Disukai
0
Dilihat
1
Di Balik Diam Seorang Ayah
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hari itu dimulai dengan garis cahaya keemasan yang menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi kamar. Aku terbangun dengan perasaan yang lumayan segar. Beranjak dari tempat tidur, aku meluruskan kedua lengan di atas kepala, melakukan beberapa gerakan peregangan ringan untuk mengurai otot-otot yang kaku selepas tidur malam. Suasana di luar terasa begitu tenang. Burung-burung berkicau saling bersahutan di dahan pohon depan rumah, dan jalanan gang pemukiman yang biasanya mulai riuh oleh kendaraan lalu-lalang kini tampak lengang.

"What a beautiful day, ever! Dan tumben ini terjadi..." ucapku dalam hati sembari tersenyum tipis.

Untuk sejenak, aku menikmati momen kedamaian yang jarang sekali hadir di pagi hari. Namun, suasana hangat dan menenangkan itu tidak bertahan lama. Ketika aku melangkah keluar kamar dan menyapu pandangan ke sudut ruang tamu, sebuah ingatan mendadak melintas di kepalaku. Aku menyadari ada satu hal penting yang terlewat dari perhitunganku pagi ini.

Satu hal tersebut adalah ayahku.

Tiga hari kemarin, kondisi fisik Ayah sempat menurun drastis akibat masuk angin berat. Tubuhnya lemas, persendiannya nyeri, dan beliau hanya bisa terbaring di kamar. Namun pagi ini, penampilannya jauh lebih segar dibandingkan tiga hari sebelumnya. Ayah sudah bangun lebih awal, mengenakan pakaian harian, dan bersiap melakukan aktivitas seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Melihat pemandangan itu, alih-alih merasa lega, rasa cemas justru langsung menyergap dada. Sebagai orang yang sedikit banyak memahami prinsip dasar kesehatan, aku paham betul bahwa fase pemulihan adalah masa yang sangat krusial. Tubuh yang baru saja dihantam sakit membutuhkan istirahat total hingga daya tahan tubuh benar-benar pulih secara sempurna. Jika seseorang memaksakan diri beraktivitas di tengah masa transisi ini, risikonya tidak main-main—infeksi bisa berulang, atau bahkan patogen dalam tubuh menjadi resisten terhadap obat yang sebelumnya dikonsumsi karena proses penyembuhan yang terputus di tengah jalan.

Sayangnya, pemikiran ideal medis kerap kali bertolak belakang dengan karakter seorang kepala keluarga yang terbiasa bergerak. Di sela-sela aktivitas ringannya di rumah, Ayah mulai mengeluhkan rasa bosan. Tanpa mengindahkan kondisi tubuhnya yang belum genap sembuh, beliau melangkah keluar rumah menuju warung terdekat hanya untuk membeli secangkir kopi hitam. Tidak berhenti di situ, beliau juga membeli sebungkus rokok—alasan klasik yang selalu beliau gunakan untuk meredakan stres atau sekadar menghangatkan tenggorokan.

Ibu yang melihat tingkah laku Ayah dari arah dapur langsung tidak mampu menahan kekesalannya. Nada suaranya meninggi saat menyambut kedatangan Ayah di teras.

"Gitu sakit masih ngerokok aja, dan ngopi, dan jalan-jalan. Ya mesti ga sembuh-sembuh!" omel Ibu dengan raut wajah gemas campuran jengkel.

Mendengar teguran keras dari Ibu, Ayah tidak membantah sepatah kata pun. Beliau hanya terdiam, menghembuskan asap rokoknya perlahan ke udara pagi, lalu melanjutkan kegiatannya seolah omelan itu hanya angin lalu. Karakter Ayah memang seperti itu—dingin, minim ekspresi, dan jarang mau memperlihatkan rasa lemah di hadapan keluarga.

Keesokan harinya, kecemasan yang berkecamuk di dalam dada akhirnya menjadi kenyataan. Prediksi kami semua tepat sasaran.

Saat matahari baru saja terbit, Ayah tidak lagi terlihat duduk di teras. Kondisi tubuhnya mendadak drop drastis. Kali ini, dampaknya jauh lebih parah daripada tiga hari yang lalu. Wajahnya pucat pasi, badannya menggigil, dan stamina tubuhnya benar-benar habis.

Ibu yang masuk ke kamar untuk mengecek keadaan Ayah langsung bertolak pinggang, tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya. "Nah kan, dibilang juga apa kemarin. Malah aktivitas, rokok-an, ngopi... harusnya ya istirahat total!"

Jujur saja, di dalam hati kecilku, ada rasa jengkel yang membuncah. Kekerasan kepala Ayah harus dibayar mahal dengan kondisi kesehatannya sendiri. Namun, tidak seperti Ibu yang bisa meluapkan kekesalannya secara terbuka, aku memilih untuk tetap bungkam. Hubunganku dengan Ayah memang tidak pernah semulus atau sehangat hubunganku dengan Ibu.

Aku tidak tahu pasti mengapa interaksi kami bisa seganis ini. Antara aku dan Ayah seperti ada dinding transparan yang tidak kasat mata. Kami jarang mengobrol hangat, jarang bertukar cerita, dan lebih sering berkomunikasi seperlunya saja. Ketika ada rasa khawatir yang muncul, aku kerap merasa canggung untuk menyampaikannya secara langsung. Rasa peduli itu akhirnya hanya berputar-putar di dalam kepala tanpa pernah terucap.

Melihat kondisi Ayah yang kian memburuk, kami sekeluarga mulai panik. Langkah pertama yang kami ambil adalah membujuk Ayah agar mau diperiksa oleh dokter atau dibawa ke fasilitas layanan kesehatan terdekat. Kami bahkan sudah mencoba menjadwalkan janji temu dengan dokter. Namun, respon Ayah sangat tegas: beliau menolak keras. Bagi Ayah, pergi ke dokter atau rumah sakit adalah hal terakhir yang ingin beliau lakukan.

Karena bujukan kami membalas tembok tebal, kami tidak punya pilihan lain. Kami memutuskan untuk memanfaatkan pengetahuan dasar mengenai pengobatan mandiri untuk meredakan gejala-gejala yang dialami Ayah. Dalam tradisi keluarga kami, ketika ada salah satu anggota keluarga yang jatuh sakit, kami tidak hanya mengandalkan obat-obatan kimia sintetis. Ada satu penawar yang selalu menjadi andalan utama: habbatussauda atau jintan hitam.

Berdasarkan pengalaman dan pemahaman yang kami amati selama ini, terdapat perbedaan mendasar antara obat medis sintetis dan pengobatan herbal seperti habbatussauda. Obat medis memang bekerja sangat cepat dalam menekan gejala dan menghilangkan rasa sakit dalam hitungan jam, namun sifatnya sering kali hanya meredakan di permukaan. Sementara itu, obat herbal atau habbatussauda membutuhkan waktu serta proses yang lebih lambat dan bertahap. Meski begitu, habbatussauda bekerja memperkuat sistem kekebalan tubuh dari dalam, memperbaiki metabolisme secara menyeluruh, sehingga tubuh bisa mencapai kesembuhan yang lebih utuh dan tidak mudah kambuh.

Dua kapsul habbatussauda disiapkan bersama segelas air hangat. Ibu menyuapkannya perlahan kepada Ayah, sementara aku memperhatikan dari ambang pintu kamar. Dinding kamar yang remang-remang menyaksikan bagaimana seorang lelaki yang biasanya tampak kokoh dan tak tersentuh kini terkulai lemas di atas kasur.

Memperhatikan punggung Ayah yang naik turun teratur saat tertidur lelap setelah meminum obat, kekesalan yang tadinya bersarang di dalam dadaku pelan-pelan menguap. Yang tersisa hanyalah rasa iba dan kasih sayang seorang anak yang tersembunyi di balik kekakuan sikap.

Mungkin aku memang tidak pandai merangkai kata-kata manis untuk menanyakan kabarnya secara langsung. Aku juga tidak lihai memperlihatkan perhatian lewat gestur fisik yang hangat. Dinding canggung di antara kami mungkin masih berdiri kokoh hingga hari ini. Namun, di dalam setiap hembusan napas dan kesunyian kamar ini, ada doa yang tidak pernah putus terpanjatkan.

Aku menengadahkan kedua tangan, memanjatkan harapan setulus hati kepada Sang Pencipta. Hanya kepada Tuhan aku menggantungkan kesembuhan Ayah. Semoga Tuhan mengabulkan doa sunyi ini, memberikan kesembuhan yang menyeluruh bagi tubuhnya, dan mengembalikan kekuatannya agar beliau bisa kembali tersenyum, beraktivitas, dan menjalani hari-harinya seperti sediakala.

Aamiin.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi