Disukai
0
Dilihat
5
Toko Penjual Waktu Luang
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Layar ponsel Rian menyala untuk ke-empat puluh kalinya malam itu. Notifikasi grup WhatsApp kantor beruntun seperti rentetan peluru.

"Rian, revisi laporan kuartal tiga harus masuk meja saya sebelum jam tujuh pagi besok," suara notifikasi itu seolah menjelma menjadi teriakan atasannya.

Rian menyeka keringat dingin di dahi. Ia berdiri di tengah gang sempit yang diapit gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Napasnya tersengal. Di depannya, sebuah papan kayu tua berayun tertiup angin malam, bertuliskan: Toko Penjual Waktu Luang.

"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."

Rian tersentak. Suara itu berat dan serak, berasal dari balik pintu kaca buram. Dengan ragu, ia mendorong pintu itu. Bunyi lonceng kecil berdenting. Bau aromaterapi cendana bercampur dengan aroma kertas tua menyeruak.

"Maaf, saya... saya cuma lewat," gumam Rian, hendak berbalik.

"Kamu tidak cuma lewat. Kamu sedang ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi