Andini

Pukul sembilan malam, setelah mukena dan sajadah terlipat rapi dan ayat-ayat cinta selesai dilantunkan. Andini segera bersiap untuk bekerja. Dengan pakaian serba minim bahan serta sepatu hak tinggi yang sama-sama berwarna merah, ia meninggalkan kamar kostnya. Menuju ke tempat biasanya mangkal. Untuk menawarkan jasa ke surga dunia bagi yang membutuhkan—kaum adam.

Andini yang telah berada di tempat biasanya mangkal. Di bawah lampu kota, dekat perempatan, dan tepat di depan toko kecil yang khusus menjual rokok. Terlihat sedang asyik menikmati sebatang rokok mild sambil menunggu calon pelanggan datang.

Setengah jam telah berlalu dan sebatang rokok telah habis. Belum ada satu pun calon pelanggan yang datang menghampiri. Hingga membuat Andini mulai gusar.

Namun, ketika hendak kembali menyalakan rokok. Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna putih datang mendekat dan berhenti tepat di depan Andini. Lalu saat kaca depan mobil terbuka, tampaklah sesosok pria paruh baya yang berpakaian sangat rapi. Dengan setelan jas berwarna gelap. Andini pun mendekat dan menyapa pria itu dengan sangat ramah serta nada bicara yang menggoda.

Setelah terjadi transaksi yang disepakati berdua. Andini pun segera masuk ke mobil untuk menuju ke sebuah villa yang berada di pinggiran kota. Namun, baru berjalan beberapa meter. Tiba-tiba mobil berhenti di suatu tempat yang sepi serta gelap.

Tidak lama kemudian, dari balik kegelapan datang dua orang pria berbadan besar yang langsung masuk ke mobil. Tentu hal itu membuat Andini kaget serta ketakutan. Lalu cepat-cepat ingin keluar. Namun, sebelum sempat membuka pintu. Kepala Andini sudah lebih dulu dipukul dengan tonfa hingga pingsan dan berdarah.

Dan setelah Andini sudah tidak berdaya. Mereka pun mulai melakukan pelecehan serta kekerasan seksual secara bergantian. Hingga menyebabkan alat kelamin Andini mengeluarkan darah segar. Serta di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka memar yang parah.

Begitu ketiga pria itu telah puas melampiaskan hasratnya. Mereka pun membuang Andini keluar dari mobil saat sedang melaju. Sehingga tubuh Andini berguling-guling sebelum terjerembab di dekat parit.

Setelah cukup lama tak sadarkan diri. Akhirnya Andini kembali siuman. Namun, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Karena sudah mati rasa. Hanya bisa mendengar suara aliran air yang berada di sisi kanannya.

Dan dalam keadaan seperti itu. Saat ia merasa ajalnya telah mendekat. Andini mulai mengucapkan dua kalimat syahadat. Walau lidah terasa kelu, ia tetap berusaha. Namun, hanya sebagian saja yang mampu Andini lafazkan. Karena napasnya telah lebih dahulu terputus.

11 disukai 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction