Disukai
0
Dilihat
456
Rona Rima Kaum Jengah
Komedi

Dinding kamar yang retak itu saksi bisu bagaimana waktu merangkak seperti siput yang kehabisan pelumas. Di atas kasur yang pernya sudah menonjol keluar seperti tulang rusuk yang kelaparan, seorang pria menatap langit-langit dengan mata yang merah. Namanya bukan masalah, sebut saja dia sang perenung yang terkungkung. Di luar, kota sedang sibuk mengunyah mimpi-mimpi orang kecil, melumatnya menjadi aspal dan gedung-gedung cakar langit yang angkuh. Dia merasa seperti sebutir debu yang terjebak di dalam mesin blender raksasa, berputar tanpa arah, hancur tanpa sisa, lelah tanpa jeda. Semua khotbah moral dari corong-corong penguasa terdengar seperti dongeng pengantar tidur bagi bayi yang sudah mati rasa. Mereka bicara tentang masa depan yang gemilang, namun yang tersaji di piring makannya hanyalah sisa-sisa janji yang sudah basi dan berulat.

Langkah kaki di gang sempit bawah jendelanya terdengar berisik, berirama seperti detak jantung kota yang sedang terserang asma. Orang-orang berjalan dengan kepala tertunduk, memikul beban yang tidak kasat mata namun sanggup mematahkan tulang belakang. Mereka adalah mesin yang bernapas, robot yang berkeringat, kumpulan angka di atas kertas laporan keuangan para cukong yang duduk manis di ruangan ber-AC. Sang perenung bangkit, menyeret kakinya yang berat menuju cermin buram yang tergantung di dekat pintu. Di sana dia melihat wajah yang asing, wajah yang penuh dengan coretan garis-depresi, sebuah mahakarya dari sistem yang korup. Mulutnya terkunci, namun isi kepalanya berisik seperti pasar tumpah di hari minggu pagi. Ada amarah yang membara, ada kekecewaan yang membeku, ada rasa bosan yang sudah mencapai stadium akhir.

Dunia ini penuh dengan sandiwara yang naskah-skenarionya ditulis oleh para pembohong profesional. Mereka yang di atas panggung tersenyum lebar menampilkan deretan gigi yang putih bersih, hasil dari memakan uang keringat rakyat yang diperas sampai kering kerontang. Sementara penonton di bawah hanya bisa melongo, bertepuk tangan secara mekanis karena sudah dihipnotis oleh bualan-bualan manis yang berbisa. Sang perenung muak, dia bosan menjadi penonton yang pasif, dia jemu menjadi korban yang penurut. Rasa jengah itu sudah menumpuk di dada, menyumbat aliran darahnya, membuatnya ingin muntah setiap kali melihat berita di televisi atau mendengar pidato-pidato busuk di radio. Kebohongan yang diulang-ulang secara konstan telah menjelma menjadi kebenaran baru yang diamini oleh mayoritas orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Dia melangkah keluar, menembus kabut asap kendaraan yang mencekik tenggorokan. Jalanan adalah medan perang tanpa senjata api, tempat manusia saling sikut hanya demi sesuap nasi yang kadang sudah basi. Di pojok lampu merah, seorang anak kecil dengan baju compang-camping mengulurkan tangan, meminta belas kasihan dari pengendara mobil mewah yang kaca jendelanya tertutup rapat dan gelap. Di seberang jalan, seorang aparat dengan seragam gagah sedang menerima bungkusan kertas dari seorang sopir truk yang melanggar aturan. Pemandangan itu begitu klise, begitu lumrah, sampai-sampai tidak ada lagi orang yang peduli atau merasa aneh. Semua hal yang salah telah dilegalkan oleh kebiasaan, dan semua hal yang benar telah disingkirkan karena dianggap mengganggu kenyamanan para penguasa egois yang tamak.

Kebosanan ini bukan lagi sekadar rasa kantuk yang datang di siang bolong, melainkan sebuah penyakit kronis yang menggerogoti jiwa secara perlahan namun pasti. Sang perenung berjalan tanpa arah, melewati ruko-ruko tua yang dindingnya dipenuhi coretan grafiti bernada protes yang sudah mulai luntur. Tulisan-tulisan di dinding itu adalah jeritan tanpa suara dari mereka yang tertindas, namun bagi para pejabat, itu hanyalah tindakan vandalisme yang merusak estetika kota. Logika memang sudah lama terbalik-balik di tempat ini, yang jujur dipenjara karena dianggap menyebar fitnah, sedangkan yang penipu dipuja-puja dan diberi penghargaan sebagai tokoh inspiratif. Begitu banyak orang pintar yang memilih menjadi bodoh demi keselamatan diri, dan begitu banyak orang bodoh yang merasa pintar karena memiliki kekuasaan mutlak.

Angin malam mulai berembus, membawa aroma sampah yang membusuk dari kali yang airnya hitam pekat seperti kopi tanpa gula. Di pinggir kali itu, berderet gubuk-gubuk liar yang terbuat dari tripleks dan plastik bekas, tempat bernaung bagi mereka yang terbuang dari sistem modernisasi. Mereka adalah tumbal dari kemajuan zaman, angka statistik yang sengaja disembunyikan di balik tembok-tembok tinggi agar tidak merusak pemandangan para turis asing. Sang perenung berhenti di sebuah jembatan, menatap air hitam yang mengalir tenang namun mematikan. Dia berpikir, apakah hidup ini memang hanya sebatas lingkaran setan yang tidak memiliki ujung pangkal. Lahir, sekolah, kerja keras sampai mati, lalu dilupakan begitu saja tanpa pernah memberikan arti yang nyata bagi dunia yang fana ini.

Kemunafikan telah menjadi pakaian dinas harian bagi setiap orang yang ingin bertahan hidup di belantara beton ini. Senyuman luar yang ramah sering kali menyembunyikan belati tajam di balik punggung, siap ditusukkan ketika target lengah sedikit saja. Persahabatan diukur dari seberapa besar keuntungan yang bisa didapatkan, dan cinta telah bergeser nilai menjadi transaksi bisnis yang penuh dengan hitung-hitungan matematis. Sang perenung merasakan kepalanya berdenyut kencang, seolah ada palu godam yang menghantam dinding tengkoraknya tanpa ampun. Dia ingin berteriak sekeras-kerasnya, melepaskan seluruh beban yang menyumbat dadanya, namun dia tahu suaranya hanya akan tenggelam di antara bisingnya mesin-mesin pabrik dan klakson kendaraan yang saling bersahutan.

Di sebuah warung kopi remang-remang, dia duduk di pojokan, memesan segelas kopi hitam yang pahitnya menandingi jalan hidupnya. Di sana berkumpul beberapa buruh pabrik yang baru saja pulang dari sif malam, wajah-wajah mereka tampak kuyu dengan mata yang sayu. Mereka berdiskusi tentang kenaikan harga barang yang tidak sebanding dengan upah minimum yang mereka terima. Obrolan mereka penuh dengan keluh kesah, namun diakhiri dengan tawa getir yang dipaksakan sebagai obat penawar stres yang murah meriah. Sang perenung mendengarkan tanpa berniat untuk bergabung, dia tahu mereka semua berada di perahu yang sama, sebuah perahu bocor yang sedang perlahan-lahan tenggelam di samudra ketidakpastian ekonomi yang kejam.

Setiap kata yang diucapkan oleh para pemimpin di podium kehormatan kini terasa seperti ejekan yang menyakitkan telinga. Mereka bicara tentang pertumbuhan ekonomi yang meroket, namun yang meroket hanyalah hutang negara dan kekayaan pribadi para pejabatnya. Mereka bicara tentang keadilan sosial, namun hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, menghukum pencuri sandal dengan hukuman bertahun-tahun sementara koruptor miliaran rupiah bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan berobat. Ketimpangan ini sudah melampaui batas kewajaran, menciptakan jurang pemisah yang begitu dalam antara si kaya yang makin serakah dan si miskin yang makin sengsara tanpa ada jembatan penyeberangan yang adil.

Malam makin larut, namun kota ini menolak untuk tidur, terus berdenyut dalam lingkaran dosa dan keserakahan yang tiada habisnya. Sang perenung meninggalkan warung kopi, kembali menyusuri jalanan yang mulai sepi namun tetap terasa mencekam. Dia merasa seperti orang asing di tanah kelahirannya sendiri, terusir secara halus oleh keadaan yang tidak pernah berpihak pada kejujuran dan kerja keras. Semua impian masa kecilnya tentang dunia yang indah dan penuh kedamaian telah hancur berkeping-keping, digantikan oleh realitas yang pahit dan penuh dengan intrik politik yang kotor serta memuakkan bagi siapa saja yang masih memiliki hati nurani.

Dia tahu, jika dia terus diam dan menerima semua ini dengan pasrah, dia tidak ada bedanya dengan mayat hidup yang berjalan tanpa arah tujuan yang jelas. Rasa jengah ini harus diubah menjadi energi, amarah ini harus diledakkan menjadi sebuah gerakan perubahan, minimal untuk dirinya sendiri agar tidak ikut larut dalam arus pembodohan massal yang sedang terjadi. Namun, melangkah sendirian melawan sistem yang masif dan terstruktur dengan baik adalah tindakan yang menyerupai bunuh diri konyol. Dia butuh jawaban, dia butuh kepastian, dia butuh sesuatu yang bisa memutus rantai penderitaan mental yang sudah mengikat jiwanya begitu erat selama bertahun-tahun tanpa ada tanda-tangan perdamaian.

Lampu-lampu jalanan mulai berkedip-kedip, seolah-olah kehabisan daya untuk menerangi kegelapan yang makin pekat menyelimuti setiap sudut kota. Sang perenung menatap bayangannya sendiri di aspal yang basah oleh sisa hujan sore tadi, bayangan itu tampak rapuh namun menyimpan potensi ledakan yang dahsyat di dalamnya. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan kuku-kukunya menancap di telapak tangan, menyalurkan rasa sakit fisik yang setidaknya bisa mengalihkan perhatian dari rasa sakit batin yang jauh lebih menyiksa. Ini adalah titik nadir dari kesabarannya, batas akhir dari kepatuhannya pada aturan-aturan main yang dibuat oleh para penindas berwajah malaikat yang sebenarnya berhati iblis.

Esok hari akan datang dengan rutinitas yang sama, dengan kebohongan yang sama, dengan tekanan yang sama dari segala arah mata angin. Namun bagi sang perenung, malam ini adalah garis batas terakhir yang memisahkan antara masa lalu yang penuh kepasrahan dan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian namun menjanjikan kebebasan jiwa yang hakiki. Dia tidak mau lagi didikte oleh sistem, dia tidak mau lagi disetir oleh opini publik yang sudah disabotase oleh kepentingan kelompok tertentu. Dia akan berjalan dengan caranya sendiri, meskipun harus melewati jalan yang penuh dengan duri dan kerikil tajam yang siap melukai setiap langkah kakinya yang telanjang.

Perjalanan pulang ke kamarnya terasa lebih panjang dari biasanya, setiap meter jalan yang ditempuhnya dipenuhi oleh bayang-bayang kegagalan masa lalu yang mencoba menariknya kembali ke dalam kubang depresi yang dalam. Namun tekadnya sudah bulat, rasa jengah yang mengendap sekian lama kini telah mengkristal menjadi sebuah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat lagi oleh siapapun. Sesampainya di depan pintu kamar tua itu, dia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang dingin mengisi paru-parunya yang kotor oleh asap kota, bersiap untuk menghadapi badai baru yang pasti akan datang menerpa kehidupannya esok hari tanpa ampun.

Di dalam keheningan kamar yang pengap itu, dia duduk di tepi tempat tidur, mematikan lampu, dan membiarkan kegelapan malam merengkuh tubuhnya yang lelah secara utuh. Tidak ada lagi air mata yang tersisa, yang ada hanyalah tatapan mata yang dingin dan tajam menembus kegelapan malam yang pekat tersebut. Dia siap untuk berhenti menjadi bagian dari permainan yang curang ini, dia siap untuk menunjukkan bahwa manusia terkecil sekalipun memiliki batas maksimal kesabaran sebelum akhirnya berbalik menjadi ancaman nyata bagi mereka yang selama ini meremehkan kekuatan dari sebuah rasa jengah yang teramat sangat dalam.

Matahari pagi terbit dengan kemalasan yang kentara, sinarnya yang kekuningan menembus celah-celah ventilasi kamar yang berdebu tebal. Sang perenung terbangun bukan karena alarm, melainkan karena rasa sesak yang makin menjadi-jadi di dalam rongga dadanya yang kurus. Hari baru telah dimulai, yang berarti panggung sandiwara besar kota ini kembali membuka tirainya untuk pertunjukan kepalsuan berikutnya yang sudah terjadwal rapi. Dia memandang pakaian kerjanya yang tergantung kaku di balik pintu, sepotong kain yang selama ini menjadi simbol kepatuhannya pada sistem yang sebenarnya dia benci setengah mati setiap harinya.

Dengan gerakan lambat yang dipaksakan, dia bersiap-siap, bukan karena bersemangat melainkan karena sisa-sisa tanggung jawab mekanis yang masih melekat di kepalanya yang penat. Di jalanan, riuh rendah suara kendaraan sudah mulai memenuhi udara, menciptakan simfoni kekacauan yang akrab di telinga masyarakat urban yang sudah mati rasa estetika. Setiap orang yang dia temui di angkutan umum memiliki tatapan yang sama, kosong dan hampa, seperti zombie yang dikendalikan oleh kebutuhan akan uang kertas berlogo pahlawan mati. Mereka bergerak dalam ritme yang seragam, menuju tempat kerja masing-masing untuk menukarkan sisa umur mereka dengan upah yang hanya cukup untuk membayar kontrakan rumah sebulan ke depan.

Sesampainya di kantor, suasana langsung terasa menekan dengan tumpukan berkas yang menunggu di atas meja kerjanya yang berantakan. Bosnya, seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan wajah yang selalu cemberut, sudah mulai mondar-mandir sambil berteriak memberikan perintah-perintah yang tidak masuk akal sehat manusia normal. Sang perenung hanya bisa mengangguk-angguk patuh, meredam gejolak amarah yang mendidih di dalam perutnya agar tidak meledak di waktu yang salah. Dia tahu, satu kata bantahan saja bisa berarti pemecatan seketika, dan di zaman seperti sekarang ini, kehilangan pekerjaan sama saja dengan menandatangani surat kematian kelaparan sendiri secara perlahan di pinggir jalan raya yang ramai.

Namun, ada batas di mana wadah penampungan sabar tidak lagi mampu menahan debit air amarah yang terus mengalir deras tanpa henti. Di tengah hari yang terik, ketika tuntutan pekerjaan makin menggila dan caci maki dari atasan terdengar makin merendahkan martabat manusianya, sesuatu di dalam diri sang perenung patah. Itu adalah suara patahnya rantai kepatuhan yang selama ini mengikat erat kebebasan berpikirnya dari dunia luar. Dia berhenti mengetik, tangannya gemetar bukan karena takut melainkan karena menahan gelombang energi besar yang menuntut untuk segera dilepaskan dari dalam tubuh kurusnya tersebut.

Dia berdiri dari kursinya, memandang sekeliling ruangan kantor yang mendadak menjadi sunyi senyap seperti kuburan tua di tengah malam. Rekan-rekan kerjanya menatapnya dengan pandangan heran campur cemas, mereka melihat ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata pria yang biasanya selalu tunduk dan diam tersebut. Sang perenung tidak mengatakan sepatah kata pun, dia hanya merapikan barang-barang pribadinya ke dalam tas ranselnya yang sudah usang dan robek di beberapa bagian sudutnya. Bosnya yang melihat tindakan itu langsung berteriak dengan nada mengancam, menanyakan apa yang sedang dia lakukan di jam kerja efektif seperti ini.

Sang perenung menatap lurus ke mata bosnya, sebuah tatapan yang penuh dengan rasa jengah dan kejutan yang membuat pria buncit itu terdiam seribu bahasa untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan. Tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya, sang perenung membalikkan badan dan melangkah lebar keluar dari ruangan itu, meninggalkan semua kenyamanan semu yang selama ini memenjarakan jiwa merdekanya. Setiap langkah kakinya di koridor kantor terasa begitu ringan, seolah-olah beban seberat satu ton yang selama ini menggelantung di pundaknya telah menguap begitu saja ke udara bebas yang luas.

Keluar dari gedung bertingkat itu, dia disambut oleh terik matahari yang membakar kulit, namun dia merasa sangat segar dan hidup untuk pertama kalinya setelah sekian tahun lamanya berada dalam kegelapan rutinitas. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini, bagaimana dia akan membayar sewa kamar atau membeli makanan untuk esok hari, namun semua ketakutan itu kalah teliti oleh rasa puas yang menggebu-gebu di dalam dadanya saat ini. Dia telah memilih untuk memutus jalur kompromi dengan kepalsuan sistem, memilih untuk menghadapi dunia dengan wajah aslinya tanpa ada topeng senyuman palsu yang melelahkan fisik dan mentalnya lagi.

Dia berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang mantap, menikmati setiap jengkal kebebasan yang baru saja dia rebut kembali dengan keberanian nekatnya sendiri. Di sekitarnya, kota tetap berjalan dengan kesibukannya yang gila, namun sang perenung tidak lagi merasa menjadi bagian dari kegilaan massal tersebut. Dia kini adalah seorang pengamat, seorang pengelana yang sedang mencari makna sejati dari kehidupan di luar kotak-kotak beton yang menjemukan mata memandang. Perjalanan baru ini mungkin akan penuh dengan ketidakpastian dan mara bahaya yang mengintai, namun itu jauh lebih baik daripada mati perlahan dalam kebosanan yang teratur dan dilegalkan oleh masyarakat modern saat ini.

Langkah kakinya membawanya menuju sebuah taman kota yang terbengkalai, tempat di mana tanaman liar tumbuh bebas tanpa ada tangan tukang kebun yang memotongnya secara paksa agar terlihat rapi sesuai aturan manusia. Di sana dia duduk di sebuah bangku kayu yang sudah lapuk, mendengarkan kicau burung-burung liar yang tidak perlu membayar sewa sarang atau memikirkan inflasi harga pangan global. Sang perenung tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah lama absen dari wajah kuyu tersebut, menandakan bahwa perang batin di dalam dirinya telah dimenangkan oleh jiwa merdekanya yang menolak untuk terus menerus bersikap jengah terhadap keadaan sekitar yang makin memburuk dari hari ke hari tanpa ada tanda perbaikan yang berarti.

Dunia luar menjerit, menuntut kompromi yang melilit. Di atas aspal yang makin mengelupas oleh panas, sang perenung melangkah tanpa ragu yang membekas. Langkahnya kini ritmis, memutus segala trauma tragis yang sempat membuat jiwanya menangis. Dia bukan lagi bagian dari barisan orang seragam yang jalannya ragu-ragu dan muram. Dia adalah anomali di dalam sistem yang penuh dengan kompromi kelam dan aturan yang kejam.

Setiap tikungan jalan menyajikan pemandangan yang menggelitik nalar. Ada toko besar yang memajang kemewahan dengan spanduk diskon penuh kepalsuan, merayu kantong-kantong tipis agar makin terkuras habis. Di sampingnya, seorang pria tua duduk beralaskan koran basi, menjajakan jasa sol sepatu dengan harapan yang makin layu diterpa angin lalu. Kontras yang tajam ini bukan lagi pemandangan yang membuatnya bungkam dalam kelam, melainkan bahan bakar baru untuk menyalakan api kesadaran yang sempat padam.

"Mau ke mana, Bung? Jalan kaki di jam kerja seperti orang kurang kerjaan," seloroh seorang kenalan lama yang kebetulan lewat dengan sepeda motor matic-nya yang masih menyicil tiga tahun lagi. Wajah kenalan itu tampak penuh kepanikan, dikejar waktu absen yang telat semenit saja berarti potong uang makan seharga sepiring nasi ayam.

Sang perenung hanya melempar senyum tipis, tipis sekali sampai nyaris menyerupai garis lurus tanpa makna. "Mencari kerja yang tidak menjajah pikiran, Bung. Selamat mengejar setoran," jawabnya tenang, suaranya renyah tanpa ada nada sinis yang berlebihan. Kenalan itu menggelengkan kepala, menganggap sang perenung sudah kehilangan sekrup di kepalanya akibat tekanan ekonomi yang makin menggila, lalu tancap gas meninggalkan kepulan asap knalpot yang pekat beracun.

Dia melanjutkan pengembaraan tanpa peta, menembus labirin kota yang makin siang makin bising oleh klakson yang saling bersahutan seperti paduan suara babi kelaparan. Di sebuah jembatan penyeberangan yang tangganya mulai goyang, dia berhenti sejenak. Dari ketinggian itu, dia melihat aliran mobil mewah berderet panjang, terjebak macet total yang adil. Di dalam sana, orang-orang kaya dengan pakaian perlente mungkin sedang memaki satelit karena pendingin kabin kurang dingin, atau sedang pusing memikirkan selingkuhan yang minta apartemen baru di pusat kota. Semua tampak sibuk dengan penderitaan kelas atas yang sebenarnya remeh jika dibandingkan dengan perut-perut kosong di bawah kolong jembatan itu sendiri.

Rasa jengah yang kemarin menyumbat tenggorokan kini telah bermutasi menjadi energi humor yang getir namun segar. Dia melihat kemunafikan ini seperti sebuah pertunjukan sirkus gratisan yang badut-badutnya mengenakan dasi sutra dan sepatu kulit buatan Italia. Mereka melompat dari satu janji ke janji lain, melakukan akrobat kata-kata di depan kamera, lalu memungut tepuk tangan dari penonton yang bodohnya minta ampun. Betapa lucunya dunia ini ketika aturan dibuat oleh mereka yang paling sering melanggarnya, dan hukuman dijatuhkan oleh mereka yang seharusnya berada di dalam sel tahanan paling dalam.

Matahari mulai condong ke barat, memancarkan warna jingga yang memantul di kaca-kaca gedung perkantoran, membuat gedung-gedung itu tampak seperti batangan emas raksasa yang siap runtuh menimpa pemukiman kumuh di sekitarnya. Sang perenung tiba di sebuah pasar tradisional yang becek dan berbau amis. Di tempat ini, hidup terasa lebih jujur meskipun kasar. Tidak ada senyum korporat yang diatur oleh standar operasional prosedur. Yang ada hanyalah tawar-menawar yang sengit antara ibu-ibu pemburu diskon sayuran dengan pedagang yang mempertahankan margin keuntungan demi sesuap nasi esok pagi.

Dia membeli sepotong pisang goreng dari seorang nenek tua yang tangannya sudah gemetar menahan jepitan besi di atas wajan panas. "Kembaliannya ambil saja, Nek," katanya sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan terakhir di dompetnya. Nenek itu tersenyum, menampilkan gusi yang sudah tak bergigi namun memancarkan ketulusan yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh koruptor manapun di negeri ini. Rasa hangat menjalar di dada sang perenung; sebuah bukti bahwa kemanusiaan belum sepenuhnya mati, ia hanya sedang bersembunyi di tempat-tempat yang luput dari radar kamera media massa.

Malam kembali menjemput kota dengan jubah gelapnya yang penuh dengan lampu-lampu neon warna-warni yang menggoda iman. Sang perenung berjalan pulang menuju kamarnya yang sempit, namun kali ini langkahnya tidak lagi berat seperti menyeret rantai besi penjara. Dia merasa bebas, seringan kapas yang terbang terbawa angin malam yang sejuk. Biarlah besok dompetnya kosong melongpong, biarlah esok dunia mencibir keputusannya yang dianggap konyol dan tak masuk akal sehat kaum urban yang gila kerja.

Sesampainya di kamar, dia tidak langsung menyalakan lampu. Dia membiarkan kegelapan malam menjadi kanvas bagi pikirannya yang makin jernih dan tajam. Di atas meja kayu yang pincang, dia menemukan selembar kertas kosong dan sebatang pensil yang sudah tumpul ujungnya. Dengan perlahan, dia mulai menggoreskan kata-kata, bukan laporan keuangan yang penuh manipulasi angka, melainkan catatan jujur tentang sebuah kota yang sedang sakit jiwa namun merasa paling sehat sedunia. Setiap huruf yang tertulis adalah sebuah pukulan telak bagi kemunafikan yang selama ini mengurungnya dalam rasa jengah yang tak berkesudahan lagi. Perintahnya lanjut.

Larik demi larik mengalir pelan dari ujung pensil, merangkai kenyataan menjadi rima yang menari di atas kertas kusam. Sang perenung tersenyum getir, menyadari betapa kota ini senang sekali menukar harga diri dengan selembar gengsi, menjual nurani demi sesuap posisi, lalu mati dalam sunyi tanpa sempat mengerti arti hidup yang sejati. Mereka yang katanya berdasi tinggi justru bermental pencuri, sementara yang berjalan tanpa alas kaki dipaksa mengalah pada hukum yang pandai bersilat lidah dan berkompromi dengan upeti.

Dia menulis tentang mereka yang sibuk memoles topeng agar terlihat murni di depan kamera, padahal busuknya sudah sampai ke tulang penyangga. Kata-kata yang keluar dari jemarinya menjelma menjadi peluru-peluru rima yang renyah namun menusuk telak ke jantung kepalsuan masyarakat kota. Hidup ini memang terlalu jenaka untuk ditangisi secara dramatis, lebih baik ditertawakan dengan sajak-sajak sinis yang membuat para penguasa egois itu merasa kepanasan di dalam ruangan berpendingin udara mereka yang mewah.

"Kalian mengejar angka, sampai lupa makna," tulisnya dengan ketukan irama yang tegas. "Kalian menimbun harta, sampai buta melihat air mata." Di balik dinding kamar yang lembap itu, sang perenung merasa menjadi manusia paling kaya karena memiliki kemerdekaan penuh atas pikirannya sendiri, sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibeli atau ditawar oleh korporasi mana pun yang mencoba mendikte langkah kakinya sejak matahari terbit hingga tenggelam kembali.

Lampu jalan di luar jendelanya mendadak mati, menyisakan kegelapan yang makin pekat, namun justru membuat batinnya makin benderang menembus sekat-sekat kepalsuan zaman. Besok adalah lembaran baru yang benar-benar bersih tanpa coretan perintah dari atasan yang gemar memaki demi target bulanan yang semu. Dia siap melangkah lagi ke jalanan, bukan sebagai budak korporat yang berjalan seragam dengan kepala tertunduk, melainkan sebagai seorang perajin kata yang siap menelanjangi kemunafikan dunia melalui rima-rima tajam yang menyenangkan namun tetap tepat sasaran. Perintahnya lanjut.

Matahari keesokan harinya tidak lagi tampak seperti mandor yang menakutkan, melainkan seperti lampu panggung yang siap menyinari sandiwara jalanan. Sang perenung melangkah keluar dengan tas ransel usang yang kini tidak lagi berisi tumpukan berkas laporan manipulatif, melainkan lembaran-lembaran kertas penuh rima yang siap meledakkan kesadaran siapa saja yang membacanya. Dia berjalan menuju pusat kota, tempat di mana kerumunan manusia paling padat berkumpul dalam kepatuhan yang buta.

Di sebuah alun-alun yang dikelilingi oleh gedung-gedung bank raksasa dan papan reklame elektronik yang memamerkan kemewahan kosmetik, dia berhenti. Dia mengambil posisi di atas sebuah undakan beton bekas air mancur yang sudah lama mati kering. Tanpa pengeras suara, tanpa spanduk yang megah, dia hanya mengandalkan kelantangan vokal dan ketukan jemarinya pada sebuah kaleng bekas yang dia temukan di pinggir jalan raya.

"Selamat pagi para pengejar ilusi, yang hidupnya diatur oleh mutasi dan kuitansi!" serunya memecah keheningan mekanis pagi itu. Beberapa orang yang sedang berjalan terburu-buru mulai menoleh, terkejut oleh rima pembuka yang terdengar renyah namun menyengat kuping.

Dia mulai memukul kaleng dengan ritme yang konstan, menciptakan ketukan yang memancing langkah kaki orang-orang untuk melambat dan akhirnya berhenti melangkah.

"Kalian berpakaian rapi bagai pangeran, tapi pikiran kalian digadaikan demi angsuran. Kalian bicara tentang kebebasan di media sosial, tapi di dunia nyata tunduk patuh pada bos yang egois dan asosial. Pagi hari memaki kemacetan jalanan, malam hari meratapi nasib di tempat tongkrongan. Sungguh sebuah siklus komedi yang tragis, dikemas dalam bungkus modernisasi yang puitis!"

Suaranya bergema di antara dinding-dinding beton yang angkuh. Kata-katanya meluncur seperti peluru kendali yang pintar; berima indah, berirama menyenangkan, namun tepat sasaran menusuk ego setiap individu yang mendengarnya. Kerumunan orang yang berkumpul makin lama makin banyak. Ada buruh kantoran yang dasinya agak miring, ada mahasiswa yang membawa buku tebal, hingga petugas kebersihan yang memegang sapu lidi. Mereka semua terdiam, bukan karena marah, melainkan karena cermin kata-kata yang disodorkan sang perenung begitu jernih menelanjangi kepalsuan hidup mereka sendiri.

"Kalian bangga dengan jabatan yang tinggi, padahal nurani kalian sudah lama pergi mengecilkan diri. Kalian menimbun harta sampai ke langit, tapi melihat tetangga kelaparan rasanya pelit dan sangat sulit. Hukum di negeri ini bisa dibeli dengan selembar kertas berharga, sementara keadilan bagi orang kecil hanya ada di dalam surga!"

Seorang pria bermobil mewah yang kebetulan kaca jendelanya terbuka di dekat lampu merah tampak memerah wajahnya, merasa tersindir oleh rima tajam yang baru saja meluncur bebas dari bibir sang perenung. Namun, di sudut lain, para pedagang kaki lima dan buruh gendong justru tersenyum lebar, merasa suara hati mereka yang selama ini terbungkam akhirnya diwakili dengan cara yang sangat elegan dan menghibur telinga.

Sang perenung tidak berniat memimpin sebuah demonstrasi anarkis yang merusak fasilitas publik. Dia hanya ingin menyebarkan virus kesadaran melalui kekuatan bahasa yang estetik. Dia ingin menunjukkan bahwa rasa jengah yang menumpuk tidak harus berakhir dengan keputusasaan atau tindakan destruktif yang konyol. Rasa jengah itu bisa diubah menjadi sebuah karya seni yang mampu menampar wajah kemunafikan sistem tanpa perlu mengotori tangan dengan darah.

Setelah hampir setengah jam menyuarakan rima-rima kritiknya, sang perenung menghentikan ketukan kalengnya. Suasana mendadak hening sejenak, sebelum akhirnya dipatahkan oleh tepuk tangan riuh dari kerumunan orang yang merasa terhibur sekaligus tercerahkan pikirannya pagi itu. Beberapa lembar uang kertas dilemparkan orang ke dalam kaleng bekas di bawah kakinya, namun sang perenung menggelengkan kepala sambil tersenyum ramah.

"Simpan uang kalian untuk membayar cicilan bulan depan, Bung. Saya di sini bukan mencari nafkah, saya di sini hanya sedang merayakan kemerdekaan berpikir yang baru saja saya rebut kembali dari meja kantor yang menjemukan," katanya sambil menggendong tas ranselnya kembali ke punggung.

Dia melangkah turun dari undakan beton, menembus kerumunan orang yang memberikan jalan dengan rasa hormat yang tulus. Dia kembali menyusuri trotoar kota, berjalan tanpa beban, tanpa rasa takut akan hari esok yang misterius. Rasa jengah yang selama ini membelenggu jiwanya telah menguap sepenuhnya bersama angin pagi yang segar. Dia telah menemukan jalan hidupnya yang baru: menjadi seorang perajin rima jalanan, sang penyentil nurani kota yang menolak untuk ikut mati dalam lingkaran kepalsuan yang membosankan ini.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi