Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
26
Janji Palsu di Sudut Jalan Kenangan
Thriller
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Mendung menggantung pekat, tapi hujan tak kunjung tumpah. Seperti hatiku yang sudah sesak oleh rindu, namun tak punya lagi pintu untuk sekadar mengetuk rumahmu.

Hari ini, di sudut jalan yang sama tempat kita dulu sering berbagi tawa, aku melihatmu lagi. Kau masih sama; senyum yang sama, cara menatap yang masih sanggup membuat jantungku kehilangan irama. Bedanya, kali ini ada dia di sampingmu. Tangannya kau genggam erat, seolah takut aku akan merebutnya dalam sekali kedip.

Kita berpapasan. Kau melirik sekilas, lalu membuang muka. Dingin. Seolah kita tidak pernah sedekat nadi dan jantung.

Ingatkah kau? Dulu kita pernah berjanji, apa pun yang terjadi, kita akan tetap menjadi tempat pulang satu sama lain. Kita bercerita tentang masa depan yang akan dibangun bersama, tentang rumah kecil dengan teras penuh bunga, tentang hari tua yang akan kita habiskan dengan saling mengejek keriput di wajah.

Tapi, nyatanya, kau memilih pergi tanpa pamit. Kau bilang, "Kita sudah tidak searah." Sesederhana itu kau memutus benang yang sudah kita rajut bertahun-tahun.

Sekarang, aku hanya bisa berdiri di sini, menahan sesak yang tidak punya ruang untuk keluar. Seperti langit mendung yang tak kunjung hujan, segalanya terasa penuh, berat, dan mencekam, namun tidak ada air mata yang jatuh. Aku terjebak di tengah perasaan yang menggantung, antara ingin melupakan dan keinginan untuk tetap menunggu sebuah keajaiban yang kutahu tidak akan pernah datang.

Kau mungkin sudah bahagia dengan duniamu yang baru, di mana namaku sudah tidak lagi tercatat dalam daftar kenangan yang kau simpan. Sementara aku? Aku masih di sini, menjadi orang asing yang paling mengenalmu, yang hanya bisa menatap punggungmu menjauh, dibalut mendung yang tak kunjung pecah menjadi hujan.

Kukirimkan doa, bukan lagi untuk kembalimu, tapi agar kau tidak perlu merasakan patah hati sepertiku. Cukup aku saja yang memikul mendung ini sampai ia menguap dengan sendirinya, atau sampai aku benar-benar menyerah pada langit yang tak kunjung menumpahkan rasa.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Rekomendasi