Sebening Rindu
Malam itu, Jakarta sedang tidak ramah. Hujan turun dalam tirai-tirai tebal yang menghantam kaca jendela kedai kopi di sudut kota. Di dalam, aroma espresso bercampur dengan kelembapan udara malam, menciptakan suasana yang biasanya mereka sebut romantis. Namun tidak malam ini.
Rafa menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. Jemarinya yang kokoh, yang biasanya dengan cekatan memetik senar gitar atau menggenggam jemari Nafa, malam ini tampak gemetar. Di seberang meja kecil berkaki besi itu, Nafa duduk mematung. Matanya yang bulat, mata yang selalu membuat Rafa jatuh cinta setiap kali memandangnya, kini sembap dan merah. Di antara mereka, tergelar selembar kertas putih bermeterai dengan logo sebuah laboratorium genetika terkemuka di Jakarta Pusat.
Kertas itu tipis, namun bobotnya malam ini terasa lebih berat daripada seluruh isi bumi.
"Rafa," suara Nafa nyaris berbisik, tenggelam di antara denting sendok dan deru mesin espresso di latar belakang. "Katakan padaku kalau ini cuma mimpi buruk. Tolong, bangunkan aku." Kata-katanya lirih, seakan menyimpan kepedihan yang teramat dalam.
Rafa tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu. Ia pun merasakan pilu, rasa yang Nafa juga rasakan.
Mereka telah menjalin cinta selama tiga tahun, selama seribu sembilan puluh lima hari penuh tawa, obrolan rencana masa depan, ciuman di bawah rintik hujan, berjalan saling berangkulan di pasir pantai, menyusuri kebun teh di puncak, bercengkerama di kedai-kedai kopi sudut kota, dan janji-janji setia yang kadung mereka ikrarkan Semua itu runtuh dalam satu kalimat kesimpulan medis di atas kertas.
Mereka tenggelam dalam kesedihan mendalam, kesedihan yang tak mungkin mereka lewati begitu saja.
Rafa dan Nafa teringat kenangan saat pertama kali bertemu.
Tiga Tahun yang Lalu, Jakarta sedang memasuki musim pancaroba. Peralihan dari musim kemarau ke musing hujan.
Pertemuan mereka terjadi di perpustakaan kampus pada suatu sore yang masih menyisakan terik musim kemarau, di bulan pertama perkuliahan pascasarjana. Nafa sedang kesulitan menjangkau sebuah buku referensi hukum perdata di rak paling atas. Rafa, dengan tinggi badan seratus delapan puluh sentimeter, mengulurkan tangan tanpa diminta, mengambilkan buku itu, dan menyerahkannya dengan senyuman yang langsung membuat jantung Nafa berdesir.
"Hukum Perdata Internasional?" tanya Rafa saat itu, melihat sampul buku. "Dosennya Prof. Subardjo, ya? Semoga beruntung. Beliau tipe yang suka menguji mental."
Nafa tertawa kecil, suara tawa yang kelak menjadi alunan musik instrumen favorit Rafa.
"Terima kasih. Aku butuh lebih dari sekadar keberuntungan untuk kelas beliau," kata Nafa lugas.
Sejak hari itu, segalanya mengalir seperti air yang menemukan jalurnya. Mereka menemukan begitu banyak kesamaan yang mengejutkan. Keduanya menyukai kopi hitam tanpa gula, sama-sama kidal, memiliki tahi lalat kecil di tempat yang sama di bawah telinga kiri, dan memiliki alergi yang aneh terhadap udang air tawar, bahkan tanggal lahir mereka pun sama, bulan yang sama, dan tahun yang sama pula.
Saat itu, mereka menganggap semua kebetulan itu sebagai tanda dari alam semesta bahwa mereka adalah belahan jiwa yang diciptakan berpasangan.
"Soulmate!" seru teman-teman mereka kompak
"Kamu itu seperti versi perempuan dari diriku, Naf," ujar Rafa suatu kali saat mereka sedang berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor, merayakan hari jadi mereka yang pertama.
Nafa menggelayut manja di lengan Rafa. "Dan kamu versi laki-laki dariku yang lebih tinggi dan agak menyebalkan. Tapi aku sayang," ujar Nafa tertawa kecil.
Hubungan mereka berjalan sangat sehat. Jarang ada pertengkaran besar. Jika ada selisih paham, mereka selalu menyelesaikannya dengan kepala dingin. Rafa adalah sosok pelindung, pria yang tenang dan penuh pertimbangan. Sementara Nafa lebih ceria, emosional namun pemaaf, dan sangat menyayangi Rafa dengan seluruh jiwanya.
Namun, ada satu hal yang selalu menjadi teka-teki kecil dalam hubungan mereka, latar belakang keluarga.
Rafa dibesarkan oleh seorang ibu tunggal, Dania, di Surabaya. Ayahnya, menurut cerita sang ibu, telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat saat Rafa masih bayi. Tidak ada foto, tidak ada peninggalan, hanya sebuah nama keluarga yang enggan dibahas oleh ibunya.
Ibu Rafa bekerja keras sebagai seorang dokter di rumah sakit swasta. Selain itu juga memiliki klinik pribadi. Ia sendiri yang membiayai kuliah Rafa hingga ke Jakarta.
Di sisi lain, Nafa adalah seorang anak yatim piatu sejak usia empat tahun. Dia diadopsi dari sebuah panti asuhan di Bandung oleh sepasang suami istri paruh baya yang tidak bisa memiliki anak, keluarga Brotomulyo. Orang tua angkat Nafa sangat menyayanginya, namun mereka tidak tahu banyak tentang asal-usul Nafa selain fakta bahwa Nafa diserahkan ke panti asuhan oleh seorang pria yang tidak meninggalkan identitas, dengan selembar catatan kecil bertuliskan "Nafa - 14 September 2001.
Karena sama-sama memiliki kekosongan dalam sejarah keluarga, mereka tidak pernah terlalu memusingkannya. Bagi mereka, masa depan adalah apa yang mereka bangun berdua, bukan apa yang ada di belakang mereka.
***
Memasuki tahun ketiga, hubungan mereka bergerak ke arah yang lebih serius. Rafa telah bekerja sebagai analis keuangan di sebuah bank asing, sementara Nafa sudah lebih dulu bekerja di sebuah firma hukum bergengsi. Rencana masa depan mulai dijalankan, pernikahan pun mulai dibicarakan.
"Aku ingin bertemu dengan Ibu," kata Nafa suatu malam, merujuk pada ibu Rafa di Surabaya. "Kita sudah tiga tahun pacaran, Raf. Masa aku belum pernah sekalipun dipertemukan dengan ibumu."
Rafa tersenyum dan mengacak rambut Nafa. "Ibu sibuk sekali dengan kliniknya di sana, Naf. Belum lagi ia juga bertugas di rumah sakit swasta. Tapi kamu pasti akan bertemu dengan Ibu. Bulan depan Ibu mau ke Jakarta, ada seminar kedokeran di sini. Sekalian kita makan malam bersama, ya?"
Nafa tersenyum, mengangguk pelan. Hatinya lega, akhirnya dalam waktu dekat ia bisa bertemu ibunya Rafa, Dania. Ini sudah ditunggu-tunggunya sejak lama.
Pertemuan itu dijadwalkan pada hari Sabtu di sebuah restoran hotel di kawasan Thamrin. Kebetulan ibunya Rafa akan menjadi salah satu pembicara seminar di hotel itu.
Ibu Dania, biasa ia dipanggil begitu adalah wanita paruh baya yang anggun namun guratan lelah dan usia tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang tersisa. Ketika Ibu Dania berjalan memasuki restoran, Nafa berdiri dengan senyum termanisnya, siap menyapa calon ibu mertuanya.
Namun, saat mata Ibu Dania bertumpu pada wajah Nafa, langkah kaki wanita itu mendadak terhenti. Wajahnya memucat seketika, seolah-olah seluruh darah di tubuhnya tersedot ke bumi.
"Ibu? Ibu tidak apa-apa?" Rafa bergegas menghampiri ibunya, memapah lengannya yang tiba-tiba lemas.
Ibu Dania tidak melepaskan pandangannya dari Nafa. Matanya menatap lekat-lekat garis rahang gadis itu, bentuk matanya, hingga caranya menyisipkan anak rambutnya ke belakang telinga kiri, menampilkan tahi lalat kecil yang persis sama dengan milik Rafa.
"Si-siapa namamu, Nak?" suara Ibu Dania bergetar hebat.
"Nafa, Tante," jawab Nafa, mendadak merasa gugup dan tidak nyaman di bawah tatapan lekat-lekat Ibu Dania. "Nafa Brotomulyo. Tapi Brotomulyo adalah nama orang tua angkat saya."
Makan malam itu berlangsung penuh kecanggungan. Ibu Dania lebih banyak diam, pandangannya kerap kali kosong, dan dia tak henti memperhatikan setiap gerak-gerik Nafa. Ketika Nafa pergi ke toilet, Ibu Dania langsung mencengkeram lengan Rafa dengan erat, cengkeraman yang hampir terasa menyakitkan.
"Rafa, katakan pada Ibu!"
"Ada apa, Bu? Ibu kenapa?"
"Dari mana asal Nafa? Panti asuhan mana?"
"Kenapa Ibu bisa nebak Nafa dari panti asuhan?"
Ibu Dania terlihat panik dia langsung melepaskan cengkeramannya dari lengan Rafa.
"Enggak pa-pa, Ibu hanya bertanya saja," ucapnya.
Rafa mengernyit bingung. Tak biasanya dia melihat ibunya berlaku seperti itu. Selama ini ibunya tak pernah ingin tahu apapun kehidupannya, apalagi kehidupan Nafa. Setiap ia bercerita tentang Nafa, ibunya selalu menanggapi antusias, seolah sudah menyatu dan kenal dengan kekasihnya.
"Bandung, Bu," jawab Rafa pada akhirnya. "Nafa berasal dari Panti Asuhan kecil bernama Kasih Bunda di Bandung. Kenapa sih, Bu? Ibu kelihatan tegang sekali sejak melihat Nafa."
Ibu Dania menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang mulai keriput. "Tidak mungkin! Tidak mungkin dunia sesempit ini," bisiknya berulang-kali. Ibu Dania memutuskan kembali ke hotel beralasan setelah Nafa kembali dari toilet. Dia beralasan tiba-tiba saja kepalanya sakit. Namun dia menolak untuk diantar naik ke kamar tempatnya menginap. Dia bersikeras bisa berjalan sendirian. Lalu meninggalkan sepasang kekasih itu dalam kebingungan.
***
Dua hari setelah makan malam yang menyisakan tanda tanya itu, Rafa menerima telepon dari ibunya. Suara Dania terdengar sangat tenang, ketenangan yang justru terasa mencekam. Dia meminta Rafa datang ke hotelnya sendirian, tanpa Nafa.
Di kamar hotel yang sunyi, ibunya duduk di tepi ranjang dengan sebuah kotak kayu tua di pangkuannya. Kotak yang belum pernah Rafa lihat sebelumnya, sepanjang hidupnya.
"Duduk, Rafa," katanya lembut, kotak kayu tua diletakan dipangkuannya.
Rafa duduk di kursi seberang ranjang. "Ada apa, Bu? Ibu membuatku takut. Apa ini ada hubungannya dengan Nafa? Ibu tidak merestui kami?"
Ibu Dania tersenyum getir, air matanya luruh tanpa suara. "Merestui? Demi Tuhan, Rafa, Ibu sangat ingin merestui kalian jika dunia ini berjalan dengan normal."
"Maksud, Ibu?"
Ibunya tak menjawab, dia justeru membuka kotak kayu itu, mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah agak menguning di sudut-sudutnya. Dia menyerahkannya kepada Rafa.
Rafa menerima foto itu. Di dalamnya, tampak ibunya yang masih muda bersanding dengan seorang pria tampan berambut ikal yang memiliki kemiripan luar biasa dengan dirinya sendiri. Di pelukan pria itu, ada seorang bayi laki-laki. Itu adalah dirinya. Namun, yang membuat napas Rafa tercekat adalah sosok bayi perempuan yang digendong oleh ibunya dalam foto itu. Bayi perempuan itu memakai gelang bayi berwarna merah muda dengan nama yang ditulis tangan, Nafisha.
"Siapa, siapa Nafisha, Bu?" tanya Rafa, tenggorokannya mendadak kering.
"Adikmu," jawab Dania dengan suara pecah. "Adik kembaranmu, Nak."
Rafa melongo, raut wajahnya semakin bingung.
"Iya, Nak, kamu punya kembaran. Namanya Nafisha."
Rafa menggelengkan kepala, tertawa getir, mencoba menolak apa yang mulai ditangkap oleh otaknya. "Nggak, Bu. Ibu bilang ayah meninggal dan aku anak tunggal. Ibu nggak pernah cerita aku punya kembaran!"
"Karena Ibu terlalu malu! Ibu terlalu hancur!" tangisbya pecah, dia menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya.
Dengan terbata-bata, mengalirlah cerita yang selama dua puluh lima tahun itu dikubur dalam-dalam oleh ibunya. Ayah Rafa, bernama Bramantyo Wiradikarta. Dia bukan meninggal karena kecelakaan pesawat. Bramantyo adalah seorang pria yang abusive dan memiliki utang judi di mana-mana. Ketika Rafa dan kembarannya baru berusia beberapa bulan, Bramantyo dikejar-kejar oleh penagih utang berbahaya. Dalam keputusasaannya, dia membawa pergi Nafa kecil dari pelukan Dania, dan berniat menjual bayi itu atau menggunakannya untuk memeras keluarga besarnya sendiri, keluarga Wiradikarta yang kaya namun sudah memutus hubungan dengan ayahnya, Bramantyo bahkan tak dianggap anak oleh keluarga kaya itu.
Dania yang ketakutan dan membawa Rafa yang masih berusia kurang dari dua tahun, melarikan diri ke Surabaya dengan bantuan kerabatnya. Dia mengubah identitasnya, memutus semua komunikasi dengan masa lalu, dan memberi tahu Rafa bahwa ayahnya sudah meninggal demi melindunginya dari bayang-bayang Bramantyo.
Beberapa tahun kemudian, Dania mendapat kabar bahwa Bramantyo tewas dalam sebuah perkelahian dengan senjata tajam di kawasan pelabuhan Bandung. Namun, bayi perempuan mereka, Nafisha, hilang tanpa jejak. Bramantyo ternyata telah meninggalkan bayi itu di sebuah panti asuhan di Bandung sebelum kematiannya, hanya dengan meninggalkan nama pendeknya, Nafa dan tanggal lahirnya.
"Ibu mencarinya selama bertahun-tahun, Rafa. Ke setiap panti asuhan di Bandung, tapi Ibu tidak pernah menemukannya karena nama belakangnya sudah berganti menjadi Brotomulyo setelah diadopsi," tangisnya meratap. "Dan sekarang, Nafisha ada di sini. Sebagai kekasihmu. Sebagai wanita yang ingin kamu nikahi."
Rafa merasa dunianya berputar dengan kecepatan yang tak terduga. Waktu bergulir mengerikan. Dinding-dinding kamar hotel seolah runtuh menimpanya. "Enggak, ini enggak mungkin. Ini pasti salah paham. Wajah mirip itu biasa, Bu! Kebetulan nama juga banyak!"
"Tahi lalat di bawah telinga kirinya, Rafa. Cara dia tersenyum, garis matanya, dia adalah salinan dari ayahmu dan Ibu, Nak. Dan yang paling penting," Ibunya mengeluarkan selembar kertas tua berisi akta kelahiran, Nafisha Wiradikarta. "Tanggal lahirnya. Coba kamu tanya pada Nafa, kapan tanggal lahir aslinya sebelum diganti oleh orang tua angkatnya menurut catatan panti."
Rafa tidak perlu bertanya. Dia tahu tanggal lahir Nafa di dokumen panti asuhan yang pernah Nafa tunjukkan padanya, 14 September 2001. Sama persis dengan tanggal yang tertera di akta kelahiran kuno di tangan ibunya. Panti asuhan itu sama sekali tidak mengganti tanggal lahir Nafa. Dan tanggal lahir itu sama dengan tanggal lahirnya.
***
Rafa menolak untuk percaya begitu saja. Logikanya menuntut bukti yang tidak bisa diganggu gugat oleh cerita masa lalu atau kemiripan fisik semata. Malam itu juga, tanpa memberi tahu ibunya, Rafa menemui Nafa.
Dia menceritakan semuanya dengan hati-hati, mencoba menahan emosinya sendiri agar Nafa tidak histeris menanggapinya. Namun, reaksi Nafa sama sekali tak diduganya. Nafa tertawa, menganggap itu adalah lelucon paling hambar dan kejam yang pernah didengarnya.
"Kamu bercanda kan, Raf? Ini alasan kamu buat mutusin aku karena Ibu kamu enggak suka sama aku?" tuduh Nafa dengan air mata yang mulai mengalir. "Itu konyol! Sinetron banget, Raf!"
"Naf, aku juga berharap ini cuma lelucon," kata Rafa, suaranya parau. "Tapi untuk memastikan, untuk membuang semua keraguan ini dari kepala kita, mari kita lakukan tes DNA. Hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa melanjutkan hubungan ini dengan tenang. Agar kita bisa membuktikan kalau Ibuku salah."
Nafa menganggap langkah Rafa yang ingin melakukan tes DNA adalah kekonyolan berikutnya. Dia tidak setuju.
"Ayolah, Naf. Hanya sekali tes aja, kita bisa jadikan itu bukti pada ibuku."
Nafa diam sesaat smabil mengusap air matanya.
"Oke kalau itu mau kamu, Rafa." Nafa menyetujuinya. Dengan amarah dan keyakinan penuh bahwa mereka adalah orang asing yang dipertemukan oleh cinta, Nafa melangkah bersama Rafa ke sebuah laboratorium genetika terkemuka. Mereka melakukan tes DNA. Tanpa sepengetahuan ibunya, Rafa mengambil beberapa helai rambutnya lalu membawanya ke laboratorium ini.
Dan di sinilah mereka sekarang. Seminggu setelah tes tersebut. Di dalam kedai kopi yang dingin di sudut kota, di bawah guyuran hujan Jakarta yang seolah ikut menangisi takdir mereka.
Kertas hasil laboratorium itu tidak berbohong. Angka 99,98% itu tercetak dengan tinta hitam yang tegas, merobek-robek sisa harapan terakhir yang mereka miliki.
"Bagaimana mungkin, kok bisa?" Nafa terisak, menenggelamkan wajahnya di atas meja. Bahunya terguncang hebat. "Bagaimana mungkin Tuhan sekejam ini pada kita, Rafa? Kenapa Dia membiarkan kita saling mencintai kalau pada akhirnya kita adalah..." Nafa tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Kita sepasang anak kembar yang terpisah lebih dari 20 tahun," ucap Rafa gemetar
Rafa memindahkan duduknya ke samping Nafa. Refleks, dia mengulurkan tangan untuk merangkul bahu Nafa, berniat menenangkannya seperti yang selalu dia lakukan selama tiga tahun ini setiap kali Nafa sedang gundah. Namun, baru saja tangannya menyentuh kulit bahu Nafa, sengatan kesadaran yang mengerikan membuat Rafa menarik tangannya kembali dengan cepat.
Sentuhan itu kini terasa salah. Pelukan itu kini adalah hal yang terlarang.
Mereka telah melewati batas yang ditetapkan oleh alam dan agama, meskipun tanpa mereka sadari. Setiap ciuman, setiap bisikan sayang, setiap sentuhan intim yang pernah mereka lakukan selama tiga tahun ini, mendadak berubah menjadi memori yang menakutkan dan penuh rasa bersalah.
"Naf..." Suara Rafa sendiri pecah. Pria yang biasanya tegar itu akhirnya meneteskan air mata. "Kita harus berhenti."
Nafa mendongak, wajahnya hancur oleh kesedihan. "Berhenti? Bagaimana caranya, Raf? Bagaimana cara mematikan perasaan yang sudah tumbuh selama tiga tahun dalam satu malam? Aku mencintaimu sebagai seorang pria, sebagai calon suamiku, bukan sebagai kakak kembaranku!"
"Aku tahu, Naf! Aku tahu sekali!" Rafa setengah mengerang, menahan ledakan emosi di dadanya yang terasa sesak luar biasa. "Tapi kita tidak punya pilihan. Kita tidak bisa menantang takdir ini. Jika kita terus bersama, kita hanya akan menghancurkan diri kita sendiri, menghancurkan Ibu, dan mengutuk masa depan kita."
Nafa kembali menangis, menenggelamkan kepalaanya di atas tangan yang menjadi alas menyandarkan kepalanya di atas meja.
Beberapa saat kemudian mereka memutuskan. Malam itu, di bawah rintik hujan yang tak kunjung reda, Rafa dan Nafa berpisah, meninggalkan semua yang sudah mereka lewati. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang memiliki darah yang sama, yang dipaksa oleh kenyataan untuk saling melepaskan.
***
Bulan-bulan berikutnya adalah neraka dunia bagi Rafa dan Nafa. Memutus hubungan setelah tiga tahun berpacaran dengan alasan tidak cocok saja sudah sangat berat, apalagi memutus hubungan karena mengetahui bahwa mereka adalah saudara kandung. Pundak itu terlalu rapuh memanggul beban yang sangat sulit.
Tidak ada kemarahan, tidak ada alasan untuk saling membenci. Yang ada hanyalah rasa rindu yang luar biasa yang bercampur dengan rasa bersalah yang terus menggerogoti.
Rafa memutuskan untuk mengambil langkah berbeda. Dia mengajukan mutasi kerja ke kantor cabang banknya di Singapura. Dia tahu, selama dia masih berada di Jakarta, di kota yang sama dengan Nafa, dia tidak akan pernah bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Setiap sudut kota akan membawa kenangan kembali, dan setiap kenangan selama keduanya bersama, akan semakin meluluhlantakan jiwa yang sudah hancur.
Sebelum keberangkatannya, Rafa mengunjungi ibunya di Surabaya untuk meminta restunya, sekaligus berbicara dari hati ke hati.
"Maafkan Ibu, Rafa," katanya sambil memeluk putranya dengan rasa bersalah yang teramat besar. "Ibu yang menyebabkan semua ini karena ketakutan Ibu di masa lalu."
Rafa menggeleng, mencoba tersenyum meskipun matanya kosong. "Ini bukan salah Ibu. Ini sudah jalan takdir Rafa. Setidaknya, Ibu sekarang tahu kalau Nafa selamat dan tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cerdas dan baik. Ibu harus menemuinya nanti, sebagai ibunya. Dia membutuhkan seorang ibu kandung sekarang, lebih dari apa pun."
Sebelum Rafa pergi, ibunya meminta alamat keluarga Brotomulyo. Ia ingin bertemu dengan Nafa.
Sementara itu, Nafa begitu berat melewati hari-harinya tanpa Rafa, raganya bak jiwa tak bertuan. Dia mengurung diri di kamarnya setiap akhir pekan, mengabaikan telepon dari teman-temannya. Orang tua angkat Nafa, keluarga Brotomulyo, akhirnya mengetahui kebenaran tersebut setelah Ibu Dania memberanikan diri menemui mereka. Isak tangis dan permohonan maaf mewarnai pertemuan dua keluarga yang disatukan oleh kejadian tak terduga tersebut.
Ibu angkat Nafa memeluk Nafa di kamarnya. "Nafa anakku, kamu adalah gadis yang kuat. Ibu tahu ini berat, sangat berat. Tapi kamu harus tahu, kamu tidak sendirian. Kamu sekarang punya Ibu, punya Ayah Broto, dan kamu punya Ibu Dania yang selama ini mencari-carimu."
"Tapi aku sudah kehilangan Rafa, Bu," bisik Nafa lirih, menatap langit-langit kamar. "Aku kehilangan pria yang paling aku cintai."
"Kamu tidak kehilangannya, Nak. Dia hanya berganti peran dalam hidupmu. Dia akan selalu ada di sana, menjaga darahnya yang mengalir di nadimu."
Kata-kata itu terdengar indah, namun bagi Nafa, itu adalah proses pembersihan hati yang menyakitkan. Merombak struktur cinta romantis menjadi cinta persaudaraan dalam kepala dan hatinya terasa seperti mematahkan tulang-tulangnya sendiri lalu menyusunnya kembali secara paksa dalam posisi yang berbeda.
***
Dua tahun berlalu di Singapura. Rafa menenggelamkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan. Dia bekerja empat belas jam sehari, tujuh hari seminggu, hanya agar pikirannya tidak lagi memikirkan hal lain saat dia memejamkan mata di malam hari. Waktu, bagaimanapun juga, adalah penyembuh yang paling sabar. Perlahan namun pasti, rasa sesak yang membakar di dadanya mulai mereda menjadi sebuah rasa hangat yang samar, perlahan menghilang.
Dia tidak lagi menangis saat melihat foto Nafa. Dia mulai bisa tersenyum saat mengingat lelucon-lelucon yang pernah mereka bagi. Dia menyadari satu hal, cintanya pada Nafa tidak pernah hilang, cinta itu hanya bermutasi. Rasa ingin memiliki sebagai seorang kekasih telah menguap, digantikan oleh rasa protektif yang mendalam sebagai seorang kakak laki-laki, meski jarak mereka mulai melihat dunia hanya beberapa menit saja.
Suatu hari di tahun ketiga sejak perpisahan mereka, Rafa menerima sebuah email dari Nafa. Itu adalah komunikasi pertama mereka setelah bertahun-tahun saling menjaga jarak demi proses penyembuhan yang panjang.
Dear Rafa,
Apa kabar di Singapura? Aku harap kamu sehat dan selalu menjaga dirimu dengan baik (jangan lupa, kamu alergi udang, jadi hati-hati kalau jajan street food di sana).
Aku menulis ini karena aku merasa kita sudah cukup lama berlari dari kenyataan. Pekan lalu, aku merayakan ulang tahunku bersama Ibu Dania dan orang tua angkatku. Kami memasak bersama. Ibu Dania menceritakan banyak hal tentang masa kecilmu yang nakal. Mendengarnya membuatku sadar betapa banyak waktu yang hilang di antara kita sebagai keluarga.
Aku sudah berdamai dengan hatiku, Raf. Prosesnya lama dan berdarah-darah, aku tidak akan berbohong padamu. Tapi hari ini, aku bisa mengatakannya dengan tulus, aku merindukan kakak laki-lakiku, kembaranku.
Jika kamu sudah siap, pulanglah. Mari kita minum kopi lagi di kedai Menteng itu, bukan sebagai sepasang kekasih yang meratapi takdir, tapi sebagai kakak adik yang merayakan fakta bahwa kita akhirnya saling menemukan kembali.
_Nafa
Rafa membaca email itu berulang-ulang di meja kerjanya yang menghadap ke pemandangan gedung-gedung pencakar langit Singapura. Air mata jatuh di pipinya, namun kali ini bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata kelegaan. Beban berat yang selama tiga tahun ini menggelayuti pundaknya seolah terangkat seketika.
Dia segera memesan tiket penerbangan ke Jakarta untuk akhir pekan berikutnya.
***
Kedai kopi di sudut kota itu masih sama. Wangi espresso yang pekat, denting sendok yang mengusik telinga, dan meja kecil berkaki besi di dekat jendela. Bedanya, sore itu Jakarta sedang cerah. Semburat cahaya keemasan matahari terbenam menerobos masuk melalui kaca jendela, menyinari ruangan dengan kehangatan yang menenangkan.
Rafa duduk di kursi yang sama persis seperti tiga tahun lalu. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena kecemasan, melainkan karena rasa haru yang menyesak.
Pintu kedai berdenting. Seorang wanita dengan tatanan rambut yang rapi, mengenakan blazer kerja yang anggun, melangkah masuk.
Nafa. Dia tampak lebih matang, lebih cantik, dan matanya tidak lagi membawa duka yang kelam. Mata itu kini bersinar dengan kedewasaan dan ketenangan.
Nafa melihat Rafa. Langkahnya tidak lagi ragu. Dia berjalan menghampiri meja mereka.
Rafa berdiri dari duduknya. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling berpandangan, membaca perubahan di wajah masing-masing setelah bertahun-tahun terpisah oleh jarak dan kepedihan.
Nafa tersenyum, senyuman yang dulu membuat Rafa jatuh cinta, namun kini senyuman itu memberikan rasa damai yang berbeda di hati Rafa.
"Hai, Kak Rafa," kata Nafa lembut, menegaskan 'Kak'.
Mendengar panggilan itu, senyum Rafa merekah lebar. Rasa canggung yang sempat dia takuti langsung sirna ditiup angin. Dia mengulurkan kedua tangannya dan menarik Nafa ke dalam sebuah pelukan yang erat.
Pelukan kali ini tidak lagi terasa seperi dulu. Tidak ada lagi sengatan rasa bersalah atau batas yang dilanggar. Ini adalah pelukan seorang kakak yang telah lama kehilangan adiknya, pelukan pelindung yang siap menjaga adiknya dari kerasnya dunia.
"Hai, Nafa," bisik Rafa di telinga adiknya. "Maafkan Kakak karena butuh waktu lama untuk pulang."
Nafa melepaskan pelukan mereka, matanya berkaca-kaca namun senyumnya tidak hilang. Dia duduk di seberang Rafa, menunjuk ke arah cangkir kopi Rafa. "Masih suka kopi hitam tanpa gula?"
"Selalu," jawab Rafa tertawa kecil. "Dan kamu masih suka menyisipkan anak rambut ke belakang telinga kiri kalau lagi gugup."
Nafa tertawa, tahi lalat di bawah telinganya terlihat jelas. "Ah, kebiasaan genetik yang susah dihilangkan ternyata."
Keduanya tertawa, sudah benar-benar melepas masa lalu.
Mereka memesan minuman dan mulai mengobrol. Cerita mengalir dengan begitu lancar, tanpa ada kecanggungan dari masa lalu yang mengganjal. Mereka berbicara tentang pekerjaan Nafa di firma hukum, tentang kehidupan Rafa di Singapura, tentang kelucuan Ibu Dania yang kini sering menghabiskan waktu bersama ibu angkat Nafa di Bandung atau Jakarta.
Di tengah percakapan, Nafa menatap cincin perak yang melingkar di jari manis tangan kirinya sendiri.
"Raf... maksudku, Kak Raf," Nafa memperbaiki panggilannya sambil tersenyum simpul. "Ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu nanti. Namanya Adrian. Dia rekan kerjaku di firma. Dia pria yang baik, sangat menghormatiku, dan dia sudah tahu seluruh ceritaku, cerita kita."
Rafa merasakan sebuah kehangatan yang tulus menjalar di dadanya. Tidak ada sedikit pun rasa cemburu. Yang ada hanyalah rasa syukur yang mendalam bahwa ada pria baik yang akan menjaga adiknya.
"Bawa dia menemui Kakak secepatnya, Naf," kata Rafa dengan nada protektif seorang kakak yang khas. "Kakak harus menginterogasinya dulu untuk memastikan dia cukup layak untuk mendampingi adik perempuan Kakak yang hebat ini."
Nafa tertawa lepas, suara tawa memenuhi kedai kopi itu dengan kebahagiaan yang nyata. "Siap, Bos! Dia pasti lolos ujian."
Sore bergerak, malam melandai pelan. Lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan aliran cahaya yang indah di sepanjang jalan. Di dalam kedai kopi kecil itu, sepasang manusia yang pernah dihancurkan oleh takdir yang kejam, telah berhasil menyusun kembali kepingan hidup mereka.
Mereka memang kehilangan cinta sebagai sepasang kekasih, kehilangan yang sempat mereka kira adalah akhir dari dunia. Namun, dari puing kehancuran itu, mereka menemukan sesuatu yang tidak kalah berharganya, ikatan darah dan persaudaraan yang kuat, sebuah untai merah yang sempat patah namun kini tersambung kembali dengan simpul yang jauh lebih kuat, yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apa pun lagi di dunia ini.
Rindu keduanya bukan lagi soal cinta, tapi soal hubungan batin saudara kembar yang tak akan hilang termakan waktu.
***