Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
22
Belenggu Rumah Tipe 36
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Buku tabungan bersampul hijau itu tergeletak pasrah di atas meja makan yang kayunya mulai digerogoti rayap. Di sebelahnya, sebuah kunci motor dengan gantungan karet berbentuk lingkaran hitam menjadi saksi bisu dari perdebatan yang sebenarnya tidak berisik, namun sanggup membuat sirkulasi udara di dalam rumah tipe tiga puluh enam itu mendadak terasa macet total. Soni menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi plastik yang berdecit nyaring, sementara telapak tangannya sibuk memutar-mutar korek api gas yang rodanya sudah macet sebelah akibat terlalu sering dipakai memantik gelisah.

"Kamu tidak perlu memeriksa isi tasku setiap kali aku baru melangkah masuk lewat pintu depan," kata ririn pelan, suaranya datar tanpa intonasi yang meledak-ledak, namun justru di situlah letak kedinginan yang mematikan.

Soni tidak segera membalas serangannya. Dia mengembuskan napas panjang, mengarahkan pandangannya pada ujung keramik lantai yang retak membentuk pola zig-zag yang berantakan. Kepala Soni dipenuhi kalkulasi yang rumit, tentang jam pulang kerja ririn yang meleset tiga puluh lima menit dari jadwal biasanya, tentang struk pembelian kosmetik di minimarket yang terselip di kantong celana, hingga tentang sebuah nama yang mendadak sering muncul dalam percakapan grup kantor yang sering ririn tunjukkan tanpa diminta. Bagi Soni, hal-hal kecil seperti itu adalah teka-teki yang harus dipecahkan secepatnya sebelum berubah menjadi ancaman nyata yang menggulung kenyamanan hidupnya.

"Aku tidak memeriksa, Rin. Aku hanya memastikan barang-barangmu tidak ada yang tertinggal di dasbor motor," sahut Soni dengan pembelaan yang terdengar sangat masuk akal, sangat terlatih, dan dikemas rapi dalam balutan perhatian yang membumi.

Ririn tersenyum tipis, jenis senyuman sinis yang biasa dipakai orang-orang kalah untuk merayakan ketidakdayaan mereka sendiri. Dia tahu persis bahwa perhatian Soni bukan lagi sekadar wujud kasih sayang yang tulus, melainkan sudah menjelma menjadi sebuah pagar kawat berduri yang perlahan namun pasti mulai mempersempit ruang geraknya untuk bernapas bebas. Soni selalu ingin tahu dengan siapa ririn pergi makan siang, mengapa pulsa teleponnya habis lebih cepat dari perhitungan bulanan, hingga alasan mengapa ririn memilih mengenakan kemeja biru muda alih-alih kaos oblong hitam saat menghadiri rapat evaluasi bulanan di kantornya.

Kehidupan mereka berdua sebenarnya berjalan sangat biasa, bahkan cenderung membosankan jika dilihat dari luar jendela kaca rumah mereka yang berdebu. Mereka adalah sepasang manusia yang dipertemukan oleh rutinitas komuter yang melelahkan, terjebak dalam cicilan rumah pinggiran kota, dan didera rasa takut yang konstan akan masa depan yang tidak pernah menjanjikan apa-apa. Namun, di dalam ruang sempit itu, Soni menciptakan sistem kendalinya sendiri sebagai kompensasi atas ketidakberdayaannya menghadapi kerasnya dunia kerja di luar sana yang sering kali mengabaikan eksistensinya sebagai seorang buruh administrasi biasa.

"Kemarin malam, setelah kamu tertidur, ponselmu menyala tiga kali," ucap Soni memutus keheningan yang sempat merayap di antara mereka berdua.

Ririn menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyendok nasi dingin dari dalam penanak nasi yang dayanya sudah dimatikan sejak sore. "Itu hanya pesan otomatis dari aplikasi belanja, Soni. Kamu bisa membuka dan memeriksanya sendiri kalau kamu memang masih tidak percaya," jawab ririn tanpa menoleh, membiarkan punggungnya yang tampak lelah menjadi tameng dari tatapan menyelidik suaminya.

"Aku percaya padamu, Rin. Aku hanya tidak percaya pada orang-orang di sekitarmu yang mungkin punya niat lain," kata Soni dengan nada suara yang melembut, mencoba membangun kembali jembatan empati yang mulai retak di antara mereka. Kalimat itu adalah senjata andalannya, sebuah tameng retorika yang selalu berhasil mengubah tindakan posesifnya menjadi seolah-olah sebuah pengorbanan suci demi menjaga keutuhan hubungan mereka dari gangguan luar.

Ririn berbalik, menatap Soni dengan mata yang tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan sebuah kekosongan yang teramat dalam. "Lalu sampai kapan kita harus hidup seperti ini? Kamu memantauku seperti mandor, dan aku harus terus membuktikan bahwa aku tidak bersalah atas hal-hal yang bahkan tidak pernah aku pikirkan untuk dilakukan."

Perdebatan itu tidak pernah menemukan ujungnya, seperti lingkaran setan yang terus berputar di atas meja makan yang sama setiap minggu malam. Soni merasa ririn adalah satu-satunya hal berharga yang berhasil dia miliki di dunia yang serba pelit ini, dan melepaskan sedikit saja pengawasannya terasa seperti membiarkan separuh nyawanya menguap begitu saja ke udara. Dia takut kehilangan kendali, takut menjadi orang asing di mata perempuan yang sudah menemaninya sejak zaman kos-kosan sempit beratap seng yang bocor setiap kali musim hujan datang melanda kota.

Di sisi lain, ririn mulai merasa bahwa cinta yang ditawarkan Soni sudah tidak lagi memiliki ruang untuk bertumbuh, melainkan sudah berubah menjadi sebuah ruang isolasi yang dingin dan kedap suara. Setiap perhatian terasa seperti interogasi, dan setiap pelukan terasa seperti upaya untuk memastikan bahwa dia tidak melarikan diri ke mana-mana. Namun, ririn juga tidak memiliki keberanian yang cukup untuk benar-benar mengemas pakaiannya ke dalam koper dan melangkah keluar dari rumah itu, karena bagaimanapun juga, di luar sana ada ketidakpastian yang jauh lebih mengerikan daripada rasa sesak yang dia rasakan di dalam rumah ini.

Gerimis mulai turun satu-satu di luar sana, memukul genteng tanah liat dengan bunyi yang monoton dan ritmis. Soni berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca lalu menutupnya rapat-rapat, memastikan tidak ada tempias air yang masuk membasahi gorden murah berwarna krem yang sudah mulai pudar warnanya. Dia memandangi bayangan mereka berdua yang terpantul samar di permukaan kaca yang gelap, dua siluet manusia yang berada di dalam satu ruangan yang sama namun tampak terpisah oleh jarak psikologis yang teramat jauh.

"Besok aku yang antar kamu ke kantor," ujar Soni sambil berjalan menuju kamar tidur tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari ririn terlebih dahulu.

Ririn tetap diam di tempatnya berdiri, memandangi piring berisi nasi dan lauk seadanya yang mendadak kehilangan selera untuk dia habiskan malam ini. Dia mendengar langkah kaki Soni yang menjauh, disusul suara pintu kamar yang ditutup dengan pelan namun terdengar sangat tegas di telinganya. Ririn menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan sisa udara malam yang terasa makin berat, lalu perlahan mematikan lampu dapur, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan yang samar sebelum dia menyusul masuk ke dalam kamar tidur yang sama.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi