Gelas kopi instan di meja warkop berkeringat pasrah, menetes pas membasahi permukaan tripleks yang terkelupas lepas. Di seberang meja, Aris sibuk menyeka sisa sambal di jarinya dengan tisu murah gampang robek yang menyebalkan. Di sebelahnya, Nia memandangi ponsel benderang, ibu jarinya bergerak cepat menaik-turunkan lini masa tanpa membaca baris demi baris kata yang terbuang. Riuh knalpot bocor dari jalan raya menjadi latar konstan yang membosankan, menutupi kecanggungan yang merayap di antara kepulan asap rokok kretek yang meliuk dalam dekap keheningan.
"Kita sudah lewat batas untuk ukuran nongkrong tanpa tujuan," kata Nia tanpa mengalihkan pandangan dari layar yang meredup redup.
Aris hanya berdeham pendek, tangannya meraih korek api gas hijau yang pemantiknya sudah agak seret dan macet. Biasanya jam sebelas malam mereka sudah sibuk berdebat sengit tentang siapa yang harus mengalah mengantar pulang duluan agar bensin tidak lekas habis ditelan jalan. Tapi malam ini terasa berbeda dan janggal; ada sesuatu yang mengganjal di bawah lidah mereka masing-masing, sebuah rasa yang membuat tawa lepas yang biasanya renyah kini terdengar agak dipaksakan dan hambar.
Aris mengingat bagaimana enam tahun lalu mereka terjebak dalam lingkaran pertemanan yang keras kepala ini tanpa sempat bersiap. Mulai dari urusan tebengan motor saat ban bocor di tengah guyuran hujan, sampai urusan mendengarkan tangisan Nia di emperan toko saat diputus pacarnya dengan cara yang tidak jantan dan kekanak-kanakan. Aris selalu ada di sana, mengambil peran sebagai pendengar yang baik sekaligus tempat sampah untuk segala keluh kesah yang terkadang tidak penting. Dia adalah sosok aman yang tidak pernah menuntut apa-apa, sebuah jangkar yang selalu bisa diandalkan kapan saja Nia butuh tempat bersandar tanpa perlu merasa sungkan.
Namun, tiga minggu belakangan ini, ada garis tidak kasat mata yang mendadak bergeser menjauh tanpa permisi atau aba-aba. Semuanya bermula dari hal sepele, sebuah ketidaksengajaan yang terlalu bodoh untuk diingat kembali namun telanjur membekas. Saat itu, Nia salah memakai jaket milik Aris yang tertinggal di kursi teras karena terburu-buru. Alih-alih langsung mengembalikannya, Nia malah memakai jaket beraroma parfum murah digabung bau matahari itu selama tiga hari penuh di kamarnya dengan sengaja. Sesuatu yang biasa terasa biasa saja, mendadak berubah menjadi sinyal yang salah ditangkap oleh radar perasaan mereka yang mulai aus dimakan usia dan gengsi.
"Kamu besok jadi ikut rombongan dinas ke luar kota?" tanya Aris akhirnya memecah sunyi yang mulai terasa pekat dan memberat.
Nia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah—sebuah gestur kecil yang menandakan dia siap memberikan perhatian penuh atau justru menyembunyikan sesuatu.
"Jadi. Paling tidak seminggu di sana, mengurus berkas audit yang tidak pernah ada habisnya," jawab Nia sambil memutar-mutar sedotan plastik di dalam gelas teh esnya yang tinggal menyisakan bongkahan es batu yang mencair perlahan.
Aris mengangguk kecil, pandangannya lurus menatap jajaran botol sirup di rak kayu warkop yang berdebu. Ada rasa tidak rela yang mendadak muncul di sudut hatinya, sebuah perasaan egois yang melarang perempuan di depannya ini pergi terlalu jauh dari jangkauan pandangan matanya yang mulai cemas. Perasaan itu aneh, tidak masuk akal, dan cenderung merusak tatanan kenyamanan yang sudah mereka bangun setengah mati selama bertahun-tahun penuh tawa. Selama ini, mereka adalah tim yang solid; dua orang yang saling tahu kebusukan masing-masing tanpa pernah menghakimi atau pergi. Namun sekarang, ada ketakutan nyata bahwa kedekatan ini justru menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja menuntut jawaban.
"Jangan lupa bawa jaket tebal, di sana angin malamnya agak kurang ajar dan tidak ramah," kata Aris lagi, mencoba terdengar kasual seperti seorang teman yang peduli tanpa maksud terselubung atau harapan lebih.
Nia tersenyum tipis, jenis senyuman yang tidak sampai ke mata, melainkan tertahan di sudut bibir yang agak kering dan pucat. "Aku sudah memasukkan jaketmu yang kemarin ke dalam koper besar. Sengaja tidak aku cuci dulu biar tidak hilang baunya yang khas," sahut Nia dengan nada bercanda yang justru terdengar terlalu jujur dan menusuk di telinga Aris.
"Kita ini sebenarnya sedang memelihara apa, Ris?" tanya Nia pelan tanpa ragu. Suaranya hampir tenggelam oleh suara tawa bapak-bapak yang sedang main domino di sudut warkop yang mulai gaduh.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa penyaringan yang rapi, merobek dinding pertahanan yang sejak tadi malam coba mereka pertahankan dengan obrolan tidak penting seputar cuaca. Aris tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang mulai terasa dingin menusuk kulit lengannya yang terbuka bebas.
"Memelihara kebiasaan yang susah dihilangkan, mungkin," jawab Aris pendek dan tegas. Matanya kini berani menatap langsung ke dalam manik mata Nia yang tampak sedikit lelah dan penuh harap.
Nia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya; jarum pendek sudah hampir menyentuh angka dua belas malam yang dingin. "Sudah malam, ayo pulang sebelum hujannya makin deras dan jalanan jadi licin berbahaya," katanya sambil meraih tas kain kecilnya yang tergeletak pasrah di atas meja.
Aris berdiri tanpa membantah, mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dari saku celana jinsnya, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja warkop sebagai bayaran untuk dua gelas minuman yang sudah tandas.
Mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir motor yang berada di bawah pohon mangga besar di samping warkop. Sisa air hujan membasahi pundak mereka yang kaku, namun tidak ada yang berniat untuk berlari atau terburu-buru menghindar. Di samping motor matik milik Aris, Nia berhenti melangkah, memandangi ujung sepatunya yang mulai basah oleh genangan air yang keruh. Aris menyerahkan helm cadangan berwarna hitam yang biasa dipakai Nia tanpa bersuara—sebuah gerakan mekanis yang sudah mereka lakukan ratusan kali hingga terasa seperti refleks tubuh yang alami dan berpola tetap.
Saat Nia menerima helm tersebut dari tangannya, jemari mereka sempat bersentuhan selama beberapa detik yang terasa sangat menegangkan. Tidak ada yang menarik tangan duluan untuk menyudahi, tidak ada juga yang mencoba menggenggam lebih erat untuk memulai. Mereka hanya berdiri kaku di sana, di bawah rintik gerimis yang mulai mendinginkan suhu kota, saling mengunci pandangan dalam sebuah keheningan yang penuh dengan kalimat-kalimat berputar yang sengaja tidak pernah diucapkan sampai kapan pun. Aris menyalakan mesin motor, suaranya menderu membelah malam, sementara Nia naik ke jok belakang dengan jarak yang sedikit lebih renggang dari biasanya, menyisakan ruang kosong di antara dua punggung yang malam ini mendadak terasa begitu asing sekaligus teramat dekat.