Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
13
Tabrakan Bibir Digital di Gerbang Sekolah: Rahasia di Balik Baterai Penuh dan Robot Pembersih Otomatis
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Matahari Mei 2026 tenggelam di cakrawala. Di dalam gerbang sekolah yang sepi, sunyi mengambil alih kendali. Semua murid telah pulang, menyisakan dua manusia terjebak kecanggungan meruncing. Radit berdiri mematung, Rara menatap ujung sepatunya. Langkah mereka tertahan oleh atmosfer abadi. Gerbang besi saksi bisu betapa waktu melambat ketika dua hati berdebat tanpa suara. Angin sore memainkan rambut Rara, membuat jantung Radit berdegup tak keruan. Radit mencoba memecah kesunyian.

"Kamu tidak dijemput?" tanya Radit klise.

Rara mendongak. "Ojek online sedang mahal karena jam sibuk. Aku menunggu harganya turun. Kamu?"

"Aku sengaja tidak langsung pulang karena motorku kehabisan baterai. Lupa mengisi daya baterainya di rumah," jawab Radit berbohong demi gengsi. Padahal motor listriknya penuh daya. Dia hanya ingin mencuri waktu lebih banyak.

Rara mengangguk lambat. Mereka berdiri berjarak satu meter, batas aman bagi dua orang yang saling menyimpan rasa namun terlalu takut menyatakan. Cinta pertama adalah labirin tanpa peta, membingungkan sekaligus membuat penasaran. Di dalam tas Radit ada buku fisik berisi coretan puisi amatir tentang Rara. Tangannya berkeringat dingin.

"Hari ini sangat panas," ucap Rara tiba-tiba.

"Benar, cuaca sukar ditebak. Kadang hujan lebat, kadang panas menyengat, membuat hati ikut terpikat," balas Radit lalu menggigit bibirnya. Mengapa kalimat terakhir itu meluncur bebas?

Rara menoleh cepat. "Maksudmu terpikat pada cuaca?"

"Bukan. Maksudku, terpikat pada suasana tenang ini," kelit Radit menyelamatkan harga diri.

Teknologi berkembang pesat menuju kecerdasan buatan, namun dua remaja SMA ini masih bodoh urusan mengutarakan hati. Mereka gagap menghadapi getaran asmara. Rara tersenyum misterius, membuat Radit kehilangan arah navigasi logika.

"Kamu aneh, Radit," bisik Rara.

"Kamu juga unik, Rara," sahut Radit.

Mereka terdiam. Sebuah robot pembersih otomatis berukuran kecil melintas di dekat kaki, membersihkan daun kering dengan desing halus. Robot itu memaksa Rara melangkah mundur, namun tumit sepatunya tersangkut celah lantai paving block. Keseimbangannya hilang dalam sekejap.

"Eh!" seru Rara panik, tubuhnya limbung ke depan.

Refleks Radit bekerja tanpa perintah. Dia melangkah maju cepat, menangkap tubuh Rara agar tidak terjerembap ke beton keras. Kedua tangannya menangkap bahu Rara sigap. Namun, momentum jatuh Rara dan dorongan langkah Radit yang bertenaga menciptakan tabrakan geometri tak terduga.

Wajah mereka bertemu jarak nol sentimeter. Kejadian inti meledak tanpa aba-aba. Bibir mereka bersentuhan pas, seolah takdir menghitung koordinat dengan presisi mutlak. Bukan kecupan berencana atau adegan film romantis penuh koreografi. Ini benturan ketidaksengajaan yang murni, lembut namun mengejutkan sistem saraf.

Mata keduanya melebar. Selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad, dunia berhenti berputar. Robot pembersih terus berdengung, burung terbang rendah, angin sore menahan napas. Sentuhan itu hangat, menyalurkan listrik tegangan tinggi langsung menuju pusat jantung. Kesadaran kembali, mereka menarik diri ke belakang serentak. Jarak satu meter kini terasa seperti jurang penuh kecanggungan meledak-ledak.

"Maaf!" ucap mereka bersamaan dengan nada suara meninggi dua oktav.

Wajah Rara berubah merah padam seperti tomat matang. Dia menutupi mulut dengan kedua tangan, matanya bergerak liar menghindari mata Radit. Radit berdiri kaku mirip manekin, tangannya menggantung canggung di udara.

"Aku tidak sengaja," kata Radit terbata. "Tadi karena robotnya lewat, kamu mau jatuh, aku mau menolong..."

"Iya, aku tahu!" potong Rara cepat, memutus penjelasan melantur Radit. "Aku yang salah tidak melihat jalan dengan benar."

Di dalam keheningan, teka-teki besar mengambang di udara sore yang mendingin. Sebuah ruang multitafsir sengaja dibiarkan terbuka oleh takdir. Jika dipikirkan kembali, ketika Rara limbung, posisinya terjatuh. Radit maju menangkap. Namun, ada gerakan mikro terjadi dalam sepersekian detik sebelum bibir bertemu.

Apakah Radit sedikit memiringkan kepala demi menyambut jatuhnya tubuh Rara dengan sudut tepat? Atau justru Rara yang dalam kepanikan, alih-alih memalingkan wajah, malah memajukan wajah ke arah datangnya pertolongan? Ataukah magnet cinta pertama begitu kuat menarik keduanya mendekat tanpa disadari? Tidak ada jawaban pasti yang bisa diunduh dari mesin pencari mana pun. Misteri itu terkunci rapat dalam detik sakral tersebut.

Radit berdehem, menenangkan detak jantung yang melebihi batas aman. "Bibirmu... tidak apa-apa?" pertanyaan bodoh meluncur begitu saja.

Rara menurunkan tangan, menatap Radit dengan pandangan kaku namun menggemaskan. "Bibirku sehat walafiat. Bagaimana dengan bibirmu? Apakah mengalami benturan parah?"

"Sama sekali tidak parah. Malah terasa sangat... eh, maksudku, tidak sakit," jawab Radit cepat meralat kalimatnya sebelum bencana bahasa terjadi lagi.

Rara memalingkan wajah, menyembunyikan senyum kecil di sudut bibir. Kegugupan Radit membuat rasa takut memudar, digantikan kehangatan menjalar di dada. Cinta pertama di gerbang sekolah sepi ternyata tidak seburuk bayangan fiksi digital.

"Ojek online-su sudah datang," ucap Rara melihat ponselnya bergetar. Dia salah mengeja kata karena gugup. "Maksudku, ojek daringku."

"Oh, baguslah. Hati-hati di jalan," kata Radit mengangguk kaku bak robot kehabisan pelumas.

Rara berbalik berjalan keluar gerbang terburu-buru. Namun tepat sebelum melintasi batas besi, dia menghentikan langkah. Dia menoleh ke belakang, menatap Radit yang masih mematung.

"Radit," panggil Rara lembut.

"Ya?" sahut Radit dengan tubuh tegak sempurna seperti upacara bendera.

"Baterai motormu sebenarnya penuh, kan? Aku melihat lampu indikator hijaunya menyala dari sini," kata Rara mengedipkan sebelah mata, lalu berlari kecil meninggalkan area sekolah yang benar-benar sepi.

Radit tertegun, menatap motornya, kemudian tersenyum lebar sendirian di bawah langit sore yang menggelap. Kejadian tadi murni kecelakaan, atau mungkin konspirasi manis semesta yang menyisakan pertanyaan besar tentang siapa yang memulai gerakan pertama. Sore itu di gerbang sekolah, kisah mereka baru saja dimulai dengan rima paling indah.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi