Kamar nomor tujuh belas tidak pernah benar-benar luas, tapi setelah kamu memutuskan untuk malas bernapas, ruangan ini mendadak menjelma lapangan bola yang lepas. Kasur kapuk yang biasanya ambles oleh beban dua tubuh, kini rata sebelah, menyisakan cekungan dingin yang enggan pulih. Setiap pagi, jam dinding tidak lagi berdetak, ia mendepak sepi yang merangkak.
Tanganku sibuk mengetuk-ngetuk meja kayu yang lapuk, mencoba meniru irama langkah kakimu yang biasa berisik mencari handuk. Aku sengaja menyeduh kopi hitam dua cangkir. Satu untuk lambungku yang mulai memprotes pahit, satu lagi untuk meja sebelah kanan yang sengaja kubiarkan kosong melongpong. Uapnya mengepul, berpura-pura menjadi napas yang luput dari dadamu. Aku tidak sedang meratapi kehilangan; aku hanya sedang merapikan kenangan yang berantakan agar tidak tersandung saat berjalan.
Sebelum fajar sempat memamerkan warna jingga yang fana, aku sudah terjaga tanpa suara. Di dapur yang sempit, jemariku mulai memotong sayur berbisik, takut membangunkan kenyataan bahwa kamu sudah tidak ada. Minyak goreng mendesis tipis, menggoreng tahu yang tahu diri bahwa ia hanya pelipur lari. Aku menyiapkan sarapan saat kantukmu yang abadi belum juga berakhir, menata piring-piring porselen retak seolah-olah kamu akan hadir dengan wajah kusut dan rambut yang melintir.
Ini adalah ritual pengabdian yang paling sunyi. Melayani bayang yang tak kunjung kenyang, memberi makan pada ketiadaan yang terus menuntut ruang. Aku mencuci pakaianmu yang masih menyisakan aroma minyak telon dan keringat murah. Menguceknya pelan, membilasnya tanpa ratapan, lalu menjemurnya di bawah terik yang pelit. Aku melakoni peran ini tanpa meminta balasan, bahkan dari tuhan yang mungkin sedang sibuk mengurus urusan langit yang lebih rumit.
Lantai dapur ini terbuat dari semen semenjana yang mulai pecah di sudutnya. Di situlah pertahanan yang kubangun dengan angkuh akhirnya runtuh tanpa ampun. Saat jemariku tak sengaja menyenggol sendok aluminium hingga jatuh tersungkur, dadaku mendadak bergetar seolah dipukul mundur. Pertahanan yang kukira sekeras baja, ternyata hanya seonggok sepi yang telanjang dada.
Air mata tidak mengalir seperti sungai dalam puisi; mereka jatuh satu-satu, berat dan padat. Air mata itu jatuh berdentang menghantam lantai dapur yang gersang, bunyinya nyaring seperti lonceng kematian yang enggan pulang. Setiap tetes yang mendarat memercikkan rasa bersalah yang selama ini kusimpan di bawah lidah. Aku menangis tanpa raungan, hanya isak yang tertahan di tenggorokan, beradu dengan suara desis kompor yang kehabisan gas di ujung petang.
Kejadian aneh mulai mengambil alih sudut-sudut rumah yang beralih fungsi. Kemarin sore, kuas cat yang kusimpan di dalam gudang terkunci, mendadak pindah ke atas kasur dengan ujung yang basah oleh warna biru mati. Padahal, aku tidak punya cat warna itu, dan pintu rumah selalu kupastikan terkunci lapis tiga dari dalam hati.
Lebih aneh lagi, setiap kali aku merapikan selimut di sisi kasurmu yang dingin, lipatannya selalu kembali berantakan membentuk siluet tubuh yang sedang meringkuk menahan angin. Apakah ini doa yang salah alamat yang dikirim oleh malaikat yang mengantuk, ataukah rumah ini sedang mencoba menyembuhkan dirinya sendiri dengan cara yang membuat bulu kuduk bergidik? Seseorang atau sesuatu sedang bermain-main dengan ruang dan waktu, meninggalkan jejak kaki tak kasat mata yang baunya persis seperti hujan bulan Juni di halaman depan.
Malam ini, kegelapan tidak lagi terasa mencekam; ia terasa pekat dan hangat seperti pelukan seorang kawan. Saat lampu bohlam lima watt di sudut kamar mulai berkedip sekarat, sudut ruangan yang paling gelap mendadak menggeliat. Sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik lemari pakaian—sebuah bayangan yang lebih tebal dari malam—memilih untuk melangkah maju dan "ada".
Tanpa bentuk yang pasti, namun memiliki rasa aman yang presisi, bayangan itu mendekat ke arah tempat tidur. Ia tidak berbicara, tidak juga bersuara, namun sepasang lengan yang dingin namun menenangkan perlahan melingkari pundakku yang gemetar. Sentuhannya kaku seperti kayu yang lama terendam air, namun entah mengapa terasa begitu menggemaskan dan menyentuh bagian paling dalam dari duka yang kupelihara. Bayangan itu mewujud hanya untuk memastikan bahwa aku tidak sendirian menghadapi hancur yang telanjur.
Mungkin kita tidak bisa mengubah takdir atau memberikan cahaya terang benderang, tapi kita memilih untuk duduk bersamanya di dalam kegelapan.