PERNIKAHAN KERTAS
Ibuku selalu berkata bahwa pernikahan adalah sebuah bangunan yang terbuat dari batu yang kokoh, megah, tahan banting, dan takkan runtuh hanya karena badai sering datang berkunjung.
Namun di depan meja dari kayu jati yang terpoles mengkilat di pagi ini, seperti baru divernice, aku sadar bahwa pernikahanku tidaklah kokoh apalagi megah, tidak pula terbuat dari batu. Pernikahanku hanya terbuat dari kertas. Ringan, tipis, mudah koyak, dan jika aku tidak berhati-hati, ujungnya yang tajam bisa mengiris kulitku hingga berdarah. Ya, pernikahanku hanya ada di atas selembar kertas bermaterai yang berisi perjanjian-perjanjian mengikat. Persis seperti ikatan kuat tali tambang di hidung kerbau, gunanya untuk mennggiring si kerbau agar menurut seperti aku yang dipaksa tunduk oleh sebuah perjanjian.
"Tanda tangan di sini, Kirana."
Suaranya terdengar datar, kaku, dan tanpa nada bicara. Wajahnya dingin. Dia Gala Mahendra. Lelaki yang tiga puluh menit lalu resmi menjadi suamiku di hadapan penghulu dan segelintir saksi dan tamu bayaran. Dia tidak melihatku saat berbicara. Matanya tertuju pada lembaran kertas putih di atas meja, lembaran perjanjian pranikah.
Aku memandangi pulpen hitam di antara jemariku. Tanganku sedikit gemetar, bukan hanya karena gugup melainkan karena dingin yang menyergap dari pendingin ruangan yang suhunya telah disetel rendah, atau mungkin bisa saja tanganku gemetar karena kenyataan yang harus kutandatangani, dan kenyataan itu baru saja menghantam jiwaku.
"Kirana?" Gala mengulang menyebut namaku, kali ini dengan ketukan jemari berkali dan cepat di atas meja. Tidak sabarnya terlihat sekali.
"Ya, aku tahu," kataku lirih.
Aku menunduk, membaca sekilas pasal yang terbuka.
Pasal 4: Hak dan Kewajiban Pihak Kedua.
Pihak Kedua, yakni Kirana Anandita tidak berhak atas aset Pihak Kesatu yakni Gala Mahendra yang diperoleh sebelum maupun selama masa pernikahan, kecuali yang diberikan secara sukarela sebagai biaya operasional rumah tangga.
Di bawahnya, ada pasal tentang durasi. Dua tahun. Ya, aku hanya perlu bertahan selama dua tahun. Bertahan dalam pernikahan palsu ini.
Setelah itu, Gala akan menceraikanku. Ia akan mendapatkan warisan penuh dari kakeknya yang otoriter, dan aku akan mendapatkan uang yang cukup untuk melunasi seluruh biaya pengobatan cuci darah ibuku serta menebus rumah masa kecil kami yang digadaikan paman.
Ugh! Pamanku sialan! Seenaknya saja menggadaikan rumah satu-satunya peninggalan almarhum ayah. Pamanku itu tidak berhak sama sekali, rumah itu hasil jerih payah almarhum ayahku, tanpa secuil pun bantuan dari orangtuanya.
Sret. Sret.
Goresan tintaku menutup kesepakatan itu. Di atas meterai sepuluh ribu, namaku bersanding dengan namanya. Di atas kertas, kami adalah suami istri. Di dunia nyata, kami adalah dua orang asing yang melakukan transaksi bisnis menggunakan lembaga sakral sebagai jaminannya.
"Bagus!" Gala mengambil dokumen itu, merapikannya dengan sekali sentakan, lalu memasukkannya ke dalam tas kerja kulitnya. "Satu salinan akan dipegang oleh pengacaraku. Kamu sendiri akan menerima salinannya sore nanti melalui kurir."
Dia berdiri, memancingku untuk ikut berdiri. Saat berhadapan dengannya tubuhku hanya setinggi bahunya. Gala memang bertubuh tinggi, dengan bahu tegap yang selalu dibalut setelan jas mahal. Wajahnya tampan tapi dingin seperti patung pualam di museum. Tidak ada senyum hangat, tidak ada binar di matanya, tatapannya saja tidak bersahabat. Bagi Gala, aku hanyalah sekrup kecil yang harus dipasang agar mesin bisnis keluarganya bisa berjalan mulus tanpa hambatan syarat pernikahan dari sang kakek.
"Sopir akan mengantarmu ke apartemen sekarang. Barang-barangmu sudah dipindahkan ke sana kemarin, bukan?" tanyanya sambil membetulkan letak jam tangan mahalnya.
"Sudah," jawabku pendek. Aku hanya membawa dua koper. Barang yang kubawa tidak banyak, sebagian besar hanya baju-baju kerja sederhana, beberapa buku sastra, dan sebotol parfum murah beraroma vanila. Aroma yang kerapkali menjadi bahan ejekan teman-temanku.
"Aku ada rapat pemegang saham sampai malam. Jangan menungguku. Biar Bibi Surti yang menyiapkannya kalau kamu butuh sesuatu," ucapnya formal, seolah-olah dia sedang memberi instruksi pada sekretaris barunya.
Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah berbalik, melangkah lebar keluar dari ruang privat restoran hotel berbintang yang telah didekor layaknya resepsi pernikahan yang dihadiri undangan terbatas, tapi sungguh tidak ada undangan lainnya kecuali orang-orang bayaran ini. Langkah sepatu Gala terdengar tegas di atas lantai marmer, lalu menghilang di balik pintu kaca.
Aku ditinggalkan sendiri di ruangan yang terlalu luas ini. Gaun pengantinku, sebuah kebaya putih sederhana yang kubeli dari toko daring karena aku tak punya anggaran untuk memesannya dari desainer yang harganya terasa mencekik.
Orang-orang bayaran itu sudah pergi tanpa satupun yang masih duduk di dalam ruangan ini.
Aku berjalan mendekati jendela besar yang menampilkan panorama kota Jakarta yang sibuk, angkuh, dan tak mengenal belas kasih. Kulihat hampir semua orang berlalu lalang tanpa menghiraukan seorang pengemis yang duduk lesehan di pinggir jalan, tak ada satupun yang berempati pada pengemis wanita tua itu.
Semua orang itu berjalan bak robot yang sudah dikendalikan aturan yang tak nampak. Berangkat pagi, pulang sore, hanya untuk bertahan hidup biar tak tergerus kejamnya persaingan di kota metropolitan ini.
Aku menyentuh cincin emas polos di jari manis kiriku. Cincin itu pas, tapi rasanya sangat asing. Logamnya terasa dingin menempel di jemariku.
"Pernikahan kertas," bisikku pada pantulan diriku sendiri di cermin. "Jangan jatuh cinta padanya, Kirana. Jangan pernah lupa mengapa kamu ada di sini. Kamu membutuhkan dia untuk menyelesaikan masalahmu, dia pun begitu. Tak ada sesuatu yang lain selain itu."
Aku menghela napas panjang. Kupandangi gaun putih ini. Entah akan aku apakan gaun ini setelah sampai di apartemen Gala. Apa harus aku buang. Atau kusimpan saja. Sejujurnya hatiku miris melihat gaun bernasib malang ini. Meski harganya murah, paling tidak penjahitnya sudah menghabiskan waktu, pikiran, dan dana untuk membuatnya.
Aku menghela napas lagi, lalu duduk di kursi yang berjajar rapi di sisi pojok ruangan. Baru saja meletakan bokongku, sopir Gala sudah datang menjemput.
***
Apartemen Gala berada di salah satu kawasan paling elit di Jakarta Selatan. Sebuah griya tawang di lantai 22, di lantai paling atas dengan lift pribadi yang langsung membuka ke ruang tamu. Ketika pintu lift berdenting terbuka, aku disambut oleh kemewahan yang sunyi. Tak ada seorangpun di sana kecuali seorang pekerja rumahan.
Lantai apartemen ini terbuat dari marmer hitam, dindingnya didominasi warna abu-abu arang dan putih, dengan furnitur minimalis yang tampak sangat mahal namun tak tersentuh.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi berdiri menyambutku lalu membungkuk hormat.
"Selamat datang, Ibu Kirana. Saya Surti, yang mengurus keperluan rumah tangga di sini," katanya dengan suara lembut yang sedikit gemetar, mungkin gugup menghadapi aku sebagai majikan barunya.
Aku tersenyum kikuk. Dipanggil Ibu di usiaku yang baru dua puluh empat tahun terasa seperti menggelikan. "Panggil Kirana saja, Bu Surti. Jangan terlalu kaku."
"Eh, jangan, Bu. Den Gala berpesan agar saya menghormati Ibu sebagaimana mestinya," Bu Surti tersenyum sungkan. "Mari, saya antarkan ke kamar Ibu," selanya cepat sebelum aku sempat protes.
Kamar ini seolah langsung berbicara begitu aku masuk, berbisik menegaskan satu hal kalau kami tidak berbagi kamar, aku dan Gala. Aku ingat salah satu pasalnya, dalam perjanjian pranikah pasal itu tertulis jelas dalam klausul privasi. Kami tinggal di satu atap, tetapi memiliki wilayah kekuasaan masing-masing, tidak saling mengusik, dan saling menghargai.
Kamar yang sengaja dipersiapkan untukku itu sangat luas, bahkan lebih luas dari seluruh rumah kontrakan yang kutinggali bersama ibuku selama tiga tahun terakhir. Sebuah ranjang berukuran king size dengan seprai sutra abu-abu muda mendominasi ruangan. Dinding kaca besar dari lantai hingga langit-langit menyajikan pemandangan gedung-gedung pencakar langit dari kamar yang selama dua tahun ke depan akan kutempati ini. Koper-koperku sudah berdiri rapi di sudut ruang pakaian yang kosong melompong, aku rasa kontras dengan lemari pakaian Gala di kamar sebelah yang barangkali penuh dengan barisan jas rancangan desainer luar ternama, merk-merk dari Itali, dan penuh pula dengan pakaian, sepatu, koleksi jam tangan berharga tak masuk akal seperti yang dia pakai hari ini.
Setelah Bu Surti meninggalkanku sendiri, aku meluruhkan tubuhku ke atas ranjang. Kasur itu begitu empuk, seolah-olah bisa menelan seluruh beban tubuhku. Namun punggungku justeru terasa kaku, tak biasa aku tidur di kasur empuk ini. Kasur di rumahku sudah mengempis, usang, dan bau.
Aku mengeluarkan ponselku, menatap layar yang menampilkan pesan dari paman.
Kirana, uang muka dari Pak Gala sudah masuk. Rumah ibumu sudah ditebus hari ini. Ibumu juga sudah dipindahkan ke ruang VIP rumah sakit untuk jadwal cuci darah besok. Terima kasih, Nduk. Kamu menyelamatkan keluarga kita.
Air mata yang sejak pagi kutahan akhirnya runtuh juga. Hangat membasahi seprai sutra mewah ini. Aku tidak menyesali keputusanku. Jika harga yang harus kubayar untuk memperpanjang usia ibuku adalah menjual kebebasanku selama dua tahun kepada seorang lelaki dingin, maka aku akan melakukannya seribu kali lagi.
Namun di tengah rasa lega itu, ada ketakutan yang merayapi tubuhku. Aku tahu siapa Gala Mahendra. Dia seorang pengusaha terkenal, pria berdarah dingin yang merestrukturisasi perusahaan keluarganya dengan memecat ratusan karyawan tanpa berkedip demi alasan efisiensi. Tega dan tak punya hati.
Bagaimana nanti menjalani hari-hariku di sini, atau bisakah aku bertahan hidup bersamanya tanpa kehilangan diriku sendiri?
Seharian kulewati tanpa tahu harus melakukan apa. Aku tak keluar kamar sama sekali, walaupun aku ikhlas menjalani tapi aku tetap saja merenungi keputusan yang sudah kuambil. Menapaki setiap napas berat yang keluar.
Sore harinya, seorang kurir benar-benar datang membawa salinan dokumen pranikah itu. Kubaca sekali lagi lalu aku menyimpannya di laci paling bawah meja rias, di bawah tumpukan novel-novel lawas Indonesia yang baru saja kumasukan di sana. Kertas itu adalah pengingat agar aku tidak tersesat dalam ilusi kemewahan ini.
Malam tiba dengan cepat. Jakarta di luar sana berubah menjadi hamparan lampu-lampu yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang bertaburan di udara. Aku duduk di meja makan sendirian, menyantap sup ayam yang dimasak Bu Surti. Suasana begitu hening hingga suara denting sendokku terdengar mengalahkan suara detak jam dinding yang sangat mengganggu pikiranku. Lama sekali waktu berlalu di hari pertamaku di apartemen mewah ini
Sekitar pukul sebelas malam, pintu lift berdenting. Aku yang sedang membaca buku di sofa ruang tengah langsung menegakkan punggung.
Gala masuk. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Dasinya sedikit longgar. Tampan sekali dia dengan gayanya yang setengah acak-acakan itu. Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap setajam elang saat melihatku masih terjaga.
"Kamu belum tidur?" tanyanya sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja.
"Belum. A-aku menunggumu," kataku terbata. Aku merasa perlu membangun komunikasi yang sopan, setidaknya kita tinggal di satu atap, jadi aku tetap mau ada hubungan selayaknya pasangan suami istri sungguhan.
Gala berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di depanku. Aroma parfumnya menyengat kuat, langsung memenuhi indera penciumanku. "Sudah kukatakan, jangan menungguku, Kirana. Kita punya jadwal masing-masing. Di rumah ini, kamu bebas melakukan apa saja, asal tidak mengganggu privasiku dan tidak membawa orang luar tanpa izinku."
"Aku paham," aku menelan ludah. "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Paman bilang rumah ibu sudah ditebus, dan perawatannya--"
Gala mengangkat satu tangannya, memotong kalimatku. "Itu bagian dari kesepakatan bisnis kita. Kamu memberikan apa yang kumau dan aku memberikan apa yang kamu butuhkan. Tidak perlu ada rasa terima kasih."
Kata-katanya seperti siraman air es. Jujur, to the point, dan tanpa tedeng aling-aling.
Aku melongo.
"Oiya, ada satu hal yang harus kusampaikan sekarang," Gala melanjutkan, matanya menatapku lurus. Aku diam menunggunya melanjutkan. "Hari Minggu esok, kita ada acara makan malam keluarga di kediaman kakek. Pakai pakaian yang pantas. Aku akan meminta sekretarisku mengirimkan beberapa gaun besok. Pastikan kamu tahu cara bersikap sebagai istri seorang Mahendra."
"Aku akan belajar," jawabku berusaha menahan suaraku yang bergetar.
"Bagus. Selamat malam, Kirana."
Dia berbalik menuju kamarnya, menutup pintu cepat. Aku hanya bisa menyaksikan punggung lebarnya masuk ke dalam kamar itu.
Aku kembali terhempas dalam keheningan. Senyap yang menyiksa.
Pernikahan ini memang tidak berpondasi. Kami hanya dua aktor yang sedang bersiap naik ke panggung untuk memainkan peran yang sudah ditulis oleh selembar kertas kontrak.
***
Rumah utama keluarga Mahendra lebih mirip istana zaman kolonial daripada kediaman pribadi. Terletak di kawasan yang semua rumahnya lebih besar dari lapangan tenis, rumah itu dikelilingi pagar besi tinggi dan pohon-pohon palem berjajar rapi yang memberikan kesan mahal.
Aku turun dari mobil dengan gaun terusan brokat warna salem pilihan sekretaris Gala. Gaun itu pas di tubuhku, berkelas namun tidak mencolok. Gala turun dari sisi lain, berjalan memutari mobil, lalu mengulurkan siku tangannya ke arahku.
Aku menatap ragu sikunya.
"Ini panggung kita, Kirana. Gandeng tanganku," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.
Aku menyelipkan jemariku di lengannya. Otot lengannya keras dan kuat. Saat kami berjalan masuk, aku bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari raut wajahnya. Gala mungkin seorang yang sangat berpengaruh di luar, tetapi di rumah ini ada pengaruh yang tidak bisa dia lawan, penguasa tertinggi keluarga Mahendra.
Kakek Gala, Prasodjo Mahendra, duduk di kursi roda di ujung meja makan yang panjangnya bisa menampung dua puluh orang. Di sampingnya paman dan bibi Gala, juga ada sepupu-sepupunya yamg memandang rendah ke arahku. Mereka menatap kita berdua seperti sekumpulan serigala lapar yang siap menguliti. Aku sempat minder, tak nyaman pula berada di antara mereka. Aku merasakan atmosfer di ruangan itu begitu pekat oleh aroma persaingan dan kecurigaan. Aroma saling jegal untuk memerebutkan warisan.
"Jadi, ini wanita yang kamu pilih, Gala?" Suara Prasodjo Mahendra serak namun berwibawa.
"Iya, Kek. Ini Kirana," Gala membimbingku untuk duduk di kursi yang bersebelahan dengannya. Dia menarik kursi dan memersilahkanku duduk. Perlakuannya seperti seorang lelaki yang tahu caranya membuat seorang wanita bisa langsung jatuh cinta padanya.
"Kami memilih pernikahan dengan undangan terbatas karena Kirana tidak menyukai keramaian, dan aku tidak ingin media mengendus kehidupan pribadi kami terlalu cepat."
Mata tua yang tajam itu beralih kepadaku. Mata-mata lainnya pun memandang kami tak berharga. Aku merasa seperti spesimen yang sedang diteliti di bawah mikroskop. "Kirana Anandita. Kudengar keluargamu sedang mengalami masa sulit, Nona?"
Aku terhenyak mendengarnya. Dari mana pria tua ini tahu tentangku. Apa Gala sudah menceritakannya. Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan, sebuah cara untuk menjatuhkan mentalku. Gala di sampingku tetap tenang, memotong steaknya dengan gerakan berkelas seolah tidak mendengar. Aku tahu, meski aku datang bersamangat, aku tetap harus bertarung sendiri. Gala tidak akan membantuku jika aku terlihat lemah.
Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu, dan menatap langsung ke mata pria tua itu. "Keluarga kami memang sedang diuji dengan kesehatan Ibu saya. Namun saya diajarkan oleh almarhum Ayah saya untuk selalu menjaga kehormatan, apa pun kondisinya. Pernikahan saya dengan Gala didasari oleh--" aku diam sejenak, mengatur napas dan menyelami pikiranku mencari kata yang tepat. "Pernikahan kami didasari oleh kesepahaman yang mendalam tentang apa yang kami inginkan di masa depan."
Aku sengaja menggunakan kata kesepahaman, bukan cinta. Aku tidak ingin berbohong terlalu jauh hingga terdengar konyol di telinga orang-orang berkuasa ini.
Prasodjo Mahendra jeda sejenak. Sudut bibirnya yang keriput terangkat sedikit, entah karena puas atau meremehkan. Tapi aku melihat sikapnya itu aneh. Kalau kuperhatikan dia tak ingat dengan usianya sendiri.
"Kesepahaman. Kata yang bagus untuk anak muda. Kita lihat seberapa lama kesepahaman itu bisa bertahan di bawah tekanan."
Aku diam lagi, mataku menunduk lurus ke piring porselen di hadapanku. Aku mencoba menguliti kata-kata pria tua itu. "Tekanan" apa yang dia maksud. Sempat kulirik yang lainnya, ternyata melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kakek itu, menaikan sudut bibirnya sambil memandang rendah ke arahku. Aku merasakan getaran panas ditubuku sendiri, tanganku sedikit gemetar, tapi tak kusangka tangan kekar Gala menggenggam tangan kiriku di atas meja. Dia ingin mengatakan kalau aku tak sendiri, dan seakan mendukungku. Sikapnya membuatku berpikir yang tidak-tidak, beberapa menit yang lala Gala begitu acuh, tapi kenapa sekarang begitu perhatian. Sentuhannya bukan membuat getaran tanganku berhenti, justeru aku semakin dibuat gelisah oleh sikapnya.
Aku sempat memandang ke aeahnya, sambil mengunyah ia juga memandang ke mataku. Lalu aku kembali memandangi piring porselen, tanpa sadar sudut bibirku naik sama seperti sudut bibir keluarga Gala yang tadi tersenyum merendahkanku. Ada senyum bahagia dari wajahku. Dan itu terpancar menyebar, menimbulkan iri orang-orang di sekelilingku.
Tapi apa sebenarnya Gala ingin mengatakan padaku memang seperti itulah keluarganya, dia ingin aku mengetahuinya teelebih dahulu.
Makan malam berlanjut dengan obrolan seputar saham, akuisisi, dan politik bisnis yang tidak kupahami sepenuhnya. Gala berbicara dengan taktis, menepis setiap sindiran dari paman, bibi, dan sepupunya yang jelas-jelas tidak senang melihat posisi Gala yang semakin kuat setelah pernikahan ini. Canggung menyergapku, aku hanya bisa terduduk diam tanpa melakukan apa-apa, hanya sesekali memindahkan tangan dari atas meja ke pahaku, atau sebaliknya. Begitu terus berulang kali.
Di bawah meja, tanpa sengaja, ujung sepatuku menyentuh sepatunya. Aku berniat menarik kakiku kembali, namun tiba-tiba tangan Gala turun ke bawah meja, menggenggam kembali jemariku yang bertumpu di atas paha.
Kali ini genggamannya erat, hangat, lebih manusiawi, dan sangat kontras dengan pembicaraannya yang dingin tentang likuidasi aset di atas meja makan. Aku tersentak, menoleh menatapnya, namun wajahnya tetap lurus menghadap salah seorang pamannya. Genggaman tangan itu bertahan selama sisa makan malam. Tapi bagiku itu bukan genggaman romantis, walaupun genggaman itu sempat membuat darahku berdesir hebat. Genggaman itu sebuah sinyal tak tertulis. Bertahanlah kita hampir selesai!
Saat kami akhirnya berpamitan dan kembali ke dalam mobil, aku melepaskan napas panjang yang rasanya sudah kutahan selama dua jam. Aku menyandarkan kepala ke kaca mobil yang dingin.
"Kamu melakukannya dengan baik," kata Gala tiba-tiba tanpa melihat ke wajahku, memecah keheningan malam di dalam mobil yang melaju membelah jalanan Jakarta.
"Terima kasih," kataku tanpa menoleh pula. "Kakekmu, dia mengerikan."
Gala tertawa, lalu menoleh. Aku bisa melihat dari sudut mataku. Aku pun menoleh ke wajahnya. Kulihat ia tersenyum. Senyum pertama yang kulihat. Dia sangat tampan dengan senyuman itu.
"Dia adalah pria yang membangun imperium dari nol dengan menyingkirkan siapa pun yang menghalanginya, termasuk anaknya sendiri," suara Gala terdengar getir. "Dia tidak percaya pada cinta. Baginya, semua hal di dunia ini memiliki label harga."
"Termasuk pernikahan kita?" aku memberanikan diri bertanya, menoleh untuk menatap samping wajahnya yang diterangi lampu jalanan yang timbul tenggelam.
Gala terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras. "Terutama pernikahanku. Kakek tahu aku membutuhkan posisiku di perusahaan untuk melindungi apa yang sudah kubangun. Dia sengaja memberi syarat pernikahan ini untuk melihat apakah aku cukup lihai untuk melakukan apa saja demi kekuasaan."
"Dan kamu membuktikannya denganku," kataku lirih.
"Ya. Denganmu," Gala menoleh sekali lagi, tapi hanya sekilas, matanya bertemu denganku di kegelapan mobil. "Dan kamu mendapatkan uangmu. Kita berdua mendapatkan apa yang kita inginkan, Kirana. Kertas itu menguntungkan kita berdua."
Aku membuang muka kembali ke jendela. Ya, kertas itu menguntungkan. Tapi mengapa ada rasa hampa yang perlahan-lahan merayap di dadaku? Sebuah ruang kosong yang menyadari bahwa di mata pria di sampingku ini, aku tidak lebih dari sekadar transaksi bisnis yang sukses dia jalankan.
***
Bulan-bulan pertama kulalui, monoton, sangat teratur, membosankan. Kami belajar hidup berdampingan seperti dua garis sejajar, sejalan tetapi tidak pernah bertemu.
Aku kembali bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan buku independen kecil. Gala tidak melarangku, asalkan aku tetap menjaga penampilan dan siap sedia jika ada acara keluarga atau perusahaannya yang mengharuskan kehadiranku. Gajiku sebagai editor yang tidak seberapa kini sepenuhnya kugunakan untuk kebutuhan pribadiku dan tabungan masa depan, karena seluruh biaya hidup di apartemen ditanggung Gala.
Setiap pagi, kami bertemu di meja makan. Aku dengan kopi hitam tanpa gula dan roti gandum, dia dengan espresso ganda dan koran bisnis digitalnya. Kami bertukar sapaan formal.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi. Hari ini aku pulang larut, ada pertemuan dengan investor dari Jepang."
"Baik. Aku akan meminta Bu Surti menyisakan sup di kulkas."
"Terima kasih."
Hanya itu. Singkat, padat, tanpa basa basi menjijikan.
Namun, manusia bukanlah mesin yang bisa diprogram sepenuhnya. Lambat laun, celah-celah kecil mulai terbuka dalam dinding pemisah kami.
Suatu malam di bulan keempat pernikahan kami, hujan badai besar melanda Jakarta. Petir bersahut-sahutan dengan suara menggelegar yang getarannya terasa hingga kaca lantai 22. Listrik di apartemen tiba-tiba padam, kejadian langka untuk gedung sekelas ini, tampaknya ada gangguan pada generator cadangan.
Aku yang ketakutan terhadap suara petir sejak kecil, duduk meringkuk di sudut sofa ruang tamu dengan memeluk lutut. Kegelapan total membuat suasana semakin mencekam.
Tiba-tiba cahaya senter menerangi dan mendekat. Itu Gala. Dia tidak pergi bekerja malam itu karena rapatnya dibatalkan akibat banjir di beberapa titik jalan.
"Kirana? Kamu di sini?" tanyanya, mengarahkan cahaya senter ke lantai, tidak langsung ke wajahku agar tidak silau.
"Iya," suaraku bergetar kecil saat sebuah kilatan petir kembali menyambar di luar jendela, disusul guntur yang bertabuh menggelegar. Aku refleks menutup telingaku.
Gala berjalan mendekat, lalu duduk di ujung sofa yang sama, memberi jarak yang sopan namun cukup dekat agar aku tahu aku tidak sendiri. Dia meletakkan sebuah lilin aromaterapi yang dinyalakan di atas meja kaca. Aroma lavender perlahan menyebar, menenangkan saraf-sarafku yang tegang.
"Kamu takut petir?" tanyanya dengan nada suara yang entah bagaimana terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Iya. Waktu kecil, rumah kami pernah tersambar petir sampai bagian atapnya terbakar. Sejak itu, aku selalu merasa tidak aman setiap kali ada hujan deras seperti ini," aku bercerita, kejujuran yang tidak kubuat-buat yang biasanya kusimpan rapat.
Gala terdiam memandangiku, lalu sesekali memandangi api lilin yang bergoyang tertiup angin. "Aku tidak takut petir. Tapi aku takut pada keheningan yang terlalu lama."
Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya yang diterangi cahaya temaram lilin kehilangan kesan angkuhnya. Dia tampak rapuh, sebuah pemandangan langka.
"Kenapa?" tanyaku memancingnya bercerita.
"Saat ibuku meninggal karena kecelakaan mobil belasan tahun lalu, rumah besar di Menteng itu menjadi sangat hening. Ayahku mengubur diri dalam pekerjaan, dan kakekku hanya berbicara tentang angka dan warisan. Keheningan di rumah itu rasanya seperti mencekikku perlahan. Itu sebabnya aku selalu menyibukkan diri. Bagiku, kesibukan adalah suara yang mengusir keheningan itu."
Aku terkesiap mendengarnya, dari sikapnya yang dingin ternyata Gala juga menyimpan trauma yang dalam sepertiku.
Malam itu, di dalam kegelapan apartemen lantai 22, kertas kontrak kami seolah mengabur sejenak. Kami bukan lagi Pihak Kesatu dan Pihak Kedua. Kami hanyalah dua orang anak manusia yang terluka oleh masa lalu, mencoba mencari kehangatan kecil di tengah badai Jakarta.
Perlahan Gala merapatkan tubuhnya padaku, tak lama dia merangkulkan tangannya ke tubuhku. Entah mengapa aku bukannya takut, tapi perlahan nyaman menyelimutiku.
Aku menatap wajahnya yang tersinari setengah purnama di langit abu-abu. Wajah tampannya terlihat sempurna dengan garis rahangnya yang tegas. Ingin rasanya kubelai wajah itu.
Ah! Mikir apa kamu, Kirana.
Suasana mulai mencair. Satu per satu topik bergulir lembut. Kami mengobrol hingga larut malam, membicarakan tentang buku-buku lama, tentang masa kecilku di kampung halaman yang hijau, dan tentang mimpi-mimpi Gala yang terpaksa dikuburnya demi memimpin perusahaan keluarga. Aku mendapati diriku tertawa mendengar ceritanya tentang bagaimana dia pernah mencoba kabur dari asrama sekolahnya di Inggris hanya untuk membeli burger di pinggir jalan. Gala sendiri sedih mendengar cerita masa kecilku yang penuh dengan perjuangan.
Saat listrik akhirnya menyala kembali, cahaya lampu yang terang benderang seolah menyentak kami kembali ke dunia sungguhan.
Gala melepaskan rangkulannya, lalu berdiri, berdehem pelan untuk mengusir kecanggungan yang tiba-tiba hadir. "Sudah larut. Sebaiknya kita tidur."
"Iya. Terima kasih untuk lilinnya, Gala," kataku.
Dia menatapku sesaat, sebuah tatapan yang sulit kuartikan sebelum mengangguk. "Selamat malam, Kirana."
"Selamat malam," ucapku datar mencoba menguasai diri.
Malam itu aku kembali ke kamar, berbaring di kasurku dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat. Aku menyentuh dadaku, merasa ngeri pada diriku sendiri.
Ingat klausulnya, Kirana, batinku memperingatkan. Perjanjian ini tertulis di atas kertas. Kertas bisa terbakar jika kamu bermain api dengannya.
***
Memasuki tahun kedua aku sebagai istri Gala di pernikahan kertas ini, kami semakin dekat. Kedekatan yang tidak disengaja itu mulai menuntut ruang yang lebih besar. Perubahan itu halus, namun pasti.
Gala mulai sering pulang lebih awal. Dia tidak lagi langsung masuk ke kamarnya, terkadang dia duduk di pantry mendengarkanku bercerita tentang naskah-naskah aneh yang masuk ke mejaku hari itu. Dia juga mulai memperhatikan hal-hal kecil. Saat aku bersin beberapa kali di pagi hari, sorenya sebuah paket berisi vitamin dan selimut wol baru sudah sampai di apartemen atas namanya.
Aku pun mulai terbiasa dengan kehadirannya. Aku tahu dia menyukai seduhan kopi dengan sedikit taburan kayu manis, dan aku mulai menyiapkannya setiap pagi sebelum dia bangun. Aku tahu dia sering mengalami sakit kepala di pelipis kanan jika terlalu stres, dan aku mulai meletakkan minyak esensial mint di meja kerjanya tanpa berkata apa-apa.
Kami menjadi pasangan yang solid dalam acara-acara keluarga atau perusahaannya. Di depan rekan bisnisnya, kami adalah pasangan muda yang ideal, sempurna tanpa cela. Gala tidak lagi ragu merangkul pinggangku atau menggenggam tanganku di depan kamera. Namun sentuhan-sentuhan itu mulai terasa berbeda di kulitku. Kami tidak lagi terasa seperti sedang berakting. Setiap kali jemarinya menyentuh kulitku, ada getaran kecil yang membuatku merinding, bukan kagi desiran darah yang mengalir cepat tapi lebih ke rasa yang sulit dilukiskan. Ini seharusnya bisa jadi peringatan tanda bahaya tapi kuabaikan.
Masalah baru datang di suatu malam minggu. Gala mengundang beberapa teman dekat kuliahnya dulu dari London untuk makan malam kecil di apartemen. Ini pertama kalinya ada orang luar yang masuk ke ruang privasi kami, namun karena mereka adalah teman masa kuliahnya Gala, aku setuju untuk ikutan. Itupun setelah beberapa kali Gala membujukku, rayuan mautnya sulit kutampik.
Di antara para tamu, ada seorang wanita bernama Elena. Cantik, dengan gaya bicara khas kelas atas yang percaya diri, dan kulihat dengan jelas Elena memiliki masa lalu dengan Gala. Terlihat sekali dari caranya menatap Gala dan bagaimana dia dengan santai meletakkan tangannya di lengan Gala saat tertawa, aku tahu ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka.
"Jadi, Kirana--" Elena beralih kepadaku saat kami sedang menikmati hidangan penutup di area balkon. "Bagaimana rasanya menikah dengan pria paling sibuk di Jakarta?" tanya gadis itu memancingku.
Aku tersenyum manis, mengaduk tehku dengan tenang. "Gala memang pekerja keras, Elena. Tapi dia selalu tahu kapan harus pulang," kataku sambil melirik Gala yang sedang berbincang dengan teman yang lain.
Elena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sinis di telingaku. "Oh, benarkah? Kuharap begitu. Gala adalah orang yang sangat pragmatis. Dia selalu tahu apa yang dia inginkan dan bagaimana cara mendapatkannya, tidak peduli apa yang harus dia korbankan."
"Tapi itu semua masih bisa kuatasi, Elena," sanggahku sambil tersenyum penuh arti. Wajah Elena seketika berubah, senyumnya memudar.
Selama setahun ini aku sudah mempelajari gimana caranya menghadapi wanita seperti Elena ini. Aku banyak belajar setelah beberapa kali pertemuan dengan keluarga Gala. Gala juga yang membimbimgku pelan-pelan.
Tapi tetap saja kalimat Elena terus bergema di kepalaku bahkan setelah para tamu yang lain meninggalkan apartemen ini satu per satu. Kalimat itu terus terngiang menari-nari di benakku.
Apartemen kembali sunyi, seperti sebelumnya.
Aku sedang merapikan gelas-gelas di dapur ketika Gala masuk ke pantry.
"Kamu tidak perlu membersihkan itu sekarang, Kirana. Biar Bu Surti saja besok pagi," katanya melihat gerakanku yang agak cepat membilas gelas.
"Aku tidak apa-apa, Gala. Aku suka kesibukan," jawabku, nada suaraku sedikit lebih keras dari yang kuinginkan. Aku masih kesal dengan tawa sinis Elena tadi.
Gala mengernyitkan alis. Dia berjalan mendekat, menghentikan tanganku yang sedang memegang spons pencuci piring. "Ada apa denganmu? Kamu mendiamkanku sejak makan malam tadi. Tidak seperti biasanya."
Aku menarik tanganku dari genggamannya, mengeringkannya dengan kain lap. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya lelah."
"Ini tentang Elena?" pancing Gala tepat sasaran. Ya tentu saja, aku masih kepikiran kalimat yang keluar dari mulut wanita itu.
Aku menghela napas, berbalik menghadapnya. "Elena benar, bukan? Kamu adalah orang yang sangat pragmatis. Semua hal dalam hidupmu dihitung berdasarkan untung rugi. Termasuk aku. Termasuk pernikahan ini."
Mata Gala menggelap. "Kenapa kita membahas ini lagi? Kita sudah menyepakati semuanya sejak awal, Kirana. Mengapa masa lalu atau pendapat Elena menjadi penting sekarang?"
"Karena rasanya melelahkan, Gala!" suaraku meninggi lagi satu nada, memecah keheningan malam. "Melelahkan harus berpura-pura menjadi istri yang bahagia di depan teman-temanmu, di depan kakekmu, sementara di sini, di balik pintu ini, kita kembali menjadi dua orang asing yang terikat kontrak! Aku merasa seperti barang pajangan yang dibeli dengan jaminan tenggat waktu! Kalau rusak bisa dikembalikan."
"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai barang pajangan!" Gala melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan kehangatan napasnya. "Aku menghormatimu. Aku membiarkanmu menjalani hidupmu. Apa yang kurang, Kirana? Apakah uang yang kuberikan kurang?"
Plak.
Kata uang itu memicu emosi berlari menanjak. Tanpa sadar, tanganku melayang ke pipinya. Suara tamparan itu terdengar nyaring di dapur yang sunyi.
Aku terengah-engah, menatap telapak tanganku yang terasa panas, lalu menatap wajah Gala yang terkeleh ke samping. Rahangnya mengeras, ada bekas kemerahan samar di pipinya yang putih. Matanya saat dia kembali menatapku tidak lagi dingin. Ada luapan emosi yang berkecamuk di sana, kemarahan yang bercampur dengan rasa sakit.
"Maaf--" bisikku, aku ketakutan atas apa yang baru saja kulakukan. "Maaf, aku--"
Sebelum aku sempat melanjutkan, Gala maju selangkah lagi, mencengkeram kedua bahuku dengan lembut namun kokoh, mengunci tubuhku di antara dirinya dan meja dapur.
"Jangan pernah mengira ini hanya tentang uang bagiku, Kirana," bisiknya dengan suara rendah yang bergetar karena emosi yang tertahan.
"Lalu tentang apa?" tantangku, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Kertas itu, kertas itu mengatakan semuanya!"
"Kertas itu salah!" Gala memotong kalimatku, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. "Kertas itu kubuat sebelum aku mengenalmu. Kertas itu kubuat sebagai antisipasi keputusan kakekku, siapapun gadis yang kutemui maka akan menandatangani kertas itu. Dan kebetulan aku bertemu dengan kamu."
Gala melepas cengkeramannya. Dia berdiri di sampingku, menatap lurus ke depan sejajar dengan tatapanku. Aku mengusap air mata yang kadung meleleh. Gala melihat itu, dengan cepat dia mengambil kotak tisu dan menyodorkannya padaku.
Gala melanjutkan. "Kirana, itu semua tak berarti, sebelum aku tahu bagaimana rasanya memiliki seseorang yang menungguku pulang di malam hari. Sebelum aku tahu bahwa kopi buatanmu adalah satu-satunya hal yang ingin kunikmati di pagi hari, sebelum aku mulai gila karena memikirkanmu setiap kali aku berada di ruang rapat!"
Aku terpaku. Jantungku serasa berhenti berdetak mendengar pengakuannya.
"Kirana ..." suara Gala melunak, sebuah usapan lembut yang naik ke pipiku, menghapus sisa air mata yang mengering. "Aku tidak tahu cara mencintai seseorang dengan benar. Aku tumbuh di lingkungan di mana cinta adalah kelemahan. Tapi bersamamu, aku tidak ingin menjadi lelaki yang pura-pura kuat. Aku tidak mau dicap angkuh. Aku tidak mau disematkan kalimat lelaki yang dingin, berwajab datar, tidak punya hati. Tidak, aku tidak mau itu. Aku ingin menjadi manusia seperti kebanyakan lelaki lainnya. Aku ingin ada seseorang yang mencintaiku, dan tentunya aku mencintai dia. Dan kamu tahu orang itu adalah kamu. Aku tidak ingin pernikahan kertas ini berakhir."
Aku masih melongo mendengar tutur katanya. Aku masih belum percaya Gala bisa berucap seperti itu. Selama setahun ini dia memang sudah berubah, tapi kukira perasaannya masih sama saat perjanjian itu kutandatangani. Tak ada yang berubah.
Gala tiba-tiba menunduk, dan sebelum aku bisa memproses semuanya, bibirnya sudah menemukan bibirku.
Sentuhan itu awalnya ragu-ragu, seolah-olah dia takut aku akan mendorongnya menjauh. Namun, saat itu aku tidak menolak, dan ciuman itu berubah menjadi perasaan yang dalam, menuntut, penuh dengan kerinduan dan frustrasi yang telah kami pendam selama setahun ini. Aku memejamkan mata, membiarkan lembaran kontrak itu menguap dari pikiranku. Tanganku perlahan naik, melingkari lehernya, menyerahkan diriku sepenuhnya pada rasa yang selama ini kutolak untuk kuakui.
Malam itu, di dapur apartemen yang sepi, kontrak kami resmi terbakar oleh rasa yang bernama ....
Cinta.
***
Pagi setelah malam tadi terasa berbeda. Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar tidak lagi terasa dingin. Gala tidak pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Dia berada di sampingku, memelukku erat di bawah selimut wol tebal, seolah-olah jika dia melepaskannya, aku akan menghilang seperti asap.
"Kita perlu mengubah perjanjian itu," bisik Gala lembut di telingaku, tangannya sibuk mengusap-usap kepalaku, jemarinya memainkan rambutku yang berantakan.
"Mengubahnya?" aku mendongak, menatap matanya yang kini tampak hangat dan penuh binar kehidupan. Senyumnya juga terlihat tulus. Aku makin jatuh cinta padanya.
"Ya. Kita robek kertas lama itu. Kita buat komitmen baru. Tanpa tenggat waktu dua tahun, tanpa klausul pisah harta yang konyol itu. Aku ingin kamu menjadi istriku seutuhnya, dalam hukum, dalam hati, dalam segala hal yang kumiliki," katanya sungguh-sungguh.
Aku tersenyum, merasa seolah beban seberat satu ton telah diangkat dari dadaku. "Aku tidak butuh hartamu, Gala. Aku hanya butuh kamu."
"Aku tahu. Dan justeru karena kamu tidak menginginkannya, aku ingin memberikan semuanya padamu," dia mencium keningku lama. Kurasakan hangat bibirnya mengaliri wajahku.
Namun kebahagiaan kami ternyata terlalu prematur. Dunia nyata tidak membiarkan kami lepas dari jeratan kertas begitu saja.
Dua minggu kemudian, sebuah amplop cokelat tebal tiba di kantor penerbitanku. Amplop itu tidak memiliki nama pengirim, hanya namaku yang tertulis dalam ketikan mesin. Saat aku membukanya di meja kerjaku, jantungku serasa dicopot paksa dari tempatnya.
Di dalamnya ada salinan lengkap perjanjian pranikah kami, beserta foto-foto kami saat menandatanganinya di restoran hotel setahun lalu. Ada juga beberapa lembar cetakan rekening koran yang menunjukkan transfer uang dalam jumlah besar dari rekening Gala ke rekening pamanku untuk penebusan rumah dan biaya rumah sakit ibu.
Di lembar paling akhir, ada sebuah catatan pendek yang ditulis tangan dengan tinta hitam yang tipis,
Nona Kirana Anandita. Kau telah memainkan sebuah sandiwara yang sangat rapi. Namun, tipuan kertas ini tidak akan bisa menipu pengadilan waris keluarga Mahendra. Jika Gala tidak mengundurkan diri dari posisinya sebagai CEO Mahendra Group dalam waktu tiga hari, seluruh dokumen ini akan dirilis ke media nasional. Mari kita lihat bagaimana publik dan pemegang saham menilai pernikahan transaksional sang putra mahkota.
Aku gemetar hebat. Pena di tanganku jatuh ke lantai. Ancaman ini bukan main-main. Jika dokumen ini bocor, reputasi Gala akan hancur. Kakeknya akan mencabut seluruh hak waris dan posisinya di perusahaan atas tuduhan manipulasi dan penipuan kontrak keluarga. Semua kerja keras Gala untuk menyelamatkan perusahaan dari korupsi paman-pamannya dan sepupu-sepupunya yang serakah akan sia-sia dalam semalam.
Dan penyebabnya adalah aku. Karena kemiskinanku, karena kebutuhanku akan uang untuk ibuku, aku menjadi titik lemah Gala yang paling mematikan.
Aku pulang ke apartemen sore itu dengan tubuh lemas. Gala belum pulang. Aku duduk di atas karpet lantai ruang tengah, menyebarkan dokumen-dokumen ancaman itu di atas meja kaca.
Aku menatap cincin pernikahan di jariku, kuusap-usap cincin itu. Kemudian kembali kuperhatikan dokumen-dokumen itu.
Kertas-kertas ini akhirnya menuntut korbannya, batinku pahit.
Ketika lift privat berdenting terbuka dan Gala melangkah masuk dengan senyum hangat yang kini selalu dia miliki saat pulang, senyum itu langsung memudar ketika dia melihat ekspresi wajahku dan lembaran kertas yang berserakan di meja.
"Kirana? Ada apa?" Dia bergegas mendekat, berlutut di depanku.
"Lihat ini," suaraku kering, menunjuk pada dokumen-dokumen itu.
Gala mengambil lembaran-lembaran itu, membacanya dengan cepat. Aku bisa melihat bagaimana rahangnya mengeras, dan urat-urat di pelipisnya menegang saat dia membaca catatan ancaman tersebut.
"Siapa yang mengirim ini?" tanyanya, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan berbahaya, seperti dulu.
"Tidak ada nama pengirimnya. Tapi kemungkinan besar salah satu pamanmu, atau mungkin ... Elena!" kataku.
"Yang tahu isi perjanjian ini hanya pengacaraku, Kirana."
"Jangan-jangan ada salah seorang yang telah mengintimidasi pengacara kamu, lalu memintanya untuk membuka kedokmu," kataku menyelidik. Gala masih kebingungan, wajahnya menyiratkan kekesalan.
"Bukan siapa yang telah membongkar peejanjian kita, Gala, atau bukan siapa yang sudah mengintimidasi pengacaramu. Yang terpenting di sini mereka sudah tahu semuanya. Mereka tahu pernikahan ini awalnya hanya sebuah perjanjian bisnis. Mereka akan menghancurkanmu." Aku berusaha menurunkan suaraku biar Gala tidak semakin terpancing emosinya.
Gala meremas kertas-kertas itu dalam genggamannya hingga lecek. Dia menatapku, matanya penuh dengan determinasi yang keras. "Biarkan saja. Biarkan mereka merilisnya. Aku tidak peduli lagi dengan posisi CEO itu, Kirana. Aku bisa membangun perusahaanku sendiri dari awal. Aku tidak akan membiarkan mereka mengancam kita menggunakan masa lalu kita."
"Tidak, Gala! Kamu tidak mengerti!" aku memegang tangannya, menghentikan gerakannya. "Ini bukan hanya tentang posisimu. Ini tentang harga dirimu. Kamu sudah mengorbankan segalanya untuk perusahaan itu. Jika kamu mundur karena skandal ini, mereka menang. Dan kamu akan membenciku suatu hari nanti karena menjadi penyebab jatuhnya seorang CEO hebat."
"Aku tidak akan pernah membencimu!" seru Gala tegas. "Kamu adalah wanita terbaik yang pernah kukenal dalam hidupku, Kirana! Persetan dengan Mahendra Group!"
"Tapi aku peduli!" teriakku balik, wajahku memerah panas. "Aku peduli pada masa depanmu. Aku tidak ingin menjadi batu sandungan bagi pria yang kucintai. Pernikahan ini dimulai di atas kertas, Gala. Dan mungkin, di atas kertas pula kita harus menyelesaikannya sebelum terlambat."
Gala menatapku dengan pandangan tidak percaya. "Apa maksudmu? Kamu ingin kita berpisah? Hanya karena lembaran-lembaran kertas ancaman ini?"
"Hanya untuk sementara," aku menjawabnya lugas, lalu membujuknya agar dia mengerti situasinya, meski hatiku sendiri terasa seperti diiris sembilu. "Kita umumkan perceraian dengan alasan ketidakcocokan sebelum mereka merilis dokumen ini. Jika kita sudah bercerai secara resmi, dokumen perjanjian pranikah ini tidak akan lagi memiliki kekuatan hukum untuk membatalkan apa pun, karena pernikahan itu sudah selesai. Posisi warismu akan aman karena kamu telah memenuhi syarat pernikahan, dan perceraian adalah hal yang lumrah di kalangan pebisnis elit."
"Tidak. Aku menolak!" Gala berdiri, berjalan membelakangiku, mencengkeram pembatas balkon dengan erat. "Aku tidak akan menandatangani surat cerai apa pun. Kita baru saja saling menemukan satu sama lain, Kirana. Aku tidak akan melepaskanmu."
Aku mendekatinya dari belakang, menyandarkan kepalaku di punggungnya yang tegap yang kini bergetar hebat. "Ini bukan perpisahan yang sebenarnya, Gala. Ini adalah strategi kita. Kali ini kita menggunakan kertas untuk melindungi satu sama lain, bukan untuk mengikat satu sama lain dalam kepalsuan. Tolong, percayalah padaku."
Gala berbalik, menarikku ke dalam pelukannya begitu erat hingga aku kesulitan bernapas. Dia menangis. Pria tampan yang dingin itu menangis di bahuku, memohon agar ada jalan lain. Namun kami berdua tahu, di dunia orang-orang dengan kekayaan tak terbatas itu, terkadang kamu harus mengorbankan bidak catur yang berharga untuk menyelamatkan raja.
***
Proses perceraian kami berlangsung cepat tanpa urusan yang ribet, semudah pernikahan kami setahun yang lalu. Pengacara Gala mengurus semuanya di balik pintu tertutup pengadilan agama. Alasan yang diajukan adalah perbedaan visi yang tidak dapat disatukan kembali, alasan klise yang sempurna untuk konsumsi publik.
Media sempat memberitakannya dalam beberapa kolom kecil di rubrik gosip bisnis, namun berita itu segera tenggelam oleh isu-isu ekonomi yang lebih besar, isu-isu pemerintahan juga turut menghilangkan jejaknya. Pihak yang mengirimkan surat ancaman itu kehilangan taringnya, mereka tidak bisa lagi memeras Gala dengan dokumen pranikah karena objek pernikahannya sendiri sudah tidak ada. Gala tetap memegang posisinya sebagai CEO Mahendra Group, dan kakeknya tidak memiliki dasar hukum untuk mencopotnya karena syarat "pernah menikah" telah terpenuhi secara legal sebelum perceraian terjadi.
Aku pindah dari apartemen lantai 22. Aku menyewa sebuah rumah kecil yang asri di pinggiran kota, dekat dengan rumah sakit tempat ibuku menjalani perawatan. Rumah itu memiliki halaman kecil dengan pohon mangga yang rindang, tempat yang jauh lebih hangat daripada marmer hitam apartemen Gala yamg dingin.
Uang dari kesepakatan awal tetap tersimpan di rekeningku, Gala menolak keras untuk mengambilnya kembali, bahkan dia menambahkan jumlah yang cukup untuk memastikan ibuku mendapatkan perawatan terbaik sepanjang hidupnya.
Selama enam bulan, kami mematuhi kesepakatan tidak tertulis yang kami buat sendiri, tidak ada kontak, tidak ada pertemuan di depan publik. Kami harus memastikan bahwa perceraian kami terlihat nyata di mata keluarga Mahendra yang masih mengawasi.
Aku menjalani hariku seperti biasa, kembali menjadi Kirana yang dulu, seorang editor buku yang tenggelam dalam kata-kata orang lain. Namun, ada satu perbedaan besar, aku tidak lagi merasa kesepian dalam arti yang lama. Di jari manisku, cincin emas polos itu memang sudah tidak ada, namun bekasnya masih tercetak jelas di kulitku, dan di dalam laci meja kerjaku, ada sebuah dokumen baru yang kusimpan.
Bukan dokumen pranikah. Melainkan sebuah surat pendek yang ditulis Gala di malam sebelum aku pergi dari apartemennya.
Kirana. Kertas bisa dicabik, bisa pula dibakar, bisa dibatalkan jua oleh hukum manusia. Namun apa yang tertulis di hatiku tidak menggunakan tinta yang bisa luntur. Tunggu aku di ujung jalan ini. Saat waktunya tiba, aku akan datang bukan membawa kontrak, melainkan membawa diriku sendiri tanpa syarat.
Sore ini, hujan turun mengguyur pinggiran Jakarta. Bukan badai yang mengerikan dengan petir yang menyambar, melainkan hujan sore yang sejuk dan menenangkan. Aku sedang duduk di teras rumah kecilku, menghirup teh hangat sambil membaca draf naskah novel terbaru.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar rumahku. Jantungku melewatkan satu detakan, seolah berhenti tanpa ketukan.
Pintu mobil terbuka. Seorang lelaki turun tanpa menggunakan payung, membiarkan tetesan hujan membasahi kemeja kasualnyal. Dia berjalan membuka pagar, melangkah melewati jalan setapak di halaman kecilku.
Itu Gala. Wajahnya tampak sedikit lebih kurus, namun matanya memancarkan kebebasan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku berdiri dari kursi teras, meletakkan draf naskahku, menyambutnya dengan senyuman termanisku.
Gala berhenti di batas undakan teras, menatapku dengan senyum yang begitu tulus hingga matanya ikut tersenyum.
"Kakek meninggal minggu lalu," kata Gala, suaranya tenang, tanpa kesedihan yang dibuat-buat, dia menerima takdir itu. "Aku sudah merestrukturisasi seluruh manajemen. Paman-paman dan semua sepupuku sudah tidak memiliki hak suara lagi di perusahaan. Aku sudah menyelesaikan tugasku di sana, Kirana. Aku sudah mengundurkan diri sebagai CEO aktif dan menyerahkan operasional harian kepada profesional. Aku sekarang hanya seorang pemegang saham pasif."
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu, kamu melepaskan imperium itu?"
"Aku menukarnya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga," Gala melangkah naik ke teras, mendekatiku hingga jarak di antara kami kembali menguap. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah tua.
Dia membukanya. Di dalamnya bukan lagi cincin emas polos dari toko perhiasan. Itu adalah sebuah cincin dengan batu safir biru kecil yang sederhana namun indah, dikelilingi ukiran motif daun yang rumit, jenis cincin yang pernah kukatakan padanya sebagai cincin impianku saat kami mengobrol di malam badai dulu.
"Kirana Anandita," Gala berlutut di satu lututnya di atas lantai teras rumahku yang sederhana. "Aku tidak punya kertas kontrak kali ini. Aku tidak punya syarat dua tahun. Aku tidak punya pengacara yang menjamin asetku. Aku hanya punya diriku, cintaku yang terlambat kusadari, dan janjiku untuk menemanimu di setiap malam dan di setiap badai yang akan datang."
Air mataku runtuh, namun kali ini bukan karena rasa sakit atau ketakutan, melainkan karena kebahagiaan yang meluap hingga dadaku terasa sesak.
"Mau kah kamu menikah denganku lagi? Kali ini ... sebuah pernikahan yang diucapkan dengan tulus dan sungguh-sungguh, bukan pernikahan di atas kertas. Mau kan kamu menikah denganku?"
Aku berlutut di depannya, mensejajarkan diriku dengan pria yang telah mengubah seluruh duniaku. Sambil berurai air mata aku menggangguk pelan.
"Ya, Gala," bisikku di sela tangis bahagiaku. "Aku mau," kataku menyetujui anggukanku tadi.
Aku mengulurkan tangan, membiarkannya menyelipkan cincin safir itu ke jari manisku. Pas. Sempurna. Dan kali ini, rasanya sangat hangat.
Kami berpelukan di teras rumah itu, di bawah saksi rintik hujan sore yang menghapus seluruh sisa tinta hitam dari masa lalu kami. Pernikahan kertas kami telah berakhir, hancur berkeping-keping di pengadilan. Namun dari serpihannya, tumbuh sebuah ikatan baru yang tidak akan pernah bisa dirobek oleh tangan manusia, karena tidak lagi bertumpu pada hukum putih di atas hitam, tidak lagi mengandalkan materai sepuluh ribu, melainkan pada janji suci yang tertanam dalam keabadian hati, ketulusan cinta, dan putihnya harapan indah.
"Oiya, yang mengirimu ancaman itu salah seorang sepupuku. Dia yang mengintimidasi pengacaraku."
"Lalu apa yang kamu lakukan demgan sepupumu itu?"
"Kusita semua asetnya, dia sekarang jatuh miskin," jawab Gala.
Aku mengajaknya masuk, "lalu gimana nasib sepupumu itu."
Sambil berjalan ke dalam Gala menjawab, "aku tak tahu, mungkin sekarang jualan cilok di pinggir jalan." Aku terpingkal mendengar jawaban Gala.
Mulai hari ini, dan hari peresmian pernikahan kami sesungguhnya nanti, aku akan mencintainya setulus hatiku. Kuharap tak ada drama menyakitkan, karena aku sudah merasakan kepahitan hidup sejak kecil.
***