Suara gemuruh mesin kapal feri membentur deretan tiang kayu tua di Pelabuhan Ketapang, menyuarakan ritme monoton yang sudah kuhafal luar kepala. Malam mini hangat, berbau garam, minyak diesel, dan aroma kopi hitam yang mengepul dari cangkir seng di hadapanku.
Di seberang meja kayu yang goyah, Rendy sibuk meniup kopi panasnya. Jaket levis lusuhnya melindunginya dari angin malam Selat Bali. Wajahnya yang tebal oleh jelaga bengkel kapal tidak sedikit pun mengurangi binar ramah di matanya—binar yang sama seperti sepuluh tahun lalu, saat kami masih seragam putih-biru dan suka memanjat pohon mangga tetangga.
"Kamu makin tinggi saja, Maya," kekeh Rendy, memecah kecanggungan yang sempat menggantung. "Atau mungkin sepatumu yang makin tebal tumitnya?"
Aku tersenyum tipis, merapikan rok span hitam yang terasa agak terlalu ketat setelah penerbangan enam jam dari Jayapura. "Standar maskapai, Ren. Kalau pendek, nanti tidak sampai menjangkau bagasi kabin."
"Ah, iya. Pramugari kelas satu," bisiknya pelan, bukan dengan nada menyindir, melainkan nada kagum yang tulus. Dan entah mengapa, justru kebaikan polos itu yang membuat dadaku terasa agak sesak.
Aku mengambil cuti tiga hari dari penerbangan rutin Jakarta–Jayapura–Bali. Secara teknis, ini pulang kampung. Namun secara emosional, ini adalah pelarian. Ketika teman-teman sesama cabin crew memilih menghabiskan hari libur di kafe-kafe estetis Canggu atau pusat perbelanjaan di Jakarta, aku justru memesan tiket kereta malam menuju Banyuwangi, menemuinya di dermaga tua ini.
"Bagaimana Jakarta?" tanya Rendy lagi. Tangannya yang kasar mengambil sebatang rokok, lalu mengurungkan niat untuk menyalakannya begitu ingat aku paling tidak suka asap rokok. Sebuah perhatian kecil yang tak pernah lupa ia lakukan.
"Padat. Berisik. Semua orang seperti dikejar sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apa," jawabku jujur, menyeruput kopi hitam pahit tanpa gula—kebiasaan baru yang kutiru dari kapten penerbangan senior. "Beda sekali dengan di sini."
"Di sini ya begini-begini saja," Rendy terkekeh pendek sambil menatap hamparan laut gelap yang memantulkan cahaya lampu-lampu kapal. "Kapal datang, kapal berangkat. Aku mengganti oli mesin, menambal lambung kapal yang keropos, lalu pulang ke rumah Ibu. Siklus yang membosankan kalau dibanding jalan-jalan ke luar negeri seperti kamu."
"Jangan bilang begitu, Ren," potongku cepat. Ada nada tajam dalam suaraku yang membuat Rendy sedikit terkejut. "Kamu tidak tahu rasanya tidur di tiga kota berbeda dalam seminggu, tapi tidak merasa memiliki satu pun dari kota-kota itu."
Rendy diam. Ia menatap cangkir kopinya, memutar-mutarnya perlahan.
Dulu, kami punya mimpi yang berlawanan. Aku, anak seorang nelayan miskin di pesisir, selalu menatap langit malam dan bercita-cita terbang menembus awan. Aku benci bau amis laut dan kemiskinan yang seolah melekat di dinding rumah bambu kami. Aku ingin pergi serauh mungkin.
Sebaliknya, Rendy adalah anak seorang kapten kapal motor. Dia cerdas, selalu juara kelas, dan punya kesempatan besar masuk universitas ternama di Surabaya. Namun, di hari kelulusan SMA, ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan di laut. Sejak hari itu, Rendy mengubur semua brosur pendaftaran kuliahnya. Ia memutuskan tetap tinggal, merawat ibunya yang sakit-sakitan, dan meneruskan bengkel kecil milik almarhum ayahnya di dermaga.
Aku terbang mengejar awan. Dia berlabuh menjaga daratan.
"Kamu tahu, Maya?" suara Rendy terdengar tenang, berpadu dengan ketukan ombak di bawah dermaga. "Sering kali aku melihat pesawat melintas di atas selat ini saat malam hari. Lampunya kedap-kedip merah dan hijau. Setiap kali melihatnya, aku selalu berbisik dalam hati, 'Mungkin itu pesawatnya Maya.'"
Tenggorokanku mendadak terasa kering. "Lalu?"
"Lalu aku merasa bangga. Setidaknya, dari kampung kecil kita yang sepi ini, ada satu orang yang berhasil meloloskan diri dan melihat betapa luasnya dunia."
Aku menunduk, menatap jemariku yang terawat rapi dengan kuteks merah pudar. Di balik seragam elegan, senyum ramah buatan, dan foto-foto indah di media sosial, tidak ada yang tahu betapa seringnya aku menangis di kamar hotel yang dingin. Tidak ada yang tahu betapa sepinya berdiri di antara ribuan asing di bandara transit, merindukan aroma tanah basah Banyuwangi dan gelak tawa sederhana di warung kopi ini.
"Aku tidak sebahagia yang kamu bayangkan, Ren," aku akhirnya mengaku. Kata-kata itu meluncur begitu saja, merubuhkan dinding kesombongan yang bertahun-tahun kupasang. "Kadang aku merasa, aku mengorbankan segalanya hanya untuk menjadi asing di mana-mana."
Rendy tersenyum lembut. Senyum yang sama yang selalu ia berikan saat aku menangis karena diejek teman-teman SD dulu.
"Maya, hidup itu seperti menyeberang selat ini," katamu santai. "Ada orang yang memang ditakdirkan menjadi kapal feri—bolak-balik di rute yang sama, memastikan orang-orang sampai ke tujuan dengan selamat. Tapi ada juga orang yang ditakdirkan jadi burung camar, terbang tinggi melintasi batas, mencari tempat-tempat baru."
"Tapi burung camar pun butuh daratan untuk hinggap, Ren," batinku gundah, meski kata-kata itu hanya bergema di dalam kepala.
"Kamu tidak mengorbankan apa pun, Maya," lanjut Rendy, seolah bisa membaca pikiranku. "Kamu hanya sedang membayar harga dari sebuah impian. Dan itu wajar. Jangan merasa bersalah karena kamu melangkah jauh, sementara aku memilih diam di sini. Pilihan kita berdua sama-sama berharga."
Hening kembali merayap, namun kali ini terasa hangat. Angin laut berembus agak kencang, membawa aroma asin yang kini tak lagi kubenci. Di kejauhan, lampu-lampu Pulau Bali tampak bagai deretan permata yang terapung di atas kegelapan.
Kami menghabiskan dua jam berikutnya tanpa membicarakan masa depan atau penyesalan. Kami hanya mengenang hal-hal konyol dari masa lalu: tentang sepeda ontel Rendy yang rantainya putus saat memboncengkanku, tentang es lilin rasa kacang hijau yang mencair sebelum sempat dimakan, dan tentang janji-janji anak belasan tahun yang separuhnya telah dilupakan zaman.
Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, penerangan dermaga mulai meredup. Rendy berdiri, mengibaskan debu dari celana jeansnya.
"Ayo, kukantarkan pulang. Ibu pasti sudah menunggu. Beliau memasak tahu petis kesukaanmu tadi sore."
Aku mengangguk, ikut berdiri. Saat melangkah keluar dari kedai kopi kayu itu, aku menatap langit malam yang bersih. Tak ada awan. Di atas sana, sebuah titik cahaya melintas perlahan—sebuah pesawat terbang yang menuju ke timur.
Dulu aku selalu membayangkan diriku berada di dalam pesawat itu, menatap ke bawah. Tapi malam ini, berdiri di samping kawan lamaku dengan pijakan kayu dermaga yang kokoh di bawah kaki, aku sadar satu hal: terbang tinggi itu memang luar biasa, tapi tahu ke mana harus kembali adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai.
"Ren," panggilku saat ia menyalakan mesin sepeda motor tuanya.
"Ya?" Rendy menoleh.
"Terima kasih. Karena selalu ada di sini."
Rendy tertawa kecil, suara mesin motornya meraung pelan di sepi malam. "Sudah tugas pelabuhan untuk selalu ada, Maya. Untuk menyambut kapal atau burung yang kelelahan."
Aku tersenyum, lalu naik ke boncengan motornya. Di bawah naungan langit Banyuwangi yang tenang, kami menyusuri jalanan pesisir yang sepi, meninggalkan gemuruh laut dan kedai kopi tua itu—sebuah tempat kecil di mana waktu seolah berhenti, hanya untuk membiarkan dua sahabat saling menyembuhkan.