Ada alasan mengapa Aris selalu betah menahan kantuk di balik meja kasir toko bunga Bloombox setiap sore. Bukan karena aroma kelopak mawar yang merekah atau kehangatan cangkir teh kamomil yang diseduhnya, melainkan karena pukul lima sore adalah waktu di mana dunia seolah sengaja melambat khusus untuk mempertemukannya dengan Sena.
Sena bukan tipe wanita yang bising saat melangkah. Dia hadir seperti hembusan angin petik di awal musim kemarau: tenang, membawa sejuk, dan serta-merta mengubah tatanan napas Aris menjadi tidak beraturan.
Sore itu, lonceng kecil di atas pintu toko berdenting renyah. Sosok anggun itu kembali melangkah masuk. Sena mengenakan gaun terusan warna kraf krem yang jatuh melambai di atas mata kaki, dipadu cardigan rajut tipis berwarna hijau sage. Rambut hitam pekatnya yang bergelombang dibiarkan terurai bebas, menyelip di belakang telinga dan memperlihatkan garis rahangnya yang halus serta leher jenjangnya yang anggun.
Namun, yang paling berbahaya bagi pertahanan batin Aris adalah pasang mata milik Sena. Manik matanya berwarna cokelat hazel bening, teduh bagaikan telaga di tengah hutan yang belum pernah tersentuh riak. Setiap kali Sena tersenyum, sudut matanya membentuk lipatan kecil yang manis—sebuah detail sederhana yang diam-diam selalu Aris gambar dalam lembaran memori kepalanya.
"Selamat sore, Aris," sapa Sena. Suaranya halus dan renyah, berdenting merdu menembus keheningan toko.
Aris membetulkan letak celemek kain cokelatnya, mencoba meredam degupan kencang di dadanya sebelum menatap wanita itu. "Selamat sore, Sena. Hari yang cukup berangin di luar, ya?"
"Sangat berangin," sahut Sena seraya melangkah mendekati rak mawar segar. "Tapi aroma toko bungamu ini selalu berhasil menawarkan hangat yang pas."
Aris tersenyum tipis, matanya mengawasi jemari lentik Sena yang bergerak menyusuri tangkai-tangkai bunga. Jemari yang bersih, dengan kuku-kuku merah muda alami tanpa polesan cat. Caranya menyentuh kelopak bunga begitu hati-hati, seolah takut menyakiti keindahan yang rapuh itu.
"Mencari buket yang sama seperti minggu lalu?" tanya Aris seraya keluar dari balik meja kayu panjangnya.
Sena menggeleng pelan, memutar tubuhnya menghadap Aris. Ada secercah pendar jenaka di matanya. "Tidak untuk hari ini. Aku sedang ingin merangkai sesuatu yang baru. Tapi, aku butuh bantuan si pakar bunga."
"Pakar bunga?" Aris tertawa kecil, suara tawanya yang dalam memenuhi sudut ruangan. "Aku hanya pria yang kebetulan paham cara memotong tangkai agar airnya terserap sempurna, Sena."
"Jangan bersikap rendah hati begitu," goda Sena sambil menyilangkan tangan di dada. "Seseorang yang bisa menebak suasana hati langganannya hanya lewat pilihan warna bunga jelas bukan sekadar penjual biasa. Jadi, menurutmu... apa bunga yang cocok untuk mengartikan perasaan yang lama terpendam?"
Jantung Aris serasa berhenti berdetak sejenak. Pertanyaan itu menggantung di udara, sarat akan makna yang membuat pikirannya berkelana. Apakah Sena sedang jatuh cinta pada seseorang? Apakah pria beruntung itu yang akan menerima rangkaian bunga sore ini?
Aris berusaha menjaga jeda suaranya agar tidak bergetar. Dia berjalan menuju sudut ruangan, tempat deretan wadah kaca berisi tangkai-tangkai Baby's Breath dan Ranunculus berada.
"Terpendam seperti apa?" tanya Aris pelan, membelakangi Sena saat memilih tangkai terbaik. "Apakah terpendam yang menanti untuk diutarakan, atau terpendam yang sengaja dibiarkan abadi dalam diam?"
Sena melangkah mendekat, menghentikan langkahnya hanya semeter di samping Aris. Wangi minyak jelang lembut beraroma vanilla dan kayu cendana yang khas dari tubuh Sena mendadak menyeruak, menyapa indra penciuman Aris.
"Bagaimana kalau dua-duanya?" bisik Sena lembut.
Aris menoleh, menemukan jarak mereka kini begitu dekat. Dia bisa melihat dengan jelas pantulan cahaya lampu gantung di dalam iris mata Sena yang tenang. Hidung wanita itu bangir, dengan sedikit rona merah muda alami di pipinya yang sehalus porselen.
"Jika begitu," ujar Aris sambil mengangkat setangkai bunga berwarna merah muda lembut, "kamu butuh Ranunculus. Dia melambangkan rasa kagum yang amat sangat. Dan untuk mengimbangi keraguannya, tambahkan Lisianthus putih. Artinya... ketulusan yang tidak menuntut balasan."
Sena memperhatikan bunga di tangan Aris, lalu tatapannya beralih naik menyusuri garis wajah Aris. Dia mengamati rahang tegas Aris, matanya yang hangat, serta binar kejujuran yang selalu terpancar dari pria itu setiap kali mereka berbicara tentang bunga.
"Pilihan yang sangat indah," ujar Sena pelan. "Maukah kamu membantuku merangkainya sekarang?"
"Tentu saja," jawab Aris secepat kilat.
Mereka berdua pindah ke meja perakit. Jemari Aris dengan cekatan memotong daun-daun berlebih, sementara Sena memperhatikan setiap gerakannya dengan seksama. Keheningan yang tercipta di antara mereka tidak pernah terasa canggung; itu adalah jenis keheningan yang dipenuhi oleh percakapan tak kasat mata di antara dua jiwa.
"Aris," panggil Sena memecah kesunyian.
"Ya?"
"Kenapa kamu selalu memilih warna-warna lembut tiap kali merangkai bunga untukku?"
Aris menghentikan pita kain yang sedang diikatkannya pada tangkai bunga. Dia menatap jemarinya sendiri sejenak sebelum memberanikan diri menatap Sena lurus-lurus.
"Karena bagiku, kamu itu seperti warna-warna pastel yang teduh, Sena," tutur Aris jujur, tanpa lagi menyembunyikan diksi yang selama ini ditahannya di tenggorokan. "Kamu tidak pernah berteriak untuk menarik perhatian, tapi kehadiranmu selalu berhasil meredam bising di sekitarmu. Kamu tenang, namun menghanyutkan."
Sena tertegun. Pipi wanitanya merona merah seketika. Bibirnya yang dipoles lipstik tipis berwarna samar sedikit terbuka, menghembuskan napas halus yang tertahan.
"Aku... aku tidak tahu kalau kamu memandangku seperti itu," gumam Sena, suaranya hampir menyerupai bisikan.
"Itu cara pandangku sejak pertama kali kamu melangkah masuk ke toko ini satu tahun lalu," lanjut Aris dengan nada mantap namun lembut. "Setiap detil tentangmu—caramu tersenyum, caramu memilih bunga, bahkan caramu menyebut namaku—selalu menjadi bagian favorit dari hariku."
Sena menunduk, menatap buket bunga Ranunculus dan Lisianthus yang kini telah terikat rapi dengan pita satin kain cokelat. Jemari indahnya mengusap pelan pita tersebut.
"Kalau begitu," kata Sena sambil mendongak kembali, menatap Aris dengan senyuman paling hangat yang pernah Aris lihat sepanjang hidupnya, "rangkaian bunga ini sudah menemukan pemiliknya yang tepat."
Aris mengernyit halus. "Bukan untuk teman atau relasimu?"
Sena menggeleng pelan. Dia menggeser buket bunga cantik itu ke arah Aris, mendorongnya pelan hingga menyentuh dada sang pria.
"Bunga ini untukmu, Aris," ucap Sena renyah, diiringi pendar bahagia di matanya. "Untuk perasaan terpendam yang ingin kutanyakan padamu sore ini. Apakah kamu mau melangkah keluar dari balik meja kasir ini, dan menemaniku menikmati senja di luar sebagai seseorang yang lebih dari sekadar penjual bunga kesayanganku?"
Aris terpaku. Kata-kata Sena menggema indah di dadanya, meruntuhkan seluruh dinding keraguan yang dibangunnya selama bertahun-tahun. Rasa hangat membanjiri dadanya saat dia menerima buket bunga itu, lalu menggenggam jemari jemari Sena yang terasa lembut dan hangat dalam genggamannya.
"Dengan sangat senang hati, Sena," jawab Aris mantap. "Dengan sangat senang hati."
Di luar jendela toko, langit Kediri perlahan berganti warna menjadi jingga keemasan. Dan sore itu, untuk pertama kalinya, Aris melangkah keluar toko bukan untuk menutup pintu, melainkan untuk memulai babak baru bersama wanita impiannya.