Indigo

Aku akan memberitahu kalian sebuah kebenaran yang akan membuat banyak sekali orang yang mengaku indigo, bisa melihat apa yang orang lain tidak lihat, atau apa saja sebutan yang mereka inginkan, marah besar. Kebenarannya adalah: mereka semua pembohong besar. 

Hanya ada 2 tipe manusia yang mengaku indigo. Pertama, mereka berhalusinasi, entah itu sadar atau tidak sadar, dan yang kedua, mereka penipu. Untuk tipe yang pertama, mereka butuh pengobatan, sedangkan yang kedua, aku harap siapapun yang mendengar ocehan mereka cukup pintar untuk sadar bahwa dia sedang dibodohi.

Indigo bukan sebuah anugerah yang layak dipamerkan. Itu adalah kutukan. Bisa melihat yang seharusnya tidak dilihat, mendengar apa yang seharusnya tidak didengar, disentuh oleh sesuatu yang seharusnya tidak bisa menyentuhmu, apa kalian pikir itu bukan kutukan?

Kenapa aku bisa bilang begini? Karena aku pun membawa kutukan itu. Seperti semua orang tidak beruntung di dunia ini yang terlahir sepertiku, kami memilih diam dan merahasiakan hal ini.

Bagaimana bisa seseorang menyebut kemampuan ini sebuah anugerah ketika hampir setiap hari aku bertanya-tanya kapan aku akan mati kena serangan jantung karena dikejutkan oleh kehadiran mereka? Tidurku tidak pernah nyenyak, kepalaku selalu sakit karena suara dan bunyi-bunyian yang mereka sebabkan. Pendapatku tidak akan berubah, siapapun yang mengaku kutukan ini adalah anugerah sudah bisa dipastikan tidak waras!

Lagipula, untuk apa membicarakan mereka? Hanya akan mengundang perhatian. Setiap kali manusia membicarakan merekamereka akan semakin berkumpul di sekitar kalian. Mereka senang dibicarakan.

Bagi yang tidak punya kutukan ini, kalian akan menikmati perasaan takut dan merinding saat bercerita tentang mereka. Tapi aku, aku benci melihat mereka bersemangat, berdiri di belakang punggung kalian, di belakang punggungku, mendengarkan dengan seksama cerita tentang mereka. Aku tidak pernah terbiasa dengan kehadiran mereka, tidak akan ada yang pernah terbiasa.

Aku tidak pernah punya urusan dan tidak mau berurusan dengan orang-orang yang mengaku indigo. Mau membohongi satu negara atau seisi dunia juga terserah, aku tidak peduli.

Waktuku sudah habis berpura-pura hidup normal, berpura-pura tidak mencium bau sangit menjijikkan yang dikeluarkan oleh mereka, berpura-pura tidak melihat mereka menyeringai dengan bentuk mulut mengerikan dan jumlah gigi tidak lazim, berpura-pura tidak bangun di malam hari saat mereka menggoyang-goyangkan tempat tidur, atau berdiri di belakangku saat aku mandi.

Aku dan semua pemilik kutukan ini harusnya dikasihani.

Oh, ya... kamu juga seharusnya dikasihani.

Karena mereka melihatmu memilih cerita ini. Seperti yang aku bilang tadi, mereka senang dibicarakan. Mereka ingin tahu apa reaksimu setelah tahu kebenaran ini. Kebenaran bahwa kamu tidak bisa melihat mereka, tapi mereka bisa melihatmu.

Lihat, aku benci ketika mereka melakukan itu; terkekeh senang seperti diajak bermain saat manusia membicarakannya. Sekarang mereka akan lebih sering mengunjungimu karena kamu sudah tahu kebenaran ini.

Hei, jangan lihat ke belakang. Percuma. Mereka tahu kamu akan mencoba melihat ke belakang. Percuma juga melihat ke kiri atau kanan, tidak akan ada. Mereka hanya akan menikmati ini seperti permainan petak umpet.

Sudahlah, selesaikan membaca cerita ini, dan jangan pernah melihat ke atas!

 

214 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction