Disukai
0
Dilihat
62
Catatan Masa Percobaan
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Suasana kota Jakarta pagi ini terasa lebih sejuk dari biasanya.

Aku merapatkan cardigan merah marunku dan melangkah masuk ke gedung kantor. Lift hampir penuh. Aku mengambil celah di dekat pintu, lalu menekan tombol lantai dua puluh satu.

Begitu keluar dari lift, aku melangkah cepat menuju pintu masuk kantor. Sebelum masuk, aku memindai telunjukku untuk absensi.

Aku sudah duduk di mejaku lima belas menit sebelum jam delapan. Beberapa karyawan lain sudah tiba. Tidak lama, aku melihat Nina berlari kecil dari arah pintu masuk menuju mejanya.

“Hayooo… telat!” sapaku sedikit tertawa.

“Belum kok. Masih lima menit lagi.” Nina duduk sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Eh, Sar. Anak training mulai on floor hari ini kan, ya?”

“Iya. Kata Mas Indra semuanya on floor hari ini. Ada tujuh orang.” Aku membaca email baru dari Mas Indra, supervisor-ku.

“Semoga ada yang lucu. Biar semangat nih gue.” Nina menyibakkan rambutnya sambil tersenyum genit.

“Ganjen lu!” Aku geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. 

Beberapa menit kemudian Mas Indra datang bersama tujuh anak baru—dua orang laki-laki, sisanya perempuan.

“Pagi, guys! Hari ini newbies mulai gabung sama kalian,” Mas Indra mengumumkan. “Gue sudah atur mentoring plan-nya di email, ya.”

Mas Indra mengarahkan anak-anak baru tersebut ke mentornya masing-masing, termasuk aku. “Sar, karena lu paling senior, gue pasangin lu sama Raditya.”

“Baiklah, Mas.” Aku mengangguk.

Di depanku, berdiri sosok laki-laki mengenakan kemeja putih dan celana biru dongker. Garis wajahnya tegas. Ia tersenyum saat menatapku. Senyum yang terlalu manis untuk dipercaya.

“Mohon bimbingannya, Mbak Sarah.”

Aku yakin, kalau Nina melihat senyum itu sedekat ini, ia pasti sudah sibuk menyusun alasan untuk bertukar mentee denganku.

“Panggil Sarah aja.” Aku ikut tersenyum.

***

Dua minggu pertama berlalu tanpa kejutan berarti.

Menjadi mentor bukanlah hal baru bagiku. Bahkan Nina juga merupakan salah satu mentee-ku sebelumnya. Aku selalu menikmati peran itu.

Siang itu, aku duduk di kantin bersama Nina.

“Radit nggak makan siang bareng kita?” tanya Nina sambil mencari-cari sosok Radit.

“Nggak. Dia masih ada target email dari customer yang harus dibalas,” jawabku sambil membuka bungkus ketoprak yang kupesan online.

“Yah… lu nggak bantuin dia?” Nina langsung memasang wajah kecewa.

“Dia bisa sendiri kok. Udah gue ajarin.” Aku menyuap satu sendok penuh ketoprak ke dalam mulut. Perutku sudah protes sejak tadi karena hari ini aku tidak sempat sarapan.

Radit muncul saat aku hampir menghabiskan seluruh porsi ketoprak.

“Sarah, sorry. Masih makan, ya?” tanyanya pelan.

Aku menoleh ke arahnya. “Udah hampir beres kok. Kenapa, Dit?”

“Bisa tolongin gue sebentar nggak? Gue takut salah nangkep request customer ini.” Ia menggaruk pelan kepalanya.

“Oh… okay. Bentar.” Aku melahap suapan terakhir, mengunyah cepat, lalu menelannya.

“Gue duluan ya, Nin.” Aku berdiri dan mengambil minuman kopi di atas meja.

“Pinjam Sarah bentar ya, Nina. I really need my mentor.

Radit berjalan setengah langkah di depanku sambil terus menjelaskan isi email customer-nya. Aku mendengarkan, sesekali mengangguk. Tanpa sadar, langkahku mengikuti ritmenya begitu saja.

***

Suasana kantor siang ini cukup sepi. Sebagian orang memilih pergi makan siang belakangan karena tidak mau berdesakan di kantin. Aku memilih makan siang lebih awal. Fokusku akan sangat terganggu jika perutku keroncongan.

Aku sudah kembali bekerja sejak satu jam yang lalu. Perutku sudah terisi cukup. Namun, kali ini mataku tidak bisa diajak kompromi.

Siang hari, perut kenyang, ruangan dingin ber-AC, adalah kombinasi yang sangat krusial di jam rawan seperti ini. Entah sudah berapa kali aku menguap di mejaku.

“Ngantuk banget kayaknya.” Radit muncul tanpa aba-aba.

Aku tersentak.

“Nih… buat lu.” Ia meletakkan satu cup kopi racikan di mejaku. “Vanilla latte, less sugar. Gue pernah lihat lu pesen ini waktu di kantin.”

Aku mendongak. 

Ia tersenyum.

Ada garis tipis di sudut matanya setiap kali ia tersenyum. Entah kenapa, itu membuat senyumnya terlihat lebih tulus.

“Wah… dalam rangka apa nih? Pas banget!” Mataku kembali bersinar.

“Anggap aja ucapan terima kasih. Gue dapat CSAT dari customer yang kemarin lu bantuin.” Ia tersenyum kecil. “Finally, I got five stars!

Antusiasmenya terdengar jelas.

Really? Congratulations!” Refleks aku memberikan tepuk tangan tanpa suara untuknya. Aku tidak ingin menimbulkan kegaduhan, tapi juga tidak ingin melewatkan pencapaian barunya begitu saja.

“Makasih ya, Sar. Serius.” Ia menepuk pelan sandaran kursiku sebelum kembali ke mejanya.

Aku menatap kopi di mejaku beberapa detik. Saat kuminum, rasanya memang kurang manis—persis seperti yang kusuka.

***

Hari ini cukup banyak yang berhalangan masuk kerja. Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar berhalangan karena suatu hal penting, atau hanya tidak ingin masuk di harpitnas. Kemarin libur tanggal merah, hari ini masuk, lalu besok libur akhir pekan. Bisa saja aku mengambil cuti hari ini. Tapi aku tidak ingin membebankan tugasku kepada rekan kerjaku yang lain. Lagi pula, ada beberapa customer yang harus aku follow up.

Guys, thank you banget yang masih masuk kerja hari ini.” Suara Mas Indra berhasil membuatku mengalihkan pandangan dari layar komputer.

“Tapi sorry banget nih. Karena hari ini cukup banyak yang nggak hadir dan backlog email kita lagi numpuk, gue minta kerja sama kalian buat overtime, please.” Ia menambahkan. “Besok weekend. Nanti Response Time kita bisa turun.” Mas Indra memasang wajah yang memelas.

Untungnya, lingkungan di kantorku sangat sehat dan supportive. Tidak ada satu pun yang protes. 

“Siap, Mas!” jawabku cepat.

Thank you all. Assignment sudah gue atur. Nanti kalian tinggal refresh di sistem aja.” Ia mengacungkan salah satu jempolnya. “Oh, ya. Make sure kalian isi form overtime.”

Aku kembali ke komputerku. Tiga puluh email baru sudah masuk. Artinya, masih sisa empat puluh dua email yang harus aku selesaikan hari ini.

Sepuluh email pertama, selesai. Aku melirik jam tanganku.

15:55.

Aku menoleh ke arah Radit. Wajahnya serius menatap layar komputernya. Aku hanya ingin memastikan mentee-ku itu baik-baik saja. 

Aku kembali berkutat dengan tumpukan email di layar. “Yuk, bisa beres sebelum jam delapan,” gumamku pelan.

Beberapa jam berlalu. Aku berhasil menyelesaikan hampir seluruh backlog yang ada. Beruntung ada beberapa email yang duplicate. Itu cukup untuk menghemat waktu.

“Masih banyak, Sar?” Radit datang menghampiri mejaku. Sepertinya dia sudah selesai dan bersiap untuk pulang.

“Lima lagi.” Aku menoleh sekilas. 

“Mau gue tungguin nggak?” Ia menawarkan. 

Aku melihat sekelilingku. Ruangan hampir kosong.

Aku tidak mau sendirian di sini. Bukan karena takut. Hanya saja ruangan ini terasa terlalu besar.

“Boleh deh, kalau nggak ngerepotin.”

Ia menarik kursi Nina, lalu duduk di sampingku. Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat. Cukup. 

Jari-jariku kembali menari di atas keyboard.

“Habis ini lu free nggak?” Ia bertanya tiba-tiba.

Aku berhenti sejenak. “Hmm… maunya sih langsung balik. Kenapa?”

“Di mall depan ada bioskop. Kayaknya masih sempat nonton satu film.”

Aku menatapnya beberapa detik. Sulit menebak apakah ajakan itu sekadar basa-basi atau memang sesuatu yang lain.

“Oke. Berhubung lu udah nungguin gue. Lagian udah lama juga gue nggak nonton.”

“Good.” Sudut bibirnya terangkat. Entah sejak kapan mataku mulai terbiasa dengan senyum itu.

Ia berdiri, lalu menepuk pelan sandaran kursiku sekali lagi. “Gue tunggu di lobby.”

***

Beberapa banner film yang sedang tayang menyambut kami di pintu masuk bioskop.

“Nonton yang ini aja gimana?” Aku menunjuk salah satu film barat yang ada di jadwal. “Kayaknya seru deh. action-comedy.”

“Tapi jadwalnya jam sembilan. Lu kemaleman nggak pulangnya?” Jarinya menghitung cepat durasi film.

It’s okay. Kosan gue dekat sini.”

“Oke. Kita nonton ini.” Ia berjalan mendahuluiku ke loket.

Aku mengeluarkan satu lembar uang seratus ribu dari dompet. “Nih, buat tiket gue.” 

It’s on me. Kan gue yang ajak.”

“Serius? Belum gajian lho.”

“Gue punya duit. Tenang aja.” Ia tertawa kecil.

“Kalau gitu, makan gue yang bayar ya.”

“Nggak usah. Gue aja.”

“Nggak. Gue aja.” jawabku sedikit memaksa.

“Ya udah.”

Tiket sudah di tangan.

Kami keluar beriringan menuju tempat makan. Aku baru menyadari ternyata dia jauh lebih tinggi dari yang kukira. Mungkin karena jarak kami terlalu dekat kali ini.

“Eh, Dit. Tinggi lu berapa sih?” tanyaku sambil mencoba mengikuti langkahnya yang panjang. 

“Satu delapan satu.” jawabnya singkat. “Why?” 

“Ahh… pantesan tinggi banget!” Aku mendongak.

Ia tertawa.

Setibanya di tempat makan, kami duduk di salah satu meja kosong dekat gerai Chinese food. Kami memesan dua porsi nasi goreng dan dua gelas es teh manis.

Sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol lebih banyak. Mulai dari kesan pertamanya bekerja di Cosmic, latar belakang pendidikannya, pengalaman kerjanya yang lain, dan tentang keluarganya.

“Seriusan lu anak Hukum? Terus kenapa jadi nyasar kerja di Cosmic?” Kedua alisku terangkat.

“Serius.” Ia mengaduk pelan nasi gorengnya. “Sebenarnya gue nggak suka kuliah Hukum. Tapi orang tua gue yang maksa. Mereka mau gue mengikuti jejak mereka.” 

Aku terdiam. Aku tidak pernah menyangka, di balik senyumnya yang manis itu, ada tuntutan orang tua yang harus ia hadapi.

“Ceritanya gue lagi kabur dari rumah. Gue mau buktiin ke orang tua gue kalau gue bisa hidup dengan usaha gue sendiri.” Ia tertawa kecil. Lebih seperti tertawa getir di mataku.

“Gue yakin lu pasti bisa.” Aku menyeruput es teh manis yang es batunya sudah mencair.

“Gue bersyukur banget lu jadi mentor gue, Sar. Lu udah bantu gue banyak banget.” Ia menatapku. Entah kenapa tatapan itu terasa berbeda. Tatapannya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya lebih dulu.

Aku tidak menjawab. Sesaat suara ramai dari meja-meja lain terasa menjauh.

Selesai makan, kami bergegas kembali ke bioskop. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum film dimulai.

“Lu masuk duluan aja, Sar. Gue ke toilet dulu.”

“Oke.” Aku berjalan masuk Studio Tiga. Ada cukup banyak kursi yang tidak terisi.

Radit datang tepat setelah iklan film lain berakhir. Ia datang membawa dua cup soda dan satu cup popcorn ukuran besar.

“Nih, biar nggak ngantuk.” Ia menyerahkan cup popcorn kepadaku dan meletakkan cup soda di pinggiran kursi.

“Wow… thank you!”

Ia tersenyum sekilas lalu mengalihkan wajahnya ke layar.

Untuk beberapa saat, aku tenggelam dalam cerita di depanku.

“HAHA! Kocak banget sih.” Aku tertawa geli melihat adegan di depanku. Refleks tanganku memukul-mukul pelan pegangan kursi. Tanpa sengaja, aku malah memukul lengan kiri Radit.

“Eh… sorry.” Aku menoleh ke arahnya sedikit malu. 

It’s okay.” Ia ikut tertawa. Ia hanya menggeleng kecil, senyumnya belum hilang.

Aku mengalihkan pandanganku kembali ke layar. Namun, beberapa detik kemudian, tanpa sadar aku menoleh lagi.

Ternyata dia masih menatapku.

Dia tidak buru-buru mengalihkan pandangannya. Hanya tersenyum kecil, lalu kembali menatap layar di depan kami.

Entah kenapa, setelah itu aku tidak terlalu ingat adegan film berikutnya.

***

Sudah satu bulan aku menjadi mentornya.

Biasanya Mas Indra akan mengirimkan Monthly Performance Review hari ini. Seharusnya bulan pertama selalu jadi fase paling menegangkan buat anak baru. Tapi untuk Radit, aku rasa semuanya akan baik-baik saja. Dia selalu mengikuti arahanku dengan benar.

“Mas Indra, monthly review-nya belum ada ya?” tanyaku begitu ia melewati mejaku.

“Nanti, ya. Gue share habis lunch.” Ia jalan agak terburu-buru. 

Nina menoleh cepat, lalu mendekat ke arah mejaku. “Bilang aja lu kepo sama performance-nya Radit,” katanya setengah berbisik.

“Memang. Radit itu mentee gue.” Aku mendengus pelan ke arahnya. “Gue ikut bertanggung jawab sama performance dia tiga bulan ini.”

“Yakin cuma karena tanggung jawab?”

“Maksud lu?” tanyaku agak bingung.

“Perasaan belakangan ini kalian makin nempel deh.” Wajahnya penuh curiga.

Aku tidak menjawab.

Kalau dipikir-pikir, aku dan Radit memang lebih sering bersama sejak malam nonton bioskop waktu itu. Kadang dia juga mengirim chat di luar jam kerja. Dan aku tidak keberatan dengan semua itu. Keberadaannya membuat hari-hariku sedikit lebih ramai.

“Perasaan lu aja kali, Nin.” Kali ini gantian Nina yang mendengus ke arahku. 

“Eh, tapi gue belum lihat dia hari ini.” Nina menoleh ke meja Radit. Meja itu kosong.

“Dia nggak masuk.” Aku ikut menoleh mengikutinya. “Tadi pagi dia chat gue. Lagi nggak enak badan karena kehujanan kemarin.”

“Hmm… kemarin memang parah banget sih hujannya. Mana anginnya kencang banget.” Nina mengangguk pelan. Tidak lama kemudian, ia kembali ke mejanya.

Di luar gedung, langit mulai gelap. Beberapa menit kemudian, hujan turun seperti air yang tumpah dari langit.

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti ketika aku dan Nina kembali dari makan siang.

“Awet banget hujannya. Gue takut rumah gue kebanjiran nih,” ucap Nina sedikit cemas.

“Semoga aja enggak.” Aku melangkah cepat masuk ke ruangan.

Aku duduk di kursiku. Meletakkan cup Hot Vanilla Latte yang masih penuh di atas meja. Jam di komputer menunjukkan pukul 13:27.

Aku segera membuka email. Laporan dari Mas Indra sudah ada di sana. Mataku memindai semua data yang ada dengan sangat cepat. Seperti biasa, performance-ku bulan lalu clean sheet, sesuai ekspektasi. Aku tersenyum.

Aku masih menatap layar. Beberapa detik kemudian, aku melihat namanya. Aku sempat tersenyum saat melihat tiga indikator hijau itu. Senyumku memudar ketika dua kolom terakhir masih merah.

Response Time dan Escalation Rate masih belum achieved…” Aku menopang kepalaku dengan tangan. Aku teringat kembali kata-katanya waktu itu.

Gue harus bisa bertahan di sini.

Aku mengambil ponselku. Membuka chat.

Aku: Dit, Monthly Performance Review udah keluar nih. 3 items udah achieved. Congrats, ya!

Chat terkirim.

Beberapa menit kemudian chat baru masuk.

Radit: Serius? Wah, thank you, Sar. Lu penyelamat gue banget! ♥️

Aku menatap emotikon itu beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mengunci layar ponselku.

Di luar, hujan masih turun deras.

***

Peranku sebagai mentor tinggal dua minggu lagi.

Sejak Monthly Performance Review pertama dikeluarkan, Mas Indra mengimplementasikan strategi seating arrangement yang baru. Mentee-mentee yang masih memerlukan arahan lebih, kini duduk di samping mentor mereka masing-masing.

Aku tidak keberatan Radit kini duduk tepat di meja sebelah. Itu sudah tugasku untuk membantunya. Hanya saja, sesekali aku merasa ragu, aku benar-benar hanya ingin membantunya atau ada hal lain yang kuharapkan. Setidaknya usahaku tidak sia-sia. Kedua parameter itu akhirnya berhasil ia kejar.

“Sar, menurut lu, case ini perlu gue eskalasi nggak?” Radit menggeser layar monitornya ke arahku. “Customer udah gue arahin buat datang langsung ke dealer, tapi nggak mau. Sekarang malah marah-marahnya ke gue.”

“Sebentar gue cek dulu.” Aku membaca cepat riwayat emailnya. “Hmm… eskalasi aja, Dit. Soalnya udah ngancam lapor ke YLKI.”

“Udah lima customer yang gue eskalasi hari ini. Sial banget!” Ia menghela napas berat.

“Sabar. Selama email yang lu kerjain banyak, Escalation Rate lu masih aman kok.” Aku tersenyum.

Thanks, ya, Sar.” Kerutan di dahinya mengendur. Ia kembali mengetik.

Aku tahu dia sangat mengkhawatirkan KPI performance-nya.

Dan aku ingin dia bekerja di sini tidak hanya tiga bulan.

***

Pagi itu langit Jakarta tertutup awan gelap. Aku tidak tahu apakah ini suatu pertanda baik atau buruk. 

Sudah dua hari terakhir Radit menghilang dari jangkauanku.

Tidak ada panggilan masuk.

Tidak ada chat baru.

Dan hari ini, dia tidak datang lagi. Seharusnya hari ini adalah hari penentuan baginya. 

“Sar, Radit ada ngehubungin lu nggak?” Suara Mas Indra membuyarkan pikiranku.

“Eh… nggak ada, Mas. Dia nggak ngehubungin Mas Indra juga?” Aku memutar badan sedikit ke arahnya. 

“Nggak sama sekali. Hmm… Kemana ya ini anak?” Ia memegang dagunya. Seperti seseorang yang sedang berpikir keras. “Telpon, chat, nggak ada satu pun yang direspon.”

“Sama dong, Mas.”

“Oh, ya? Gue pikir dia ngehubungin lu, Sar. Kalian dekat banget soalnya.”

Aku diam.

Apakah kami benar-benar dekat?

“Udah tiga hari nih Radit AWOL. Dia bisa nggak lolos probation kalo kayak gini.”

“Yah… sayang banget. Padahal KPI-nya udah achieved semua.” Entah kenapa aku bisa mendengar kekecewaan dalam suaraku sendiri.

“Ada dispensasi nggak ya, Mas? Mungkin dia lagi sakit atau ada hal yang emergency.”

“Lu tahu sendiri Pak Baskoro paling strict soal absensi. Apalagi ini AWOL, three days in a row pula.”

Aku tidak menjawab. 

“Gue cek emergency contact-nya Radit ke HR dulu deh.” Ia berlalu begitu saja, meninggalkanku sendiri dengan pikiranku.

“Radit, lu kemana sih?” gumamku.

Beberapa detik kemudian, aku merogoh ponselku. Aku membuka chat.

Aku: Dit, hari ini nggak masuk lagi kenapa?

Chat terakhir yang kukirim semalam masih ada. Tidak ada yang berubah.

Aku mengetik chat baru. 

Aku: Dit, are you okay?

Chat terkirim.

Hanya centang satu. 

Aku meletakkan ponsel. Kembali melanjutkan aktivitasku.

Siang harinya saat jam makan siang, aku duduk di kantin bersama Nina.

Aku membuka ponselku.

Masih centang satu.

Aku menghela napas. Napasku sedikit tertahan sebelum akhirnya terhembus seluruhnya. 

Tidak ada yang spesial dengan menu makan siangku hari ini—ketoprak.

“Radit sama sekali nggak ada kabar ya?” tanya Nina sambil mengaduk baksonya.

“Iya,” jawabku singkat. 

“Aneh banget deh. Padahal gue sempet lihat dia di Kopi Kota weekend kemarin.” Ia memiringkan sedikit kepalanya.

“Oh, ya?”

“Iya. Sama cewek. Mana mesra banget lagi.” Ia menyeruput kuah baksonya. Wajahnya mengernyit sekilas karena kepanasan. “Gue rasa itu ceweknya deh.”

Tanganku berhenti di atas piring. Dari meja sebelah, suara sendok beradu dengan piring terdengar terlalu jelas.

Aku meraih ponselku. Membuka chat itu lagi.

Tak ada yang berubah sejak tadi pagi.

Seolah semua pesanku tak pernah benar-benar terkirim ke siapa pun.

***

Sebelum pulang kemarin, Mas Indra sudah mengumumkan hasil probation.

Dua orang anak baru dinyatakan tidak lolos probation karena tidak memenuhi kriteria yang ditentukan perusahaan. Tentu saja, Radit salah satunya.

Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa yang ia pikirkan. Untuk apa repot melamar pekerjaan di perusahaan ini kalau akhirnya memilih pergi begitu saja?

Kini bangku di meja samping kosong. Beberapa catatan kecil yang sebelumnya kutempelkan sebagai reminder untuknya masih menempel di sana.

Aku memandanginya beberapa detik, lalu mencabut satu per satu dan membuangnya ke tempat sampah.

Aku membuka layar ponsel.

Membuka kembali chat itu.

Thanks banget, Sar!♥️

Itu chat terakhir yang kuterima darinya. Setelah itu, hanya ada rentetan chat centang satu yang kukirimkan.

Mataku menatap layar beberapa detik lebih lama. Lalu jariku bergerak pelan. Satu notifikasi muncul.

Delete chat with Radit?

Tanpa banyak pikir, aku menekan ikon tempat sampah.

Aku menoleh ke meja itu. Menghela napas panjang.

Aku tidak marah.

Atau setidaknya, itulah yang ingin kuyakini.

Sejak awal aku memang hanya mentornya.

Namun, entah kenapa, tetap ada bagian kecil dalam diriku yang merasa semua waktu dan tenaga yang kuberikan padanya terbuang sia-sia.

Atau mungkin… aku yang terlalu naif untuk mempercayai semua itu.

Pada akhirnya, semua perhatian manis yang menghujaniku selama ini hanyalah sebuah catatan masa percobaan yang selesai tepat saat masa berlakunya habis.

*****

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)