Lari

Lari, larilah. Kau harus terus berlari, jangan sampai mereka mengejarmu.

Itulah kalimat yang terus-menerus berkumandang di otak. Untuk memecut tubuh ini, terutama bagi kedua kakiku. Agar terus melangkah dengan cepat tanpa mengenal lelah. Apalagi mereka yang ada di belakangku, terlihat semakin dekat.

"Kenapa? Kenapa kau lambat sekali? Apa kau sudah mulai lelah? Apa kau mau membiarkan mereka mengejarmu?" tanya sang otak dengan nada meremehkan.

"Tidak akan! Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bisa mengejarku. Tidak akan pernah!" jawab hatiku dengan penuh kebulatan tekad.

Sedangkan kedua kakiku terus berlari tanpa mengurangi irama kecepatannya. Karena sedikit saya berkurang, maka mereka semua akan mampu mengejarku. Sebab itulah, segala daya dan kekuatan aku kerahkan sepenuhnya tanpa ada keraguan sama sekali. Apalagi lari sudah menjadi bagian dari hidup ini sejak aku duduk di bangku sekolah dasar.

Masih jauh, masih sangat jauh. Aku tidak boleh menyerah. Aku harus bisa sampai ke sana. Harus bisa. Dan jangan sampai mereka berhasil mengejarku. Jangan sampai, tekadku dalam hati sambil menatap ke depan yang tampak lengang.

Dan memang saat ini di sekitarku tampak begitu sepi. Hanya ada pepohonan yang berdiri tegak di sisi kiri dan kananku. Tidak ada manusia ataupun hewan yang terlihat. Benar-benar tempat yang sunyi.

Saking sunyinya, aku bisa mendengar detak jantung ini yang berdetak sangat kencang. Seiring deru napas yang memburu tanpa jeda. Walau seperti itu, kecepatan lariku belum kendor sama sekali. Padahal sudah cukup lama aku berlari seperti ini.

Itu dia. Sudah terlihat. Sudah sangat dekat. Yah, sedikit lagi aku sampai. Jangan sampai mereka bisa mengejarku. Aku harus lebih cepat lagi. Harus!

Motivasi itu muncul saat kedua mata ini melihat garis finish yang sudah tampak sangat dekat. Dengan lautan manusia yang akan menyambut sang pemenang dari lomba lari kali ini. Lomba yang berhadiah uang ratusan juta serta piala penghargaan berwarna emas yang menyilaukan.

Suatu kebanggaan jika bisa memenangkannya. Apalagi bagiku yang selama ini terus berlari. Demi sebuah pengakuan dari mereka yang menganggap aku sebagai anak yang bodoh. Dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai pengajar di sebuah lembaga pendidikan, yang cukup terkenal di kotaku.

Aku memang bodoh dan pengecut. Tak seperti kalian yang berotak cerdas. Tapi, dengan kedua kaki ini, akan aku buktikan pada kalian semua. Bahwa aku adalah pelari nomor satu di dunia ini. Pelari maraton yang akan mencatatkan namanya dalam buku sejarah dunia.

Itulah tekadku selama ini yang membuatku tetap berlari demi hari ini. Ketika seluruh mata di dunia sedang tertuju kepada calon pemenang yang akan mengharumkan nama negaranya.

Namun, ketika kedua kaki ini hendak menyentuh garis finish. Tiba-tiba seluruh tubuhku membeku, tak bergerak sama sekali. Dengan tatapan mata yang semakin kabur.

"Sudah, kau tidak usah berlari lagi. Cukup sampai di sini kau berlari. Sudah saatnya kedua kakimu beristirahat untuk selamanya, Tidurlah yang tenang, Putra," ucap salah satu dari mereka sambil menyentuh pundak kananku yang membuat jantung ini seketika berhenti berdetak.

13 disukai 9 komentar 3.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@rudiechakil : Siap nih, makasih untuk bahan referensinya bang rudie 🙏
FF ini filosofinya sama seperti film Forrest Gump, bahkan karakternya yang agak keterbelakangan mental... wajib nonton, Mas... yang main Tom Hanks
@rudiechakil : Gk tahu bang, maaf 🙏
Oh, iya, Mas... makna filosofinya memang demikian... tapi Mas Bakasai enggak tahu jargon "Run, forest, run"?
@rudiechakil : Yah, semua manusia saat ini sebenarnya sedang berlari dr kematian. Untuk tujuan dunia. Cuman, tak sedikit kematian lbh dulu mengejar sblm tujuan didapatkan 🙏
Ruuunnnn... Forest, ruuuuun...
*Tapi endingnya, 😭😭
@lirinkw : Oh my gods 😂😂
Oh my gods 😂😂
Waduuh 😱
Saran Flash Fiction