Doa yang Menggugat

Sejak Eka dilahirkan sebagai anak tunggal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Hidupnya mulai merasakan sesuatu yang membuat dirinya selalu kalah oleh orang lain. Walau hal tersebut belum terlalu ia rasakan dan disadari. Karena semua masih bergantung kepada kedua orang tuanya.

Semua itu perlahan-lahan mulai terasa saat ia duduk di bangku SLTP. Saat di mana teman-temannya telah memiliki ponsel, sedangkan ia tidak. Bujuk rayu kepada orang tua sudah Eka lancarkan. Tetap tidak berhasil. Alasan mereka cukup klasik.

"Belum ada duitnya."

Kalau sudah begitu, Eka cuma merungut dan ngambek. Tapi, hal itu tidak berarti apa-apa di hadapan orang tuanya. Karena memang kondisinya seperti itu. Tidak ada uang lebih untuk membeli ponsel.

Memang keinginannya itu perlahan-lahan memudar seiring waktu. Walau rasa iri pada teman-temannya tetap ada. Apalagi ia cukup sering diejek karena tidak memiliki ponsel. Hingga dijauhi oleh mereka.

Lalu saat Eka duduk di bangku SLTA. Hal itu terulang lagi. Saat banyak teman-temannya bawa motor sendiri untuk bersekolah. Sedangkan ia cukup puas naik angkutan umum. Walau tidak sedikit yang senasib seperti dirinya.

Eka juga pernah berusaha meminta dibelikan motor kepada orang tuanya. Tapi, tetap sama saja seperti saat meminta ponsel. Ditolak mentah-mentah dengan alasan klasik. Cuma ada sedikit tambahan kata bijak dari mereka.

"Yang penting kamu tetap bisa sekolah. Itu yang utama Eka. Sekolahlah yang rajin biar kelak kamu bisa memenuhi apa yang jadi kemauanmu sendiri."

Kali ini Eka bisa menerimanya. Malah ia punya tekad untuk rajin belajar, biar kelak jadi orang sukses dan kaya. Namun, tekadnya itu cuma menjadi ampas saja. Karena saat baru lulus sekolah. Ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarga harus pergi untuk selama-lamanya—meninggal.

Sudah pasti Eka sedih. Apalagi kini ibunya sakit-sakitan, yang membuat dirinya harus bekerja sebagai kuli bangunan kasar. Untuk sekedar bertahan hidup dan mengobati sang ibu. Sungguh hal itu menghempaskan tekadnya. Karena apa yang menjadi keinginannya selama ini cuma menjadi mimpi semata yang tidak pernah terwujud.

Apalagi saat sakit ibunya makin parah dan butuh biaya banyak. Di mana ia tidak memiliki uang lebih untuk memberikan pengobatan yang semestinya. Jangankan ke rumah sakit, sekedar menebus resep obat saja Eka harus pontang-panting dulu untuk bisa membeli obat.

Hebatnya lagi, tidak ada tetangga yang peduli sama keadaan keluarga Eka. Bantuan pemerintah pun tak menyentuhnya. Itulah kenyataan yang harus dihadapi Eka yang pada akhirnya, sang ibu ikut menyusul kepergian ayahnya.

Saat itulah, di pusara kedua orang tuanya. Eka berdoa, bukan. Lebih tepatnya menggugat. Ia menggugat atas nasib serta keadaan yang menimpanya saat ini. Kalah oleh musuh yang baru ia sadari—uang.

Musuh yang merenggut ibunya, musuh yang merenggut semua mimpinya. Musuh yang membuat ia tak dipandang oleh orang lain.

"Tuhanku, inikah jalan nasib yang engkau berikan? Kenapa engkau lakukan ini padaku? Bukankah ibadahku tak pernah berkurang selama ini? Aku pun tak meragukan kuasaMu. Tapi, kenapa engkau memberikan cobaan seperti ini padaku? Tuhan, kenapa engkau diam saja selama ini? Apa memang engkau ada? Atau hanya sebuah nama yang tak berwujud."

Doa yang dipanjatkan Eka seiring derai air mata yang membasahi pusara kedua orang tuanya. Bersama darah yang mengalir dari urat nadi yang terputus.

2 disukai 913 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction