Disukai
0
Dilihat
750
Di Balik Pintu Kayu
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bunyi knalpot motor bebek yang sudah minta ganti oli itu memecah kesunyian gang sempit di daerah Kesambi, Cirebon. Aris mematikan mesin, menuntun motornya masuk ke teras rumah kontrakan yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Ia menghela napas panjang, melepaskan helm, dan menyandarkannya di atas jok. Rambutnya lepek oleh keringat dan debu jalanan. Di dalam, suara televisi yang menyiarkan berita sore samar-samar terdengar, bercampur dengan suara denting piring.

Pintu kayu yang engselnya berdecit terbuka. Siska muncul dengan daster rumahan, wajahnya masih tampak lelah setelah seharian berjualan nasi lengko di depan gang. Dia tidak langsung menyapa, hanya melirik sekilas ke arah jam dinding yang jarum panjangnya menunjuk angka tujuh, lalu kembali masuk ke dapur. Aris masuk, melepas sepatu yang solnya sudah mulai lepas, lalu duduk di kursi plastik yang goyang.

Sudah makan belum? tanya Siska dari arah dapur, suaranya datar.

Belum, Ris menjawab singkat. Capek banget hari ini. Jalanan macet total gara-gara ada perbaikan jalan di dekat pasar.

Siska membawa piring berisi sisa nasi dan lauk seadanya, meletakkannya di meja kayu. Tumben pulang telat? Biasanya jam enam sudah di sini.

Tadi ada lembur mendadak di gudang. Barang masuk banyak, orang gudang kurang. Ya mau gimana lagi, aku disuruh bantu angkut-angkut sama mandor. Padahal badanku sudah mau remuk rasanya.

Aris mengambil sendok, mulai mengunyah dengan malas. Suasananya canggung. Di luar, suara hujan gerimis mulai membasahi seng atap rumah. Siska duduk di depannya, melipat tangan di dada. Matanya menatap Aris lekat-lekat, membuat Aris merasa risih.

Kenapa sih liatin terus? Ada yang salah sama mukaku?

Siska berdecak pelan. Bukan mukamu, tapi sikapmu. Kamu tahu kan kalau kita punya cicilan motor yang harus dibayar minggu depan? Kamu bilang tadi lembur, tapi pas aku tanya ke temanmu yang kerja di sana, katanya bagianmu sudah selesai dari sore.

Aris berhenti mengunyah, sendoknya beradu dengan piring. Hatinya mencelos, tapi ia berusaha menutupi dengan nada defensif. Kamu nanya ke siapa? Si Budi? Dia mah tukang kompor. Dia mana tahu kerjaanku apa saja.

Ya sudah kalau kamu nggak mau jujur. Tapi jangan salahin aku kalau nanti pas jatuh tempo uangnya kurang. Aku sudah cukup pusing bagi uang belanja sama bayar cicilan. Kamu malah kayak nggak peduli, pulang bukannya istirahat malah bohong.

Aris melempar sendok ke piring. Dengar ya, aku kerja buat siapa kalau bukan buat kamu juga? Kamu pikir aku senang harus lembur capek-capek? Aku cuma mau cari tambahan.

Tambahan atau kamu cuma malas pulang? Siska memotong cepat. Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu sering nongkrong di warung kopi depan pasar sama teman-temanmu? Aku bukannya nggak boleh kamu berteman, Ris. Tapi lihat kondisi kita sekarang. Kita ini lagi berjuang buat hidup, bukan lagi masa bujang yang bebas keluyuran.

Aris berdiri, kursinya bergeser kasar hingga menimbulkan suara decitan di lantai semen. Emosinya mulai naik. Kamu tuh selalu saja begitu. Apa-apa yang salah pasti aku. Padahal kamu sendiri jarang bisa diajak ngobrol santai. Pulang-pulang kerja pasti bahasnya uang, uang, dan uang. Aku juga manusia, Sis. Aku pengin santai sebentar, pengin tenang tanpa harus pusing dengerin omelanmu tiap malam.

Siska ikut berdiri, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha tetap tegas. Aku ngomongin uang karena itu kenyataannya, Aris! Kalau kita nggak punya uang, kita makan apa? Makan omelanmu? Makan janji-janji manis yang nggak ada buktinya? Kamu bilang pengin tenang, tapi kelakuanmu bikin aku tambah nggak tenang.

Aris menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, tapi juga ada rasa bersalah yang disembunyikan rapat-rapat. Dia ingin berteriak, tapi ia tahu itu tidak akan menyelesaikan apa-apa. Ia hanya membuang muka, menatap tetesan air hujan yang mulai deras di luar.

Aku cuma butuh pengertian, Sis. Sekali saja.

Pengertian itu harusnya datang dari dua arah, Ris. Bukan cuma aku yang harus ngertiin kamu, sementara kamu seenaknya sendiri.

Suasana hening sejenak. Hanya ada suara hujan yang semakin deras menghantam atap seng. Aris kembali duduk, menghela napas panjang. Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Siska masih berdiri di sana, menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah memuaskan hatinya.

Ya sudah, mau kamu apa sekarang? tanya Aris dengan suara yang lebih rendah, hampir seperti bisikan.

Aku cuma mau kamu jujur. Itu saja. Apa itu susah?

Aris tidak menjawab. Ia kembali mengambil sendok, tapi nafsu makannya sudah hilang sepenuhnya. Ia hanya menatap nasi di piringnya dengan pandangan kosong. Siska pun akhirnya berbalik, meninggalkan Aris sendirian di ruang tengah yang remang-remang. Suara televisi masih menyala, menampilkan acara musik yang entah kenapa terasa begitu berisik dan tidak pas dengan suasana hati mereka malam ini.

Aris memikirkan banyak hal. Memikirkan cicilan motor yang katanya sudah menunggak dua bulan. Memikirkan Siska yang setiap hari harus berdiri berjam-jam di depan gerobak nasi lengko demi membantu kebutuhan rumah tangga. Ia merasa gagal, merasa tidak bisa menjadi sosok yang diandalkan oleh istrinya. Tapi di sisi lain, ia juga merasa tertekan dengan tuntutan hidup yang seolah tak ada habisnya. Ia sering merasa ingin lari, pergi ke tempat di mana tidak ada yang menagih uang cicilan, tidak ada yang menanyakan kenapa ia pulang telat, dan tidak ada yang menghakimi setiap langkah yang ia ambil.

Ia teringat dulu saat mereka baru menikah, semuanya terasa begitu mudah. Mereka punya impian-impian besar, rencana-rencana masa depan yang indah. Tapi sekarang, impian itu seolah terkikis habis oleh rutinitas yang menjemukan. Pertengkaran kecil yang dulu bisa diselesaikan dengan candaan, kini berubah menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Aris bangkit dari kursi, melangkah ke kamar. Siska sedang melipat baju di atas tempat tidur, membelakanginya. Aris ingin menyentuh pundaknya, ingin meminta maaf, tapi gengsinya masih terlalu besar. Ia tahu, permintaan maaf tanpa perubahan hanya akan terdengar seperti kebohongan baru.

Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kata Aris pelan, meski ia tahu itu bukan hal yang ingin didengar Siska.

Siska diam, tidak menoleh sama sekali. Tangannya tetap sibuk melipat kaos Aris dengan rapi. Aris menarik napas panjang, lalu merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang kosong. Ia menutup mata, berharap saat bangun besok pagi, semuanya sudah kembali normal, meski jauh di lubuk hatinya ia tahu bahwa masalah mereka tidak akan selesai hanya dengan tidur.

Malam itu, hujan di Cirebon seolah tidak mau berhenti. Suaranya seirama dengan detak jantung Aris yang terasa tidak tenang. Ia mendengarkan suara napas Siska yang teratur, mencoba membayangkan apa yang sedang dipikirkan istrinya. Apakah Siska juga merasa lelah? Apakah Siska juga merasa ingin menyerah? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Aris, membuat matanya sulit terpejam.

Tiba-tiba Siska bergerak, membalikkan badannya menghadap Aris. Matanya tertutup, tapi Aris tahu Siska belum tidur.

Besok aku ada janji ketemu orang buat bahas tambahan pesanan katering, kata Siska tiba-tiba, suaranya parau. Kalau kamu ada waktu, tolong anterin aku. Tapi kalau nggak bisa, bilang dari sekarang, biar aku cari ojek online saja.

Aris terdiam sejenak. Ada rasa perih saat mendengar Siska lebih memilih ojek online daripada minta tolong padanya. Itu tandanya Siska sudah tidak lagi mengandalkannya. Itu tandanya, kepercayaan Siska kepadanya sudah mulai menipis.

Aku bisa, Ris menjawab dengan suara serak. Aku usahakan izin dari kantor.

Siska hanya bergumam kecil, lalu kembali memunggungi Aris. Aris menarik selimut, mencoba menutupi tubuhnya dari udara dingin yang mulai menusuk. Ia merasa jarak di antara mereka semakin jauh, padahal mereka tidur di kasur yang sama.

Besoknya, cuaca di Cirebon cukup terik. Aris sudah rapi dengan kemeja kerjanya, tapi pikirannya masih tertuju pada obrolan semalam. Ia sudah sampai di depan kantor, tapi ia belum turun dari motor. Ia menatap layar ponselnya, ada beberapa pesan dari teman-temannya di grup WhatsApp yang mengajak nongkrong sepulang kerja nanti. Aris mematikan data ponselnya, lalu melangkah masuk ke dalam kantor dengan perasaan yang berat.

Di tempat kerja, Aris berusaha untuk fokus. Ia mengerjakan tugas-tugasnya dengan teliti, berharap bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat agar bisa pulang tepat waktu dan menemani Siska. Namun, di tengah kesibukannya, pikirannya terus saja melayang ke rumah. Ia membayangkan wajah Siska yang kecewa, suara Siska yang dingin, dan rasa sepi yang selalu menyelinap di antara mereka.

Siang harinya, saat jam istirahat, Aris duduk di kantin bersama Budi. Budi sedang asyik dengan ponselnya, sesekali tertawa kecil.

Kenapa lu, Ris? Muka ditekuk terus kayak cucian belum kering, celetuk Budi tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

Aris mengaduk es tehnya dengan lesu. Lagi ada masalah sama Siska, Bud. Biasalah, masalah uang lagi.

Budi meletakkan ponselnya, menatap Aris serius. Masalah uang memang bikin pusing, Ris. Gue juga pernah ngerasain dulu pas awal-awal nikah. Tapi ya gimana lagi, mau nggak mau kita harus cari cara. Mungkin lu harus coba cari sampingan lain? Atau Siska diajak bicara baik-baik tentang kondisi keuangan lu sekarang?

Sudah gue lakuin, Bud. Tapi kayaknya dia sudah nggak percaya sama gue. Tadi malam saja dia bilang mau pergi sendiri kalau gue nggak bisa anterin. Rasanya sakit dengernya, Bud.

Budi menghela napas, menepuk bahu Aris. Ya mungkin dia cuma kecewa, Ris. Bukan berarti dia nggak sayang. Namanya juga rumah tangga, pasti ada masa-masa sulit. Yang penting lu tunjukin perubahan. Jangan cuma ngomong doang. Lu kan tahu sendiri, kepercayaan itu susah dibangun, tapi gampang dirusak.

Aris terdiam. Kata-kata Budi terasa benar, tapi juga terasa pahit. Ia tahu ia memang harus berubah. Ia tahu ia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan kembali kepercayaan Siska. Tapi ia juga merasa lelah, merasa seperti sedang berjalan di tempat.

Pulang kerja, Aris benar-benar pulang tepat waktu. Ia tidak mampir ke warung kopi, tidak membalas pesan dari teman-temannya. Ia langsung pulang, membelikan martabak manis kesukaan Siska di jalan. Saat sampai di rumah, Siska sudah siap dengan tasnya.

Sudah siap? tanya Aris sambil menyerahkan bungkusan martabak.

Siska melihat martabak itu, sedikit tersenyum meski matanya masih tampak lelah. Tumben beli ini, kata Siska sambil menerima martabak itu.

Aris hanya mengangguk pelan. Ayo, nanti keburu sore.

Mereka pun pergi menggunakan motor, menyusuri jalanan Cirebon yang mulai ramai. Siska membonceng di belakang, tangannya memegang tas dengan erat. Aris bisa merasakan detak jantung Siska di punggungnya, atau mungkin itu hanya perasaannya sendiri. Mereka tidak banyak bicara di jalan. Hanya suara mesin motor dan suara klakson kendaraan lain yang terdengar.

Sesampainya di tempat pertemuan, Siska langsung masuk ke dalam gedung, sementara Aris menunggu di parkiran. Ia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam sambil menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga. Ia merasa aneh, merasa seperti orang asing di hidupnya sendiri.

Setelah sekitar satu jam, Siska keluar dengan wajah yang tampak lebih cerah. Aris langsung mematikan rokoknya, berdiri menyambut Siska.

Gimana? Berhasil? tanya Aris.

Siska tersenyum lebar. Berhasil, Ris! Pesanannya lumayan banyak buat akhir pekan depan. Aku senang banget.

Aris ikut tersenyum, meski hatinya masih terasa ada yang mengganjal. Syukurlah kalau begitu. Aku senang dengarnya.

Mereka pun pulang dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Di jalan, Siska mulai bercerita tentang pesanan kateringnya, tentang rencana-rencana yang akan ia lakukan, dan tentang harapan-harapannya ke depan. Aris mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menimpali dengan pertanyaan atau komentar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka merasa seperti pasangan yang sedang membangun impian bersama.

Tapi, saat mereka sampai di rumah, suasana kembali berubah. Aris melihat ada surat tagihan listrik yang menumpuk di meja. Ia baru sadar kalau ia lupa membayarnya bulan ini. Siska melihat surat itu, senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Ris, ini listrik kok belum dibayar? Siska bertanya dengan nada yang kembali dingin.

Aris terdiam, merasa seperti disambar petir. Ia lupa. Sumpah, ia lupa.

Aku lupa, Sis. Maaf, besok pasti aku bayar, jawab Aris dengan gugup.

Siska tidak menjawab, hanya menaruh tasnya dengan kasar di meja. Ia masuk ke kamar, meninggalkan Aris sendirian di ruang tengah. Aris kembali duduk di kursi, merasa seperti orang bodoh. Ia baru saja merasa semuanya akan membaik, tapi kesalahan kecil ini kembali menghancurkan segalanya.

Ia menyadari bahwa dalam rumah tangga, kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak besar. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah lingkaran setan yang tak ada ujungnya. Semakin ia berusaha memperbaiki keadaan, semakin ia melakukan kesalahan lain yang membuat situasinya kembali ke titik nol.

Malam itu, mereka kembali tidur tanpa bicara sepatah kata pun. Aris menatap langit-langit kamar, merasa lelah yang luar biasa. Ia merasa seperti sedang tenggelam, dan ia tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa kembali ke permukaan. Ia hanya bisa berharap, suatu saat nanti, badai ini akan berlalu, dan mereka bisa kembali menemukan kebahagiaan yang pernah mereka miliki.

Di tengah lamunannya, Aris mendengar suara isak tangis yang tertahan dari arah Siska. Ia ingin mendekat, ingin memeluknya, tapi ia takut kehadirannya justru akan membuat Siska semakin sedih. Ia hanya bisa diam, memejamkan mata dengan air mata yang mulai mengalir di sudut matanya. Ia merasa tidak berdaya, merasa seperti orang yang tidak punya masa depan.

Keesokan harinya, Aris bangun lebih pagi. Ia melihat Siska masih terlelap. Ia memutuskan untuk menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja. Ia membuat nasi goreng sederhana, meski hasilnya tidak sebagus buatan Siska. Ia menaruh piring di meja, lalu menulis pesan di kertas kecil: "Maaf soal kemarin. Sarapan ya. Semangat buat hari ini."

Aris pun berangkat kerja. Ia merasa sedikit lega karena sudah melakukan sesuatu untuk Siska. Di kantor, ia berusaha untuk lebih fokus dan bekerja lebih keras. Ia tidak mau lagi membuat kesalahan yang sama. Ia ingin membuktikan pada Siska bahwa ia bisa diandalkan.

Siang harinya, Siska mengirim pesan singkat: "Sarapannya sudah aku makan. Makasih. Jangan lupa bayar listriknya nanti sepulang kerja."

Aris tersenyum membaca pesan itu. Meski singkat dan dingin, pesan itu setidaknya menunjukkan bahwa Siska masih peduli padanya. Ia membalas pesan itu: "Iya, nanti pulang kerja aku langsung ke kantor listrik. Kamu juga jaga kesehatan ya."

Aris merasa optimis. Ia merasa hari ini akan menjadi awal yang baik. Ia bekerja dengan semangat, menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat dan tepat. Ia ingin segera pulang, ingin bertemu Siska dan meminta maaf secara langsung.

Namun, saat pulang kerja, hujan deras tiba-tiba mengguyur Cirebon. Aris terpaksa berteduh di sebuah warung di pinggir jalan. Ia menatap hujan yang turun dengan deras, merasa seperti sedang diuji oleh keadaan. Ia teringat janjinya pada Siska untuk membayar listrik. Ia merasa cemas, takut kantor listrik sudah tutup.

Aris menunggu selama hampir satu jam, tapi hujan belum juga reda. Ia memutuskan untuk tetap berangkat, meski harus menerjang hujan. Ia memakai jas hujan, menembus derasnya air yang menghantam tubuhnya. Di sepanjang jalan, ia merasa dingin yang luar biasa, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin menepati janjinya.

Sesampainya di kantor listrik, ternyata sudah tutup. Aris merasa kecewa yang luar biasa. Ia merasa seperti orang yang selalu gagal dalam segala hal. Ia kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Saat sampai di depan rumah, ia melihat Siska sedang berdiri di teras, menunggu kedatangannya.

Siska melihat Aris yang basah kuyup, wajahnya tampak cemas.

Kamu kenapa basah-basahan gini? tanya Siska dengan nada cemas yang sulit disembunyikan.

Aris melepas jas hujannya, tubuhnya gemetar karena kedinginan. Kantor listrik sudah tutup. Aku gagal lagi, Sis. Maaf, jawab Aris dengan suara parau.

Siska tidak marah. Ia justru mengambil handuk dan membantu Aris mengeringkan rambutnya. Kamu kan bisa bayar besok pagi, Ris. Nggak perlu sampai nekat hujan-hujanan begini. Kamu bisa sakit kalau begini.

Aris menatap Siska, matanya berkaca-kaca. Aku cuma pengin nepatin janjiku, Sis. Aku pengin kamu percaya lagi sama aku.

Siska tersenyum, senyum yang tulus. Aku percaya sama kamu, Ris. Tapi tolong, jangan sakiti dirimu sendiri demi hal-hal yang bisa ditunggu. Kita kan sama-sama berjuang.

Aris memeluk Siska dengan erat. Ia merasa hangat, merasa seperti mendapatkan kembali semangat yang sempat hilang. Ia sadar, ternyata yang dibutuhkan Siska bukan hanya janji-janji besar, tapi kepedulian kecil yang tulus. Ia sadar, mereka tidak harus sempurna untuk bisa bahagia. Mereka hanya butuh saling mengerti dan saling mendukung dalam menghadapi setiap badai yang datang.

Malam itu, mereka duduk berdua di teras, mendengarkan suara hujan yang mulai mereda. Mereka tidak bicara banyak, tapi suasana terasa begitu tenang. Aris merasa beban di pundaknya sedikit berkurang. Ia tahu perjalanan mereka masih panjang, masih banyak badai yang harus dihadapi, tapi setidaknya mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Mereka punya satu sama lain, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka terus melangkah.

Aris memandang ke arah lampu jalan yang samar-samar terlihat di tengah kabut hujan. Ia merasa seperti sedang melihat masa depan mereka, sebuah masa depan yang mungkin tidak selalu cerah, tapi setidaknya akan mereka hadapi berdua. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah yang menenangkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tenang. Ia merasa siap menghadapi hari esok, apa pun yang akan terjadi.

Siska menyandarkan kepalanya di bahu Aris. Mereka duduk di sana, dalam keheningan yang nyaman, menikmati waktu yang seolah berhenti sejenak. Di kejauhan, suara azan Maghrib terdengar samar, membawa kedamaian di tengah kebisingan kota. Aris tahu, besok akan ada masalah baru, cicilan baru, dan tantangan baru. Tapi ia tidak takut lagi. Ia sudah belajar banyak, dan ia siap untuk terus berjuang.

Ia menatap tangan Siska yang menggenggam tangannya dengan erat. Tangan yang sudah kasar karena kerja keras, tapi terasa begitu hangat di genggamannya. Ia tahu, selama mereka masih bersama, selama mereka masih saling percaya, tidak ada yang perlu ditakutkan. Hidup mungkin tidak selalu indah, tapi dengan cinta dan saling pengertian, setidaknya mereka bisa membuatnya menjadi sedikit lebih layak untuk dijalani.

Aris pun memejamkan mata, merasakan detak jantungnya yang kini terasa lebih tenang. Ia tahu, esok pagi, saat matahari terbit, mereka akan kembali berjuang, kembali menghadapi rutinitas yang menjemukan, tapi mereka akan melakukannya bersama-sama. Dan bagi Aris, itu sudah cukup. Itu adalah segalanya yang ia butuhkan untuk terus bertahan.

Suara jangkrik mulai terdengar di balik semak-semak, memecah keheningan malam. Aris merasa ngantuk yang luar biasa, tapi ia enggan beranjak. Ia ingin menikmati momen ini lebih lama, momen di mana ia merasa benar-benar hidup. Ia tahu, kehidupan nyata mungkin tidak seindah cerita-cerita di novel atau film, tapi bagi mereka, ini adalah kenyataan yang berharga. Kenyataan yang patut diperjuangkan, meski harus melewati banyak air mata dan rasa sakit.

Aris akhirnya bangkit, merangkul Siska masuk ke dalam rumah. Mereka menutup pintu, meninggalkan dunia di luar yang terus berputar tanpa henti. Di dalam rumah, mereka menemukan ketenangan mereka sendiri, sebuah tempat di mana mereka bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa harus berpura-pura atau merasa tertekan. Dan di sana, di balik pintu kayu yang mulai rapuh, mereka memulai lembaran baru dalam perjalanan hidup mereka.

Malam itu, Aris tidur dengan nyenyak. Ia tidak lagi bermimpi tentang masalah atau kegagalan. Ia bermimpi tentang masa depan, tentang kebahagiaan yang akan mereka raih bersama. Ia bermimpi tentang hari di mana mereka tidak lagi harus khawatir tentang cicilan, tentang uang belanja, atau tentang masa depan. Ia bermimpi tentang hari di mana mereka bisa tertawa lepas tanpa ada beban yang menghalangi.

Dan saat ia terbangun keesokan paginya, ia merasa segar dan bersemangat. Ia melihat Siska sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk mereka. Ia mendekati Siska, memeluknya dari belakang, dan mencium keningnya dengan lembut. Siska hanya tersenyum, senyum yang selalu bisa membuat Aris merasa yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Pagi itu, mereka sarapan bersama dengan ceria. Mereka bercanda tentang hal-hal sepele, tentang rencana mereka hari ini, dan tentang impian-impian yang ingin mereka capai. Tidak ada lagi rasa curiga atau kebencian. Yang ada hanyalah rasa saling memiliki dan saling menghargai. Aris tahu, ini adalah awal dari segalanya. Dan ia siap untuk memulai perjalanan ini dengan penuh keyakinan dan harapan.

Hari itu, Aris berangkat kerja dengan semangat yang baru. Ia merasa seperti orang yang baru saja terlahir kembali. Ia bekerja dengan lebih giat, lebih fokus, dan lebih ceria. Ia tahu, tantangan masih akan terus datang, tapi ia tidak takut. Ia punya Siska, dan Siska punya dirinya. Dan bersama-sama, mereka bisa menghadapi apa pun yang akan terjadi di masa depan.

Aris sadar, kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Tapi yang penting adalah bagaimana kita merespon setiap rintangan yang datang. Dan dengan cinta, saling percaya, dan kerja keras, tidak ada yang tidak mungkin. Aris tahu, perjalanan mereka masih panjang, tapi ia siap untuk melewatinya bersama Siska. Dan ia tahu, suatu saat nanti, mereka akan melihat ke belakang dan tersenyum, menyadari bahwa semua perjuangan yang mereka lakukan benar-benar berharga.

Matahari belum sepenuhnya naik ketika Aris sudah berdiri di depan kantor PLN. Napasnya masih tersengal, sisa balapan dengan waktu sebelum gerbang besi itu ditutup rapat. Ia merogoh saku, mengeluarkan lembaran uang yang ia sisihkan susah payah dari hasil lembur minggu lalu. Saat struk bukti bayar keluar dari mesin, ada rasa lega yang menjalar sampai ke tulang punggung. Bukan cuma sekadar tagihan lunas, tapi rasa bangga kecil yang ia simpan sendiri. Ia bukan lagi Aris yang lupa, Aris yang payah, Aris yang bikin Siska menangis di balik selimut.

Sore harinya, suasana di rumah sedikit berbeda. Wangi tumis kangkung menguar dari dapur, menari-nari di udara rumah kontrakan yang sempit. Siska tidak lagi terlihat kaku. Ia sedang sibuk menata pesanan katering di meja plastik, jemarinya lincah memindahkan boks nasi ke dalam kardus besar. Aris masuk, membawa sekantong jeruk bali yang ia beli di pasar sepulang kantor.

Nih, buat cemilan, kata Aris sambil menaruh buah itu di sudut meja.

Siska menoleh, matanya menyipit, lalu tertawa kecil. Tumben banget beli jeruk. Lagi ada rezeki nomplok atau lagi ngerasa bersalah?

Aris ikut terkekeh, menarik kursi kayu yang kakinya tidak rata. Dua-duanya. Lagipula, daripada beli rokok terus, mending beli yang bisa dimakan berdua, kan?

Siska meletakkan pekerjaannya sejenak, mengelap tangan dengan celemek yang sudah terkena noda bumbu. Tadi pas kamu ke kantor listrik, apa ada antrean panjang?

Nggak terlalu. Pas banget datang sebelum jam istirahat. Jadi bisa langsung beres. Terus tadi di jalan, aku sempat mampir beli paku sama cat sedikit. Kayunya pintu belakang sudah agak keropos, Ris. Nanti pas libur aku benerin, biar aman kalau kita tinggal pergi.

Siska terdiam, menatap Aris dengan tatapan yang lebih teduh. Kamu akhir-akhir ini berubah ya? Maksudku, kamu jadi lebih... mikirin rumah. Biasanya kan cuma bengong atau sibuk sama hp saja.

Aris mengambil salah satu jeruk, mengupas kulitnya dengan telaten. Mungkin karena aku sadar, Sis. Kita ini lagi narik gerobak yang sama. Kalau aku cuma duduk di atasnya, ya kamu yang berat nariknya. Capek tahu, kalau sendirian. Aku cuma nggak mau kamu ngerasa sendirian lagi.

Siska mendekat, duduk di samping Aris. Tangannya terulur, mengambil potongan jeruk dari tangan Aris. Aku cuma pengin kita bisa santai tanpa harus takut besok nggak makan, Ris. Bukan maksudku mau jadi mandor buat kamu. Kadang aku juga capek harus ngomel terus, kayak emak-emak galak. Padahal aslinya aku juga pengin manja.

Aris tersenyum, mengacak pelan rambut Siska. Ya sudah, nanti kalau pesanan katering ini beres, kita jalan-jalan ke Grage Mall. Makan es krim atau sekadar lihat-lihat baju. Nggak usah beli apa-apa, yang penting kita keluar rumah sebentar, refreshing.

Beneran? Siska menatapnya antusias. Jangan janji doang kayak biasanya ya?

Janji. Kali ini benar-benar janji.

Di luar, suara tukang bakso keliling lewat, denting sendok di mangkuk porselennya terdengar nyaring. Aris merasa waktu seolah melambat. Obrolan mereka malam itu sederhana, jauh dari kata romantis ala drama televisi, tapi terasa sangat nyata. Mereka membahas tentang harga cabai yang naik lagi, tentang tetangga sebelah yang kerjanya cuma bisa gosip, sampai rencana mereka mau nabung buat beli mesin cuci bekas. Tidak ada pretensi, tidak ada kata-kata manis yang dipaksakan. Hanya dua kepala keluarga yang sedang berusaha menjaga api tetap menyala di tengah angin malam Cirebon yang mulai mendingin.

Tiba-tiba, ponsel Aris berdering. Nama Budi muncul di layar. Aris menatap ponsel itu, lalu melirik Siska.

Siapa? tanya Siska.

Budi. Mau ngajak ngopi di depan.

Siska diam sejenak, lalu mengangkat bahunya. Ya sudah, pergi saja kalau mau. Tapi jangan malam-malam ya. Besok kamu harus bangun pagi buat benerin pintu.

Aris tersenyum, lalu menolak panggilan itu dan mengetik pesan singkat: "Lagi sibuk, Bud. Lain kali saja." Ia menaruh ponselnya di meja, jauh dari jangkauan. Ia ingin menghabiskan malam ini bersama Siska. Mereka melanjutkan obrolan, kali ini Siska yang lebih banyak bercerita tentang pelanggan kateringnya yang cerewet, tentang betapa sulitnya menjaga nasi lengko agar tetap enak meski sudah berjam-jam di dalam gerobak.

Aris mendengarkan dengan serius. Ia mulai paham, bahwa setiap detail kecil yang dilakukan Siska adalah bagian dari perjuangan mereka. Ia mulai bisa melihat, bahwa martabak yang ia beli atau jeruk yang ia bawa bukan sekadar makanan, tapi cara mereka untuk mengatakan "aku masih ada di sini, untukmu."

Mereka bukan pasangan yang sempurna. Mereka masih sering salah paham, masih punya ego yang keras, dan masih sering terbentur masalah uang. Tapi malam itu, mereka merasa bahwa mereka bisa mengatasinya. Mereka merasa bahwa selama mereka masih punya waktu untuk duduk berdua, berbicara tanpa rasa curiga, dan saling mendukung, maka semuanya akan baik-baik saja.

Aris memandang Siska yang sedang sibuk merapikan kardus katering. Ia merasa beruntung. Di tengah kerasnya kehidupan, di tengah tuntutan ekonomi yang menghimpit, ia masih punya seseorang yang mau berbagi napas dan harapan bersamanya. Ia tahu, esok mungkin saja akan ada masalah baru, tapi untuk malam ini, biarlah mereka menikmati kedamaian yang sederhana ini.

Siska menoleh, mendapati Aris sedang menatapnya. Kenapa? Ada yang aneh sama mukaku?

Nggak, cuma lagi mikir, ternyata hidup kita lucu ya? Penuh drama, tapi aslinya sederhana banget.

Siska tertawa, tawa yang lepas dan tulus. Hidup itu memang nggak perlu rumit, Aris. Yang bikin rumit itu kadang kitanya sendiri. Sekarang, bantuin aku lipat kardus ini biar cepat selesai.

Aris bangkit, mulai membantu Siska melipat kardus dengan cekatan. Mereka bekerja beriringan, berbagi tugas, saling melemparkan candaan kecil yang membuat suasana malam itu terasa begitu hangat. Tidak ada lagi jarak yang lebar di antara mereka. Tidak ada lagi rasa curiga yang mengganjal. Yang ada hanyalah dua orang yang sedang berusaha membangun kembali apa yang sempat retak.

Saat semua kardus selesai dilipat, Siska menarik napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Capek juga ya. Tapi senang lihatnya rapi.

Aris mengangguk, menyodorkan segelas air putih untuk Siska. Istirahatlah. Kamu sudah kerja keras hari ini.

Siska menerima gelas itu, meminumnya hingga separuh. Kamu juga. Makasih ya sudah mau bantuin.

Sama-sama. Lagipula, ini kan juga buat rumah kita, kata Aris tulus.

Mereka pun beranjak menuju kamar. Malam semakin larut, suara bising kota Cirebon sudah mulai mereda. Di dalam rumah yang sederhana itu, mereka menemukan ketenangan yang selama ini dicari. Mereka tidur dengan perasaan yang damai, siap untuk menyambut hari esok dengan semangat yang baru. Dan bagi Aris, momen sederhana seperti ini adalah alasan mengapa ia harus terus berjuang. Tidak peduli seberapa berat beban yang harus dipikul, asalkan Siska ada di sisinya, ia tahu ia akan selalu punya alasan untuk bertahan. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup. Mereka terlelap dalam harmoni yang jarang mereka temui sebelumnya, sebuah harmoni yang lahir dari kejujuran dan saling pengertian di tengah realita yang menuntut.

Lampu teras depan sudah mulai kedap-kedip, minta diganti. Aris berdiri di bawahnya, menatap lurus ke arah jalanan Cirebon yang masih basah sisa hujan semalam. Bau tanah basah menguap, bercampur wangi kopi yang baru saja ia seduh di dalam mug plastik yang retak. Tidak ada lagi guntur yang menggelegar, pun tidak ada lagi ledakan amarah yang membuat dinding kontrakan ini serasa bergetar. Semuanya melandai, tenang, seperti air kali yang sudah kembali jernih setelah banjir bandang berlalu.

Siska keluar dari pintu, membawa baki kecil berisi dua potong singkong goreng yang masih mengepul. Ia berdiri di samping Aris, tidak perlu bicara banyak, cukup bersandar di bahu suaminya. Bahu yang dulu sering kaku karena stres, kini terasa lebih rileks saat disentuh.

Masih kepikiran soal tagihan bulan depan? tanya Siska pelan, suaranya hampir kalah oleh desau angin malam.

Aris menggeleng, menyesap kopinya perlahan. Bukan kepikiran, cuma lagi menghitung saja. Mungkin nanti kita sisihkan sedikit dari untung kateringmu. Tidak perlu muluk-muluk, yang penting aman.

Siska tersenyum, menyodorkan singkong goreng ke arah Aris. Kamu sekarang jadi ahli matematika ya? Padahal dulu hitung kembalian saja sering salah.

Aris terkekeh, menerima singkong itu. Bukan ahli, cuma lagi belajar realistis. Kalau kita terus-terusan ngejar awan, kaki kita yang nanti kesandung batu. Mending jalan pelan tapi pasti, biar bisa sampai rumah dengan selamat.

Realistis itu pilihan, bukan paksaan, Siska menimpali sambil mengunyah perlahan. Aku suka kamu yang sekarang. Lebih membumi, lebih masuk akal. Nggak melayang-layang di janji yang cuma jadi angin lewat.

Aris menatap Siska, lalu mengalihkan pandangannya ke jemari istrinya yang mulai kasar karena sering memegang wajan dan pisau. Jemari itu mungkin tak lagi mulus, tapi bagi Aris, jemari itu adalah bukti nyata perjuangan mereka. Ia menggenggam tangan Siska, merasakannya hangat dan kokoh.

Ternyata benar ya, Sis. Hidup itu nggak perlu jadi panggung sandiwara yang penuh sorak-sorai. Cukup jadi drama kecil yang kita mainkan berdua, dengan skenario yang kita tulis sendiri, dan ending yang tidak harus sempurna, asal masih bisa kita nikmati bersama.

Siska tertawa kecil, menyandarkan kepalanya lebih dalam di bahu Aris. Dramanya sudah cukup ya, jangan ditambah-tambah lagi. Besok aku mau fokus jualan, kamu fokus benerin pintu. Biar hidup kita nggak melompong kayak engsel pintu yang rusak itu.

Aris mengangguk mantap. Siap, Bos. Besok pintu beres, katering laku keras, dan kita tetap jadi kita yang apa adanya.

Mereka berdiri di sana, membiarkan malam berlalu dengan percakapan ringan yang tidak lagi berisi tuntutan. Tidak ada lagi rasa curiga yang menyelinap, tidak ada lagi defensif yang membuat mereka berjarak. Hanya ada dua orang yang sudah belajar bahwa di balik setiap luka dan salah paham, selalu ada jalan untuk kembali. Mereka bukan lagi pasangan yang sempurna, tapi mereka adalah pasangan yang sedang belajar untuk saling melengkapi.

Saat lampu teras akhirnya padam total, mereka tidak panik. Aris hanya merangkul Siska, mengajaknya masuk ke dalam rumah yang remang-remang oleh cahaya lampu ruang tengah. Pintu kayu yang dulu berdecit itu kini mereka tutup dengan hati-hati. Kehidupan memang belum selesai, tantangan masih mengantre di depan pintu, tapi setidaknya mereka tahu bahwa selama mereka masih punya satu sama lain, tidak ada yang perlu ditakutkan. Hidup di Cirebon, dengan segala kesederhanaan dan tantangannya, terasa cukup bagi mereka. Dan mungkin, itulah definisi sebenarnya dari kebahagiaan yang selama ini mereka cari di tempat yang salah. Semuanya sederhana, membumi, dan pada akhirnya, tepat sasaran. Mereka melangkah masuk, meninggalkan malam yang tenang di luar, menuju esok yang mereka yakini akan lebih baik, meski hanya sedikit.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi