikku dalam hati. "Itu bisa buat makan warteg dua kali plus es teh manis!" Kalau aku beli ini, budget makan terpotong drastis. Tidak bisa. Rambutku memang lepek, tapi lambungku lebih prioritas.

Mataku menyisir ke bawah, mencari sampo sachet. Sampo sachet rencengan harganya Rp 1.000 per sachet. Butuh sekitar 15 sachet sebulan. Total Rp 15.000. Masih mahal.

Aku berjalan mundur, putus asa. Saat itulah mataku menangkap sesuatu di rak seberang. Rak Perawatan Kendaraan. Ada botol kuning besar, ukurannya 1 liter. Judulnya: "KIT WASH & GLOW - SHAMPOO MOTOR DENGAN WAX". Harganya: Rp 12.500,-.

Otak ekonomis-ku mulai berputar dengan logika sesat. Analisis Devi:

  1. Fungsi sampo motor: Membersihkan kotoran, debu, dan minyak membandel.
  2. Masalah rambutku: Kotor, berdebu, dan berminyak (karena naik ojek online).
  3. Fitur tambahan: Mengandung Wax untuk "Kilau Memukau".
  4. Kesimpulan: Rambutku akan bersih dan berkilau seperti bodi Honda Beat yang baru dicuci.

"Apa bedanya rambut sama spakbor?" gumamku. "Sama-sama butuh dibersihkan dan dikilapkan. Malah ini lebih canggih, ada Wax-nya. Rambut gue bakal waterproof."

Tanpa ragu, aku mengambil botol "Kit Wash & Glow" 1 Liter itu. Rp 12.500 untuk stok 3 bulan. Hemat: 90%. Status: JENIUS.

 

WAJAH GLOWING DENGAN KEKUATAN LEMON

Lanjut ke kebutuhan berikutnya: Sabun Cuci Muka (Facial Wash). Stok Garnier ku sudah habis. Aku memencet tube-nya sampai gepeng, bahkan kugunting tengahnya, tapi isinya sudah benar-benar nol.

Aku melihat harga Facial Wash standar. Rp 35.000,-. Mahal. Terlalu mahal. Aku butuh sesuatu yang bisa mengangkat minyak di wajah, membersihkan pori-pori, dan membuat kesat.

Aku berjalan ke lorong Pembersih Rumah Tangga. Mataku tertuju pada benda hijau berbentuk wadah plastik bundar. "SABUN COLEK EKONOMI - AROMA LEMON NIPIS". Harga: Rp 3.500,-.

Analisis Devi:

  1. Klaim produk: "Menghilangkan lemak membandel dalam sekali usap."
  2. Kondisi wajahku: Berminyak parah (kilang minyak Arab Saudi kalah).
  3. Kandungan: Ekstrak Jeruk Nipis.
  4. Fakta medis (ngarang): Jeruk nipis bagus buat jerawat dan mencerahkan wajah (Vitamin C).

Logikaku berdebat. Nurani: "Dev, itu sabun buat pantat panci! Muka lo nanti iritasi!" Dompet: "Dev, sadar diri. Muka lo kulit badak. Panci aja kinclong, masa muka lo enggak? Liat tuh ada tulisan 'Lembut di Tangan'. Kalau lembut di tangan, berarti aman di muka."

Aku membayangkan wajahku bebas minyak, kesat, dan wangi lemon segar sepanjang hari. Plus, kalau ada noda tinta atau daki di leher, sabun colek ini pasti bisa mengatasinya lebih baik daripada sabun muka mahal yang gentle-gentle gak jelas itu.

Plung. Sabun colek masuk keranjang. Total belanja sementara: Rp 16.000,-.

 

PARFUM AROMA TERAPI (DAN PENGUSIR HAMA)

Masalah berikutnya: Deodoran dan Parfum. Aku kerja kantoran. Aku tidak boleh bau badan. Tapi parfum Zara atau The Body Shop adalah mimpi di siang bolong. Bahkan Pucelle di supermarket pun harganya Rp 25.000,-.

Aku butuh wangi yang:

  1. Tahan lama (Long lasting).
  2. Semerbak (Strong projection).
  3. Murah.

Aku berjalan melewati rak pengharum ruangan. Ada STELLA JERUK GANTUNG. Harga Rp 12.000,-. Wangi, tapi bentuknya aneh kalau digantung di leher.

Lalu aku melihat ke bawah. "BAGUS KAPUR BARUS - AROMA LAVENDER (ISI 6 BUTIR)". Harga: Rp 18.000,-.

Tunggu... kapur barus? Orang biasanya pakai ini di lemari baju biar baju wangi dan gak dimakan ngengat. Ide Brilian: Kalau aku taruh sebutir kapur barus di saku kemeja atau saku celana, otomatis badan aku wangi Lavender dong? Wangi kapur barus itu kuat banget. Tahan berminggu-minggu. Kena keringat juga gak luntur. Bonus: Aku bakal terhindar dari gangguan kecoa dan semut di kantor.

"Ini namanya Smart Perfume," pikirku. "Multifungsi. Wangi, awet, dan anti-hama." Lagipula, Lavender itu wangi mahal. Orang kaya pake essential oil Lavender. Aku pake solid state Lavender. Sama aja.

Plung. Kapur barus masuk keranjang. Total belanja sementara: Rp 34.000,-.

 

PROTEIN HEWANI DARI DIMENSI LAIN

Sisa budget: Rp 66.000,-. Sekarang misi terberat: Makanan (Lauk Pauk). Aku butuh protein. Manusia tidak bisa hidup dengan mie instan saja (walaupun ingin).

Aku berjalan ke area Fresh Food. Daging Sapi (Rawon/Rendang): Rp 130.000/kg. (Lewat). Daging Ayam Fillet: Rp 60.000/kg. (Lewat). Ikan Gurame: Rp 55.000/kg. (Lewat).

Aku berdiri di depan freezer dengan tatapan kosong. Apa yang bisa dimakan dengan budget minim tapi tetap bergizi? Tiba-tiba aku melihat tumpukan bungkusan plastik di pojok freezer yang sepi peminat. Labelnya: "MAKANAN PENUNJANG / LIMBAH PRODUKSI".

Ada bungkusan berisi Kepala Ikan Salmon. Harga: Rp 15.000,- (Isi 3 Kepala Besar). Biasanya ini dibeli orang buat makanan kucing atau buat kaldu sop. Tapi tunggu... Di kepala ikan itu masih ada dagingnya! Ada pipi ikan yang lembut. Ada mata ikan yang... juicy. Dan otaknya mengandung Omega-3 tinggi!

"Orang Jepang makan kepala ikan salmon itu mewah. Namanya Kabutoyaki," hiburku. "Gue tinggal kasih kecap, bakar dikit, jadi deh menu bintang lima."

Lalu aku melihat bungkusan lain. Ceker Ayam. Harga: Rp 10.000,- (Sekilo). Banyak orang jijik sama ceker. Tapi bagiku, ceker adalah sumber kolagen. "Skincare dari dalam," pikirku. "Muka dipoles sabun colek, dari dalem disuplai kolagen ceker. Kinclong luar dalem."

Aku mengambil 1 bungkus Kepala Salmon dan 1 bungkus Ceker. Total lauk: Rp 25.000,-. Sisa budget: Rp 41.000,-.

 

PEMBALUT VS KAPAS

Satu kebutuhan wanita yang tidak bisa ditawar: Pembalut. Periodeku akan datang minggu depan. Aku melihat rak pembalut. Merek Laurier atau Charm yang isi banyak harganya sekitar Rp 20.000,-. Standar sih. Tapi bisakah lebih murah?

Aku melihat ke rak P3K (Pertolongan Pertama). Ada Kapas Gulung 500 gram. Harga: Rp 12.000,-. Ada Kasa Steril. Harga: Rp 5.000,-.

Otak MacGyver-ku bekerja. Kalau kapas digulung tebal, lalu dibungkus kasa... itu fungsinya sama kan? Menyerap cairan? Dulu nenek moyang kita juga pake kain. Ini malah lebih higienis karena kapas medis. Satu gulung kapas 500 gram bisa jadi... mungkin 50 pembalut custom size? Bisa diatur ketebalannya sesuai flow. Bisa mode Night, mode Heavy, mode Light. Fleksibel!

"Ini DIY Sanitary Pad," putusku. "Lebih eco-friendly (mungkin) dan jauh lebih murah." Plung. Kapas dan kasa masuk keranjang. Total belanja sementara: Rp 34.000 (Personal Care) + Rp 25.000 (Lauk) + Rp 17.000 (Pembalut DIY) = Rp 76.000,-.

Masih sisa Rp 24.000,-!

 

SNACK ORANG KAYA (VERSI CURAH)

Dengan sisa 24 ribu, aku merasa kaya. Aku butuh camilan. Tapi Chiki atau Pringles itu mahal dan isinya angin. Aku pergi ke bagian Curah (Kiloan).

Di sana ada toples-toples besar berisi biskuit. Ada satu toples berisi Biskuit Hancur/Remahan Wafer. Labelnya: "REJECT PABRIK - LAYAK KONSUMSI". Harganya: Rp 5.000,- per 500 gram.

Ini adalah harta karun! Rasa wafer Tango atau Selamat yang hancur itu sama persis dengan yang utuh. Bedanya cuma bentuknya bubuk atau patah-patah. "Di dalam perut juga bakal ancur," logikaku. Dengan 5 ribu perak, aku bisa dapet setengah kilo wafer premium!

Aku bungkus 1 kilo sekalian. Rp 10.000,-. Sisa 14 ribu.

Buat minum? Air mineral botol mahal. Aku beli Teh Celup Sariwangi isi 25 (Rp 6.000) dan Gula Pasir Curah seperempat kilo (Rp 4.000). Total Rp 10.000. Dengan ini aku bisa bikin es teh manis sepuasnya di kantor (pake air galon kantor dan es batu freezer kantor).

Sisa Rp 4.000,-. Aku beli Korek Api Kayu (Rp 500) dan Lilin (Rp 3.500). Bukan buat ngepet. Tapi buat jaga-jaga kalau token listrik kosan abis dan aku belum gajian. Romantic Dinner pake kepala ikan ditemani lilin. Estetik.

KASIR DAN PENGHAKIMAN

Keranjangku penuh. Misi selesai. Total pas Rp 100.000,-. Aku berjalan ke kasir dengan kepala tegak. Di depanku, ada Ibu-ibu sosialita dengan troli penuh: Daging Wagyu, Anggur Muscat, Susu Almond, Sampo L'Oreal. Total belanjaannya: Rp 2.500.000,-.

Giliran aku maju. Aku menaruh barang-barangku di meja kasir. Mbak Kasir mulai men-scan. BEEP. Kit Wash & Glow (Sampo Motor). Mbak Kasir menatapku. "Punya motor apa Mbak? Gede amat samponya." "Honda Beat, Mbak. Biar kinclong," jawabku datar.

BEEP. Sabun Colek Ekonomi. "Buat nyuci piring ya Mbak?" "Buat nyuci... dosa," jawabku asal. Gak mungkin aku bilang buat muka.

BEEP. Kapur Barus. "Banyak kecoa di kosan Mbak?" "Iya, kecoa berwujud manusia,".

BEEP. Kepala Ikan Salmon & Ceker. Mbak Kasir tersenyum. "Wah, punya kucing ya Mbak? Pasti kucing ras nih makannya kepala salmon." Aku terdiam sejenak. Hening. "Iya... buat... 'kucing' saya. Namanya Devi," jawabku pelan. (Devi adalah aku).

BEEP. Kapas Gulung & Kasa. "Lagi ada yang luka Mbak?" "Luka finansial, Mbak. Pendarahan dompet."

BEEP. Remahan Wafer Hancur. Mbak Kasir menatap bungkusan bubuk wafer itu dengan prihatin. "Ini buat... taburan kue?" "Bukan. Buat dimakan pake sendok. Kayak sereal."

Total Belanja: Rp 99.500,-. (Lilin dan korek gak jadi kena pajak jadi pas). Aku membayar dengan uang pas. Mbak Kasir memberikan struk dengan tatapan iba. Mungkin dia berpikir aku sedang merakit bom atau membuka praktek dukun beranak, melihat kombinasi barang-barangku (Kapas, Kasa, Sabun Colek, Kepala Ikan, Kapur Barus).

 

Keesokan harinya di kantor. Aku datang dengan percaya diri baru.

Rambut: Rambutku kaku, tegak, dan berkilau aneh. Efek Wax dari sampo motor ternyata membuat rambutku waterproof dan kaku seperti pakai hairspray permanen. Kalau kena angin, rambutku tidak bergerak. Helm-proof. Teman kantorku, Novi, bertanya, "Dev, lo abis smoothing atau coating? Mengkilap banget kayak pantofel Pak Bos." "Ini treatment keratin otomotif, Nov," jawabku bangga.

Wajah: Wajahku kesat. Kering kerontang sampai kalau senyum rasanya kulit mau robek. Efek sabun colek jeruk nipis sangat dahsyat. Minyak hilang, beserta kelembaban alaminya. Tapi setidaknya tidak kusam. "Muka lo putih banget Dev, kayak... kayak piring baru dicuci," komentar Hanif. "Bersih itu sehat, Nif."

Aroma: Ini yang paling ajaib. Setiap aku lewat, orang-orang mengendus-endus. "Kok bau... lemari nenek gue ya?" tanya Novi. "Bukan, ini bau toilet mall yang bersih," sanggah Hanif. Aku tersenyum. Di saku blazerku, tersimpan sebutir kapur barus Lavender. Wanginya menyebar radius 5 meter. Nyamuk tidak ada yang berani mendekat. Bahkan lalat pun pingsan. Aku adalah Human Repellent.

Makan Siang: Jam istirahat. Teman-teman memesan HokBen atau Padang. Aku membuka bekal. Nasi putih (dari beras sisa bulan lalu) dengan lauk Kepala Ikan Salmon Bakar Kecap. Baunya harum. "Wih, Devi makan Salmon! Mewah!" seru Hanif. "Kepalanya doang, Nif. Intisari kehidupan ada di kepala," jawabku sambil mengorek pipi ikan dengan telaten. Rasanya? Enak! Gurih, berlemak, dan amis-amis sedap.

Lalu aku mengeluarkan toples berisi Remahan Wafer. Aku memakannya dengan sendok seperti bubur bayi. "Itu apa Dev? Tanah kuburan?" "Ini Deconstructed Wafer, Nif. Seni kuliner post-modern."

Sorenya, saat ke toilet. Aku memakai DIY Pembalut (Kapas + Kasa). Rasanya... tebal. Seperti memakai popok bayi atau duduk di atas bantal sofa. Jalanku jadi agak mengangkang. "Dev, lo sakit ambeien?" tanya Novi melihat jalanku yang aneh. "Lagi heavy flow, Nov. Pake pembalut Maxi Protection," jawabku. Padahal aslinya kapasnya nge-gumpal.

Tapi, hari itu berakhir dengan kemenangan. Aku kenyang. Aku wangi (menurutku). Rambutku badai (kaku). Wajahku bebas minyak. Dan dompetku masih aman untuk seminggu ke depan.

Orang mungkin melihatku aneh. Perempuan dengan rambut sekeras helm, wangi kapur barus, makan remahan biskuit, dan jalan mengangkang. Tapi mereka tidak tahu, di balik keanehan ini, ada seorang jenius finansial yang berhasil menipu kemiskinan.

Aku menatap pantulan diriku di cermin lift. "Devi, kamu survivor. Kamu gila, tapi kamu survivor."

Dan malamnya, aku menyalakan lilin di kosan (hemat listrik), menatap nyala api sambil mengunyah ceker ayam, merasa seperti Ratu di istana kegelapan. Hidup itu murah, gengsi yang bikin mahal.

Pesan Moral: Jangan pernah meremehkan kekuatan "The Power of Kepepet". Di tangan orang miskin yang kreatif, Sampo Motor bisa jadi Skincare, dan Sampah Pabrik bisa jadi Fine Dining. Tapi tolong, jangan tiru adegan pakai sabun colek ke muka, kecuali kulit anda terbuat dari teflon.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi