Sore Itu di Depan Gang Kecil
Gerimis tipis yang turun sejak pukul empat sore tadi menyisakan aroma aspal basah yang khas, aroma bagi Aris yang selalu menggugah rasa rindu sekaligus kecemasan. Ia menarik kepala retlesting ke atas, menutup jaket denimnya. Udara mulai terasa lembap. Dingin mulai terasa.
Di bawah lampu jalan yang belum sepenuhnya menyala terang karena hari baru beranjak remang, Aris berdiri. Sudah hampir dua jam ia mematung di sana, tepat di depan sebuah gang kecil yang menjadi saksi bisu perjalanan cintanya selama empat tahun terakhir.
Gang itu sempit, padat, hanya cukup dilewati oleh dua sepeda motor yang berpapasan hati-hati. Di kanan kirinya berdiri dinding-dinding rumah kontrakan yang rapat, beberapa bagiannya sudah berlumut karena lembap. Namun bagi Aris, gang kecil itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Di ujung gang itulah, di sebuah rumah kos sederhana berpagar hijau, Kirana tinggal.
Aris menatap layar ponselnya. Pukul 17.45, panggilan teleponnya sejak siang hanya membuahkan suara monoton operator dengan kata-kata yang sudah dihapalnya yang menyatakan nomor tersebut sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Rasa hangat yang biasanya menggebu setiap kali ia bersiap menemui Kirana, perlahan mulai digantikan oleh rasa dingin yang bukan berasal dari tetesan sisa gerimis.
Nanti aku tunggu di depan gang ya seperti biasa.
Sebaris pesan telah dikirimnya sejak pukul satu siang tadi. Pesan itu hanya bersorot centang satu, itu tandanya pesan itu belum terkirim. Entah ponsel Kirana yang belum dinyalakan atau nomornya yang memang tidak ingin diaktifkan.
Aris menghela napas panjang, mengembuskan uap tipis dari mulutnya. Di dalam saku jaket denimnya, jemarinya meraba sebuah kotak beludru kecil berwarna merah marun. Digenggamnya erat-erat kotak itu. Di dalamnya melingkar sebuah cincin emas putih dengan permata kecil di tengahnya. Cincin yang ia beli dengan menyisihkan sebagian uang gajinya sebagai desainer grafis lepas selama enam bulan terakhir. Hari ini, di hari ulang tahun Kirana yang ke-25, Aris berniat melamarnya. Ia ingin membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, menyudahi rutinitas menunggu di depan gang ini dan menggantinya dengan ruang tamu di rumah sederhana yang akan mereka miliki kelak.
Sambil menunggu, ingatan Aris berputar kembali ke masa-masa awal mereka menjalin hubungan kekasih. Empat tahun lalu, di tempat yang persis sama, ia pertama kali mengantar Kirana pulang setelah terjebak hujan badai di halte bus dekat kampus. Saat itu, Kirana yang masih menjadi mahasiswi tingkat akhir tampak begitu rapuh, berdiri sendirian, kebingungan menunggu bus yang belum datang. Raut wajahnya nampak ketakutan.
Berbekal rasa kemanusiaan yang tinggi dan hanya berniat menolong, Aris menawarkan diri mengantarkannya pulang.
"Sampai di sini saja, Mas. Jalannya sempit, motor susah masuk," kata Kirana waktu itu tersenyum manis sambil mengembalikan helm pinjaman. Bukan gang saja yang jadi alasannya, tapi gadis itu tak mau jadi bahan gosip orang-orang di seoanjang gang kecil ini.
Gang kecil itu memang penuh dengan hunian padat rumah-rumah sederhana. Gang kecil berkelok dan buntu itu seakan tak tersentuh megahnya kemajuan ibukota. Kontras pemandangannya dengan gedung-gedung lencakar langit yang terlihat sombong dari gang ini.
