Ojek Online

Seperti biasa, malam itu yang bertepatan dengan hari rabu. Darma lagi-lagi harus lembur di kantor. Apalagi ini menjelang akhir bulan, saatnya membuat laporan tutup buku untuk laporan keuangan di tempatnya bekerja. Perusahaan yang berjibaku dengan ekspor impor furnitur.

Sedikit lagi pekerjaanku selesai, batin Darma dengan perasaan sedikit lega sambil melirik jam dinding di sisi kanan.

"Sudah jam 12. Aku pikir masih jam 10-an," ucap Darma pada dirinya sendiri sambil tertawa kecil.

Dan tiba-tiba saja ia mengingat cerita horor yang didengarnya tadi siang saat istirahat makan. Di mana setiap jam12 malam, komputer di salah meja karyawan akan menyala secara acak dan jika di dekati akan terdapat tulisan "TOLONG AKU" pada layarnya.

Dan tiba-tiba saja, salah satu komputer yang tidak jauh darinya. Menyala tanpa sebab dengan cahaya yang cukup menyilaukan. Hingga membuat Darma sedikit terkejut dan langsung menoleh.

Dengan kening berkerut, Darma segera bangkit dari kursi dan berjalan mendekat tanpa ada keraguan. Anehnya ia malah tertawa sesampai di sana. Walau di layarnya tertulis kata minta tolong. Dengan font besar serta berwarna merah darah.

Lalu ia mengotak-atik papan tombol pada komputer itu dan menemukan sebuah kenyataan yang membuatnya makin tertawa. "Ternyata, ada yang iseng. Menyetelnya agar menyala secara otomatis di jam 12-an," ucap Darma sambil mematikannya.

Setelah itu ia kembali ke meja kerjanya untuk merapikan berkas-berkas dokumen yang berserakan. Tanpa lupa mematikan komputer lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Dengan kembali tertawa kecil sepanjang lorong menuju pintu keluar.

Sesampai di pintu gerbang dan setelah menyapa satpam yang berjaga di sana. Darma mengeluarkan ponselnya lalu memesan ojol untuk mengantarnya pulang. Karena hari ini motornya masih menginap di bengkel. Sehabis terkena banjir dua hari yang lalu.

Tidak butuh lama setelah selesai memesan ojol. Seorang driver datang menghampiri dengan mengendarai matik berwarna hitam serta memakai masker. Setelah Kang Ojol memastikan bahwa Darma yang melakukan pesanan. Barulah ia mempersilahkan laki-laki kantoran itu untuk naik sambil memberikan helm.

"Jam segini baru pulang kantor, Mas?" tanya Kang Ojol sebagai pencair suasana yang membisu sejak meninggalkan titik penjemputan.

"Iya," jawab Darma singkat dengan nada yang terkesan tidak ingin mengobrol.

"Gak takut, Mas? Kalau malam-malam begini pulang dari kantor."

"Takut apa?" tanya balik Darma yang sedikit tertarik akan pertanyaan itu.

"Hantu," jawab Kang Ojol dengan nada datar.

Darma langsung tertawa mendengar itu sambil berkata, "Saya gak percaya sama hantu, Kang. Orang mati kok bisa hidup dan bergentayangan. Enak benar kalau begitu." Sambil bersiap turun karena sudah sampai di depan rumahnya.

"Oh, begitu. Tapi, kalau saat ini Mas melihatnya. Masih gak percaya sama hantu?" tanya Kang Ojol sambil membuka masker tepat ketika Darma menyerahkan helm.

Dan seketika itu Darma langsung kaget. Begitu melihat mulut Kang Ojol yang rahangnya nyaris putus, penuh dengan belatung, dan berlumuran darah. Hingga menyebarkan aroma bangkai yang menusuk hidung.

"Jangan lupa bintang lima serta ulasannya, Mas."

Permintaan terakhir Kang Ojol sambil meraih helm sebelum menghilang begitu saja dari sana. Sedangkan Darma yang tubuhnya sudah lemas langsung ambruk dengan posisi tengkurap—mencium aspal.

10 disukai 2 komentar 848 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@yumika : Hahah... Klasik 😂😂😂
Ah sudah ku duga.. wkwkwk
Saran Flash Fiction