Jamkos

Jamkos "jam kosong", siang hari setelah tidak ada KBM. Di kelas 11 C, kelas di ujung lorong selalu terdengar suara tangisan. Paul dan Rasya mengendap-endap di depan kelas, penasaran mendengar suara tangisan dari dalam kelas.

"Hiihhh...hihih..." suara tangisan, Paul dan Raysa cepat beranikan diri masuk kedalam kelas, tapi cuman kedapatan sepi saja.

"Ngak ada siapa-siapa? Loe'kan tadi dengar Ras, ada suara orang nangis?" tergurat bingung dari raut wajah Paul perhatikan kelas sepi. "Gua jadi ingat, saat kita kelas 10 tahun kemarin, Pau" terduduk Rasya perhatikan papan tulis hitam di hadapannya. "Pasti loe ingat'kan sama Ayu, gadis cantik sekelas kita. Tapi sayang ya, Ayu udah ngak ada dan Ayu hilang gitu aja, Ras" sambung Paul duduk di atas meja. "Oke kalau gitu ntar malam loe, gua tunggu di sini" sambung Paul tunjuk wajah Rasya rada ketakutan.

Malam makin mencekam, makin sunyi terlihat di setiap sudut sekolah, cuman kelihatan gelap samar penerangan. Duduk arwah Ayu, di kursi tengah, wajahnya seram pucat di dalam kelas.

Sementara Paul dan Rasya berjalan susuri lorong dengan lampu senter sebagai bantu penerangan jalan. "Kok perasan gua jadi ngak enak, Pau" kata Rasya berhenti di tengah lorong jalan. "Hah loe gimana si, Ras" Paul berjalan cepat di ikuti Rasya dari belakang.

Melintas lewat arwah Ayu di depan Raysa dan Paul kaget berhenti berjalan. "Pau! Paul itu tadi apaan?!" tunjuk dengan senter Paul kearah depan sepi. "Apaan si loe, Ras?" balik tanya Raysa mulai ketakutan. Di belakang berdiri arwah Ayu makin mendekati, berbalik Paul dan Rasya melihat sepi mencekam. Arwah Ayu menggantung di atas plapon atap, rambutnya menjuntai terkena wajah Rasya. "Pau, Paul ini rambut siapa?" ketakutan Rasya sentuh rambut sambil dongak keatas berteriak "Ahkhhh!" teriak berlari Rasya di kejar Paul.

Paul dan Raysa masuk kedalam kelas 11 C, keadan gelap mencekam. "Pau, pulang aja yuk. Gua takut nih" Rasya makin ketakutan dekatin Paul. "Ngaco loe, Ras. Kita udah ada di sini, masa mau pulang" Paul duduk di kursi guru. Rasya duduk di kursi depan berhadapan Paul.

Tangan Paul iseng buka laci meja guru. "Ras, Rasya sini loe" cepat Rasya menghampiri Paul temukan buku harian. "Ini buku harian siapa?" tangan Paul ngebet lembaran buku harian. "Rasya, Paul maa'fin gua. Kalau gua diam-diam suka sama loe berdua. Hampir di setiap jamkos, gua selalu menyendiri menulis diary ini. Tapi, tapi kenapa Rasya begitu teganya ngebunuh gua, karena di tahu gua suka sama Paul" cepat buku harian di rampas Rasya.

"Jadi? Jadi loe yang ngebunuh Ayu, Ras?!" tuding Paul mundur di dekati Rasya murka. "Loe juga harus mati!" tuding Rasya ambil kursi di lemparkan kearah Paul. "Trakkk...traak..." suara retak lantai. "Akhhhh!" teriak Paul ketakuan saat muncul arwah Ayu dari dalam retakan lantai dan menarik Rasya. "Pau...Paul...tolong gua" teriak minta tolong Rasya semakin di tarik kedalam oleh arwah Ayu. "Ay...Ayu lepas'in Rasya..." mohon Paul sedih saat Raysa makin dalam di tarik arwah Ayu, seketika lantai kembali rapi seperti semula.

Setelah berapa minggu kejadian, Paul hanya bersedih perhatikan kelas 11 C kosong, saat Paul berjalan, muncul arwah Ayu dan Rasya terduduk di kursi tengah.

13 disukai 989 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction