Pis Bolong

Malam itu, ketika bulan sedang bahagia. Hingga cahayanya begitu terang dan menyisihkan para bintang. Terlihat dua orang remaja sedang menerobos hutan bambu yang berada di perbatasan desa. Tanpa berbekal apapun, hanya bermodal kenekatan semata.

"Apa sajaan ento gatra ane cai dingeh?" tanya salah satu dari mereka yang berjalan di depan.

"Sajaan. Ne gatra tusing ngae-ngae," jawab temannya yang ada di belakang.

"Lamon ento beneh, cai ajak rage lakar dadi nak bagus. Lakar bek ngelah dedeman."

"Tenang gen, Tut. Ne gatra rage dingeh pedidi uling nak tua-tua di desa. Ane maan nepukin lan nganggon ento pis bolong," ucap pemuda yang masih mengekor di belakang Ketut dengan nada yang sangat menyakinkan.

"Nah, lamon keto enggalin mejalan, Yan. Apang enggal neked ditu," pinta Ketut pada Wayan sambil menoleh ke belakang.

Wayan pun menurutinya hingga bisa beriringan dengan Ketut. Tak lama kemudian, mereka sampai di tujuan. Sebuah air terjun yang berada tepat di tengah-tengah hutan. Lalu keduanya bersembunyi di salah satu batu besar yang tidak jauh dari sana.

"Sube jam kude jani? Adi mekelo gati tekane?" tanya Ketut yang tak sabaran sambil mengusir serangga kecil yang bernyanyi di kedua telinganya.

"Sabar, mare teh jam 12 kuang lima menit," jawab Wayan sambil melihat jam tangannya.

"Dih, asanange mekelo gati, O," sungut Ketut yang memang tak sabaran.

"Cai masi ane busan nunden engal-engalin. Lamon sube kene mare sing sabaran gati," kritik Wayan yang ikut sibuk mengusir para serangga yang mulai ingin makan malam.

Baru saja Wayan selesai berkata demikian. Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang tertawa riang. Sosok itu terlihat turun dari langit menuju air terjun. Lalu melepaskan semua pakaiannya untuk mandi tepat di bawah air terjun.

Ketut dan Wayan yang melihat itu seketika menjadi senang. Apalagi bisa melihat kemolekan tubuh perempuan itu yang berambut panjang sebatas pinggul. Lalu keduanya perlahan-lahan mengendap. Mendekati pakaian perempuan itu yang berada di sebuah batu yang tidak jauh dari mereka.

Dengan penuh kehati-hatian mereka mencari sesuatu yang berada di antar tumpukan pakaian. Begitu keduanya sudah mendapatkan apa yang menjadi incaran dan hendak mengambilnya.

Tiba-tiba perempuan itu menoleh dan membuat keduanya takut setengah mati. Karena paras yang tadinya cantik, telah berubah menakutkan. Dengan bentuk tubuh yang tak kalah menyeramkan.

Berbulu lebat serta memiliki buah dada yang besar. Bergelantungan bagai buah pepaya. Dengan empat taring panjang yang menyeruak keluar dari mulut dan mata yang menyala berwarna merah.

"MEMEDI!" teriak keduanya secara bersamaan sambil lari tunggang-langgang.

"Cing! Lakar ngalih pis bolong. Maan ne memedi. Naskleng cai, Yan. Ento gantra sajaan gati mogbog," kesal Ketut yang terus berlari.

"Rage memang mogbogin cai. Apang cai dadi amah-amahan rage," sahut Wayan sambil tertawa.

"Apa maksud cai, Yan?" tanya Ketut sambil menoleh ke belakang.

Dan betapa terkejutnya Ketut yang melihat Wayan telah ikut berubah menjadi sosok leak berkepala babi hutan. Akibat itu, Ketut tidak melihat ada sebuah batu besar yang ada di depannya. Sehingga ia menabraknya dan terjatuh ke tanah.

Lalu sosok leak berkepala babi itu menerjang dan mencabik-cabik tubuh Ketut. Hingga tidak bernyawa lagi. Tak lama kemudian datanglah memedi tadi untuk ikut berpesta.

776 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction