Dulu semasa sekolah, beberapa kali di pelajaran olahraga ada tugas praktik lari.
Lari 5K, aku sampai duluan.
Lari 10K, aku juga sampai duluan.
Memang, aku suka olahraga. Tapi sisi lain yang paling menentukan keberhasilanku adalah tubuhku kecil dan kurus. Langkahku jadi lebih ringan dan cepat dibanding yang lain. Aku bisa dengan mudah bergerak selincah yang ku mau. Sampai akhirnya guru dan teman-teman memuji kemampuanku.
Tapi anehnya, yang paling membekas bukan pujian itu. Bukan juga nilai 100 yang tertulis di samping kolom namaku pada daftar absensi. Yang paling kuingat justru rasa capeknya.
Capek sampai dada terasa panas. Capek sampai kaki gemetar saat pulang sekolah. Capek karena dulu pernah jatuh di lapangan saat lari. Nyusruk. Nangis. Malu. Dan itu terjadi hanya demi mendapatkan nilai sempurna. Untuk apa? hanya untuk kebanggaan bagi orang-orang yang tidak punya hal yang bisa dibanggakan seperti diriku.
Sejak saat itu, kalimat: tidak ada hal yang mustahil bagi orang percaya, terasa nyata. Aku merasa begitu. Siapapun yang memiliki latar belakang yang kurang, tetap punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan keberhasilan asalkan siap untuk capek banget aja.
----
Dua puluh tahun yang lalu aku hidup cukup kekurangan tapi akhirnya dipenuhi oleh ambisi.
Aku tumbuh menjadi seseorang yang sangat berapi-api ketika sekolah. Saat SMP kelas dua, aku mendapatkan predikat juara satu untuk pertama kali. Lalu setelah itu, entah gimana semacam ada dorongan aneh dalam diriku untuk terus maju, terus menang dan terus membuktikan diri.
Aku seperti hidup dari satu pembuktian ke pembuktian berikutnya.
Membuktikan pada orangtua ku yang kurang berpendidikan, bahwa anak mereka bisa meraih nilai matematika tertinggi satu angkatan saat kelas dua SMP. Aku masih ingat bagaimana terkejut dan gemetarnya saat aku maju mendapatkan piagam penghargaan warna hijau itu.
Lalu aku terus berlari lebih jauh.
Membuktikan pada keluarga ku yang sering marah karena aku terlalu sering belajar yang entah gimana akhirnya aku di cap sebagai pemalas karena belajar terus. Padahal hasilnya juga terlihat saat aku mempertahankan juara satu berturut-turut bahkan sampai SMA. Lucunya lagi, orangtua ku memang bangga saat menerima nilai rapor ku. Tapi pada akhirnya nilai itu hanya akan jadi bahan gunjingan ketika aku buat kesalahan yang menurutku wajar saja di masa muda. Selalu arahnya ke nilai yang aku dapat tidak berarti apa-apa. Sampai akhirnya aku membuktikan pada keluarga ku yang marah saat aku minta kuliah, sebuah pengumuman resmi kalau aku diterima kuliah lewat beasiswa full sampai lulus.
Semua heran.
Keluarga ku yang menderita kemiskinan struktural heran.
Beberapa teman-teman ku memang memuji tapi aku yakin mereka juga heran. Aku cukup terkenal saat sekolah karena pintar, tapi juga cukup dimusuhi karena terlalu berambisi pintar. Aku bahkan pernah dimusuhi satu kelas. Semua teman-teman mencibirku. Memang aku ada salah. Tapi aku cukup sadar bahwa beginilah dunia berjalan. Selalu memperlakukan orang berdasarkan tampilan dan status. Aku tidak punya kedua-duanya. Itu kenapa aku sering disepelekan dan diabaikan. Itu kenapa juga akhirnya aku memilih harus punya nilai.
Jadi, aku terus belajar.
Aku belajar seperti orang yang sedang menyelamatkan hidupnya sendiri. Aku tidak mau tenggelam. Aku tidak mau kalau aku tidak unggul dalam akademik, maka aku tidak punya apa-apa lagi untuk membuat orang melihat keberadaanku.
Aku selalu ingin dan berusaha membuat orang lain melihatku. Setidaknya walaupun tidak kenal, mereka bisa tahu kalau aku asisten guru geografi yang suka diajak keliling kelas untuk menggantikan guru mengajar.
Aku terbiasa mengusahakan semuanya sendiri dan hampir selalu bisa. Karena itu, lama-lama aku tumbuh dengan pola pikir bahwa tidak ada alasan untuk tidak bisa. Kalau orang lain bisa mendapat sesuatu dengan usaha, berarti aku bisa asal mau bekerja lebih keras.
----
Termasuk dalam hal jatuh cinta.
Di balik semua perjuangan pendidikan dan ambisi akademikku, aku tetap seorang anak muda biasa. Aku juga suka melihat cowok ganteng. Aku juga punya tipe. Dan entah kenapa, dari dulu aku selalu tertarik pada cowok yang pintar, punya leadership, percaya diri, dan dikagumi banyak orang.
Aku hanya akan suka pada cowok yang bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa aku lakukan. Mungkin terdengar sombong, tapi bukan itu maksudnya. Aku hanya ingin seseorang yang bisa membuatku kagum. Karena sepanjang hidup, aku terlalu terbiasa menjadi kuat untuk diriku sendiri.
Aku pernah menyukai ketua OSIS di SMA. Karena suka, aku jadi ikut semangat mendaftar OSIS. Pokoknya sebagian ambisiku waktu itu memang lahir dari rasa suka pada seseorang. Aku ikut berbagai seleksi, termasuk tes IQ. Dan entah bagaimana, hasil tes IQ ku menjadi yang paling tinggi di antara 25 siswa lainnya.
Aku masih ingat bagaimana kakak ketua OSIS itu terlihat bangga padaku. Cara dia memujiku, cara dia melihatku seperti aku memang seseorang yang hebat, rasanya membuatku senang sekali. Untuk seorang anak perempuan yang sering merasa tidak cukup cantik dan tidak cukup menarik ini, pengakuan kecil seperti itu rasanya besar banget.
Lalu suatu hari, dengan keberanian yang entah datang dari mana, aku menyatakan perasaanku.
Dan dia menolakku.
Setelah itu hidup percintaanku seperti berjalan di pola yang sama.
Buruk.
Sampai sekarang aku bahkan belum pernah pacaran.
Tap aku juga menyadari hal itu terjadi karena aku memang terlambat. Saat banyak orang seusiaku sibuk memperluas pergaulan, naksir-naksiran, belajar berpenampilan, pergi berkencan, atau menikmati masa muda mereka, aku justru menghabiskan sebagian besar waktuku untuk belajar, mengejar nilai, ikut banyak kegiatan sekolah dan kuliah, menjadi anggota senat mahasiswa, menjadi ketua bidang senat, ikut training tentang skill bekerja, ikut kegiatan-kegiatan pertemanan yang masih sering diundang.
Aku terlalu fokus membangun hidup sampai lupa belajar membangun hubungan.
Bukan berarti aku merasa paling mantap. Tidak juga. Aku tahu banyak orang yang bisa menyeimbangkan semuanya, punya pendidikan bagus, pertemanan luas, dan kisah cinta yang sehat.
Tapi beginilah aku.
Aku tumbuh menjadi seseorang yang sangat terlatih menghadapi ujian, tapi sangat canggung menghadapi perasaan sendiri.
Aku tahu cara bertahan saat hidup sulit. Tahu cara tetap berjalan meski lelah. Tahu cara mendapatkan sesuatu lewat kerja keras. Tapi ternyata cinta tidak selalu bisa bekerja seperti itu yah.
Yang aku alami, cinta tidak bisa dipaksa hanya karena kita sudah berusaha keras. Tidak bisa didapat hanya karena kita merasa layak. Dan tidak selalu datang walaupun kita sudah dalam keadaan siap.
Mungkin itu sebabnya di usia dua puluh delapan ini, bagian paling membingungkan dalam hidupku bukan lagi tentang bagaimana mendapatkan nilai. Melainkan tentang hal yang lebih sederhana:
"Ada nggak yah seseorang yang benar-benar memilihku, tanpa aku harus membuktikan apa-apa terlebih dahulu?"
----
Dulu waktu remaja, saat hidup terasa terlalu berat untuk dipahami anak seusiaku, aku sering punya satu harapan sederhana, semoga aku cepat berusia dua puluh lima.
Di kepalaku waktu itu, usia dua puluh lima terdengar seperti garis akhir dari semua kesulitan. Aku membayangkan diriku menjadi wanita karier yang rapi dan mandiri, berjalan di trotoar Sudirman sepulang kerja, naik busway, lalu tanpa sengaja bertemu cowok. Kami jatuh cinta lalu menikah dan hidup bahagia.
Aku benar-benar percaya hidup akan seperti itu.
Tapi ternyata tidak, ya.
Ternyata tumbuh dewasa sambil mencari arah sendiri jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan.
Aku memang tidak selalu sepenuhnya mengikuti arahan orang tuaku. Bukan karena aku tidak menghormati mereka, tapi karena banyak cara pandang mereka lahir dari generasi yang hidup dalam keterbatasan dan ketakutan. Ada mentalitas "jangan terlalu tinggi bermimpi nanti jatuh", "percuma sekolah tinggi-tinggi", "orang seperti kita tidak usah macam-macam". Semacam crab mentality yang tanpa sadar diwariskan dari hidup yang keras dan kesempatan yang sempit.
Jadi aku memilih mencari jalan sendiri. Aku seperti orang asing yang tiba di tempat baru tanpa peta. Tidak tahu jalan mana yang aman. Tidak tahu mana lubang dan mana batu. Aku hanya berjalan terus sambil menerka-nerka. Kadang menabrak. Kadang jatuh. Kadang terluka cukup parah sampai harus berhenti sebentar karena terlalu lelah.
Lalu bangun lagi.
Jalan lagi.
Jatuh lagi.
Begitulah aku sejak usia dua puluh lima sampai sekarang.
Dan ironisnya, di perjalanan yang seberantakan itu, banyak hal yang akhirnya juga menjauh perlahan dari hidupku.
Teman-teman yang dulu memujiku, entah sekarang ada di mana. Dulu aku pikir prestasi akan membuat hubungan bertahan lebih lama, ternyata tidak juga. Orang-orang tetap punya hidupnya masing-masing dan perlahan pergi tanpa penjelasan.
Nilai-nilai yang dulu kuperjuangkan mati-matian juga terasa kehilangan arti. Semua angka sempurna itu tidak benar-benar berguna di dunia kerja. Tidak ada yang peduli siapa juara kelas dulu. Tidak ada yang bertanya berapa nilai matematika tertinggiku. Dunia nyata bergerak dengan cara yang berbeda.
Keluarga? Kami masih berjalan di garis kemiskinan struktural. Memang sekarang ada pemasukan tambahan sejak aku dan saudara ku bekerja, setidaknya roda ekonomi keluarga tetap bergerak. Karena bagaimanapun juga, seburuk apa pun luka yang pernah ada, keluarga tetap keluarga. Dan kebutuhan mereka tetap terasa seperti tanggung jawab yang harus kupenuhi. Tanpa ada timbal balik sekecil pertanyaan tentang kondisi ku sendiri.
Pertemanan? Dulu aku sangat takut tidak punya teman. Tapi sekarang, aku lebih memilih tidak punya teman.
Lebih tepatnya,
Aku kehilangan teman.
Aku kehilangan uang.
Aku kehilangan kepercayaan pada banyak hal juga pada diriku sendiri.
Dulu aku berusaha mati-matian menjadi seseorang yang berhasil. Tapi sekarang, saat melihat hidupku sendiri, aku justru merasa masih berdiri di tempat yang sama: kekurangan, kebingungan, dan kelelahan. Aku tidak merasakan kepuasan hidup yang dulu kupikir akan datang jika aku bekerja keras. Dan yang paling menakutkan adalah aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kucari lagi.
Kadang aku merasa menyimpan terlalu banyak masalah sendirian. Ada banyak hal di kepalaku yang tidak diketahui siapa pun. Dan karena terlalu lama menghadapi semuanya sendiri, aku sampai tidak tahu lagi bagaimana cara meminta bantuan. Aku bahkan tidak tahu apakah aku benar-benar bisa mengatasi semuanya.
Aku membenci media sosial. Aku menyembunyikan semua story orang-orang karena aku tidak tahan melihat hidup mereka terlihat begitu menyenangkan. Liburan. Pernikahan. Pertemanan. Karier. Kehidupan sosial. Hal-hal yang dulu kupikir juga akan kumiliki kalau aku bekerja cukup keras.
Kadang aku bertanya dalam hati, aku sudah berusaha sejauh ini, jadi kenapa hidupku tidak terasa bergerak ke arah yang menyenangkan juga?
Lalu pikiranku mulai mencari jawaban ke mana-mana.
Apa karena aku jarang ke gereja dulu?
Apa karena aku kurang bersyukur?
Apa karena ada yang salah dalam diriku?
Sekarang aku bahkan sudah lebih rajin datang ke gereja. Tapi hidup masih terasa sama saja. Tidak ada perubahan besar yang tiba-tiba membuat semuanya membaik.
Aku semakin tidak terlihat.
Hari-hariku berjalan sendiri.
Makan sendiri.
Jalan sendiri.
Pulang sendiri.
Sebenarnya aku tidak keberatan melakukan semuanya sendiri. Aku masih punya uang untuk membeli makanan yang kuinginkan atau pergi ke tempat yang kusuka. Tapi tetap ada ruang kosong yang tidak berhasil terisi.
Dan setiap kali ada sesuatu atau seseorang yang mencoba mendekat, kepalaku langsung dipenuhi suara-suara bising: jangan percaya, nanti juga pergi, pasti ada alasan lain dia datang. Bahkan aku tidak lagi heran kalau orang datang lalu pergi. Justru aku akan heran kalau ada seseorang yang datang lalu memilih tinggal.
Setidaknya aku pernah berusaha sangat keras demi menjadi seseorang yang berarti. Seseorang yang bisa dibanggakan. Aku belajar, bekerja, bertahan, terus berjalan bahkan saat rasanya ingin menyerah. Tapi hari ini, aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang sebenarnya sedang kujalani.
Aku tidak lagi hidup untuk menjadi orang yang berhasil.
Aku hidup karena ya masih hidup saja.