Disukai
0
Dilihat
15
Algoritma Malam Ke-13
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Layar monitor CRT di sudut laboratorium komputer nomor 4 berkedip dua kali. Suara dengung kipas prosesor mendominasi ruangan berukuran delapan kali sepuluh meter itu, berpadu dengan ketukan jari Rian pada papan ketik. Jam dinding menunjukkan pukul 22.15 WIB.

"Rian, kamu masih lama?"

Suara Maya memecah keheningan dari arah pintu. Wanita itu berdiri memegang tali tas bahunya, melangkah mendekat ke meja Rian dengan raut wajah cemas.

"Sebentar lagi, May. Functions untuk penangan basis datanya masih error. Kalau tidak kutuntaskan malam ini, progres minggu ini hilang semua," sahut Rian tanpa mengalihkan pandangan dari baris kode bertuliskan PHP di depannya.

Maya menghela napas panjang. Ia menarik kursi di sebelah Rian lalu duduk. "Lampu koridor luar sudah dimatikan Pak Suno. Aku mau pulang sendirian takut. Hujan di luar makin deras."

"Sepuluh menit lagi. Janji," balas Rian.

Tiba-tiba, monitor di hadapan Rian menjadi hitam pekat. Teks editor yang sejak tadi dipenuhi ratusan baris skrip lenyap begitu saja. Di tengah kegelapan layar, muncul baris kalimat berwarna hijau terang yang berkedip-kedip:

USER_DETECTED. DO NOT LEAVE THE ROOM UNTIL THE ALGORITHM IS SOLVED.

"Lho, websitemu ke-refresh?" tanya Maya menyipitkan mata.

"Bukan. Ini bukan dari browser-ku," bisik Rian. Ia mencoba menekan tombol Ctrl+C dan Alt+F4, tetapi komputer tidak merespons sama sekali. Cursor berkedip di bawah kalimat tersebut, menunggu masukan teks.

Cklek.

Suara kait pintu utama laboratorium berbunyi tajam. Rian melompat dari kursinya dan berjalan cepat menuju pintu kayu tebal tersebut. Ia mendorong gagangnya, namun pintu itu bergeming.

"Terkunci dari luar?" Maya ikut berdiri, kepalanya menoleh ke sekeliling ruangan yang kini terasa makin dingin.

"Pak Suno pasti mengunci gedung dari luar tanpa mengecek ke dalam," kata Rian, mencoba menenangkan diri meski dadanya mulai berdegup kencang. "Tapi... dari mana datangnya pesan di monitor tadi?"

"Rian, lihat!" Maya menunjuk ke arah layar.

Teks hijau tadi telah berganti dengan sebuah fungsi kode yang sangat asing. Strukturnya mirip kombinasi Luau dan C++, namun logika matematika di dalamnya sama sekali tidak wajar.

function CheckEscape(time, room_status) if time == "22:15" and room_status == "LOCKED" then return Memory.GetHiddenTruth() end end

"Ini bukan kode program biasa," gumam Rian seraya kembali duduk di depan layar. Tangannya melayang di atas papan ketik.

"Maksudmu bagaimana?" Maya mendekat, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja. "Ada orang yang lagi mengusili kita lewat jaringan kampus?"

"Bukan cuma usil, May. Perhatikan variabelnya. 22:15 itu jam tepat saat pintu terkunci tadi. Sistem ini tahu kondisi ruangan ini."

"Rian, jangan bikin aku makin takut," bisik Maya. Matanya mulai mengedar ke sudut-sudut gelap laboratorium. Rak-rak server di belakang mereka tampak seperti bayangan raksasa yang menatap diam.

"Aku serius. Kita harus menyelesaikan logika dari skrip ini untuk membuka pintunya." Rian mulai mengetikkan baris perintah baru pada layar terminal yang muncul di bawah fungsi tersebut.

Bzzzt!

Lampu neon di langit-langit laboratorium mendadak padam. Hanya tersisa cahaya kebiruan dari monitor Rian yang menerangi wajah mereka berdua. Di luar, suara petir menyambar keras, disusul dentuman lembut dari arah lorong kampus.

"Rian..." Maya meremas lengan jaket Rian. "Ada suara langkah kaki di luar."

Rian menghentikan ketikannya. Ia menajamkan pendengaran. Di luar pintu kayu, terdengar helaan langkah lambat yang terseret. Srak... srak... srak... Langkah itu berhenti tepat di depan pintu laboratorium nomor 4.

"Jangan bersuara," bisik Rian pelan.

Pintu kayu itu bergetar pelan, seolah ada sesuatu yang menekan permukaannya dari luar. Namun, alih-alih suara gedoran, speaker kecil di sudut atas monitor Rian mendadak mengeluarkan suara statis yang nyaring.

"Waktu kalian tinggal tujuh menit," ujar sebuah suara bergelombang dari speaker. "Selesaikan fungsinya, atau logika ruangan ini akan direset bersama kalian di dalamnya."

"Siapa kamu?!" teriak Maya ke arah monitor. "Buka pintunya! Ini tidak lucu!"

"Percuma, May. Itu suara tergenerasi otomatis," sahut Rian cepat. Ia memfokuskan matanya kembali ke layar. "Maya, bantu aku membaca variabel matematika di layar ini. Kamu ingat rumus perhitungan dosis atau logika rasio yang pernah kita pelajari?"

"Sistem perhitungan? Rumus persentase atau rasio perbandingan?" Maya memajukan wajahnya ke layar. "Di situ tertulis Value_A = 24 dan Value_B = n. Ada formula n / 24 * Adult_Dose!"

"Itu formula Cowling!" seru Rian. "Bukan perbandingan standar, tapi logika waktu relatif!"

"Masukkan variabel umur kita atau variabel waktu jam sekarang?" tanya Maya cepat.

"Waktu sekarang!" Rian jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan tinggi. Ia memasukkan parameter jam, menit, dan nilai variabel sesuai logika Cowling yang disesuaikan dengan struktur perintah program.

local n = 22.30 local adult_dose = 100 local result = (n / 24) * adult_dose System.SetOverrideCode(result)

Layar berkedip merah. Teks besar muncul: LOGIC ERROR: OVERRIDE DENIED.

"Salah, Yan! Bukan itu!" seru Maya panik. Suara langkah kaki di luar pintu kini berubah menjadi gedoran keras. BAM! BAM! BAM! Gagang pintu bergerak-gerak naik turun secara liar.

"Pikirkan lagi, May! Apa yang hilang dari persamaan ini?" Rian berteriak mengatasi suara gedoran dan dentum petir.

"Jumlah orang di dalam ruangan!" Maya menepuk meja. "Sistemnya mendeteksi dua keberadaan! Kamu memasukkan variabel tunggal!"

Rian menahan napas. "Dua subjek... nilai n harus dibagi dua!"

Jemarinya dengan cepat menghapus baris kode sebelumnya dan menggantinya:

local n = (22.30 / 2) local result = (n / 24) * adult_dose System.SetOverrideCode(result)

Rian menekan tombol Enter.

Hening.

Gedoran di pintu mendadak berhenti total. Suara dengung speaker mendesis pelan lalu mati. Layar monitor yang tadinya berwarna merah menyala perlahan berubah menjadi hijau tenang, menampilkan sebuah pesan singkat:

ACCESS GRANTED. SYSTEM UNLOCKED.

Cklek.

Suara kunci pintu terbuka berbunyi nyaring. Lampu neon di langit-langit ruangan menyala kembali satu per satu, menyilaukan mata mereka.

Rian dan Maya saling pandang, napas mereka masih memburu. Tanpa membuang waktu, Rian segera mematikan daya komputer, menyambar tasnya, dan menggandeng tangan Maya. Mereka berlari keluar menuju pintu utama.

Saat mendorong pintu kayu tersebut, lorong di luar tampak sepi dan lengang. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada genangan air hujan di dekat jendela dan lantai koridor yang bersih.

Mereka berlari melintasi lorong, menuruni tangga kampus, dan baru berhenti ketika mencapai pos penjagaan di gerbang depan. Di sana, Pak Suno sedang duduk santai sambil menyeruput kopi hangat.

"Lho, Mas Rian sama Mbak Maya kok baru keluar dari gedung utara?" tanya Pak Suno heran. "Bukannya tadi laboratorium komputer sudah dipadamkan dari jam sembilan malam?"

Rian dan Maya terdiam kaku. Rian menoleh ke arah gedung lantai dua tempat laboratorium komputer nomor 4 berada. Dari kejauhan, di antara jendela-jendela yang gelap pekat, satu jendela di sudut utara tampak memancarkan cahaya kebiruan yang redup—layar monitor yang tadi baru saja ia matikan, kini menyala kembali.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi