Dosa dari Surga

21 Oktober 2018

Langkah kaki berdentum memenuhi segala arah. Aku sudah berkata padanya untuk tidak datang. Kemarin, aku sudah berkali-kali mengucapkan itu. Dia hanya menggeram memelototiku, tak gusar. Perangainya sudah seperti singa yang siap menerkam. Tubuhku takut di depannya. Mulutku komat-kamit tak bisa diam.

Nyatanya aku hampir menyerah. Dia memberikan pilihan, aku harus mengakhiri diri sendiri atau memilih hidup yang akan menyiksa diriku dalam bayang gelap. 15 tahun silam, aku sudah membunuh belasan gadis desa. Aku menjelma menjadi dukun dan membodohi banyak perempuan polos yang datang padaku meminta bantuan.

Aku mengenal surga sebentar, kadang bagiku sudah cukup merasakan surga di dunia ini. Lantas, aku hidup dibalik jeruji menunggu tanggal hukuman kematian. Nyatanya, telah berlalu tetapi dia tetap saja datang memberikan pilihan.

Aku kocar-kacir. Mataku terbelalak diantara kenyataan. Perlahan, matahari lenyap tertelan pekatnya kegelapan. Mentari enggan datang padahal sudah aku undang. Aku berlari, padahal dosa sudah ku tanggung sendiri. Tetapi tetap saja menggelayuti. Inikah kejahatan dari sebuah penyesalan ?

“Setiap manusia harus menanggung dosa dari perbuatannya.”

Sesosok lelaki tinggi besar dengan jubah putih yang selalu hadir dalam mimpiku, walau sudah aku usir. Dia menakutiku tiap malam, aku merasa hidup dalam guncangan. Jika saja waktu dapat mengulang. Agh, aku menggeram.

 “Siapa kamu?” aku menggigil setengah ketakutan

“Namaku penyesalan, yang selalu berdiam diri dalam rasamu selama ini.”

Aku terbangun dan terhentak.

“Mahesa, ingat nak, jadi anak yang baik, rajin ke mesjid, turuti perintah Tuhan, jangan jadi manusia pembangkang.”

Ucapan Emak saat aku masih kecil terngiang-ngiang. Aku tutup mataku tak kuat menahan perasaan. Samar-samar ku gapai tangan Emak dalam kerinduan. Cinta Emak begitu besar padaku semenjak kecil, karena akulah tumpuan harapan.

20 November, 1987

Rumah gubuk kami bergetar, hampir roboh. Bapak melempar benda-benda yang keseluruhannya telah usang. Dilempar sesuka hati sembari berteriak memaki kami. Bapak mengeluhkan kehidupan yang berlarut dalam kesengsaraan. Batinku berteriak, ini disebabkan Bapak yang selalu bermain judi dan perempuan. Bukan karena Emak atau aku.

Usiaku masih 7 tahun, aku mampu merekam keadaan. Peristiwa itu masih merekat betul dalam ingatanku. Emak hanya menangis sejadi-jadinya saat Bapak secara terang-terangan akan minggat dan akan menikah lagi.

Saat itulah, aku mencintai Emak dengan teramat besar. Sejak kejadian itu, aku selalu menjadi anak yang baik dan membantu Emak berjualan sayuran. Pulang sekolah, aku selalu membantunya untuk bercocok tanaman. Sering, Emak di percaya untuk mengurus domba-domba petani kaya dan kami dihadiahi anak domba.

Hatiku kembali bergetar. Lima tahun lalu Emak meninggal. Aku frustasi dan berlaku gila. Penyesalan tidak berbuah apapun selain kesengsaraan. Batinku menangis, suara Emak terus mendengung dibalik jeruji besi. Hati kecilku selalu menyalahkan Bapak. Emak menagih janjiku untuk menjadi anak baik. Rasanya, aku ingin hidup sekali lagi!

Selesai

 

 

 

18 disukai 5 komentar 3.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Aku tak pusing sih soal salah eja, akupun sering , tapi suka yg puitis gitu.
Sprt biasa
Diksi serta makna yg dlm
Sekalipun ada beberapa kesalahan ejaan, aku masih dapat pesan ceritanya. Nice ...
Membuat merenung. Nice, Kak. Suka dr isi sampe diksinya.
Saran Flash Fiction