Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
6
Misteri Surat Cinta di Tangga Kampus
Thriller
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Udara pendingin ruangan di koridor lantai dua gedung fakultas sastra siang itu mati, memaksa mahasiswa berhamburan mencari tempat sejuk untuk menghabiskan waktu jeda kelas. Di antara kerumunan anak muda yang sibuk dengan gawai masing-masing, tiga mahasiswa memilih memisahkan diri. Arya, Bagas, dan Citra berjalan menuruni anak tangga semen yang menghubungkan lantai dua dan lantai satu. Tangga itu terletak di sudut bangunan yang terasing, memiliki pegangan besi tua berwarna hitam yang catnya mulai mengelupas. Sinar matahari siang menerobos masuk melalui jendela kaca besar di bordes tangga, memantulkan debu halus yang beteberan di udara. Tempat ini biasanya sepi karena sebagian besar mahasiswa lebih suka menggunakan lift atau tangga utama di dekat lobi depan gedung kuliah.

Gila, panas banget hari ini, tidak santai sama sekali, kata Bagas sambil mengibaskan kaos hitamnya untuk mencari angin. Dia menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin di area bordes tangga. Ponsel di tangan kanannya terus menampilkan linimasa media sosial yang bergerak cepat. Kita punya waktu sekitar tiga puluh menit sebelum kelas metodologi penelitian dimulai. Kalau kita ke kantin bawah, pasti sudah penuh sama anak angkatan bawah yang mau makan siang.

Citra tersenyum tipis, lalu mendudukkan dirinya dengan anggun di anak tangga ketiga dari atas. Rambut panjangnya yang hitam berkilau di bawah siraman cahaya matahari. Citra adalah mahasiswi yang diakui oleh semua orang sebagai cewek tercantik seangkatan mereka tahun ini. Wajahnya yang simetris dan pembawaannya yang tenang selalu berhasil menarik perhatian siapa saja, termasuk para dosen muda. Ya sudah, kita santai di sini saja dulu. Lagipula di sini lumayan sepi, tidak berisik seperti di depan koridor kelas tadi, sahut Citra sambil membuka botol air mineral yang dia bawa sejak pagi.

Arya yang berdiri di dekat pegangan besi hanya memperhatikan kedua temannya. Dia tipe mahasiswa yang lebih suka mengamati keadaan sekitar ketimbang sibuk dengan dunia digital. Tatapan matanya menyusur ke sudut anak tangga, hingga akhirnya berhenti pada sebuah celah sempit di antara anak tangga semen dan tiang penyangga besi pegangan tangga. Ada sesuatu yang janggal di sana. Sebuah lipatan kertas berwarna merah muda yang sudah sangat pudar, menyembul sedikit dari dalam celah yang berdebu. Tekstur kertas itu tampak tebal, sangat berbeda dengan kertas binder atau kertas cetak tugas yang biasa digunakan oleh mahasiswa zaman sekarang.

Eh, coba lihat itu, kata Arya sambil menunjuk ke arah celah semen tersebut. Ada kertas menyelip di bawah tiang besi.

Bagas menengadah tanpa minat besar. Paling juga sampah struk belanja atau bekas bungkus permen dari anak yang iseng membuangnya di sana. Jangan sensitif banget jadi orang, Arya.

Namun Citra justru merasa penasaran. Dia berdiri dari posisi duduknya lalu membungkuk perlahan untuk mengambil kertas tersebut. Jemari tangannya yang lentik menarik ujung kertas itu dengan hati-hati agar tidak robek. Kertas itu ternyata adalah sebuah amplop surat model lama yang sudah tidak menggunakan perekat lagi. Di bagian depannya, terdapat sebuah tulisan tangan yang ditulis menggunakan tinta pulpen cair berwarna biru tua yang sudah memudar menjadi keunguan. Gaya tulisannya sangat rapi, menggunakan huruf latin tegak bersambung yang indah. Tulisan itu berbunyi sebuah kalimat singkat yaitu Untuk Perempuan Tercantik di Kampus Ini.

Bagas langsung meletakkan ponselnya ke dalam saku celana begitu mendengar kalimat yang dibacakan oleh Citra. Wah, ini menarik sekali. Jangan-jangan ini surat cinta dari cowok yang mau mendekati kamu, Citra. Kan kamu cewek paling cantik di angkatan kita sekarang. Siapa yang menaruh surat selembut ini di tangga tua?

Bukan, ini bukan buat aku, jawab Citra dengan dahi berkerut pelan. Lihat saja kondisi kertasnya, ini sudah sangat usang dan berdebu. Tinta ini jenis pulpen jadul yang jarang dipakai anak sekarang. Ini seperti surat dari masa lalu yang terjebak di sini.

Arya mendekat, merasakan sebuah sensasi aneh yang mendadak melintas di tengkuknya. Suhu di sekitar tangga itu perlahan-lahan terasa menurun, menjadi jauh lebih dingin daripada koridor atas yang pengap tadi. Buka saja, Citra. Kita lihat apa isinya.

Citra membuka lipatan amplop itu dengan perlahan. Di dalamnya terdapat selembar kertas dengan aroma wangi samar yang aneh, seperti bau bunga melati kering yang sudah lama disimpan di dalam lemari kayu tua. Tulisan di dalamnya menggunakan gaya tulisan yang sama persis dengan yang ada di bagian depan amplop. Citra mulai membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana dengan suara yang lembut namun jelas.

Aku selalu memperhatikanmu setiap kali kamu berjalan menuruni tangga ini di jam jeda kelas siang hari. Rambut panjangmu yang hitam selalu berkilau terkena cahaya matahari dari jendela kaca ini. Semua orang tahu kamu adalah perempuan tercantik di kampus ini pada masa ini, dan aku hanyalah seorang pria biasa yang hanya bisa mengagumimu dari kejauhan di balik tiang besi ini. Aku tahu kita tidak akan pernah bisa bersama karena takdirku yang harus pergi lebih cepat dari dunia ini sebelum aku sempat menyapamu. Surat ini adalah caraku untuk mengabadikan kecantikanmu di tempat yang paling sering kamu lewati. Semoga kamu selalu bahagia, wahai pemilik senyuman terindah.

Suasana di sekitar area tangga mendadak berubah menjadi sangat hening setelah Citra selesai membaca kalimat terakhir. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Kata-kata di dalam surat itu terasa begitu jujur, penuh dengan rasa pemujaan yang mendalam namun di sisi lain menyimpan kepedihan yang teramat sangat dari seseorang yang telah tiada sebelum cintanya tersampaikan kepada sang pujaan hati.

Bagas menelan ludah dengan susah payah, wajahnya yang tadi dipenuhi candaan kini tampak sedikit tegang. Ini surat tahun berapa ya? Kenapa deskripsi tentang rambut panjang dan kebiasaan berjalan di tangga ini rasanya sangat mirip dengan kamu, Citra? Ini benar-benar membuat merinding.

Citra menggelengkan kepalanya pelan, matanya menatap lembaran kertas itu dengan pandangan yang dipenuhi rasa iba yang mendalam. Bukan, ini bukan tentang aku. Surat ini ditulis puluhan tahun lalu untuk perempuan tercantik pada masa itu yang mungkin memiliki kebiasaan yang sama denganku. Aku bisa merasakan kesedihan orang yang menulis surat ini, dia sangat kesepian.

Tiba-tiba sekelumit embusan angin dingin yang sangat lembut lewat, menerpa rambut panjang Citra. Aroma melati menyeruak pekat, menenangkan jiwa mereka. Di sudut tangga dekat tiang besi, Arya melihat siluet tipis tak kasat mata yang memperhatikan mereka penuh rindu. Rasa takut berganti kedamaian, menyadari cinta sejati masa lalu akan selalu abadi menjaga ingatan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)