Disukai
0
Dilihat
20
Di Antara Deras Hujan dan Secangkir Harapan
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan turun menderas sore itu, menghantam atap seng tua di sudut kota dengan irama yang riuh namun entah mengapa terdengar menenangkan. Di balik kaca jendela sebuah kedai kopi bergaya vintage bernama "Kala", Senja duduk termenung. Jari-jarinya yang ramping sesekali mengetuk pelan cangkir keramik putih berisi cappuccino yang buihnya mulai menipis, membiarkan uap panasnya menguar tipis ke udara yang dingin. Kedai itu tidak terlalu ramai, hanya ada alunan musik jazz instrumen yang mengalun lirih dari piringan hitam di sudut ruangan, berpadu dengan wangi biji kopi yang baru saja digiling kasar.

Senja menarik napas panjang, mencoba mengusir gemuruh di dadanya yang terasa lebih riuh daripada hujan di luar sana. Matanya terpaku pada rintik air yang meluncur deras di balik kaca jendela yang mulai mengembun. Ia menggambar sebuah garis abstrak di kaca itu, lalu menghapusnya lagi. Hari ini adalah hari yang telah ia tunggu selama empat tahun lamanya, sekaligus hari yang paling ia takuti. Langit, sahabat masa kecilnya, cinta pertama yang tak pernah sempat ia utarakan, telah kembali dari London. Dan sore ini, pria itu berjanji untuk menemuinya di kedai ini—tempat di mana mereka dulu sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membicarakan mimpi-mimpi yang terasa mustahil.

Lonceng kecil di atas pintu kayu kedai berdenting nyaring, memecah lamunan Senja. Sesosok pria jangkung melangkah masuk, membawa serta aroma petrichor—wangi tanah yang terguyur hujan—yang menyeruak dari mantel tebalnya yang sedikit basah. Pria itu menyeka rambutnya yang ikal berantakan, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kedai, dan matanya langsung terpaku pada satu titik. Pada Senja.

Senja merasa napasnya tertahan. Waktu seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Langit tidak banyak berubah. Sorot matanya masih seteduh senja hari, senyumnya masih sehangat kopi di pagi yang dingin, hanya saja rahangnya kini terlihat lebih tegas dan postur tubuhnya lebih tegap. Pria itu melangkah mendekat, dan setiap langkahnya terasa seperti dentuman drum di telinga Senja.

"Hai, Senja," sapa Langit. Suaranya sedikit lebih berat dari yang Senja ingat, bariton yang menggetarkan udara di sekitarnya.

Senja tersenyum, berusaha keras menutupi kegugupannya dengan menyibakkan sehelai rambut yang jatuh ke wajahnya. "Hai, Langit. Silakan duduk. Mantelmu basah sekali."

Langit tertawa kecil, melepaskan mantelnya dan menyampirkannya di sandaran kursi kayu jati sebelum duduk berhadapan dengan Senja. "London memang sering hujan, tapi entah kenapa hujan di kota ini selalu terasa berbeda. Mungkin karena rasanya seperti... pulang."

Mata Langit menatap tepat ke manik mata Senja, membuat wanita itu harus buru-buru mengalihkan pandangannya ke cangkir kopinya. Jantungnya berdegup tak karuan.

"Bagaimana penerbanganmu? Jetlag?" tanya Senja, mencoba mencari topik pembicaraan yang aman agar suaranya tidak terdengar bergetar.

"Cukup melelahkan," jawab Langit, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Tapi begitu mendarat, rasa lelah itu hilang. Apalagi saat tahu aku akan segera menemuimu."

Senja merasakan pipinya merona. Ia merutuki dirinya sendiri yang masih saja lemah terhadap setiap kata-kata manis Langit. Empat tahun terpisah jarak ribuan kilometer dan perbedaan zona waktu rupanya tidak cukup untuk membunuh perasaan yang telah mengakar kuat di hatinya sejak masa SMA. Selama ini, mereka tetap berkomunikasi melalui pesan singkat atau panggilan video yang tak menentu jadwalnya. Senja selalu mendengarkan cerita Langit tentang arsitektur kuno Eropa, tentang teman-teman barunya, dan tentang mimpi-mimpinya. Namun, tak sekalipun Langit menyinggung soal wanita lain, dan tak sekalipun Senja berani bertanya.

Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Tanpa perlu melihat buku menu, Langit langsung memesan.

"Satu V60 dengan biji kopi Gayo, tidak pakai gula, dan sepotong cheesecake blueberry, tolong," pesan Langit dengan lancar.

Pelayan itu mengangguk dan berlalu. Senja menatap Langit dengan alis bertaut. "Cheesecake blueberry? Sejak kapan kamu suka makanan manis? Bukannya kamu penganut sekte kopi hitam tanpa kompromi?"

Langit tersenyum misterius, menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil terus menatap Senja. "Itu untukmu. Kamu selalu memesan cheesecake blueberry setiap kali di luar sedang hujan deras. Kamu bilang, perpaduan manis, asam, dan kopi yang pahit adalah cara terbaik menyeimbangkan suasana hati saat langit mendung."

Senja terdiam. Matanya sedikit berkaca-kaca. Hal-hal kecil seperti inilah yang membuat Senja jatuh cinta sedalam-dalamnya pada pria di hadapannya ini. Langit selalu mengingat detail terkecil tentang dirinya, detail yang bahkan kadang Senja lupakan sendiri.

"Kamu masih ingat," bisik Senja pelan, hampir tertelan suara gemuruh hujan.

"Aku mengingat semua tentangmu, Nja," balas Langit, suaranya kini berubah lebih lembut, kehilangan nada bercanda yang biasanya selalu menghiasi percakapan mereka. "Tidak ada satu pun hal tentangmu yang pernah aku lupakan, meski aku berada separuh dunia jauhnya."

Suasana di antara mereka tiba-tiba berubah. Hening menyelimuti meja sudut itu, kontras dengan keriuhan rintik air di luar. Senja menunduk, memainkan ujung lengannya. Ia ingin mempercayai kata-kata itu sebagai sesuatu yang lebih, tetapi rasa takut kehilangan seorang sahabat selalu menjadi dinding penghalang yang terlalu tinggi untuk ia panjat.

"Empat tahun itu waktu yang lama, Langit," ujar Senja memecah keheningan, suaranya sedikit bergetar. "Aku pikir... aku pikir kamu akan menemukan seseorang di sana. Seseorang yang lebih mengerti duniamu sekarang."

Pesanan mereka tiba. Pelayan meletakkan kopi dan kue di atas meja, lalu pergi dengan cepat. Langit tidak langsung menyentuh kopinya. Ia menghela napas panjang, membiarkan keheningan mengambang sesaat, sebelum akhirnya ia memajukan tubuhnya, menipiskan jarak di antara mereka.

"Banyak hal luar biasa di London, Senja," mulai Langit perlahan. Matanya menyiratkan kesungguhan yang membuat dada Senja sesak. "Bangunan bersejarah yang megah, jalanan berbatu yang romantis, galeri seni yang tak pernah sepi. Tapi, setiap kali aku berdiri di jembatan Tower Bridge, melihat senja turun perlahan menyapu kota, satu-satunya hal yang aku pikirkan adalah kamu."

Senja menelan ludah, tidak berani menyela.

"Aku menyadari bahwa pemandangan terindah di dunia pun terasa hampa kalau aku tidak bisa membaginya denganmu," lanjut Langit. Pria itu kemudian merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah benda kecil. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di samping cangkir cappuccino Senja.

Senja menatap benda itu dengan dahi berkerut. Itu adalah sebuah jepit rambut sederhana berbentuk daun maple kecil berbahan kuningan yang sudah terlihat agak kusam. Mata Senja membelalak saat ingatan masa lalu menghantamnya. Itu adalah jepit rambutnya yang hilang saat acara perpisahan SMA tujuh tahun yang lalu, tepat di hari hujan yang sama seperti hari ini.

"Bagaimana bisa...?" Senja kehabisan kata-kata.

"Kamu menjatuhkannya saat kita berlari berteduh di halte bus hari itu," jelas Langit dengan senyum lembut. "Aku menyimpannya. Awalnya aku ingin mengembalikannya keesokan harinya, tapi entah kenapa, aku merasa ini seperti jimat keberuntunganku. Jimat yang membuatku merasa kamu selalu ada di dekatku, bahkan saat aku sedang berjuang sendirian di negeri orang."

Air mata yang sejak tadi ditahan Senja akhirnya jatuh juga, menetes di pipinya. Ia menyentuh jepit rambut itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Selama ini, ia mengira dirinya berjuang sendirian dengan perasaan sepihak yang menyiksa. Ia mengira cintanya hanyalah angin lalu bagi seorang Langit yang memiliki dunia yang begitu luas.

"Senja..." Langit mengulurkan tangannya di atas meja, ragu-ragu sesaat, sebelum akhirnya menggenggam tangan Senja yang terasa dingin. Genggaman pria itu begitu hangat, menekan segala keraguan yang ada.

"Aku pulang bukan hanya karena beasiswaku selesai," ucap Langit, matanya mengunci pandangan Senja dalam-dalam. "Aku pulang karena aku tidak sanggup lagi berlari dari perasaanku sendiri. Aku pulang untukmu."

Senja terisak kecil, ia membalas genggaman tangan Langit tak kalah eratnya. Hatinya yang selama empat tahun ini membeku oleh kerinduan dan ketidakpastian, seketika mencair, dilingkupi kehangatan yang tak terlukiskan.

"Kamu membuatku menunggu terlalu lama, bodoh," rutuk Senja sambil tertawa di sela-sela tangisnya. Ia tidak peduli jika beberapa pengunjung kedai menoleh ke arah mereka. Ia hanya peduli pada pria di hadapannya.

Langit tertawa lega, beban berton-ton yang selama ini menekan dadanya lenyap seketika. Ia mengusap air mata di pipi Senja dengan ibu jarinya secara perlahan dan penuh kasih sayang.

"Maafkan aku," bisik Langit tulus. "Aku janji, mulai hari ini, aku tidak akan membuatmu menunggu lagi. Tidak akan pernah ada lagi jarak yang memisahkan kita. Hanya ada aku, kamu, dan waktu yang akan kita jalani bersama."

Di luar sana, hujan perlahan mulai mereda, menyisakan rintik-rintik halus yang menenangkan. Langit di ufuk barat mulai menampakkan semburat jingga kemerahan yang indah, menembus awan kelabu. Di dalam kedai "Kala", aroma kopi terasa jauh lebih manis, dan alunan musik jazz terdengar seperti lagu cinta yang diciptakan khusus untuk mereka.

Senja tersenyum menatap mata pria yang kini bukan lagi sekadar sahabatnya, melainkan masa depannya. Dalam genggaman tangan yang erat itu, mereka berdua tahu bahwa penantian panjang, jarak yang membentang, dan semua keraguan kini telah terbayar lunas. Cinta yang lama terpendam itu pada akhirnya menemukan jalannya pulang, bermekar di waktu yang paling tepat.

Dan sore itu, diiringi sisa hujan dan secangkir kopi yang mulai mendingin, sebuah kisah baru baru saja dimulai. Kisah dengan akhir yang jauh lebih bahagia dari yang pernah mereka impikan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi