Notifikasi hijau itu menyala tanpa gairah di atas kasur busa yang sprei sudutnya sudah lolos dari karet penahan. Ali tidak terburu-buru meraihnya, dia tahu persis isinya bukan lagi ketikan panjang penuh tawa, melainkan sisa obrolan seadanya yang kaku seperti kanebo kering. Di layar gawai, nama Tika tertera dengan gelembung pesan yang ringkas; sebuah balasan pendek atas ajakan makan malam yang Ali kirimkan empat jam lalu sebelum dia sibuk bergulat dengan tumpukan nota gudang. Zaman sekarang, urusan hati memang sering kali dipertaruhkan di atas papan ketik virtual, tempat di mana rasa suka dikirim lewat stiker lucu dan jarak diukur dari status daring yang mendadak hilang tanpa permisi.
"Aku tidak bisa kalau minggu ini, Li. Ada acara makan keluarga besar di hotel dekat bandara," tulis Tika diakhiri satu titik tanpa emoji, seolah mempertegas bahwa ruang di sana memang tidak menyediakan kursi tambahan untuk orang luar.
Ali mematikan layar gawai, membiarkan kamarnya kembali dikepung suara kipas angin dinding yang berderit ritmis karena porosnya mulai aus. Dia teringat delapan bulan lalu, saat seorang teman kerja sengaja membagikan kontak Tika lewat ruang obrolan dengan kalimat pengantar yang terdengar sangat menjanjikan. Awalnya semua berjalan lancar tanpa ganjalan berarti; mereka bertukar cerita tentang menu sarapan yang hambar, mengeluhkan bos yang hobi revisi, hingga akhirnya sepakat mengunci kata jadian melalui sebuah panggilan suara larut malam yang sinyalnya timbul tenggelam. Hubungan itu terasa normal, setidaknya sampai Ali memberanikan diri membawa Tika mampir ke rumah ibunya untuk sekadar mencicipi ramesan sayur lodeh buatan orang tuanya yang sederhana.
Ibunya menyambut Tika dengan piring terbaik yang porselennya paling mulus, walau rumah kontrakan mereka hanya berpagar bambu belah yang catnya sudah memudar dihajar panas. Tika duduk dengan sopan, tersenyum pas, namun matanya tidak bisa berbohong saat beberapa kali melirik ujung sepatunya agar tidak bersentuhan dengan lantai semen yang tidak rata. Setelah hari itu, setiap kali Ali balik bertanya kapan dia bisa gantian mampir ke rumah orang tua Tika, jawaban perempuan itu selalu berputar di lingkaran yang sama; ibunya sedang sibuk arisan, ayahnya baru pulang dinas luar kota, atau urusan renovasi garasi yang tidak kunjung usai. Ali cukup tahu diri untuk tidak mendesak, dia paham ada jurang tebal bernama kelas sosial yang sengaja Tika pelihara agar hubungan mereka tidak terlalu dalam menyentuh ranah domestik.
"Ibu kemarin tanya, kamu suka sambal goreng krecek atau tidak. Katanya kalau mampir lagi mau dibuatkan yang agak pedas," kata Ali saat mereka duduk di kedai kopi waralaba di dalam mal, tempat yang Tika pilih karena pendingin ruangannya tidak membuat riasan wajahnya luntur.
Tika mengaduk minumannya, sedotan plastik itu bergeser menabrak dinding gelas kaca dengan bunyi klik yang konstan. "Bilang ke ibu terima kasih ya, Li. Tapi sepertinya jadwal kerjaku bulan ini agak padat, takutnya malah tidak enak kalau mendadak batal datang," sahut Tika tanpa menatap mata Ali, pandangannya justru tertuju pada pantulan lampu gantung mal yang mewah di atas permukaan meja marmer.
Renggangnya hubungan mereka tidak terjadi seperti ledakan petasan di malam tahun baru, melainkan mirip ban bocor halus yang disadari saat kendaraan sudah oleng di tikungan tajam. Ali mulai memangkas intensitas mengirim pesan teks, sementara Tika juga semakin lihai memperpanjang durasi balasan hingga hitungan belasan jam dengan alasan rapat koordinasi yang menyita waktu. Entah siapa yang menjauh duluan, atau mungkin mereka berdua sebenarnya sedang sama-sama menguji sejauh mana ikatan tanpa kepastian ini bisa bertahan sebelum salah satu memilih putus asa dan melepaskan pegangan.
Titik terang dari ketidakjelasan itu akhirnya datang lewat sebuah unggahan cerita instan di akun media sosial milik salah satu teman Tika yang lupa dia sembunyikan dari daftar pertemanan Ali. Di sana, Tika tampak berdiri anggun di samping seorang pria berkemeja necis dengan jam tangan yang berkilau di bawah lampu sorot restoran mewah di kawasan SCBD. Tangan pria itu bertengger santai di pinggang Tika, sebuah gestur kepemilikan yang sah, yang tidak pernah Ali dapatkan selama delapan bulan mereka bertukar pesan di aplikasi hijau. Ali tidak merasa terkejut, ada rasa hambar yang aneh menjalar di dadanya; sebuah kesimpulan rasional bahwa dompetnya yang tipis memang tidak akan pernah menang melawan kenyamanan mapan yang ditawarkan oleh lelaki pilihan baru Tika.
Apakah Tika sengaja bermain perasaan sejak awal, ataukah ini hanya bentuk balasan alamiah dari realitas hidup yang menuntut standar tinggi, Ali tidak tahu pasti dan tidak ingin ambil pusing untuk mencari tahu. Bagi orang-orang seperti Tika, cinta mungkin adalah bagian dari investasi gaya hidup yang harus mendatangkan keuntungan konkret, bukan sekadar komitmen tanpa agunan di atas motor bebek tua yang knalpotnya sering berasap tipis saat menanjak. Hubungan mereka yang dimulai dari ketukan jari di layar ponsel, kini selesai dengan cara yang sama; sebuah pesan penutup yang ringkas, tanpa drama air mata, dan tanpa perlu ada prosesi pengembalian barang kenangan karena memang tidak banyak benda fisik yang sempat mereka bagi bersama.
"Maaf ya, Li. Sepertinya kita memang tidak searah dari awal," tulis Tika di pesan terakhirnya, tiga puluh menit sebelum foto profilnya berubah menjadi lingkaran abu-abu kosong tanda nomor Ali sudah masuk dalam daftar blokir permanen.
Ali meletakkan gawainya di atas meja kayu yang permukaannya mulai mengelupas terkena tetesan air dari gelas es teh yang dia minum sejak sore. Di luar, suara klakson kendaraan dari jalan raya terdengar saling bersahutan, berebut celah di antara kemacetan kota yang tidak pernah ramah pada mereka yang berjalan lambat. Ali menarik napas panjang, merasakan sisa hawa panas yang mengumpul di dalam kamarnya, lalu perlahan berjalan menuju dapur untuk membantu ibunya memindahkan sisa sayur lodeh ke dalam mangkuk plastik kecil agar tidak basi esok hari. Dia tidak menangis, tidak juga mengutuk nasibnya yang semenjana; dia hanya perlu terbiasa kembali dengan sunyi yang biasa, tanpa perlu menunggu gelembung hijau menyala di sudut malam yang larut.