Balian

Sore itu Ketut pergi ke sebuah rumah yang berada cukup jauh dari desanya. Di perbatasan dekat dengan hutan dan kuburan. Ia pergi ke sana untuk sebuah tujuan yang selama ini terpendam di hati. Akibat rasa benci yang sudah tidak bisa ditampungnya lagi. Kebencian kepada seorang teman dekatnya.

Namun, sebelum ia menuju ke rumah itu. Ketut lebih dulu mencari info keberadaan pastinya serta kemampuan orang yang tinggal di sana. Selain takut tertipu juga untuk lebih memastikan agar ia tidak salah pilih—kesaktiannya.

Dan memang, dari info yang ia dapatkan. Hanya orang itulah yang sangat terkenal sebagai balian—dukun, yang paling sakti di desanya. Tidak pernah mengecewakan mereka yang datang. Entah itu untuk berobat, meminta jimat penglaris, pelet hingga mengirimkan cetik—santet.

Setelah menyeberangi sungai, Ketut pun bisa melihat rumah balian tersebut. Sebuah rumah yang cukup sederhana di samping kanan areal perkuburan desa. Dengan halaman belakangnya hutan bambu yang sangat rindang.

Begitu Ketut sampai di depan pintu dan hendak mengetuknya. Tiba-tiba saja sang balian sudah menyuruh dirinya untuk masuk. Seakan-akan kedatangannya telah dinantikan. Tentu saja Ketut segera masuk tanpa lupa melepas alas kaki—sepatu.

Sebuah pemandangan yang tidak lumrah kini terpampang di kedua bola mata Ketut. Sebuah ruangan yang los tanpa sekat dengan nyala lampu yang sangat terang. Tidak seperti rumah para balian pada umumnya. Sungguh sangat berbeda dan baru kali ini Ketut melihatnya.

Tidak ada pernak-pernik menyeramkan yang tertempel di dinding. Benar-benar kosong. Hanya ada sebuah meja lesehan yang beralaskan karpet hitam di ujung ruangan. Tempat di mana balian itu duduk menunggu dirinya.

Sedangkan di meja Ketut melihat beraneka sarana perdukunan yang biasa digunkan oleh para balian. Tidak ada yang istimewa di sana. Walau demikian, balian yang sedang duduk itu sangat terkenal dan juga ditakuti oleh balian lainnya.

"Untuk apa kamu kemari?" tanya sang balian setelah mempersilahkan Ketut untuk duduk dengan suara yang terdengar serak dan kasar.

"Saya kemari ingin men-cetik seseorang, Jro," jawab Ketur sambil menatap sang balian yang memakai topeng leak dan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.

"Kenapa? Apa alasan kamu men-cetik-nya?"

"Saya sakit hati dengannya, karena telah merebut perempuan yang saya cintai. Padahal dia teman baik saya," jawab Ketut dengan nada yang berapi-api penuh kemarahan.

"Siapa namanya?" tanya sang balian sambil meraih sekuncup bunga sandat dan dua batang dupa.

"Ngurah Wijaya, Jro."

"Kamu ingin dia diapakan?"

"Dibunuh."

"Hmm, mau cepat atau lambat?"

"Saya mau cepat. Berapa pun biayanya, saya sanggup membayarnya."

"Baiklah kalau begitu. Saya akan segera melakukannya."

Dan langsung saja sang balian segera membakar dupa tadi yang telah disiapkannya. Lalu membaca mantra sambil menangkupkan kedua tangan di depan bokor yang ada di hadapannya. Dengan menyelipkan bunga dan dupa tadi di antar kedua telapak tangan.

Begitu sang balian selesai membaca mantra serta meletakkan dupa juga bunga tadi di atas bokor. Sehingga terbakar dan menjadi hangus. Tiba-tiba, Ketut merasakan panas yang sangat hebat. Hingga ia berteriak menyebut nama orang yang dibencinya. Sebelum menjadi gosong dan tak bernyawa lagi.

"NGURAH WIJAYA!"

Sedangkan sang balian yang melihat itu hanya diam sambil membuka topeng. Lalu berkata, "Kau salah mencari musuh temanku." Dengan senyuman yang menakutkan.

3 disukai 943 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction