Toko jam kuno milik Pak Seno terletak di sudut tersembunyi Gang Coblong, sebuah lorong berbatu tua yang seolah dilupakan oleh gemerlap modernisasi kota. Di atas pintunya kayu yang mengelupas, tergantung papan kecil bertuliskan "Klinik Waktu & Reparatir Jam" yang catnya telah memudar. Di dalam toko itu, aroma kayu jati lapuk, oli mesin halus, dan kuningan tua berbaur menjadi satu aroma khas yang menenangkan.
Pak Seno bukan sekadar tukang jam biasa. Jemarinya yang keriput dan gemetar saat memegang sendok teh akan berubah menjadi sangat presisi dan tenang ketika menggenggam obeng mikroskopis atau pinset baja. Namun, keahlian sejati Pak Seno yang tidak diketahui oleh penduduk kota adalah kemampuannya memperbaiki sesuatu yang tak kasatmata: detik-detik hidup yang terbuang.
Di meja kerjanya yang diterangi lampu gantung berwarna kuning hangat, berjejer puluhan jam saku kuno. Sebagian jam itu tidak berjalan dengan daya baterai atau pegas baja biasa, melainkan dengan potongan kenangan pemiliknya.
Malam itu, hujan gerimis membilas kaca jendela toko. Dentang jam dinding kayu berbunyi sebelas kali saat bel pintu toko berdenting halus. Seorang wanita muda berpakaian serba hitam melangkah masuk. Rambutnya basah oleh air hujan, dan matanya sembap, membawa duka yang teramat berat.
"Selamat malam. Apakah toko ini masih buka?" suara wanita itu bergetar, pelan dan hampir tenggelam oleh suara hujan.
Pak Seno melepas kaca pembesar yang melingkar di dahinya, lalu tersenyum hangat. "Toko ini buka selama masih ada waktu yang perlu diperbaiki, Nak. Silakan duduk."
Wanita itu melangkah mendekati meja kayu tebal. Dari dalam mantelnya, ia mengeluarkan sebuah jam saku kuningan berlapis perak yang permukaannya penuh goresan. Ia meletakkannya di atas kain beludru hijau di depan Pak Seno.
"Bisakah Bapak memutar kembali jam ini?" bisiknya lirih.
Pak Seno mengambil jam tersebut dengan hati-hati. Saat jemarinya menyentuh permukaan dingin jam perak itu, sebuah getaran halus merambat hingga ke lengannya. Di mata batinnya, Pak Seno bisa merasakan beban emosi yang tersimpan di dalamnya: rasa penyesalan yang membakar, amarah yang tertahan, dan rindu yang tak sempat terucap.
"Nama saya Clara," wanita itu mulai bercerita tanpa diminta. Tangannya saling bertaut erat di pangkuannya. "Ini jam milik ayah saya. Tiga hari lalu beliau meninggal dunia karena serangan jantung. Selama lima tahun terakhir, kami tidak pernah saling berbicara. Hanya karena sebuah kesalahpahaman sepele tentang pilihan hidup saya, saya pergi dan menolak membalas setiap pesan atau telepon darinya."
Clara menunduk, air matanya menetes jatuh ke atas meja kayu. "Kemarin, saat membersihkan kamar beliau, saya menemukan jam ini di samping tempat tidurnya. Di dalamnya ada catatan kecil: 'Untuk Clara, jika kamu punya waktu lima menit saja untuk mendengarkan Ayah.' Pak, saya tidak butuh jam ini berdetak lagi untuk masa depan. Saya hanya ingin kembali ke masa lalu. Berikan saya lima menit saja... lima menit untuk minta maaf."
Pak Seno mendesah pelan. Ia sudah sering mendengar permintaan seperti ini dari pengunjung-pengunjung rahasianya. Manusia selalu beranggapan bahwa waktu adalah garis lurus yang bisa dipotong dan disambung kembali sesuka hati ketika penyesalan datang.
"Nak Clara," ujar Pak Seno lembut sambil membuka cangkang belakang jam perak itu menggunakan pisau pemisah khusus. "Waktu bukanlah kain yang bisa digunting lalu dijahit ulang. Jarum jam bisa diputar ke kiri, tetapi alur hidup manusia hanya berjalan ke satu arah."
Clara mendongak, matanya memancarkan keputusasaan. "Lalu apa gunanya papan nama di depan toko Bapak?"
Pak Seno tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah lup kecil dan mengamati mekanisme di dalam jam tersebut. Gerigi-gerigi kuningan kecil di dalamnya tidak rusak fisik, tetapi tersumbat oleh kabut tipis berwarna abu-abu pekat—hantu dari penyesalan dan penundaan.
"Toko ini tidak mengubah masa lalu, Clara. Toko ini menyelamatkan detik yang tersisa," kata Pak Seno pelan.
Dengan pinset baja super halus, Pak Seno mulai menyentuh bagian escapement wheel jam tersebut. Tiba-tiba, cahaya keemasan tipis terpancar dari dalam mesin jam, merekah seperti benang-benang cahaya yang bergetar. Udara di dalam ruangan terasa bergetar hangat. Cahaya itu memantul di mata Clara yang terbelalak heran.
"Tutup matamu, Clara," perintah Pak Seno seraya mengetukkan obeng kecilnya ke roda keseimbangan jam.
Klek.
Seketika itu juga, suara hujan di luar toko memudar. Suara dengung lampu toko menghilang. Clara merasa tubuhnya melayang dalam pusaran hangat. Saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di toko jam tua, melainkan berdiri di lorong rumah lamanya yang harum aroma kopi dan kayu pinus.
Di ujung lorong, di dalam ruang tamu bertabur cahaya sore yang hangat, tampak seorang pria paruh baya berkacamata sedang duduk di kursi goyangnya. Ayahnya. Pria itu tampak lebih muda dari bayangan terakhir di benak Clara, meski rambutnya sudah memutih di bagian pelipis. Di tangannya, sang ayah sedang menggenggam jam perak yang sama, menatap foto kecil Clara di atas meja dengan pandangan penuh kerinduan.
"Ayah..." bisik Clara dari tenggorokannya yang tersekat.
Sang ayah tidak menoleh. Ia tidak bisa melihat atau mendengar Clara secara langsung, karena ini bukanlah perjalanan waktu fisik, melainkan gaung dari kenangan dan perasaan asli yang tersimpan rapat di dalam jam saku tersebut.
Clara melangkah mendekat, berlutut di samping kursi goyang ayahnya. Ia melihat tangan ayahnya membelai foto kecilnya dengan penuh kasih sayang. Ia mendengar ayahnya berbisik pelan pada kesunyian rumah: "Ayah selalu bangga padamu, Clara. Maafkan gengsi tua Ayah yang tak pernah pandai mengucapkannya."
Air mata Clara mengalir deras, tetapi kali ini bukan karena rasa bersalah yang membakar, melainkan kepasrahan dan rasa lega yang amat sangat. Kesalahpahaman itu runtuh seketika. Cinta ayahnya tak pernah berkurang sedikit pun, meski jarak dan dinding keheningan telah membentang bertahun-tahun di antara mereka.
Clara menggenggam tangan ayahnya yang tak kasatmata. "Aku juga minta maaf, Yah... Aku sangat menyayangi Ayah."
Klek.
Suara detik jam kembali terdengar nyaring. Cahaya keemasan meredup perlahan, dan bayangan rumah masa kecil itu menguap seperti embun pagi. Clara kembali terduduk di kursi kayu Toko Jam Pak Seno. Suara hujan di luar kembali terdengar menimpa atap seng toko.
Di atas meja, jam perak kuno itu kini berdetak halus dengan ritme yang stabil dan merdu: tik-tak, tik-tak, tik-tak.
Pak Seno menutup cangkang perak jam tersebut lalu menyerahkannya kembali kepada Clara.
"Rasa bersalah adalah pencuri waktu yang paling kejam," kata Pak Seno seraya menatap mata wanita muda di depannya. "Ia membuatmu tidak bisa melihat masa lalu dengan jernih, dan membuatmu takut melangkah ke masa depan. Ayahmu tidak pernah menyimpan dendam. Jam ini berdetak lagi bukan karena saya mengganti pegasnya, tetapi karena kamu akhirnya mau mendengarkan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan."
Clara menerima jam perak itu dengan kedua tangannya yang kini tidak lagi bergetar. Ia merengkuh jam tersebut ke dadanya, merasakan detak halus mesinnya yang seolah berdenyut sejajar dengan detak jantungnya sendiri. Kehangatan yang tak ternilai mengalir memenuhi dadanya yang semula hampa.
"Terima kasih, Pak," ucap Clara dengan senyuman tulus pertama yang menghiasi wajahnya setelah berhari-hari tenggelam dalam duka. "Berapa biayanya?"
Pak Seno tersenyum tipis seraya merapikan alat-alat kecilnya ke dalam kotak kayu. "Biayanya sederhana: jangan biarkan detik-detikmu di masa depan terbuang lagi tanpa makna.katakan apa yang perlu dikatakan pada orang-orang yang kamu cintai, sebelum waktumu sendiri yang habis."
Clara mengangguk dalam-dalam. Ia berdiri, merapatkan mantelnya, dan melangkah keluar menuju malam yang masih dibasahi gerimis. Namun kali ini, langkah kakinya terasa jauh lebih ringan.
Pak Seno memperhatikan wanita itu menghilang di balik belokan Gang Coblong. Ia kembali memakai kaca pembesar di dahinya, mengambil sebuah jam dinding tua yang rusak, dan meluncur kembali ke dalam keheningan yang penuh dengan bisikan detik-detik yang menanti untuk diselamatkan.