Disukai
0
Dilihat
3
Langit Kuning Borneo
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di sebuah sudut Borneo yang tenang, namaku Sigha. Aku seorang mahasiswa ilmu kesehatan di salah satu perguruan tinggi negeri. Kehidupanku bisa dibilang sangat datar. Rutinitasku berputar pada lingkaran yang sama setiap harinya: bangun pagi, berangkat kuliah, duduk berjam-jam mendengarkan dosen menyampaikan materi epidemiologi atau mikrobiologi, mengikuti praktikum di laboratorium, lalu pulang ke kos. Sesekali, untuk menambah portofolio dan wawasan, aku mengikuti webinar kesehatan secara daring atau bergabung sebagai relawan kampanye edukasi yang diadakan oleh lembaga kemanusiaan. Kami biasanya mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyakit menular, pentingnya sanimasi, hingga pola hidup bersih.

Jujur saja, aku menyukai kehidupan yang membosankan ini. Banyak orang mendambakan dinamika besar atau kejutan dalam hidup mereka, tetapi bagiku, ketiadaan kejutan adalah sebuah berkah. Dalam pandanganku sebagai calon tenaga kesehatan, kejutan berskala besar sering kali berwujud krisis, wabah, atau bencana. Jadi, aku selalu berdoa agar hariku tetap biasa-biasa saja. Lebih baik monoton daripada ada perubahan mendadak yang sanggup membuat dunia gempar.

Namun, ketenangan itu mulai tergerus sekitar satu bulan yang lalu. Pagi itu, saat aku berdiri di depan teras kos siap untuk berangkat kuliah, mataku menangkap sesuatu yang asing di ufuk timur laut. Seberkas asap hitam keabu-abuan membumbal tebal ke udara, mengotori langit pagi yang biasanya jernih.

"Huft, pabrik itu mulai bekerja lagi. Lebih baik aku memakai masker supaya lebih aman untuk ke kampus," ucapku pelan pada diri sendiri.

Aku meraih masker N95 dari dalam tas, memasangnya rapat-rapat menutup hidung dan mulut, lalu menaiki sepeda motor. Sepanjang jalan menuju kampus, pikiranku dipenuhi tanda tanya besar. Tumben sekali pabrik pengolahan lahan dan kayu di kawasan tersebut beroperasi kembali. Bukankah satu tahun lalu izin operasional mereka sudah dicabut secara resmi oleh pemerintah akibat pelanggaran lingkungan yang parah? Mengapa mesin-mesin raksasa itu kembali menderu tanpa ada pengumuman resmi?

"Aku berharap mereka tidak berani melakukan hal-hal gila lagi seperti tahun lalu. Semoga saja Borneo tetap aman dari apa pun itu," harapku dalam hati sembari menembus jalanan kota yang mulai berdebu.

Sayangnya, harapanku menguap begitu saja. Lima bulan berlalu setelah asap pertama itu terlihat, dan atmosfer Borneo benar-benar menunjukkan tanda-tanda sakit sakaratul maut.

Pagi yang seharusnya cerah berubah menjadi temaram yang mengerikan. Awan di atas kami bergulung-gulung dalam warna kuning pekat yang tidak alami, seolah-olah langit disiram cairan kimia beracun. Jarak pandang merosot tajam hingga kurang dari lima meter. Partikel abu halus menyelimuti dedaunan, atap rumah, dan jalanan. Bau sangit kayu terbakar menyengat hidung, menembus celah-celah masker medis yang kini tak lagi mampu menyaring racun di udara secara sempurna.

Aku menatap langit yang ganjil itu dari jendela kamar kos dengan dada sesak. "Apakah ini perbuatan pabrik itu lagi? Tapi kalau memang benar, mengapa pemerintah diam saja? Mengapa tidak ada tindakan tegas?" gumamku penuh kekecewaan.

Meskipun kondisi lingkungan sudah sangat tidak layak, belum ada instruksi resmi mengenai peliburan kegiatan atau lockdown. Karena aku masih memiliki kewajiban menghadiri ujian praktikum yang tidak bisa ditunda, aku terpaksa nekat berangkat menuju kampus.

Jalan raya pagi itu berubah menjadi panggung perjuangan bertahan hidup. Kendaraan merayap sangat pelan. Semua orang menyalakan lampu utama dan lampu hazard, berusaha sekuat tenaga agar tidak saling menabrak di tengah pekatnya kabut kuning. Tak sedikit pengendara sepeda motor yang memilih berhenti dan menepi di pinggir jalan; mata mereka merah, berair, dan napas mereka tersengal-sengal. Di mana-mana, suara batuk-batuk berat yang tidak biasa terdengar saling bersahutan di antara deru mesin kendaraan. Itu bukan batuk flu biasa, melainkan batuk kering yang dipicu oleh iritasi tajam partikel SO2 dan PM2.5 yang merusak saluran pernapasan.

"Untungnya selama ini masih belum ada kecelakaan fatal di jalur ini. Semoga tidak ada kecelakaan, ya Tuhan," doa itu terus kuulang di dalam hati sepanjang perjalanan yang terasa puluhan kali lebih lama dari biasanya.

Sesampainya di gedung fakultas, suasana tidak kalah mencekam. Ruang-ruang kelas remang-remang karena terhalang asap pekat dari luar. Dosen belum hadir, dan teman-teman sekelas berkumpul di pojok ruangan dengan wajah cemas. Diskusi kami hari ini tidak lagi membahas materi kuliah, melainkan bencana ekologi yang sedang mencekik tanah kelahiran kami.

"Ini makin parah, Sigha. Napas dada gue rasanya sakit banget dari tadi pagi," keluh Budi, teman sebangkuku, sambil memegangi dadanya.

Kami segera membuka laptop dan ponsel masing-masing, memantau satelit pemantau titik api (hotspot) serta membaca berbagai laporan independen yang beredar di internet. Setelah kurang lebih 20 menit menyisir berbagai platform data dan berita non-pemerintah, tabir kebenaran akhirnya terkuak.

Penyebab utama dari bencana udara ini adalah pembakaran lahan hutan secara masif dan terstruktur yang dilakukan oleh pihak pabrik yang baru beroperasi kembali tersebut. Mereka sengaja memilih metode pembakaran karena dianggap sebagai cara tercepat dan termurah untuk membersihkan lahan baru ratusan hektar. Yang makin menyayat hati, ada indikasi pembiaran dari pemangku kebijakan. Regulasi seolah tumpul, dan pemerintah setempat bersikap acuh tak acuh seakan-akan asap beracun ini hanyalah fenomena embun pagi biasa.

Dampak dari keserakahan ini mulai tak terkendali. Kabar buruknya, angin monsun yang berembus kencang membawa gumpalan asap tebal ini melintasi batas wilayah, menerjang negara-negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Borneo. Isu ini langsung memicu ketegangan diplomatik di tingkat regional. Lucunya—atau lebih tepatnya ironisnya—meskipun kualitas udara sudah berada di level membahayakan jiwa dan aktivitas masyarakat lumpuh total, pemerintah pusat masih enggan menetapkan fenomena ini sebagai Bencana Nasional.

Namun, di tengah kelambatan birokrasi domestik, solidaritas antarnegara justru hadir lebih cepat. Setelah fenomena asap ini ikut terbawa angin dan mencemari udara negara tetangga, mereka tidak hanya melayangkan protes resmi, tetapi juga bertindak nyata. Pemerintah negara tetangga dengan sigap mengirimkan armada bantuan udara, termasuk pesawat pemadam kebakaran armada udara (water bombing) dan ratusan personel pemadam kebakaran terlatih secara masif langsung ke wilayah Borneo.

Di darat, gerakan swadaya masyarakat mendadak bergelora. Mengetahui bantuan dari luar mulai berdatangan, para relawan lokal dari berbagai daerah di Borneo—termasuk para mahasiswa kesehatan seperti aku dan teman-temanku—bergerak bersama. Tanpa menunggu komando resmi yang tak kunjung tiba, para relawan turun ke titik-titik api paling kritis. Dengan peralatan seadanya seperti pompa air portabel, cangkul, basah-basahan kain, dan masker seadanya, mereka bahu-membahu menahan laju lidah api agar tidak melalap lebih banyak pemukiman dan kawasan konservasi.

Melihat perjuangan para relawan dan bantuan dari luar negeri yang terus berdatangan, ada bongkahan rasa haru sekaligus marak yang berbaur di dalam dadaku. Aku berdiri di depan pelataran kampus, memandang jauh ke arah helikopter pemadam yang melintas menembus pekatnya langit kuning.

Aku hanya bisa berdoa dan berharap agar bencana asap dan kebakaran lahan ini bisa segera dituntaskan sebelum memakan lebih banyak korban jiwa akibat ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Dari lubuk hati yang paling dalam, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada masyarakat dan pemerintah negara tetangga Borneo atas bantuan personel serta logistik yang telah disalurkan tanpa ragu.

Di sisi lain, nuraniku menuntut keadilan. Pabrik penjahat lingkungan dan korporasi di baliknya yang telah secara sengaja membakar lahan demi keuntungan semata harus segera diseret ke meja hijau dan dijatuhi hukuman terberat tanpa ampun. Lebih dari itu, pemerintah harus mau merefleksi dan mengevaluasi diri secara mendalam. Kebijakan yang melonggarkan pengawasan lingkungan harus dicabut, agar tragedy krisis atmosfer ini menjadi yang terakhir dan kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali di tanah Borneo tercinta.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi