Penjaga Lembah Seruni
Lembah Seruni adalah sebuah tempat di mana matahari selalu tampak terbit dengan senyuman. Dikelilingi oleh perbukitan hijau yang menjulang tinggi bagai benteng alam, lembah ini dialiri oleh Sungai Bening yang airnya berkilau seperti berlian cair. Di sini, ribuan jenis hewan hidup berdampingan. Singa tidak memburu rusa, kera tidak serakah, dan elang tidak menyambar anak kelinci. Mereka disatukan oleh sebuah perjanjian kuno yang disebut "Sumpah Daun Hijau", sebuah kesepakatan untuk saling menjaga perdamaian dan membagi sumber daya alam secara adil.
Di tengah lembah, tumbuh sebuah pohon beringin raksasa yang usianya sudah ratusan tahun. Pohon itu disebut Beringin Agung, tempat di mana Pemimpin Lembah, seekor gajah bijaksana bernama Ki Gading, sering memberikan nasihat kepada seluruh penghuni lembah.
Ki Gading bertubuh besar, kulit abu-abu penuh guratan pengalaman, dan sepasang gading putih yang berkilau. Di bawah kepemimpinannya, Lembah Seruni mengalami masa-masa keemasan.
Namun, tidak semua penghuni lembah merasa puas dengan kedamaian tersebut. Di sudut lembah yang jarang tersorot matahari, di antara bebatuan lembap dan pepohonan berduri, tinggal seekor serigala bernama Karna. Berbeda dengan serigala lainnya yang memilih hidup damai, Karna memiliki ambisi yang membara di dalam dadanya. Ia merasa bahwa hukum kesetaraan yang diterapkan oleh Ki Gading hanyalah cara untuk menindas kaum yang kuat agar setara dengan kaum yang lemah. Dan supaya tampuk kepemimpinannya tidak goyah oleh hewan lain yang kuat.
"Mengapa kita, yang dianugerahi taring dan cakar yang tajam, harus makan buah-buahan busuk dan akar pohon?" bisik Karna pada bayangannya sendiri di tepi kolam berlumpur. "Kita adalah pemburu. Dunia ini milik mereka yang berani mengambilnya, bukan mereka yang gemetar di bawah kaki gajah tua itu."
Karna tidak bergerak sendirian. Ia mulai mengumpulkan hewan-hewan lain yang memiliki kekecewaan serupa. Ada Radja, seekor burung hering berleher botak yang selalu merasa tidak kebagian bangkai karena aturan kebersihan lembah, dan Sila, seekor ular piton besar yang merasa ruang geraknya dibatasi oleh garis batas wilayah. Mereka bertiga membentuk sebuah aliansi rahasia yang bertujuan untuk meruntuhkan wibawa Ki Gading, melemahkan kepemimpinannya, dan membatalkan Sumpah Daun Hijau.
***
Rencana Karna disusun rapi, dimulai bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kata-kata yang lembut tapi penuh hasutan bak diplomat ulung. Ia tahu betul bahwa untuk meruntuhkan sebuah kerajaan yang kuat, ia harus merusaknya dari dalam, yaitu kepercayaan.
Suatu sore, ketika hewan-hewan berkumpul di dekat Sungai Bening untuk minum, Karna berjalan perlahan, mendekati kelompok rusa yang sedang bercengkrama. Di sana ada Rara, seekor rusa muda yang lincah dan menjadi kesayangan penghuni lembah.
"Selamat sore, Rara yang cantik," sapa Karna dengan suara yang dibuat selembut mungkin, meskipun tatapan matanya tetap dingin.
Rara menoleh, sedikit terkejut namun tetap sopan. "Selamat sore, Paman Karna. Tumben ke sini. Ada apa?"
"Ah, tidak ada apa-apa. Kebetulan sajak aku sedang lewat."
"Paman Karna hendak kemana?" Rara si rusa cantik lembut bertanya.
"Aku habis mengunjungi keebaatku di lembah selatan. Kau sedang apa, Rara?"
"Sedang bersantau saja, Paman. Menikmati indahnya aliran Sungai Bening. Bersyukur sekali aku tinggal di lembah ini, damai dan tentram."
Karna menyeringai sinis.
"Ada apa. Paman?" tamya Rara setelah melihat perubahan wajah Karna.
"Aku hanya merasa iba melihatmu dan teman-temanmu itu," kata Karna sambil menghela napas panjang, berpura-pura sedih.
"Iba? Iba kenapa, Paman?" tanya Rara bingung. Teman-temannya saling menatap, turut bingung dibuatnya.
"Apakah kamu tidak menyadari? Tahun ini musim kemarau akan datang lebih cepat. Aku mendengarnya dari burung-burung migran yang mampir ke lembah ini," kata Karna, suaranya mulai naik.
"Kulihat pasokan air di hulu sungai juga mulai menipis. Dan tebak siapa yang menguasai hulu sungai? Keluarga Gajah," bisik Karna, memastikan suaranya cukup keras untuk didengar oleh hewan lain di sekitarnya. "Ki Gading mengatakan kita harus menghemat air, tapi apakah kamu pernah melihat keluarganya menghemat air? Mereka mandi setiap hari, membuang-buang air yang seharusnya bisa menghidupi anak-anak rusa selama berminggu-minggu. Mereka juga menghabiskan bergalon-galon air untuk memuaskan dahaga. Sementara kita, hanya kebagian sedikit saja."ù
Rara terdiam. Kata-kata Karna mulai menggelitik hatinya. "Tapi, Ki Gading selalu adil, Paman."
"Adil bagi keluarga gajah-gajah itu. Tapi bagi kita?"
Rara tertegun mendengar ucapan Karna. Ada benarnya juga, menurut Rara. Hatinya mulai goyah.
"Pikirkanlah, Rara. Kalau memang Ki Gading adil, dia akan membagi adil alam ini." ucap Karna sebelum berbalik dan menghilang ke dalam semak-semak, meninggalkan Rara dan teman-temannya yang semakin ragu.
Sementara itu, Radja sang burung hering menjalankan tugasnya di udara. Ia terbang dari satu dahan ke dahan lain, menyebarkan berita bohong bahwa persediaan buah di hutan bagian barat telah disembunyikan oleh kelompok kera atas perintah Ki Gading untuk mereka sendiri, sebagai persiapan musim paceklik.
Dalam waktu singkat, suasana di Lembah Seruni yang biasanya hangat berubah menjadi tegang. Hewan-hewan mulai saling memandang dengan penuh curiga. Kelompok rusa tidak lagi mau minum di dekat kelompok gajah. Kelompok kelinci mulai menyembunyikan wortel mereka di dalam tanah, takut diambil oleh hewan lain. Keharmonisan yang telah dijaga selama puluhan tahun mulai retak oleh hasutan-hasutan halus.
***
Kecurigaan menghantui penghuni lembah, satu per satu mulai terhasut. Namun ada dua sahabat yang menolak untuk terpengaruh. Mereka adalah Tobi, seekor kura-kura yang cerdas, dan Ciko, seekor tupai tanah yang energik. Mereka berdua telah berteman sejak kecil dan sering menghabiskan waktu bersama untuk menjelajahi sudut-sudut lembah.
Suatu hari, Ciko datang menemui Tobi dengan wajah panik. "Tobi! Apakah kamu mendengar apa yang dikatakan hewan-hewan di pasar buah?"
"Apa itu, Tobi. Aku tidak mendengat apa-apa."
"Mereka bilang Ki Gading akan mengusir semua hewan kecil dari lembah jika kemarau panjang benar-benar terjadi! Mereka bilang hewan kecil hanya menghabiskan sisa makanan tanpa memberikan kontribusi apa pun!"
Tobi, yang sedang mengunyah selembar daun selada, berhenti sejenak. Ia menarik kepalanya sedikit ke dalam tempurung, berpikir mendalam, lalu menjulurkannya kembali.
"Ciko, sahabatku," kata Tobi dengan tenang. "Angin bisa meniup debu ke mata kita, tapi jangan biarkan debu itu membutakan hati kita. Siapa yang menyebarkan berita ini? Apakah kamu mendengarnya langsung dari Ki Gading?"
"Bukan," jawab Ciko, mulai tenang karena ucapan Tobi mengalun lembut membawa kedamaian. "Aku mendengarnya dari Radja si burung hering. Dia mendapatkan kabar itu dari Karna."
"Karna," gumam Tobi. "Serigala itu jarang berbicara kecuali jika ada maunya. Kita tidak boleh langsung mempercayai kabar burung itu, Ciko. Lembah ini telah menjadi rumah bagi kita semua karena kita saling percaya. Jika kita kehilangan kepercayaan, kita kehilangan segalanya. Lembab ini sudah damai sebelum kita lahir."
Ciko mengangguk-angguk. Sesekali dia menggaruk-garuk tubuhnya sendiri.
Tobi mengajak Ciko untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Mereka memutuskan untuk mengamati gerak-gerik Karna dan Radja. Dengan tubuh Ciko yang gesit dan kemampuan Tobi untuk bersembunyi di dalam tempurung bagai batu biasa, mereka menjadi tim mata-mata yang sempurna.
Malam itu, di bawah sinar bulan yang redup, Tobi dan Ciko mengendap-endap menuju wilayah berbatu di utara lembah. Mereka bersembunyi di balik semak berduri dekat gua tempat tinggal Karna. Di sana, mereka melihat Karna, Radja, dan Sila sedang berkumpul mengelilingi sebuah peta kuno Lembah Seruni yang digambar di atas tanah kering.
"Besok adalah perayaan Sumpah Daun Hijau," terdengar suara Karna yang serak. "Semua hewan akan berkumpul di Beringin Agung. Saat Ki Gading mulai berbicara, Sila, kau harus menyelinap ke tempat penyimpanan air utama di hulu sungai dan merusak bendungan alam yang kita buat tempo hari. Ketika air bah datang menerjang bagian bawah lembah, hewan-hewan akan panik. Mereka akan mengira Ki Gading sengaja melepaskan air untuk menghancurkan mereka. Di saat kekacauan itu, kita akan memimpin pemberontakan dan merebut takhta."
Ciko menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak karena terkejut. Tobi menatap sahabatnya dengan mata serius. Mereka tahu mereka harus bertindak cepat. Jika rencana ini berhasil, Lembah Seruni akan hancur dalam semalam. Semua ownghuni akan saling serang karena hilangnya kepercayaan.
***
Tobi dan Ciko segera meninggalkan tempat itu dengan hati-hati. Namun, saat mereka melangkah mundur, Ciko tidak sengaja menginjak ranting kering.
Krak!
Suara itu terdengar nyaring di keheningan malam. Telinga tajam Karna langsung tegak berdiri. "Siapa di sana?!" bemtaknya. Geramannya terdengar menakutkan, bergaung di lembah utara.
"Ciko, lari! Bawa berita ini ke Ki Gading! Aku akan menahan mereka!" seru Tobi.
"Ta-tapi, Tobi, kamu terlalu lambat!" kata Ciko khawatir.
"Jangan pikirkan aku! Keselamatan lembah lebih penting! Pergi!" perintah Tobi tegas.
Ciko tidak punya pilihan. Dengan kecepatan penuh, ia melompat dari satu dahan ke dahan lain, menghilang di kegelapan malam. Sementara itu, Tobi segera menarik seluruh tubuhnya ke dalam tempurung kerasnya.
Beberapa detik kemudian, Karna dan Radja sudah berada di sana, di tempat Tobi mengurungkan tubuhnya. Karna melihat sebuah tempurung kura-kura yang tampak seperti batu biasa. Namun, serigala yang cerdik itu tidak bisa dibohongi oleh bau tubuh Tobi yang tertinggal.
"Ah, seekor kura-kura pengintip," kata Karna sambil menendang tempurung Tobi dengan keras. Tempurung itu terlempar dan membentur batang pohon, namun Tobi tetap bertahan di dalam, menahan rasa sakit. "Radja, bawa kura-kura ini dan ikat dia di dahan pohon tertinggi. Jangan biarkan dia lepas sampai rencana kita selesai besok."
Radja mencengkeram tempurung Tobi dengan cakar tajamnya lalu terbang tinggi ke langit malam, meninggalkan tempat itu menuju pohon mati di puncak bukit. Tobi hanya bisa berdoa dalam hati agar Ciko berhasil menemui Ki Gading tepat waktu.
Di sisi lain lembah, Ciko berlari tanpa henti hingga paru-parunya terasa terbakar. Ia melewati rintangan demi rintangan hingga akhirnya tiba di kaki Beringin Agung. Di sana, Ki Gading sedang beristirahat, ditemani oleh beberapa penasihatnya, termasuk seekor burung hantu bijaksana bernama Aki Hantu.
"Ki Gading! Ki Gading! Gawat!" teriak Ciko yang sempat terjatuh di depan gajah besar itu.
Ki Gading membuka matanya yang besar dan teduh. Ia merundukkan kepalanya, membiarkan belalainya menyentuh tanah untuk menenangkan tupai kecil yang gemetaran itu. "Tenanglah, anak muda. Tarik napas dalam-dalam. Apa yang membuatmu begitu ketakutan di tengah malam begini?"
Setelah berhasil mengatur napasnya, Ciko menceritakan seluruh rencana jahat Karna, tentang hasutan yang disebarkan, bendungan buatan di hulu sungai yang siap dihancurkan, dan bagaimana Tobi mengorbankan diri agar ia bisa lolos.
Mendengar cerita tersebut, wajah Ki Gading yang biasanya tenang berubah serius. Aki Hantu yang berada di dahan atas langsung mengepakkan sayapnya.
"Jadi, kabar burung tentang kelangkaan air dan pengusiran itu semua adalah ulah Karna?" tanya Aki Hantu.
"Benar, Aki! Mereka ingin menghancurkan kepercayaan kita pada Ki Gading agar mereka bisa berkuasa!" jawab Ciko dengan air mata yang mulai mengalir mengingat nasib Tobi.
Ki Gading menghela napas berat. "Kebencian dan peemusuhan telah membutakan mata Karna. Ia tidak paham bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa banyak makhluk yang bisa kita kuasai, melainkan seberapa banyak makhluk yang bisa kita lindungi." Ki Gading kemudian memandang Ciko. "Kamu telah bertindak sangat berani, Ciko. Sekarang, kita harus menyusun rencana tandingan. Kita tidak boleh membiarkan fajar membawa kehancuran bagi Lembah Seruni."
***
Ki Gading diam-diam segera mengumpulkan para pemimpin kelompok hewan yang masih setia malam itu juga. Ada Ghede pemimpin banteng yang perkasa, Anci, pemimpin kancil yang cerdik, dan beberapa perwakilan dari kawanan burung pelatuk.^^^^^
Di bawah redup purnama, Ki Gading membagi tugas. "Ghede, bawa kawanan bantengmu ke hulu sungai sekarang juga. Cegah Sila atau siapa pun yang mencoba merusak bendungan atau memanipulasi aliran air. Jika ada bendungan buatan yang membahayakan lembah, bongkar dengan hati-hati sebelum fajar menyingsing agar airnya mengalir secara normal."
"Dimengerti, Ki Gading. Kami akan bergerak dalam senyap," jawab Ghede dengan suara berat yang penuh tekad.
"Anci," lanjut Ki Gading kepada si kancil. "Tugasmu adalah menemui hewan-hewan yang telah terhasut. Ceritakan kebenaran ini kepada mereka sebelum perayaan dimulai. Gunakan kecerdikanmu untuk membuat mereka paham bahwa mereka sedang diadu domba."
"Serahkan padaku, Ki. Lidahku akan meluruskan apa yang telah dibengkokkan oleh Karna," kata Anci optimis.
"Untuk kau, Tuk Tuk. Kau aja dua temanmu ikut denganku."
"Dan Ciko," Ki Gading menatap tupai kecil itu. "Aku dan Aki Hantu akan pergi menyelamatkan Tobi. Burung-burung pelatuk akan membantu menunjukkan jalan ke puncak bukit tempat Radja menyembunyikannya."
"Terima kasih, Ki Gading! Aku ingin ikut menyelamatkan Tobi!" seru Ciko.
"Tentu, kamu adalah sahabatnya," jawab Ki Gading sambil tersenyum hangat. Ki Gading menggoyangkan belalainya, menyuruh Ciko naik ke punggungnya.
Maka, di saat sebagian besar penghuni lembah masih terlelap dalam mimpi mereka, sebuah gerakan perlawanan dalam senyap sedang berjalan. Di hulu sungai, kawanan banteng bergerak bagai bayangan hitam yang besar. Di hutan-hutan bagian bawah, Anci si kancil mulai mengetuk pintu-pintu sarang hewan, berbicara dengan hati ke hati, memulihkan kepercayaan yang terkikis.
Sementara itu, Ki Gading dengan langkahnya yang besar namun pelan, berjalan mendaki bukit berbatu bersama Ciko yang berpindah dari punggung ke atas kepalanya, diikuti oleh Aki Hantu yang terbang rendah.
***
Malam semakin larut, angin dingin berembus kencang di puncak bukit berbatu. Di atas sebuah pohon mati yang kering, Tobi si kura-kura tergantung di dalam sebuah jaring akar yang diikat kuat oleh Radja. Di bawah pohon itu, Radja sedang tertidur pulas dengan kepala disembunyikan di balik sayapnya.
Tobi mencoba menggerakkan tubuhnya, namun jaring itu terlalu kuat untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Ia merasa lelah dan kedinginan. "Kuharap Ciko berhasil," bisiknya pada angin malam.
Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menutupi cahaya bulan. Tobi mendongak dan melihat siluet yang sangat ia kenal. Itu adalah Ki Gading!
Ciko dengan cepat melompat dari kepala Ki Gading menuju dahan pohon mati tersebut. Dengan giginya yang tajam, ia mulai menggerogoti jaring akar yang mengikat Tobi. Tuk Tuk dan dua tekannya turut membantuk memutuskan jaring akar dengan pelatuknya.
"Ciko! Kamu kembali!" bisik Tobi gembira.
"Ssst... jangan berisik, Tobi. Aku tidak akan pernah meninggalkan sahabatku," jawab Ciko sambil terus menggigit tali dengan cepat. Tuk Tuk dan dua temannya juga berhati-hati agar ketukan pelatuk dengan jaring akar tidak membamgunkan Radja.
Namun, suara buruk pelatuk yang sesekali terdengar rupanya mengusik tidur nyenyak Radja. Burung hering itu membuka satu matanya yang tajam dan langsung menyadari apa yang terjadi. Ia mengepakkan sayapnya yang lebar dan mengeluarkan pekikan nyaring yang memecah keheningan malam.
"Penyusup! Berani-beraninya kalian!" teriak Radja sambil bersiap mencakar Ciko dengan kakinya yang kuat.
Sebelum cakar Radja menyentuh Ciko, Aki Hantu melesat dari kegelapan. Dengan cakar yang tidak kalah tajam dan kemampuan terbang tanpa suara, Aki Hantu menyerang Radja dari arah belakang, membuat burung hering itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari dahan.
"Radja! Hentikan tindakan bodohmu ini!" seru Aki Hantu sambil berputar di udara, siap melakukan serangan berikutnya.
Radja menyadari bahwa ia kalah jumlah, ditambah dengan kehadiran Ki Gading yang berdiri kokoh di bawah pohon bagai gunung yang tak tergoyahkan, nyalinya ciut. Dengan sekali kepakan sayap yang kuat, Radja memilih untuk terbang melarikan diri, meninggalkan tugasnya.
Krek... putus!
Jaring akar terakhir yang mengikat tempurung Tobi berhasil diputus oleh Tuk Tuk. Tobi terjatuh, namun dengan sigap Ki Gading menangkapnya dengan belalainya yang lembut lalu menempatkannya dengan aman di atas punggungnya bersama Ciko.
"Terima kasih, Ki Gading, Aki Hantu, Tuk Tuk dan dua temanmu, dan tentu saja kamu, Ciko," kata Tobi dengan tulus.
"Sama-sama, Tobi. Sekarang, mari kita kembali ke lembah. Fajar hampir tiba, dan panggung utama sudah siap untuk menyambut sang penipu," kata Ki Gading dengan nada suara yang penuh wibawa.
***
Hari ini adalah hari perayaan Sumpah Daun Hijau. Matahari mulai terbit di ufuk timur, memancarkan warna jingga dan emas yang indah ke seluruh Lembah Seruni. Namun, suasana di sekitar Beringin Agung tidak seceria biasanya. Hewan-hewan berkumpul dengan wajah tegang. Hasutan Karna dan kerja keras Anci si kancil semalam telah membagi hewan menjadi dua kubu, mereka yang meragukan Ki Gading dan mereka yang tetap setia.
Karna berdiri di barisan depan bersama Sila si ular piton yang melingkar di sebuah batu besar. Karna tersenyum sinis di dalam hati. Ia menyadari Radja belum kembali, namun ia yakin rencana merusak bendungan sudah berjalan atau bahkan sudah selesai dilakukan oleh anak buah Sila yang lain.
Ki Gading berjalan perlahan menuju tengah arena pertemuan, lalu naik ke atas sebuah batu besar yang biasa digunakannya sebagai mimbar. Di sampingnya, berdiri Tobi dan Ciko.
"Selamat pagi, wahai penghuni Lembah Seruni," suara Ki Gading menggelegar, penuh dengan ketenangan yang berwibawa. "Hari ini, kita berkumpul untuk memperingati hari di mana nenek moyang kita berjanji untuk hidup sebagai satu keluarga di bawah Sumpah Daun Hijau. Sebuah sumpah yang didasarkan pada rasa saling percaya, keadilan, dan kasih sayang."
Karna tidak membuang waktu. Ia langsung melangkah maju, memotong ucapan Ki Gading. "Sumpah? Keadilan? Jangan kau membual lagi, Gajah Tua!" seru Karna dengan lantang, memancing perhatian seluruh hewan. "Keadilan apa yang kau maksud ketika kau dan keluargamu menimbun air di hulu sungai sementara kami di sini dibiarkan bersiap menghadapi kekeringan? Keadilan apa yang membuat kaum lemah merasa terancam akan diusir dari rumah mereka sendiri?!"
Bisik-bisik ketakutan dan kemarahan mulai terdengar dari kerumunan hewan yang terhasut.
"Karna benar! Di mana keadilannya?!" teriak Mushi, si musang yang terpengaruh.
Ki Gading tidak marah. Ia menatap Karna dengan pandangan mata yang penuh rasa iba, bukan kebencian. "Karna, fitnah yang kau sebarkan bagai angin malam, dingin dan tidak berwujud, namun bisa merusak kesehatan tubuh. Apakah kau memiliki bukti atas apa yang kau tuduhkan padaku?"
"Buktinya adalah rahasia yang kau sembunyikan di hulu sungai! Kau melarang kami ke sana karena kau takut borokmu ketahuan!" jawab Karna dengan penuh percaya diri. "Bahkan saat ini, mungkin alam sendiri yang akan menghukum keserakahanmu dengan mengirimkan air bah untuk membersihkan tiranimu!"
Tepat setelah Karna menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara gemuruh dari arah sungai. Hewan-hewan mulai panik.
"Air bah! Air bah datang!" teriak beberapa hewan di belakang.
Namun, alih-alih air bah yang menghancurkan yang datang, yang terlihat adalah aliran air Sungai Bening yang mengalir dengan sangat lancar, bersih, dan melimpah, memenuhi kolam-kolam penampungan di lembah tanpa merusak apa pun. Di belakang aliran air itu, berjalan kawanan banteng yang dipimpin oleh Ghede, mengawal beberapa ular buah yang merupakan anak buah Sila yang tertangkap basah sedang mencoba menyumbat aliran air dengan batu-batu besar dengan sengaja.
Ghede maju ke depan mimbar dan membungkuk hormat pada Ki Gading. "Ki Gading, tugas selesai. Kami menemukan bendungan buatan yang sengaja dibangun di hulu untuk menahan air agar lembah ini mengalami kekeringan buatan. Kami telah membongkarnya dengan aman, dan menangkap mereka yang mencoba menyabotase sungai atas perintah ular ini," kata Ghede sambil menunjuk ke arah Sila.
Mendengar hal itu, seluruh kerumunan hewan terkejut. Sila yang panik mencoba menyelinap pergi, namun tubuhnya langsung dikepung oleh kawanan banteng yang siap menginjaknya jika ia bergerak.
***
Karna membeku di tempatnya. Rencananya yang matang hancur berantakan di depan matanya sendiri.
Anci si kancil kemudian melangkah maju ke tengah kerumunan. "Wahai teman-teman sekalian! Apakah kalian sekarang melihat siapa penipu yang sebenarnya? Ki Gading tidak pernah menimbun air. Karnalah yang menahan air tersebut agar kita saling mencurigai dan menyalahkan pemimpin kita! Ia ingin kita bertengkar agar ia bisa merebut kekuasaan dengan mudah!"
Hewan-hewan yang sebelumnya terhasut kini menundukkan kepala karena malu dan menyesal. Mereka menyadari betapa bodohnya mereka karena telah mempercayai perkataan seekor serigala yang licik dibandingkan dengan gajah bijaksana yang telah melindungi mereka selama bertahun-tahun.
"Karna," panggil Ki Gading dengan suara yang dalam. "Kekuasaan yang dibangun di atas tiang kebohongan tidak akan pernah bertahan lama. Ia bagai istana pasir di tepi pantai, satu ombak kebenaran saja sudah cukup untuk meruntuhkannya."
Karna, yang menyadari bahwa ia telah kalah sepenuhnya, tidak lagi menunjukkan wajah berpura-pura sedih atau marah. Wajahnya berubah menjadi penuh kebencian yang murni. Ia menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Hmph! Gajah Tua, kau mungkin menang hari ini karena dibantu oleh makhluk-makhluk lemah ini," kata Karna sambil menatap sinis ke arah Tobi dan Ciko. "Tapi ingatlah, perdamaian yang kau agung-agungkan ini hanyalah ilusi! Suatu saat, alam liar yang sebenarnya akan kembali mengambil alih lembah ini!"
Dengan satu lompatan cepat, Karna mencoba menerkam Tobi yang berada di atas batu, sebagai pelampiasan kemarahannya. Namun, Ciko dengan berani melompat ke depan wajah Karna, mencakar hidung serigala itu dengan kuku-kukunya yang kecil namun tajam.
"Auuuw!" raung Karna kesakitan sambil memegangi hidungnya yang berdarah.
Gedhe segera maju dan mengarahkan tanduknya yang besar ke arah Karna. "Pergi dari lembah ini, Karna! Atau kau harus berhadapan dengan seluruh kekuatan Lembah Seruni!"
Melihat tidak ada lagi jalan baginya, Karna berbalik dan berlari sekencang-kencangnya menuju perbukitan berbatu di luar batas patok, dia meninggalkan Lembah Seruni untuk selamanya. Sila dan kelompoknya langsung ditangkap, Radja yang kedapatan bersembunyi di perbatasan ketahuan dan tidak bisa melarikan diri karena kepungan anak buah Aki Hantu, mereka diadili oleh dewan tetua lembah dan dihukum untuk melakukan kerja sosial membersihkan sungai selama satu tahun penuh di bawah pengawasan ketat kawanan banteng.
***
Setelah badai hasutan itu berlalu, Lembah Seruni kembali menemukan kedamaiannya. Namun, kali ini kedamaian itu terasa jauh lebih kuat dan kokoh daripada sebelumnya. Hewan-hewan telah belajar dari kesalahan mereka, mereka menyadari bahwa komunikasi jauh lebih penting daripada langsung mempercayai desas-desus yang tidak jelas sumbernya.
Rara si rusa menemui Ki Gading untuk meminta maaf secara langsung atas keraguan yang sempat singgah di hatinya.
"Ki Gading, maafkan aku karena sempat meragukan kebaikanmu," kata Rara dengan tulus sambil menundukkan kepalanya.
Ki Gading menggunakan belalainya untuk mengangkat kepala rusa muda itu dengan lembut. "Tidak apa-apa, Rara. Ketakutan adalah hal yang manusiawi, maksudku hal yang wajar bagi setiap makhkuk hidup. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi ketakutan itu. Jangan biarkan ketakutan membuatmu melihat musuh pada diri sahabatmu sendiri."
Rara tersenyum bahagia mendengar ucapan Ki Gading.
Sebagai bentuk penghargaan atas keberanian mereka, Ki Gading mengadakan sebuah upacara khusus di malam harinya. Tobi dan Ciko dipanggil untuk berdiri di samping Beringin Agung.
"Mulai hari ini," umum Ki Gading kepada seluruh penghuni lembah yang berkumpul dalam damai. "Tobi si kura-kura dan Ciko si tupai tanah diangkat menjadi Penjaga Kedamaian Lembah Seruni. Mereka telah membuktikan bahwa ukuran tubuh tidak menentukan besarnya keberanian, dan bahwa persahabatan yang sejati mampu meruntuhkan konspirasi sebesar apa pun."
Seluruh lembah bergemuruh oleh tepuk tangan, sorak-sorai, dan nyanyian dari burung-burung. Tobi dan Ciko saling berpandangan dan tersenyum. Mereka tahu bahwa tugas mereka ke depan tidak akan mudah, namun selama mereka bersama dan saling percaya, tidak ada satu pun serigala licik di dunia ini yang bisa menghancurkan rumah mereka yang indah.
Sungai Bening terus mengalir, memancarkan cahaya perak di bawah sinar mentari, menjadi saksi bisu bahwa kebenaran, keadilan, dan persahabatan akan selalu menemukan jalannya untuk menang.
Perusuh akan selalu ada di manapun itu, dan pemimpin bijak sangat dibutuhkan utnuk menghadapi persoalan pelik, bukan pemimpin pencitraan yang hanya menghambur-hamburkan uang yang dikumpulkan dari rakyatnya sendiri.
***