Sejak hari itu, depan gang kecil ini menjadi saksi resmi pertemuan mereka. Tempat Aris menjemput Kirana untuk berkencan murah meriah di kedai angkringan. Tempat Aris mengantarkan sebungkus nasi goreng saat Kirana begadang mengerjakan skripsi. Dan tempat mereka berlama-lama mengobrol di atas motor, enggan berpisah seolah malam tak punya cukup jam untuk menampung rindu mereka.
Namun, beberapa bulan terakhir ini, Aris merasakan ada sesuatu yang bergeser. Jarak yang tercipta bukan lagi soal kilometer, melainkan sebuah dinding transparan yang dingin. Kirana mulai sering membatalkan janji dengan alasan sibuk di kantor barunya, sebuah perusahaan properti besar di pusat kota. Kirana yang dulu ceria dan menerima Aris apa adanya, perlahan mulai sering mengeluhkan kemacetan Jakarta, lelahnya naik transportasi umum, panasnya duduk di jok belakang motor Aris, wajahnya yang sering terpapar debu dan polusi, dan impian-impian tentang kehidupan yang lebih mapan yang sering ia ceritakan dengan mata berbinar, namun terasa menjauh dari jangkauan Aris. Perlahan gadis itu berubah, Aris menyadarinya.
"Aris, temanku di kantor baru saja beli apartemen di Kemang," ujar Kirana suatu kali saat mereka makan malam di sebuah warung tenda. Matanya menatap layar ponsel, memperlihatkan foto interior bangunan mewah.
"Bagus ya, Ran. Semoga nanti kita juga bisa punya tempat sendiri. Pelan-pelan, ya," jawab Aris tulus, sambil menghapus sisa sambal di ujung bibir Kirana dengan tisu.
Kirana hanya menunduk dan tersenyum tipis saat itu. Senyuman yang hari ini, di depan gang kecil ini, baru disadari Aris sebagai senyuman perpisahan yang tertunda.
Langit malam mulai memayungi sepenuhnya, udara lembab semakin melandai. Angin berembus lebih kencang, menggoyang dedaunan tanaman-tanaman di dalam pot di sudut gang. Penjual martabak di seberang jalan sudah menyalakan lampu neonnya yang terang, menyebarkan aroma mentega gurih yang biasanya menggugah selera Aris. Namun malam ini, ia tak nampak tergoda sama sekali. Matanya kosong menatap penjual martabak tengah menyiapkan dagangannya. Justeru perutya terasa diaduk-aduk oleh kecemasan.
Pukul 18.30, Aris kembali memeriksa ponselnya. Masih sama. Kosong. Pesannya masih belum terkirim, masih centang satu. Ponselnya juga belum dinyalain. Aris berusaha sabar menahan kegelisahan tak berujung.
Beberapa warga gang yang mengenalnya mulai lewat. Pak Joko, ketua RT setempat yang baru pulang dari masjid, menyapanya. "Nunggu Kirana, Mas Aris? Kok belum pulang jam segini?"
"Iya, Pak. Mungkin masih di jalan, macet," jawab Aris memaksakan senyum ramah.
"Oh, iya ya. Kemarin sore bapak lihat ada mobil bagus di pinggir jalan situ. Nggak lama Kirana menemui orang itu. Bapak pikir saudaranya. Trus Kirana balik ke kosannya lagi," ujarnya. "Ya sudah, Mas, Bapak duluan ya," sambung Pak Joko sambil berlalu.
Jantung Aris berdegup sedikit lebih kencang. Mobil bagus? Kirana tidak pernah bercerita kalau keluarganya dari kampung akan datang. Lagi pula, kalau keluarganya datang, mengapa Kirana tidak mengabarinya? Mengapa ponselnya mati? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Aris bagai gasing, menimbulkan rasa pening yang menusuk pelipis.
Ia memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam gang. Langkah kakinya terasa berat, seolah-olah setiap jengkal tanah menahannya untuk tidak mengetahui kebenaran. Gang kecil itu remang-remang, hanya diterangi lampu teras rumah warga yang seadanya. Suara televisi dari dalam rumah-rumah terdengar samar, bersahut-sahutan dengan tawa anak-anak yang sedang belajar. Kehidupan berjalan normal bagi orang lain, namun bagi Aris, dunia seolah sedang menahan napas, kehiduoan sedang berhenti berdenyut.
Saat berbelok di tikungan terakhir menuju rumah kos Kirana, langkah Aris mendadak terkunci.
Di depan pagar hijau yang rapuh itu, senada dengan dinding-dinding gang yang kusam. Seorang pria parlente berpakaian sangat rapih dan mewah tengah berdiri di depan pagar hijau.
Tak lama bunyi pagar terdengar nyaring. Pria yang berdiri di depan itu masuk.
Aris memutuskan kembali ke depan gang. Ia memarkirkan motornya di samping sebuah pohon belimbing. Ia berdiri menunggu di sana. Dadanya bergemuruh hebat. Hatinya dipenuhi pertanyaan, apa benar dugaannya tadi kalau pria itu sedang menunggu Kirana, atau itu hanya permainan firasat buruknya saja.
Dari samping sebuah pohon Aris mendengar ketukan-ketukan sepatu saling susul menyusul diselingi tawa
Seorang wanita dengan gaun anggun berwarna merah marun, warna yang sama dengan kotak beludru di saku Aris, keluar dari dalam gang bersisian dengan pria yang tadi berdiri di depan pagar hijau.
Dan wanita itu Kirana. Ia tampak sangat cantik malam ini. Rambutnya yang biasa dikucir kuda kini tergerai indah dengan ikal di ujungnya. Di sampingnya, berjalan seorang pria berpostur tegap. Pria itu tampak beberapa tahun lebih tua dari Aris, dengan gurat wajah yang memancarkan kemapanan.
Aris memperhatikan bagaimana pria itu dengan lembut memayungi Kirana, meski gerimis sudah berhenti, dan Aris juga melihat bagaimana tangan Kirana dengan mesra menggelayut di lengan pria tersebut. Ada tawa renyah yang keluar dari bibir Kirana, tawa yang sudah berbulan-bulan tidak pernah Aris dengar lagi. Tawa yang dulu menjadi milik Aris sepenuhnya.
"Terima kasih ya, Mas, sudah mau jemput sampai ke dalam gang. Maaf jalannya sempit," ucap Kirana. Suaranya terdengar jelas di keheningan depan gang kecil. Aris memperhatikan dengan rasa campur aduk.
"Tidak apa-apa, Sayang. Demi kamu, jalan sesempit apa pun akan aku lalui. Tapi setelah kita menikah bulan depan, kamu harus segera pindah dari sini. Aku sudah siapkan rumah di Menteng," jawab pria itu sambil membukakan pintu mobil untuk Kirana.
Menikah? Bulan depan?
Kata-kata itu menghantam dada Aris laksana godam yang tak kasat mata, sesak dadanya. Udara di sekitarnya mendadak hilang. Aris merasa paru-parunya mengecil, menolak untuk bernapas. Seluruh sendi di tubuhnya terasa meloloskan diri, membuatnya hampir tersungkur ke atas aspal basah. Namun ia berusaha tenang, Aris terus berusaha menguasai dirinya.
Empat tahun, benaknya bicara. Empat tahun cinta yang dibangun dengan keringat, harapan, dan janji-janji sederhana di atas motor tua, runtuh dalam hitungan detik oleh sebuah kata "menikah" dan sebuah mobil sedan hitam.
Aris bukannya tidak mau melamar Kirana. Ia membutuhkan waktu empat tahun untuk mengajukan niat baiknya itu, hari ini. Maklum sekali Aris bukan berasal dari keluarga kaya, atau paling berkecukupan. Ia datang dari keluarga yang terbatas kemampuan keuangannya. Itulah yang alasan utama ia menunggu selama itu.
Kirana bersiap masuk ke dalam mobil, namun sebelum ia menutup pintu, pandangannya secara tidak sengaja bergeser ke arah bayangan pohon tempat Aris berdiri. Lampu jalan yang remang menerangi sebagian wajah Aris yang pucat.
Mata mereka bertemu. Saling tatap sampai beberapa saat lamanya.
Aris melihat dengan jelas bagaimana warna di wajah Kirana mendadak pudar. Senyum renyahnya lenyap seketika, digantikan oleh raut yang terkejut, bersalah, dan ketakutan yang teramat sangat. Kirana mematung di pintu mobil, menatap Aris yang berdiri kaku bagai patung lilin yang mulai meleleh. Aris memang sedang meleleh, perlahan hancur.
Pria di samping Kirana menyadari perubahan sikapnya. "Ada apa, sayang? Ada yang ketinggalan?" tanya pria itu heran, ikut melihat ke arah kegelapan tempat Aris berada.
Kirana dengan cepat menguasai keadaan. Ia menelan ludah, matanya bergetar menatap Aris untuk terakhir kalinya sebelum ia memalingkan wajah. "Nggak, nggak ada apa-apa, Mas. Cuma kucing lewat. Yuk, jalan, nanti kita telat reservasi restorannya."
Pintu mobil ditutup dengan debuman halus yang terdengar begitu menyakitkan di telinga Aris. Mobil itu perlahan bergerak mundur, lalu melaju dengan hati-hati, kemudian melesat pergi, meninggalkan keheningan yang mencekat dan desak air mata yang mengurai pelan.
Aris melangkah keluar dari bayangan pohon. Kakinya diseret mendekati motor tuanya. Di atas aspal yang basah, ia melihat sebuah benda kecil terjatuh. Aris membungkuk dan mengambilnya. Itu adalah sebuah jepit rambut kecil berbentuk kupu-kupu yang biasa dipakai Kirana saat mencuci muka.
Aris menggenggam jepit rambut itu erat-erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah tanpa bisa dibendung lagi. Ia menangis dalam diam, membiarkan air matanya mengalir membasahi pipi, bercampur dengan sisa-sisa air gerimis yang menetes dari paralon rumah di samping depan gang tempat motornya terparkir.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kotak beludru merah marun. Dibukanya kotak itu. Cincin emas putih di dalamnya berkilau, memantulkan cahaya lampu jalan, seolah-olah sedang menertawakan kebodohannya. Kebodohan seorang pria yang mengira bahwa kesetiaan dan kerja keras cukup untuk mengikat hati seorang wanita di tengah badai realitas kota besar.
Aris tidak marah pada Kirana. Hanya kecewa dengan keadaan yang memaksanya terjatuh. Saat ini yang ia rasakan hanyalah sebuah ruang kosong yang sangat besar di dalam dadanya, sebuah kehampaan yang begitu pekat. Ia paham, sangat paham. Di dunia yang bergerak begitu cepat dan menuntut serba instan ini, cinta seringkali kalah telak oleh angka-angka di rekening bank dan kenyamanan yang ditawarkan oleh kemapanan. Kirana memilih untuk realistis, dan sayangnya Kirana tidak mau lagi melibatkan Aris di dalamnya.
Pemuda itu naik ke atas motornya, memakai helm, dan perlahan menghidupkan mesinnya.
Sebelum menarik gas, Aris menatap kembali ke dalam gang untuk terakhir kalinya. Gang itu tetap sama, sempit, basah, ruwet, dan remang-remang. Namun, kehangatan yang dulu selalu ia temukan di sana telah menguap bersama malam yang semakin larut.
Aris memasukkan kembali kotak beludru itu ke dalam saku jaket denimnya. Ia memutuskan untuk tidak akan pernah membukanya lagi.
Pemuda itu memutar motornya, kembali membelah jalanan malam Jakarta yang bising, meninggalkan sore yang tragis di depan gang kecil, tempat ia belajar bahwa tidak semua penantian berujung pada kebahagiaan.
Setiap langkahnya terasa seperti meninggalkan sebagian dari jiwanya di gang kecil itu.
***