Disukai
0
Dilihat
4
Bukan Porsi Masa Lalu
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Dalam sebuah warung makan di sudut terminal, kepulan asap dari bakul nasi berpadu dengan aroma minyak goreng yang sudah berulang kali dipakai. Bunyi klakson bus dan teriakan kenek menjadi latar suara yang konstan. Di sudut meja kayu yang permukaannya sudah mulai mengelupas, dua orang pria duduk berhadapan. Di hadapan mereka masing-masing terdapat sepiring nasi rames yang isinya hampir serupa: tempe orek, sayur nangka, dan sedikit sambal merah.

"Kamu itu terlalu banyak menuntut ingatan untuk tetap tinggal, padahal orangnya sudah lama jalan," kata Damar sambil mengunyah kerupuk. Bunyi kriuknya terdengar nyaring di antara bising terminal.

Gani, yang duduk di depannya, hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa selera. Wajahnya kusut, matanya menunjukkan kurang tidur yang cukup parah selama beberapa hari terakhir. "Bukan menuntut, Mar. Rasanya aneh saja. Biasanya jam segini dia pasti kirim pesan, nanya sudah makan apa belum. Sekarang, HP saya sepi seperti kuburan."

"Ya jelas sepi, kan sudah putus. Kalau sudah putus tapi masih kirim pesan nanya makan, itu namanya bukan mantan, tapi katering," balas Damar ketus namun ada nada gurau di dalamnya. "Lagian, apa yang kamu harapkan dari hubungan yang isinya cuma adu argumen setiap malam? Kamu cari pasangan atau cari lawan debat?"

Gani menghela napas panjang, meletakkan sendoknya. "Tapi dia beda, Mar. Sentuhannya, cara dia tertawa, bahkan cara dia marah itu punya ciri khas yang tidak saya temukan di orang lain. Semua perempuan yang saya temui setelah dia rasanya hambar. Tidak ada yang bisa menyamai dia."

"Nah, di situ salahmu yang paling fatal," Damar menunjuk Gani dengan ujung sendoknya yang masih menyisakan sebutir nasi. "Kamu sibuk mencari replika, padahal dunia ini isinya manusia, bukan pabrik cetakan barang lama. Kamu membandingkan orang baru yang belum tahu apa-apa tentang kamu dengan orang lama yang sudah khatam isi kepalamu. Ya jelas kalah semua."

Seorang wanita paruh baya, pemilik warung yang biasa dipanggil Yu Sum, datang mengantarkan dua gelas teh manis hangat. Mendengar percakapan mereka, dia menggeleng-gelengkan kepala sambil meletakkan ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi